
Dave dan Jeslyn mulai menapaki tangga menuju kamar mereka setelah selesai makan malam. Sesuai permintaan ibu Dave tadi, malam ini Dave dan Jeslyn hanya akan tidur berdua tanpa di temani Alea, karena dia akan tidur bersama dengan ibu Dave di kamar tamu.
Dave meraih handle kemudian membukanya, setelah istrinya masuk ke dalam, dia langsung mengunci pintunya.
Dengan langkah pelan, Jeslyn berjalan menuju tempat tidur, lalu dia setengah berbaring dengan sandaran bantal di belakangnya. Dia kemudian menyalakan televisi. "Apa kau masih lelah sayang?" tanya Dave ketika melihat wajah Jeslyn tampak lesu.
"Tidak Dave, aku hanya bosan. Seharian ini, aku hanya di kamar saja," ucap Jeslyn sambil menatap ke arah televisi.
Dave kemudian berbaring diatas paha istrinya. "Bagimana kalau besok kau ikut ke kantorku?" usul Dave sambil tersenyum.
"Dave, angkat kepalamu sebentar," pinta Jeslyn sambil memegang kepala suaminya.
Dave langsung mengangkat kepalanya, setelah itu, Jeslyn membenarkan posisi duduknya menjadi tegak, tetapi tetap bersandar di kepala tempat tidur. Dia merasa tidak nyaman dengan posisinya tadi karena Dave duduk di pahanya.
Setelah posisinya sudah pas. Jeslyn menepuk pahanya dan Dave pun kembali berbaring di tempat semula. "Aku tidak mau mengganggumu bekerja Dave," tolak Jeslyn lembut. Dia kemudian mengusap kepala suaminya dengan pelan sehingga membuat Dave langsung merasa nyaman dengan sentuhan lembut istrinya.
"Aku justru bertambah semangat jika kau bisa menemaniku bekerja sayang," papar Dave. Dia memang belum pernah sekalipun mengajak istrinya ke kantornya.
Jeslyn lalu menunduk menatap suaminya. "Bagaimana kalau aku berkunjung ke rumah sakit saja. Di sana banyak temanku," usul Jeslyn.
"Tidak boleh..!!" seru Dave dengan tegas.
"Kenapa?" tanya Jeslyn heran.
"Aku tidak mau kau bertemu dengan Dion," aku Dave.
"Dion, sedang tidak ada di sana Dave. Dia sedang seminar di luar kota," ungkap Jeslyn lembut. Sebisa mungkin dia menghindari perdebatan yang menurutnya akan terus berlanjut, jika dia tidak mengakhiri segera.
Dave langsung bangun dari tidurnya. Dia kemudian menatap Jeslyn dari dekat dengan tatapan curiga. "Dari mana kau tahu dia sedang seminar ke luar kota? Apa kalian diam-diam sering bertukar kabar di belakangku?"
Jeslyn kemudian menangkup wajah Dave dengan kedua tangannya. "Cuup." Jeslyn mendaratkan kecupan singkat pada bibir suaminya. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak Dave," ucap Jeslyn sambil tersenyum.
"Jangan membuatku cemburu Jeslyn. Bukankah kau tahu, kalau aku sangat tidak menyukainya," ucap Dave dengan wajah serius.
Dave langsung meraih dagu istrinya dan melu*matnya dengan cepat. "Mmmhh," gumam Jeslyn sambil berusaha menjauhkan tubuh Dave darinya.
Dave tampak tidak memperdulikan ketika Jeslyn menepuk-nepuk bahunya. Dengan sedikit kasar Dave membelit lidah dan menghisap bibir Jeslyn. Melihat Dave yang seperti sedang marah, akhirnya Jeslyn menyerah. Dia membiarkan Dave melakukan yang dia inginkan. Itulah cara untuk meredam emosi Dave yang tiba-tiba menguak karena dipicu pembahasan mengenai Dion.
Dengan gerakan cepat, Dave membaringkan tubuh istrinya dan mulai menelusuri leher jenjang istrinya dengan kecupan dan sesekali meninggalkan jejak kemerahan di sana. "Dave," lenguh Jeslyn ketika dia merasa mulai terpancing, apalagi saat tangan Dave bergerak di daerah sensitifnya.
Tangan Jeslyn meremas kepala suaminya sambil memejamkan mata menikmati setiap sentuhan suaminya. "Jangan pernah dekat dengan pria manapun Jeslyn! Aku tidak menyukainya," ucap Dave di sela-sela kegiatannya.
__ADS_1
Jeslyn yang sudah terbuai dengan permainan Dave hanya bisa mengangguk. Entah sejak kapan, Jeslyn pun tidak menyadari kalau tubuh mereka sudah polos. "Dave," panggil Jeslyn dengan suara lembut.
"Iyaa sayang," ucap Dave tanpa menghentikan kegiatannya. Dia terus memberikan rangsangan pada tubuh istrinya. "Bukankah kau bilang, ingin memberikan waktu untukku beristirahat?" tanya Jeslyn dengan suara pelan.
Dave seketika berhenti, dia kemudian menatap langsung bola mata istrinya. "Itu karena kau sudah memancing kemarahanku. Aku harus menghukummu."
Jeslyn tersenyum. "Aku mencintaimu Dave, hanya dirimu, kau harus tahu itu," ucap Jeslyn lembut sambil memegang pipi suaminya.
