
Jeslyn mulai menggeliat sambil mengerjapkan matanya. Dia sedikit tidak leluasa menggerakkan tubuhnya karena tangan Dave melingkar diatas perutnya. Dave memang selalu tidur sambil memeluk istrinya.
Jeslyn menoleh ke samping menatap suaminya yang tampak masih tertidur lelap. Dia kemudian memiringkan tubuhnya, lalu menatap wajah suaminya dari dekat. Tangan Jeslyn mulai terangkat merapikan rambut suaminya yang sedikit berantakan.
"Kau tampan sekali Dave saat tidur seperti ini," ucap Jeslyn dengan suara pelan. Jeslyn tersemyum sambil meraba wajah suaminya. Dia memandangi wajah suaminya cukup lama, setelah itu mengangkat kepalanya mendekatkan ke wajah Dave, mengecup pipinya, lalu bibir Dave.
Dahi Jeslyn mengerut ketika melihat suaminya tidak bergerak sama sekali. Biasanya kalau Jeslyn mencium bibirnya, Dave pasti terbangun walaupun kemudian menutup kembali mata melanjutkan tidurnya.
"Apa dia begadang semalam?" tanya Jeslyn dalam hati. Melihat Dave tidak bergerak, dia ingin menjahili suaminya. Jeslyn mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah suaminya.
Dave masih belum juga bergerak. "Apa dia pingsan? Kenapa dia tidak bergerak sama sekali?" batin Jeslyn. Ada sedikit rasa cemas dalam hatinya. Dia kemudian melanjutkan memberikan kecupan di seluruh wajah suaminya yang bisa dia jangkau.
Tidak juga bergerak, Jeslyn kemudian mulai memberikan sentuhan lembut pada leher suaminya dengan bibirnya. Setelah dia beralih ke bahu dan dada suaminya. Melihat Dave masih diam, Jeslyn kemudian berhenti, lalu menatap suaminya. "Dave," panggil Jeslyn dengan suara serak khas bangun tidur.
Senyuman jahil mulai tersungging di kedua sudut bibirnya. Dia kemudian mendekatkan wajahnya di bahu suaminya lalu menyesapnya dengan kuat meninggalkan tanda pada bahu suaminya.
"Dia pasti mengerjaiku," ucap Jeslyn dalam hati. "Kita lihat berapa lama kau akan berpura-pura tidur sayang," ucap Jeslyn dengan senyum usilnya.
Dia kemudian melanjutkan kegiatannya memberikan tanda di tubuh suaminya pada dada dan bahu suaminya. Dave masih belum juga bangun, hanya ada gerakan kecil pada tubuh Dave.
"Aku yakin kau pasti bangun setelah ini."
Jeslyn kemudian beralih ke leher suaminya. Jeslyn tampak ragu sejenak, detik kemudian menyesap leher suaminya, setelah itu menjauhkan wajahnya. Dia meninggalkan satu tanda di leher suaminya.
Dave yang memang tidak mengenakan baju, mempermudah Jeslyn untuk menyentuh tubuh bagian atas suaminya.
Dahinya langsung berkerut dan alisnya menyatu. "Apa dia sungguh tertidur?" monolog Jeslyn sambil menatap ke arah suaminya yang masih setia dengan posisi tidurnya.
Kedua siku Jeslyn bertumpu pada tempat tidur, lalu kedua telapak tangannya menopang dagunya. "Sepertinya Dave memang masih tidur. Apa mungkin dia kelelahan karena kemarin?" Jeslyn tampak meneliti wajah suaminya yang memang terlihat kelelahan.
Jeslyn baru teringat aktifitas mereka kemarin pagi memang menghabiskan waktu yang panjang hingga sampai siang hari. Dave juga langsung pergi bekerja sampai malam, tanpa berisitrahat dulu, apalagi setelah itu malamnya mereka melanjutkannnya lagi.
Jeslyn menghembuskan napas halusnya. Sepertinya yang dia pikirkan benar, kenapa Dave tidak bangun, walaupun Jeslyn sudah menoba memancingnya.
Jelsyn akhirnya menyerah. Dia tidak mau lagi mengganggu tidur suaminya yang masih terlelap. Jeslyn mengusap wajah suaminya setelah itu mengecup pipinya sambil tersenyum. Dia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Dave.
