
Jeslyn langsung mengampiri Dion yang baru saja keluar dari ruangan ICU. Dia sudah menunggu Dion selama satu jam di depan ruang ICU. Tampak sekali raut kecemasan di wajah tirus Jeslyn. “Dion, bagaimana keadaan Dave?” Jeslyn menarik ujung lengan jas putih Dion.
Dion tampak meneliti wajah Jeslyn yang tampak sangat cemas. “Dia tidak apa-apa Jes.. Dia baik- baik saja.”
“Tapi kenapa dia tadi seperti orang bingung?” Jeslyn tampak sangat panik. Dia tidak berpikir jernih.
Dion memegang bahu Jeslyn. “Jes, itu normal bagi pasien yang baru saja bangun dari koma, apalagi dia sempat mengalami cidera kepala. Bukankah kau juga tahu hal seperti ini?”
Dion berusaha memaklumi kecemasan Jeslyn yang membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Padahal Jeslyn terkenal sebagai Dokter Bedah terbaik di rumah sakit itu, yang berarti dia seharusnya tahu kondisi pasien pasca operasi.
“Maafkan aku Dion. Pikiranku seketika kosong melihat Dave seperti tidak mengenaliku. Aku hanya takut dia mengalami Amnesia karena cidera kepala yang dialaminya.”
Dion mengangguk. “Iyaa aku tahu. Untubg saja operasinya berhasil dan dia tidak mengalami komplikasi lain selain koma.”
“Biasakah aku bertemu dengannya sebentar Dion?” Jeslyn sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Dia bahkan tidak istirahat dengan tenang.
“Aku akan memindahkan ke ruang perawatan setelah melakukan pemerikasaan menyeluruh padanya. Kau bisa menemuinya nanti.” Tampak sekali raut kekecewaan pada wajah Jeslyn.
“Baiklah,” jawab Jeslyn pelan.
“Lebih baik kau tunggu di kamar perawatanmu. Aku akan memberitahumu, kalau Dave sudah dipindahkan ke ruang perawatan.” Melihat wajah sedih dan wajah pucat Jeslyn membuat Dion merasa iba. Ingin sekali dia memeluk wanita yang dia cintai itu, untuk memberikan kekuatan padanya.
Jeslyn mengangguk. “Aku akan mengantarmu.” Dion mengikuti langkah Jeslyn. Dion merasa tidak tenang jika melihat kondisi Jeslyn yang masih lemah. Belum pernah dia melihat Jeslyn selemah ini sebelumnya. Dia adalah wanita yang kuat dan tidak pernah mengeluh. Diabaikan oleh Dave selama satu tahun tidak membuatnya menjadi wanita cengeng dan melow.
Setelah memastikan Jeslyn beristirahat di kamarnya. Dion menghubungi Sarah untuk menyuruhnya memeriksa kondisi Jeslyn dan janinnya. Semenjak Dave mengalami kecelakaan, Jeslyn tidak pernah memperhatikan dirinya dengan baik. Hal itulah yang membuat Dion khawatir dengan kondisi kesehatan Jeslyn.
*****
Dion berjalan mendekati ranjang pasien. Dia melihat jeslyn tampak sedang tertidur dengan wajah lelah. Dion memutuskan untuk duduk di samping tempat tidur Jeslyn sambil memandangi wajah Jeslyn. Karena tidak tega membangunkan Jeslyn yang tampak sangat lelap, Dion memutuskan untuk tidak membangunkannya. Dia memilih untuk duduk sambil memainkan ponselnya, menunggu sampai Jeslyn terbangun.
__ADS_1
Jeslyn mulai menggerakkan tubuhnya sambil perlahan membuka kedua matanya. Dion sudah menunggu Jeslyn selama setengah jam lamanya. “Dion, kenapa kau di sini?” Jeslyn tampak terkejut melihat Dion sedang duduk di sampingnya sambil bermain ponsel.
Dion tersenyum tipis. “Aku sedang menunggumu bangun.”
Jeslyn bangun dari tidurnya dibantu oleh Dion. “Apakah Dave sudah dipindahkan ke kamar perawatan?” Jeslyn berusaha menebak maksud kedatangan Dion ke kamar perawatannya.
Dion mengangguk. “Iyaa..Dia sedang berisitirahat. Kita akan melihat hasil pemeriksaannya besok.”
“Apakah semua akan baik-baik saja?”
“Sejauh ini masih baik-baik saja. Kita lihat beberapa hari ke depan, jika dia tidak mengalami komplikasi setelah melakukan operasi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Baiklah.. Aku ingin menemuinya.” Jeslyn langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. “Kau harus makan terlebih dahulu sebelum mengunjunginya.” Dion menghentikan gerakan Jeslyn yang akan turun dari tempat tidur. “Pikirkan juga bayi yang ada di dalam kandunganmu Jes.”
Meskipun fakta bahwa Jeslyn sedang mengandung anak Dave membuat Dion kecewa, tapi bagaimanapun nalurinya sebagai seorang dokter membuatnya tidak bisa mengabaikan keselamatan bayi yang ada dikandung Jeslyn.
