
Jeslyn bergerak dengan malas di atas sofa panjang dalam ruangan Dave. Dia merasa bosan menunggu Dave yang sedang meeting sejak 2 jam lalu. Jeslyn menatap jam di layar ponselnya yang menunjukkan hampir pukul 12 siang, yang berarti sebentar lagi adalah waktu makan siang. Jeslyn sidah menunggu cukup lama tetapi Dave belum juga menampakkan wajahnya.
Sebelum meeting, Dave sudah berpesan padanya, agar da tidak keluar dari ruangannya. karena merasa bosan, Jeslyn akhinya berdiri. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan sekitar kantor suaminya.
Ketika dia baru saja keluar dari ruangan suamianya, Jeslyn melirik sekilas ke meja Diana yang tampak kosong karena pemiliknya sedang ikut meeting bersama suaminya. Setelah berada di dalam lift, Jeslyn mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Dave agar dia tidak bingung mencarinya nanti.
Jeslyn berjalan menuju lantai dasar, dengan langkah pelan dia berkeliling di lantai bawah. Gedung yang di tempati kantor Dave sangatlah luas. Gedung itu adalah milik perusahaan Tjendra Group. Jeslyn tampak menoleh kanan kiri, di lantai bawah tersedia Coffee Shop yang luas, dan juga kantin khusus karyawan, Vending Machine yang berisikan minuman dan makanan, berserta ruangan santai di setiap lantai gedung yang khusus diperuntukkan untuk karawan yang bekerja di sana. Setiap karyawan memiliki kartu yang bisa digunakan untuk bertramsaksi di kantin, coffe shop, dan Vending Machine otomatis secara gratis.
Langkah kaki Jeslyn terhenti di depan coffe shop. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam. Jeslyn berniat memesan minuman, karena tidak memiliki kartu, dia harus membayar minuman yang dia pesan. Untuk bisa mendapatkan minuman gratis, harus membawa kartu khusus yang diberikan pada setiap karyawan.
Setelah memesan minuman, Jeslyn duduk di salah satu tempat duduk yang berada di pojok dekat dengan dinding kaca. Dari tempat duduknya Jeslyn bisa melihat pemandangan dari luar.
Jeslyn mulai menyesap minumannya sambil menatap ke sekililing Coffee Shop yang mulai ramai dengan kedatangan karyawan karena memang waktunya jam istirahat makan siang.
Jeslyn meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia memeriksa apakah ada pesan dari Dave, dia takut Dave akan mencarinya.
Setelah melihat ke layar ponselnya, Jeslyn meletkkan di atas meja, setelah tidak melihat pesan apapun dari suaminya.
Beberapa pegawai wanita tampak duduk tidak jauh dari meja Jeslyn. Mereka terlihat sedang membahas sesuatu ketika mereka baru saja duduk.
"Lihat nggak tadi gimana kedeketan pak Dave dengan Diana?" ucap wanita berambut sebahu bernama Neli pada temannya.
Jeslyn yang mendengar nama suaminya disebut, seketika Jeslyn memperhatikan meja yang ada di depannya, tempat di mana wanita tadi berbicara.
"Iyaaa, kalian lihat saja tadi, hanya dengan Diana, pak Dave berkata dengan lembut," timpal wanita berambut ikal bernama Delia.
"Dari dulu memang pak Dave selalu bersikap lembut pada Diana, selain itu, pak Dave akan memasang wajah dingin dan tegasnya," tambah wanita yang berambut panjang dan bertubuh tinggi bernama Sinta.
"Iyaaa, mereka bahkan terlihat seperti seorang kekasih saat berjalan bersama," lanjut wanita berambut pirang bernama Linda.
"Setelah kita selesai meeting tadi, mereka tidak langsung keluar dari ruang meeting," seru Delia
"Mungkin mereka ingin menghabiskan waktu berdua," tebak Linda.
"Iyaaa, hanya dengan Diana saja, pak Dave bisa terseyum," timpal Sinta.
"Tentu saja, mereka memang sudah dekat dari dulu," seru Neli.
"Aku sangat penasaran, bagaimana cara Diana bisa meluluhkan hati pak Dave?" tanya Sinta dengan wajah penasaran.
Neli menatap Sinta. "Untuk apa kau ingin tahu? Apa kau berniat untuk mendekati pak Dave?"
"Tentu saja, selama janur kuning melengkung, pak Dave masih milik semua orang," ucap Sinta dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Apa kau tidak punya kaca di rumah?" tanya Delia dengan wajah sinis. "Kalau kau ingin mendekati pak Dave, minimal wajahmu harus secantik Diana dan sepintar dia."
Wanita berambut panjang itu bernama Sinta mendengus, ketika mendengar tawa menjegek ketiga temannya. "Nama juga usaha."
"Apa aku harus operasi plastik dulu?" tanya Sinta sambil menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Walaupun kau operasi plastik, pak Dave tidak akan jatuh cinta padamu. Kau jangan bermimpi."
"Di luar sana banyak wanita dari berbagai kalangan atas yang mencoba mendekati pak Dave, tetapi tidak ada yang berhasil. Bahkan ada anak dari pengusaha terkenal yang berusaha untuk merayu pak Dave untuk tidur dengannya, di saat ayah wanita itu mengadakan pesta di hotelnya," papar Neli sambil menunduk berbisik dengan ketiga temanya.
"Benarkah?" ketiga temannya tampak serius menatap wanita berambut sebahu itu bernama Neli itu. Mereka ingin mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Iyaa, waktu itu dia berpura-pura mabuk dan meminta Dave mengantarnya ke kamar hotelnya. tebak apa yang wanita itu lakukan?"