"Maaf Dave, aku kira kau hanya mengerjaiku. Aku mohon jangan memarahiku karena sudah meninggalkan tanda di lehermu."
Membayangkan wajah terkejut Dave sangat bangun tidur dan melihat apa yang sudah dia lakukan membuat Jeslyn bergidik ngeri. Dia berpikir kalau Dave pasti akan marah karena sudah meninggalkan tanda yang bisa dilihat oleh banyak orang, apalagi suaminya akan bertemu banyak orang dikantor saat dia bekerja nanti.
Dia baru menyesali perbuatannya, disaat semuanya sudah terjadi. Setelah menghembuskan napas panjang, Jeslyn kemudian melangkah menuju kamar mandi. Ketika Jeslyn sudah selesai mandi, Dave juga belum terbangun. Jeslyn melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.10 Wib.
Jeslyn memutuskan untuk membiarkan Dave untuk tidur sebentar lagi, sebelum dia membangunkannya nanti. Dia kemudian keluar dari kamarnya, menuju kamar tamu. Dia ingin memeriksa apakah Alea dan ibu mertuanya sudah terbangun. Jeslyn mengetuk beberapa kali sebelum pintu terbuka.
__ADS_1
"Ma, apakah Alea sudah bangun?" tanya Jeslyn ketika Ibu mertuanya baru saja membuka pintu.
Ibu Dave lalu tersenyum. "Belum, masuklah." Jeslyn masuk dengan langkah pelan.
Jeslyn tersenyum ketika melihat Alea masih tertidur dengan mulut terbuka. Jeslyn duduk di tepi tempat tidur, kemudian mengusap kepala Alea. "Apakah Dave belum bangun?" tanya ibu mertuanya, ketika dia sudah duduk di depan menantunya.
Jeslyn mengangguk pelan sambil tersenyum. "Iya Ma, Dave sepertinya kelelahan, jadi aku tidak tega membangunkannya."
Ibu Dave tersenyum penuh arti, walaupun ibu Dave tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia bisa menebak, kenapa anaknya bisa kelelahan. "Kau harus memberikannya vitamin Jes, agar tubuhnya tetap bugar. Bagaimana kalian bisa cepat memiliki anak, jika Dave saja mudah lelah," ucap ibu Dave dengan lembut.
Mendengar itu, seketika wajah Jeslyn memerah. "Iya Ma. Aku akan memberikannya nanti," ucap Jeslyn sambil mengalihkan pandangannya pada Alea. Dia berusaa menyembunyikan wajah malunya.
"Kau juga jangan terlalu lelah Jes. Jangan memaksakan diri. Kau juga tidak boleh melakukannya banyak pekerjaan," nasehat Ibu Dave.
"Baik Ma," jawab Jeslyn pelan, "Ma, biarkan aku yang mengurus Alea pagi ini. Mama pasti lelah karena sudah menggurusnya dari kemarin," pinta Jeslyn dengan wajah tidak enak.
"Mama tidak lelah Jes. Mama justru senang karena memiliki kegiatan."
"Iyaa, tapi biarkan aku yang mengurus Alea pagi ini. Mama istirahatlah dulu sebentar. Siang nanti Mama bisa bermain dengan Alea lagi, jika sudah pulang sekolah. Aku tidak ingin Mama kelelahan."
"Baiklah, mama ke kamar dulu. Mama mau mandi. Nanti kita sarapan bersama."
Jeslyn langsung mengangguk. "Iya, Ma."
"Aleaa," panggil Jeslyn lagi dengan suara lembut. Jeslyn mengelus wajah Alea beberapa kali hingga dia terbangun.
Setelah Alea terbangun, Jeslyn langsung memandikannya dan memakaikan seragam sekolahnya. Seperti sebelumnya, dia akan mengajak Alea sarapan dulu baru mengantarkannya ke sekolah.
"Sayang, kita sarapan dulu di bawah ya?" Jeslyn mengajak Alea untuk turun ke bawah setelah Alea sudah siap.
