
Zayn melajukan mobilnya menuju rumah Stella. Dave memenitanya untuk mengantarkannya ke rumah Stella. Sesampainya di depan rumah Stella, mereka berdua langsung di sambut oleh pemilik rumah. "Ayo masuk." Stella berjalan mendahului Jeslyn dan Dave menuju ruang tamu.
"Duduk." Stella mempersilahkan Dave dan Jeslyn untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Alea mana?" tanya Jeslyn setelah dia duduk di depan Stella.
"Sedang pergi dengan Dion," jawab Stella.
"Memangnya mereka ke mana?" tanya Jeslyn penasaran.
"Sedang ke supermarket untuk membeli sesuatu. Sebentar lagi mereka juga pulang."
Jeslyn mengangguk tanda mengerti. "Bagaimana kalau kita menungu di ruang keluarga saja," tawar Stella dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Baiklah." Jeslyn dan Dave mengikuti langkah Stella menuju ruang keluarga. Rumah baru Jeslyn dan Dave sebenarnya hanya berjarak berapa rumah dari rumah Stella. Hanya saja, Jeslyn dan Dave baru kali ini bertamu ke rumah Stella semenjak kepindahan mereka ke rumah baru mereka.
Dave sengaja memilihkan rumah untuk Stella yang dekat dengan rumahnya agar memudahkannya untuk saling berkunjung, terutama untuk mengunjungi Alea.
"Aku akan mengambilkan minum. Kalian tunggu di sini." Stella langsung menuju dapur setelah melihat anggukan dari Jeslyn dan Dave.
"Daddy... Mama," teriak Alea ketika melihat Dave dan Jeslyn sudah ada di rumahnya.
Jeslyn dan Dave sektika langsung menoleh kebelakang. Alea langsung menghambur ke pelukan Dave lalu beralih pada Jeslyn.
"Anak mama dari mana?" tanya Jeslyn seraya mendudukkan Alea di pangkuannya.
"Beli buah sama papi."
Dave langsung mengerutkan keningnya. "Papi?" Dave tampak menatap heran pada Alea.
"Iyaa, papi Dion," jelas Alea dengan wajah Polos. "Kata mommy, papi Dion akan menjadi ayah Alea jadi Alea harus memanggil papi," terang Alea.
Seperti permintaan Dion, Stella mulai menjelaskan pelan-pelan pada Alea mengenai hubungan mereka berdua. Stella juga membiasakan Alea untuk memanggil Dion dengan kata papi. Dion juga berusaha keras untuk mendekatakn diri dengan Alea agar Alea merasa nyaman dan tidak canggung lagi padanya.
"Apa Alea suka dengan papi Dion?" tanya Jeslyn seraya merapikan ranmut panjang Alea.
"Iyaa, papi Dion baik dan sayang sama Alea," jawab Alea sambil mengangguk.
Dave berdecih. "Dia pintar sekali mengambil hati anak kecil. Alea saja luluh dengannya apalagi Stella," ucap Dave seraya memandang istrinya.
Belum sempat Jeslyn membalas ucapanya suaminya. Dion sudah datang dari arah ruang tamu. Dan langsung duduk di depan mereka bedua.
"Kalian sudah datang dari tadi?" tanya Dion basa-basi.
Jeslyn mengangkat kepalanya. "Kami baru datang," jawab Jeslyn ramah.
Dion mengedarkan pandangannya. "Stella ke mana?" tanya Dion saat tidak melihat keberadaan calon istrinya di ruangan tersebut.
"Ada di dapur." Sedari tadi hanya Jeslyn yang terus menjawab Dion. Dave terlihat lebih acuh.
Tidak lama berselang, Stella datang bersama dengan seorang wanita paruh baya. "Letakkan di meja saja, Bi," pinta Stella pada bi Sinah.
"Iyaa Nyonya." Setelah meletakkan minuman dan camilan di atas meja. Bi sinah langsung pamit undur diri.
"Silahkan diminum." Stella mengarahkan tangannya ke meja.
Jeslyn dan Dave mengangguk bersamaan. "Kenapa lama sekali?" tanya Stella pada Dion. Tadi mereka pamit hanya pergi sebentar, tetapi sudah 1 jam berlalu mereka belum juga pulang.
__ADS_1
"Tadi sedang ramai. Antriannya panjang. Aku menemani Alea makan es krim dulu," jelas Dion.
