
Tidak jauh dari mereka ada 3 orang yang sedang duduk mengobrol sambil menatap ke arah Stella dan Dion.
"Aku lihat, suami Stella laki-laki yang baik," ucap Glen sambil menikmati minuman yang ada di tangannya. "Aku juga merasa kalau Stella terlihat bahagia menikah dengannya," sambung Dave lagi.
Dave melirik sekilas pada Glen. "Maka dari itu, carilah pasangan hidupmu. Sampai kapan kau akan hidup sendiri." Dave meletakkan gelas yang ada ditangannya di atas meja.
"Kalau begitu carikan aku wanita yang seperti istrimu," gurau Glen.
Dave melirik pada Jeslyn yang duduk di sebelahnya lalu beralih menatap pada Glen. "Bukankah kau sedang mendekati, Diana?" tanya Dave dengan wajah acuh.
"Diana tidak mau denganku. Mungkin karena aku tidak setampan dan sekaya dirimu."
Semasa sekolah, Glen memang sempat menyukai Diana tapi dia pendam karena dia tahu kalau Diana menyukai Dave.
Dave mendesis. "Kau saja yang kurang percaya diri. Lagi pula, banyak wanita yang mengejarmu di luar sana. Kenapa tidak kau pilih saja salah satu dari mereka."
Glen menyenderkan tubuhnya di kursi lalu menyilangkan kakinya. "Aku tidak suka dikejar oleh wanita." Glen menatap santai pada Dave, "bagaimana kalau kau membantuku mendekati Diana?"
Dave mengangkat alisnya sebelah sejenak. "Jika kau hanya ingin bermain-main dengannya lebih baik lupakan saja keinginanmu itu."
Meskipun Dave tidak menyukai Diana, tapi tidak mau kalau sampai Glen menyakiti Diana karena Diana adalah sahabatnya apalagi Diana sudah banyak membantunya.
Jeslyn melirik pada Dave ketika mendengar perkataan suaminya. "Apa kau pernah melihat aku mempermainkan wanita?" tanya Glen.
Dave kembali meraih gelasnya lalu meminumnya. "Aku akan membantumu jika kau berniat untuk serius dengannya," ucap Dave sambil meletakkan gelasnya.
Glen beralih menatap Jeslyn. "Jes, bagaimana menurutmu? Apakah aku cocok dengan Diana?"
Dahi Jeslyn langsung mengerutkan kening kemudian tersenyum kaku sebelum menjawab pertanyaan Glen. "Aku tidak tahu. Aku tidak begitu kenal dekat dengan Diana."
"Apa hubunganmu tidak baik dengan Diana karena dia pernah menjadi saingan cintamu?"
"Jangan bicara omong kosong pada istriku," sela Dave sebelum Jeslyn menjawab pertanyaan Glen.
"Kau pikir, aku tidak tahu kalau Diana menyukaimu?"
Meskipun Diana tidak pernah mengatakan pada Glen, tapi dia tahu kalau Diana menyukai Dave ketika melihat gesture Diana saat bersama dengan Dave.
"Jangan membuat gosip yang tidak-tidak. Istriku bisa salah paham nanti," ucap Dave sambil melirik sekilas pada Glen.
"Kau tenang saja Jeslyn, suamimu ini tidak pernah menyukai Diana."
__ADS_1
Glen sebenarnya hanya menggoda Dave saja. Dia tidak serius dengan perkataannya. Meskipun yang dia katakan memang benar dan Jeslyn pun tahu hal itu.
"Iyaa, aku tahu," ucap Jeslyn sambil tersenyum.
"Glen, sudah malam, kami pulang dulu." Dave berdiri diikuti oleh Jeslyn.
"Kalian tidak menginap di sini?" tanya Glen sambil berdiri.
"Tidak," jawab Dave cepat. "Kami pulang dulu."
"Baiklah."
*****
Ibu Dion menghampiri anak dan menantunya di pelaminan. "Kalian kembalilah ke kamar. Biarkan mama dan papa yang mengurus tamu yang lain," ucap ibu Dion sambil menatap anaknya.
"Iya Ma." Dion membantu Stella untuk bangun.
"Kalian tidak perlu ikut sarapan bersama kami besok pagi. Mama akan meminta pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamar kalian." Wajah Stella langsung memerah. Dia tahu maksud dari perkataan inu mertuanya.
"Ma, kami ke kamar dulu," pamit Dion sebelum menuju kamar mereka.
"Oyaa, ini kartu akses kamar pengantin kalian. Letakknya di samping kamarmu yang kau tempati tadi." Ibu Dion kembali menyusul Stella dan Dion dan memberikan kartu pada anaknya.