Jeslyn memegang tangan Alea sambil menuruni tangga, menuju ruang makan. Di sana sudah ada ibu mertua dan ayah mertuanya sedang sarapan.
"Jes, kemana Dave?" tanya ayah mertuanya.
"Masih tidur Pa," ucap jesly lembut sambil mendudukkan Alea di salah satu kursi.
Dahi ayah Dave mengerut. "Tidur?"
Ibu Dave kemudian menyenggol lengan suaminya. "Pa, kau seperti tidak pernah muda saja," ucap ibu Dave sambil melirik suaminya.
Menyadari menantunya sedang malu, ayah Dave lalu berkata, "Jes, kapan kau akan mulai berkerja?" Ayah Dave berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar Jeslyn tidak merasa malu lagi.
"Dave, belum memperbolehkan aku bekerja Pa," jelas Jeslyn sambil menyuapai Alea. Jeslyn menyuapai Alea dengan telaten.
__ADS_1
"Lebih baik kau jangan bekerja dulu Jes, apalagi acara pernikahan kalian sebentar lagi. Jangan sampai tubuhmu drop. Kau juga baru saja pulih," saran Ayah Dave sambil menyesap minuma hitam yang ada di dalam gelasnya.
"Iyaa, Pa."
******
Jeslyn mendekati ranjang, ketika melihat Dave masih tertidur. Dia kemudia membungkuk. "Dave, bangun Dave," ucap Jeslyn sambil mengguncangkan tubuh Dave.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi Dave belum juga bangun. "Dave.. Bangun. Kau akan terlambat nanti." Jeslyn mengguncang kembali tubuh Dave sedikit lebih keras, "bangun Dave." Jeslyn terus berusaha membangunkan suaminya.
"Jangan teriak-teriak sayang. Aku sudah bangun," ucap Dave sambil membuka matanya.
Jeslyn menghembuskan napasnya, lalu berdiri tegak di pinggir tempat tidur. "Dave, ini sudah siang. Lebih baik kau mandi sekarang."
Dave menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu setengah berbaring di ranjang. "Kau dari mana? Kenapa meninggakan aku sendiri?" tanya Dave sambil menatap istrinya. Dia tampak masih belum ada niat untuk beranjak dari tempat tidur.
"Kau sudah sempat bangun tadi?" tanya Jeslyn dengan wajh terkejut.
"Ya," ucap Dave sambil menganguk
Dave memang sempat terbangun, tetapi karena masih merasa malas, Dave kembali menutup mata, melanjutkan tidurnya.
"Kalau begitu mandilah. Aku akan menyiapkan keperluanmu," ucap Jeslyn dengan cepat.
"Kau mau ke mana, Sayang," Dave menahan tangan Jeslyn ketika dia hendak melangkah pergi.
"Aku.. bukankah sudah kubilang, aku akan menyiapkan keperluanmu," jawab Jeslyn terbata-bata.
Dave kemudian menarik tangan Jeslyn dengan kuat sehingga istrinya terjatuh di atas tubuhnya dan saling berhadapan. "Daveee," pekik Jeslyn ketika Dave menahan tubuhnya agar dia tidak bisa bergerak.
Mata mereka langsung bertatapan. "Kenapa kau gugup sekali? Apa kau sudah melakukan kesalahan?" tanya Dave dengan senyum menggoda.
Jeslyn langsung menggeleng kuat. "Tidak," jawab Jeslyn dengan cepat. Dia mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan suaminya.
Dave meraih dagu Jeslyn, sehingga mereka kembali bertatapan. "Lalu apa yang sudah kau lakukan pada tubuhku?" tanya Dave dengan tatapan menyelidik.
Tentu saja Dave sudah melihat tubuhnya ketika dia terbangun tadi. Dia memutuskan untuk bertanya pada istrinya nanti.
"Aku... aku tidak melakukan apapun," jawab Jeslyn cepat sambil menggeleng kuat.
Dave menyunggingkan sudut bibirnya. "Kalau bukan kau yang melakukannya, bagaimana bisa ada banyak tanda di tubuhku." Dave mendekatkan wajahnya pada Jeslyn, kemudian berkata, "Apa menurutmu ada binatang buas yang habis menerkamku?"
Bersambung...
__ADS_1