"Kalau begitu buktikan padaku," ucap Dave dengan suara berat.
"Lakukan apapun yang kau mau," ucap Jeslyn lagi, masih dengan senyum tipis di wajahnya.
"Kau harus segera mengandung anakku Jes." tanpa menunggu lama Dave kembali menyerang bibir istrinya dan perlahan melakukan penyatuan.
"Dave, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Jeslyn parau.
Senyum tipis tersungging di bibir Dave. "Teruslah mencintaiku, jangan pernah berhenti," ucap Dave sambil terus memompa tubuh istrinya.
Jeslyn hanya memasrahkan diri pada suaminya, tidak ada gunanya dia berdebat, disaat Dave sedang emosi. Jeslyn sampai sekarang masih tidak mengerti kenapa Dave begitu cemburu pada Dion.
Dave akhirnya berhenti ketika dia sudah menghujami rahim istrinya dengan jutaan benihnya. "Maafkan aku sayang, karena tidak bisa mengendalikan diriku," ucap Dave dengan napas yang tidak beraturan. Dia menatap istrinya yang masih berada dibawahnya sambil mengatur pernapasannya.
"Sebab itulah, kau harus menjaga jarak dengan laki-laki lain," ucap Dave dengan wajah serius.
Jeslyn langsung tersenyum lebar. "Iyaa suamiku."
"Kita mandi bersama." Dave langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandi bersama. Mereka kembali berbaring di tempat tidur. Tentu saja hanya mengenakan bathrobe karena Dave melarangnya memakai baju. Mereka berbaring di bawah selimut dengan posisi saling berhadapan.
"Besok kau harus ikut aku ke kantor," ucap Dave dengan tegas.
Dave sengaja memaksa istrinya untuk ikut, karena tidak mau Jeslyn pergi ke rumah sakit.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan Alea?" tanya Jeslyn pelan.
"Biarkan Alea dengan mama, jika dia nanti mencari kita, minta supir untuk mengantarnya ke kantor," usul Dave.
"Iyaa sayang," ucap Jeslyn lembut.
__ADS_1
Dave mengecup hidung istrinya. "Kau menggemaskan sekali sayang,"
Jeslyn mencebikkan bibirnya. "Kalau begitu kendalikan emosimu Dave. Kau selalu saja emosi jika sudah membahas Dion."
Dave meraih tubuh istrinya dan meletakkan kepala istrinya di lengannya, dengan tubuh menghadap Dave. "Aku sudah mencobanya sayang, tetapi aku selalu saja terpancing, jika sudah membahasnya."
Jeslyn mendekatkan wajahnya di dada suaminya. Dia kemudian menyesap kuat hingga meninggalkan tanda merah. Dave hanya tersenyum ketika melihat tanda merah di dadanya.
"Jes," panggil Dave dengan suara pelan.
"Heeemm?"
"Ayo kita menikah lagi."
Jeslyn langsung mendongakkan kepalanya menatap Dave. "Bukankah kita suda menikah?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.
"Iyaa, tetapi hanya beberapa orang yang tahu, kalau kau istriku. Aku ingin melakukan pernikahan yang besar dan megah, agar semua orang tahu, kalau kau adalah istriku," ucap Dave sambil menatap iris mata istrinya. "Aku ingin orang diluar sana tahu mengenai identitasmu sebagai menantu di keluarga Tjendra."
Mata Jeslyn tampak berkaca-kaca. Dia nampak terharu mendengar ucapan suaminya. "Sebenarnya aku tidak apa-apa Dave. Aku sudah terbiasa dengan dengan statusku saat ini. Kau tidak perlu melakukannya."
Dave menggeleng kuat. "Mama dan papa sudah setuju dengan renacanaku, bahkan mama yang akan mengurus acara pernikahan kita nanti," ungkap Dave.
Perasaan Jeslyn bertambah bahagia mendengar hal itu. "Terima kasih Dave," ucap Jeslyn sambil memeluk tubuh suaminya.
"Iyaa sayang."
"Kapan rencana resepsinya akan diadakan?" tanya Jeslyn sambil menatap suaminya.
"Seminggu lagi sayang. Maka dari itu, kau jangan bekerja dulu. Setelah resepsi, kita akan berbulan madu ke luar negri. Semua sudah aku susun rapi," papar Dave.
"Untuk apalagi berbulan madu Dave? Kita bukanlah pengantin baru," tutur Jeslyn.
"Kita membutuhkannya sayang. Kita harus berusaha lebih keras, agar kau cepat hamil sayang," ucap Dave sambil merapikan anak rambut yang ada di dahi istrinya.
"Tetapi kita bisa berbulan madu di sini Dave, tidak perlu keluar negri."
"Aku ingin mencari suasana baru sayang. Selama menikah kita belum pernah bepergian bersama keluar negri. Aku ingin menghabiskan banyak waktu hanya berdua denganmu."
Dave teringat saat mereka baru mereka menikah. Dave dan Jeslyn tidak mengambil cuti sama sekali, jadi keesokan harinya mereka langsung bekerja kembali. Dave ingin mengulang dari awal, walaupun sebenarnya sudah terlambat, setidaknya Jeslyn merasakan hal yang sama dengan orang lain rasakan ketika baru saja menikah.
"Baiklaah."
__ADS_1
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..