Stella beralih pada anaknya. "Alea, jangan duduk di pangkuan Mama sayang," perintah Stella ketika melihat anaknya tampak asyik duduk di pangkuan Jeslyn. "Kasihan Mama keberatan."
"Tapi Alea mau duduk di sini," rengek Alea pada Stella.
"Tidak apa-apa Stella. Aku juga masih kangen dengannya," sela Jeslyn sambil memeluk tubuh mungil Alea.
"Alea duduk sama Daddy saja." Dave mengambil Alih tubuh Alea dan mendudukkannya di tenga-tengah mereka berdua.
Dion menatap ke arah Jeslyn. "Aku dengar dari Sarah, kau sedang hamil."
Jeslyn terseyum dengan wajah malu. "Iyaa. Apa dia bercerita padamu?"
Dion mengangguk. "Aku bertemu dengannya tidak lama setelah kau pulang dari rumah sakit."
Stella tampak tidak terkejut mendengar berita kehamilan Jeslyn karena dari awal dia memang sudah mendunganya. "Berapa usia kandungamu, Jes?" tanya Stella penasaran.
"Lima minggu."
"Kau harus lebih berhati-hati. Usia kehamilanmu masih sangat muda. Aku harap kau dan janin dalam kandunganmu selalu sehat sampai tiba waktunya kau melahirkan."
"Iyaa. Terima kasih doanya, Stell."
Dave menunduk pada Alea. "Apa Alea ingin punya adik?" tanya Dave lembut. Sebenarnya tanpa ditanya pun Dave sudah mengatahui jawabannya karena sudah sering kali Alea mengatakan ingin memiliki adik. Tidak jarang juga dia meminta ibunya untuk memberikan adik untukknya.
"Mau..mau," jawab Alea antusias.
Dave mendudukkan Alea dia pangkuannya. "Di sini ada adik Alea," ucap Dave sambil mengelus perut istrinya.
"Iyaa. Adik kecil yang lucu," jawab Dave dengan wajah senang.
"Alea mau main sama adik sekarang," ucap Alea dengan wajah polos.
Jeslyn, Dion dan Stella terkekeh mendengar keinginan Alea. Sementara Dave tampak kebingungan menjelaskan pada Alea.
"Adiknya masih ada di perut mama. Masih kecil. Belum bisa main dengan Alea. Nanti kalau sudah keluar dari perut mama, baru Alea bisa main dengan adik kecil," jelas Dave.
"Kenapa adiknya tidak dikeluar sekarang? Alea kan sudah lama menunggu adik kecil." Alea tampak belum mengerti dengan penjelasan Dave.
"Alea, sayang. Adiknya tidak bisa keluar sebelum umurnya 9 bulan. Jadi, kalau Alea ingin mau dengan dik kecil harus menunggu sampai 9 bulan," timpal Stella.
"Padahal Alea kan mau main sama adik kecil sekarang," ucap Alea dengan wajah kecewa. Meskipun Alea tidak begitu mengerti penjelasan dari ibunya, tapi dia bisa menangkap kalau dirinya tidak bisa bermain dengan adik kecilnya untuk waktu yang lama.
"Nanti sayang. kalau sudah waktunya Alea bisa main sepuasnya sama adik kecil," timpal Jeslyn. "Alea mau sabar menunggu adik kecil sampai lahir, kan?" tany Jeslyn lembut.
"Iyaa mau," jawab Alea cepat.
"Makanya, Alea harus jadi anak baik. Mulai sekarang Alea nggak boleh lagi minta gendong sama mama. Nggak boleh meluk Mama kencang-kencang dan bikin Mama kecapean. Nanti adiknya yang diperut kesakitan," terang Stella.
"Iyaa, Alea mau jadi anak baik," ucap Alea dengan waah menggemaskan.
"Anak mama memang pintar," Jeslyn mencium pipi Alea dengan gemas.
"Kalau begitu Alea harus tidur siang dulu," ujar Stella seraya menatap Alea.
"Tapi Alea masihh kangen sama Mama dan Daddy," rengek Alea.
__ADS_1
"Nanti malam mau tidak menginap di rumah mama?" tawar Jeslyn.
"Mau...Alea mau," jawab Alea antusias.
"Kalau begitu, Alea harus tidur siang dulu," bujuk Jeslyn sambil menatap Alea.