"Apa?" tanya ketiga temannya serempak.
"Wanita itu melepaskan semua pakaiannya di depan pak Dave."
"Waaaah.. Gilaaaa.." seru ketiga temannya dengan wajah terkejut.
"Lalu?" tanya Sinta penasaran.
"Dia memeluk pak Dave dan berusaha menggodanya, tetapi sayangnya pak Dave tidak terpengaruh sama sekali. Dia bahkan mendorong wanita itu kemudian meninggalkan wanita itu begitu saja dengan wajah penuh amarah."
"Benarkah? Jangan-jangan wanita itu jelek?" tebak Sinta.
"Siapa?" tanya ketiga temannya dengan wajah penasaran.
"Sonya Adiguna," jawab Neli.
"Haaaaa." Ketiga temannya tampak tercengang mendengar nama yang disebut oleh Neli, termasuk Jeslyn yang masih setia mendengarkan pembicaran keempat orang yang ada di depannya.
"Waaahh..Ini benar-benr tidak bisa dipercaya. Bahkan wanita secantik Sonya saja ditolak, bagaimana denganku?" ucap Sonya.
"Kau itu hanya butiran debu, tidak berarti apa-apa, jika dibandingkan dengan Sonya dan Diana."
Ketiga temannya tertawa lembar mendengar ucapan salah satu teman mereka.
"Standar pak Dave ternyata sangat tinggi. Pantas saja dia melajang dalam waktu lama."
"Aku rasa Dave sudah kembali menjalin hubungan dengan Diana setelah dia bercerai," ucap wanita berambut ikal bernama Delia.
"Iyalah pasti, apalagi pak Dave saat ini sudah menjadi duda. Sudah tidak ada yang mengganggu hubungan mereka," seru Linda.
__ADS_1
"Jangan-jangan pak Dave bercerai Felicia karena masih mencintai Diana?" sela Delia.
"Haahhhh? Masaa?? Jadi Diana menjadi pelakor gitu?" timpal Linda.
"Heeh, yang benar itu, Felicia yang menjadi pelakor. Dia merebut pak Dave dari Diana. Apa kau tidak pernah dengar kalau mereka sering bertengkar setiap mereka bertemu. Felicia sangat cemburu dengn Diana. Mungkin karena pak Dave lebih mencintai Diana, sehingga membuat Felicia terbakar cemburu," jelas Neli.
"Iyaa, aku juga pernah dengar. Dia bahkan sering bertengkar dengan Diana jika Felicia datang ke kantor Dave. Kalian tahu nggak? Diana berani melawan Felicia. Dia tidak takut sama sekali denganya. Dia bahkan menyebut Felicia pelakor saat Felicia sudah menjadi istrinya pak Dave. Bahkan di depan pak Dave langsung Diana mengatakan itu," ucap Delia.
Ketiga temannya yang lain seketika terkejut mendengar ucapan Delia. "Benarkah?"
"Iyaa," jawab Delia mantap.
"Kau tahu dari mana?" tanya Linda.
"Dari temanku, dia bilang menyaksikan secara langsung," jawab Delia cepat.
"Tentu saja Diana berani dengan Felicia, karena Dave mencintainya, jika tidak mana berani dia dengan istri dari pemilik perusahaan ini," seru Neli.
Mereka bertinga mengangguk-angguk. "Benar juga. Kalau aku jadi Diana. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada Felicia. Aku bahkan akan membuat perhitungan dengannya karena sudah merebut kekasihku," seru Sinta.
"Iyaa, aku juga tidak menyukai Felicia. Dia angkuh dan sombong. Tidak seperti Diana. Dia pintar, cantik dan baik."
"Aku iri dengan Diana. Dia bisa dengan mudah menaklukan hati pak Dave yang terkenal dingin dan sulit untuk didekati."
"Iyaa. Mereka memang pasangan yang serasi. Aku rasa Diana memang cocok untuk menggantikan posisi Felicia."
Mereka berempat pun mengangguk bersamaan. "Aku jadi ingin menjadi Diana. Bagaimana rasanya dicintai oleh laki-laki sempurna seperti pak Dave? Aku penasaran, apakah pak Dave termasuk tipe laki-laki yang romantis terhadap pasangannya?
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi istri pak Dave. Ketika bangun tidur langsung bisa menatap wajah tampan pak Dave yang masih terlelap di sebelahku. Pasti rasanya bahagia sekali."
"Apalagi jika pak Dave tidak memakai apa-apa."
"Dasaar otak mesum."
"Memangnya kau tidak penasaran dengan tubuh pak Dave? Melihatnya hanya memakai kemeja saja, tubuhnya sudah tercetak sempurna sehingga membuat para wanita tergila-gila. Dada bidangnya meruntuhkan imanku," ucap wanita berambut panjang sambil tersenyum.
"Kalau aku jadi istrinya, aku tidak akan membiarkan dia ke mana-mana sendiri. Aku akan selalu mengikutinya."
"Iyaa, aku bahkan akan mengurungnya di kamar seharian jika sedang libur."
"Dasaar setress."
Obrolan wanita-wanita itu terus berlanjut hingga jam makan siang berakhir. Setelah kepergian wanita itu. Wajah Jeslyn seketika berubah. Dia langsung meraih ponselnya dan melihat tidak ada satu pesan pun dari Dave, padahal jam makan siang sudah lewat. Dia bahkan tidak menanyakan bagaimana keadaannya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Jeslyn kembali naik ke atas menuju ruang Dave. Dia penasaran apa yang suaminya sedang lakukan sampai dia melupakan dirinya.
Bersambung...