“Maaf Dion, yang ada dipikiranku saat ini hanya ingin segera melihat keadaan Dave. Aku terkadang lupa kalau aku sedang hamil.” Jeslyn kembali naik ke tempat tidur.
Dion mengambil nampan yang berisi makanan, lalu meletakkan dipangkuan Jeslyn. “Dave pasti akan kecewa kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandunganmu.” Dion tahu, kalau bayi itu adalah satu-satunya yang bisa tetap mengikat Jeslyn di sisi Dave.
“Aku memang bukan calon ibu yang baik. Tidak seharusnya aku mengabaikannya.” Jeslyn menunduk dengan raut wajah penuh sesal.
“Sudahlah, lebih baik habiskan makananmu.” Jeslyn mengangguk lalu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. “Apa kau tidak mengalami mual dan muntah lagi?” tanya Dion penasaran. Dia merasa heran karena sudah tidak pernah melihat Jeslyn mual dan muntah, padahal dia terkena Hipermsis.
“Masih, hanya tidak terlalu sering karena Sarah selalu memberikan aku obat mual dan muntah. Kondisi tubuhku juga membaik karena dia sering memberikanku cairan inpus ketika tubuhku mulai lemah.”
Dia bersyukur karena semenjak Dave mengalami kecelakaan, dia tidak terlalu merasa direpotkan oleh kehamilannya, hanya tubuhnya saja yang lemah akibat kekurangan asupan, sehingga membuatnya beberapa kali pingsan.
“Kau harus lebih memperhatikan kondisi kesehatanmu Jes. Jangan sampai janinmu terkena imbasnya nanti.” Dion dan Sarah adalah orang yang paling cerewet mengenai kehamilan Jeslyn.
__ADS_1
“Iyaa aku tahu.”
Setelah menghabiskan makanannya dan meminum obat Jeslyn ditemani oleh Dion berjalan menuju ruangan perawatan Dave. Ruangan Dave berada di lantai yang sama dengannya. Mereka menempati kamar Executif VIP, tipe kamar paling tinggi yang ada di rumah sakit tersebut. Sebagai istri dan pemilik rumah sakit itu, tentu saja mereka akan menempati kamar paling bagus.
Dengan perlahan Jeslyn membuka pintu. Dia melihat Dave tampak masih tertidur. Jeslyn dan Dion melangkah dengan langkah pelan tanpa meninggalkan suara. Mereka tidak ingin membangunkan Dave yang sedang beristirahat.
Mata Jeslyn tampak mulai berkaca-kaca. Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya Dave sudah sadar. Sedih karena melihat kondisi tubuh Dave yang tampak masih lemah. Walaupun beberapa alat ada di tubunya sudah dilepas, tetap saja masih membuat Jeslyn merasa sedih.
Jeslyn melihat kepala Dave tampak masih diperban, dan nampak ada beberapa luka kecil di wajah tampan suaminya. Tangan sebelah kirinya juga memiliki beberapa goresan, Sementara tangan sebelah kanan diperban dari pergelangan tangan sampai telapak tangannya.
Dengan perlahan Jeslyn duduk di samping Dave. Air matanya kembali luruh. “Dion, nanti berikan laporan medis Dave padaku. Aku ingin melihatnya.” Jeslyn merasa perlu untuk memeriksa laporan medis Dave. Dia tidak mau kalau sampai ada yang terlewatkan olehnya.
Dion mengangguk. “Semoga dalam beberapa hari ke depan dia tidak mengalami komplikasi pasca operasi ini.”
“Iyaa.. Aku sudah memberikannya obat pereda nyeri. Tadi dia mengeluh sakit di bekas luka operasinya. Untuk sementara waktu jangan biarkan dia banyak bergerak. Kau tahu, kan apa yang tidak boleh dilakukan?” Dion hanya ingin memastikan kalau Jeslyn tahu apa yang harus dia lakukan.
“Iyaa aku tahu Dion.”
Dave tampak mulai bergerak karena sayup-sayup mendengar suara Dion dan Jeslyn. Perlahan dia membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada wanita yang sangat dia cintai. “Dave, kau tidak boleh banyak bergerak. Lukamu bisa kembali terbuka jika kau terus bergerak,” ucap Jeslyn cepat ketika melihat tangan Dave mulai terangkat.”
Dave yang mengerti langsung menuruti perkataan Jeslyn. “Kau tidak akan pulih dengan cepat kalau banyak bergerak. Jika kau memerlukan sesuatu biar aku yang ambilkan,” lanjut Jelsyn lagi ketika melihat Dave hanya diam sambil terus menatap ke arahnya.
Pandangan Dave perlahan beralih pada Dion. Tatapan yang sulit diartikan bagi siapapun yang melihatnya.
Dion memegang bahu Jeslyn seraya menoleh menatapnya. “Kau bicaralah dengannya. Aku akan kembali bekerja. Kau bisa ke ruanganku nanti untuk mengambil laporan medisnya.” Dion merasa kalau Dave tidak suka melihat keberadaanya di sana.
Jeslyn menoleh pada Dion. “Baiklah. Terima kasih Dion.” Dion mengangguk kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Bersambung...
__ADS_1