"Iyaa, Alea mau tidur siang."
Stella lalu mengantarkan Alea ke kamarnya. Dia menunggu sampai Alea tertidur setelah itu dia kembali ke ruang keluarga.
"Bagaimana rencana pernikahan kalian?" tanya Dave ketika Stella sudah berkumpul bersama mereka. Dave menatap Stella dan Dion secara bergantian.
"Kami akan menikah minggu depan dan acara lamaran akan dilakukan dua hari lagi," jawab Stella. Untuk acara lamaran dan acara pernikahan sudah dipersiapkan semuanya dari keluarga Dion sehingga Stella hanya terima beres.
"Kami akan menjadi perwakilan dari keluargamu saat acara lamaran nanti," ucap Dave seraya menatap Stella.
"Terima kasih, Dave."
"Aku harap kalian bisa hadir di acara pernikahan kami nanti," timpal Dion.
"Tentu saja. Kami pasti akan hadir," balas Jeslyn.
"Setelah menikah kalian akan tinggal di mana?" tanya Jeslyn penasaran.
"Di sini. Aku meminta Dion untuk tinggal di sini saja karena lokasinya dekat dari sekolah Alea dan tempat kerjanya."
Jeslyn merasa senang mendengarnya. Itu berarti dia tidak akan kesepian jika Stella tetap tinggal di rumahnya yang sekarang. Jeslyn berpikir kalau dirinya akan sering ke rumah Stella jika Dave sudah mulai aktif bekerja nantinya.
Awalnya Dion memintanya untuk tinggal di rumah pribadinya. Hanya saja karena lokasinya yang lebih jahu dari sekolah Alea membuat Stella meminta Dion untuk sementara tinggal di rumahnya sampai Alea lulus sekolah TK. Untung saja Dion menyetujuinya dan tidak keberatan sama sekali.
"Apa kau sudah memberitahu keluargamu tentang pernikahanmu?" tanya Dave pada Stella.
"Sudah. Ibuku bilang akan datang ke sini, tetapi ayahku tidak mau datang karena masih kesal padaku," ungkap Stella dengan wajah sedih.
Hubungannya dengan ayahnya memang memburuk setelah insiden Stella yang berniat bunuh diri hanya karena tidak mau dinikahkan dengan Daniel. Menurut ayahnya dia sudah mencoreng nama baik keluarga mereka. Stella sebenarnya tidak terlalu mengambil pusing dengan sikap ayahnya karena memang dari dulu hubungannya dengan ayahnya tidak begitu dekat.
"Apa keluarga Daniel masih menggangumu?"
Semenjak Stella menjalin hubungan Dion. Dave sudah berhenti untuk mengawasi Stella atas permintaaan Dion. Dion memang sengaja meminta Dave untuk tidak menjaga Stella lagi karena tidak ingin merepotkan Dave.
"Tidak. Aku selalu menyuruh orang untuk mengawasi Stella dari jarak jauh. Aku tidak akan melepaskannya jika dia berani mengganggu Stella lagi." Orang yang Dion maskud adalah Ryan adik dari Daniel.
"Baguslah. Aku harap kedepannya kau bisa terus melindunginya," ucap Dave seraya menatap Dion.
"Kau tenang saja. Aku akan pasti menjaga calon istriku dengan baik." Stella nampak tersipu malu mendengar ucapan Dion.
Ada perasaan lega di hati Dave ketika mendengar ucapan Dion. Begitpun Jeslyn turut senang melihat orang yang selama ini dianggap keluarga olehnya akhirnya akan menempuh hidup baru dengan wanita baik seperti Stella.
"Aku harap kalian bahagia," ucap Jeslyn dengan tulus.
"Terima kasih, Jes. Aku juga harap dengan kehamilanmu ini akan membuat rumah tangga kalian lebih bahagia lagi," ucap Stella sungguh-sungguh.
"Kau harus menjaga asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhmu, Jes. Jangan seperti kehamilanmu yang pertama," nasehat Dion.
Jeslyn mengulas senyum di wajahya sambil memegang tangan suaminya. "Kau tenang saja. Dave dan ibu mertuaku sangat memperhatikan asupan giziku. Dave memperlakukan aku denagn baik dan hati-hati," urai Jeslyn.
Bersambung..
__ADS_1