"Ada apa? Kenapa kau berdiri di situ?" tanya Dion setelah menutup pintu dan melihat istrinya berdiri di dekat tempat tidur.
Stella menoleh pada Dion. "Tidak apa-apa, aku suka dekorasinya kamar pengantin kita," ungkap Stella.
Dion mendekati Stella dan memeluknya dari belakang. "Aku sangat bahagia akhirnya kita sudah resmi menjadi suami istri."
Stella terlihat gugup saat Dion memeluknya. "Dion, lebih baik kau mandi. Aku akan membersihkan riasanku dulu selagi kau mandi."
"Bagaimana kalau kita mandi bersama," goda Dion sambil meletakkan dagunya di bahu Stella.
"Ti-tidak usah. Ak-aku akan menghapus riasanku dulu."
"Kenapa kau jadi panik sayang," bisik Dion di telinga Stella.
Stella langsung melepaskan diri dari pelukan Dion lalu berjalan menuju rias untuk membersihkan riasannya. Dion hanya tersenyum ketika melihat istrinya yang tampak salah tingkah.
Dion kemudian menghampiri istrinya dan berdiri tepat di belakangnya. "Baiklah, aku mandi dulu. Kita bisa mandi bersama setelah kita...."
__ADS_1
"Dion, lebih baik kau mandi sekarang," pekik Stella sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Iyaa sayang, aku akan mandi." Dion menahan senyumnya ketika melihat wajah merah istrinya. "Apa kau yakin tidak mau mandi bersamaku?" tanya Dion sebelum masuk ke kamar mandi.
"Dion," pekik Stella lagi.
"Baiklah, aku mandi dulu."
Stella langsung menarik napas lalu menghembuskannya setelah pintu kamar mandi tertutup. Stella mulai membersihkan riasan di wajahnya. Setelah wajahnya bersih, Stella berniat untuk melepaskan gaun pengantinnya tapi dia agak kesulitan melepasnya.
Pintu terbuka. "Dion, bisakah kau membantuku untuk melepaskan gaun ini," pinta Stella dengan wajah malu dan memerah. Dia sudah mencoba melepasnya selama 10 menit tapi belum berhasil juga.
Dion berjalan menuju Stella dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. "Dion, pakai bajumu dulu, kau bisa masuk angin nanti." Stella terlihat sedikit terkejut melihat Dion yang belum memakai pakaian.
"Untuk apa memakai baju kalau pada akhirnya nanti kita akan melepasnya."
Wajah Stella langsung memerah dan gugup. Stella jelas saja mengerti maksud dari perkataan suaminya.Stella menelan salivanya ketika Dion mulai melepaskan resleting gaun yang ada di punggungnya.
"Dion, cepatlah. Jangan main-main," ucap Stella ketika merasakan jari tangan Dion yang menyentuh kulit punggungnya.
"Kenapa buru-buru sekali, Sayang."
Dion tidak mengubris ucapan istrinya. Setelah menarik resleting sampai batas pinggungnya. Dion justru mulai menyentuh punggung Stella dengan bibirnya. Dion memberikan kecupan lembut di punggung mulus istrinya.
Stella memejamkan matanya setiap Dion memberikan kecupan di punggungnya. "Dion," panggil Stella dengan suara pelan.
"Iyaa, Sayang," jawab Dion tanpa menghentikan aksinya.
"Badanku lengket dan bau, aku ingin mandi," ucap Stella dengan wajah memerah.
Dion menghentikan aksinya lalu dengan gerakan cepat menarik gaun pengantin istrinya hingga merosot ke bawah. Terpampanglah tubuh mulus istrinya yang hanya memakai dala*man saja.
Dion tampak terkesiap menatap tubuh istrinya. "Dion, aku ingin mandi dulu." Stella mengulangi lagi perkataanya saat Dion tidak juga membalas ucapannya.
"Nanti saja, Sayang," Dion kembali memeluk tubuh Stella dari belakang. "Tapi, tubuhku bau dan lengket, Dion."
Stella memang merasa risih karena dia belum mandi sementara Dion sudah mandi dan wangi.
"Tidak apa-apa Sayang. Aku suka bau tubuhmu," bisik Dion dengan suara parau.
Stella menutup matanya saat Dion mengecup lembut pundaknya. "Dion." Stella memegang erat tangan Dion yang ada di perutnya.
__ADS_1
"Jangan tegang, Sayang." Tubuh Stella meremang ketika Dion mulai mengecup pundaknya dengan lembut.
Bersambung...