
"Sayang, jangan makan banyak-banyak. Kau bisa sakit perut nanti."
Dave membersihkan sudut bibir Jeslyn dengan ibu jarinya. Dia menatap heran pada istrinya ketika melihat Jeslyn memakan buah Strawbery dan buah plum dengan ekpresi biasa saja. Padahal, Dave sempat mencobanya karena penasaran dengan rasanya yang terasa sangat asam.
Jeslyn dengan acuh tak acuh menatap suaminya. "Tapi ini enak, Dave. Mulutku rasanya tidak mau berhenti ketika memakannya."
Kedua buah tersebut sudah dipotong kecil-kecil dan diletakkan di sebuah piring berwarna putih. Dave tadi meminta bantuan karyawan bagian restoran untuk mengupas dan memotongnya.
"Apa kau tidak merasa kalau buah itu asam?" tanya Dave dengan wajah heran.
Jeslyn menggeleng seraya terus mengunyah buah yang ada dimulutnya. "Rasa segar Dave. Aku suka. Ternyata buah plum enak juga." Jeslyn kembali memasukkan buah plum ke dalam mulutnya.
Dave memperhatikan wajah istrinya yang ada di sampingnya dengan seksama sambil menelan salivanya. "Sayang, apa kau sudah datang bulan?" tanya Dave dengan hati-hati.
Jeslyn berpikir sejenak lalu melanjutkan mengunyah buah yang ada di dalam mulutnya. "Sepertinya sebentar lagi karena sudah mulai keluar flek," ungkap Jeslyn acuh tak acuh.
"Bukankah kemarin kau juga bilang begitu? tapi kenapa kau belum datang bulan juga?" tanya Dave seraya mengerutkan keningnya.
"Itu biasa Dave. Biasanya sebelum datang bulan, akan muncul flek lebih dahulu. Waktunya tidak tentu tergantung hormon dalam tubuh. Setiap wanita berbeda-beda. Ada yang flek sehari sorenya langsung dapat, ada yang beberapa hari sebelumnya, bahkan ada yang langsung datang bulan," jelas Jeslyn panjang lebar.
"Memangnya kenapa?" tanya Jeslyn heran. Tidak biasanya Dave bertanya mengenai tamu bulanannya.
"Tidak apa-apa sayang," jawab Dave seraya menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak terlalu paham mengenai tamu bulanan wanita.
"Sehabis bulan madu, kita temui dokter Sarah ya sayang," bujuk Dave dengan suara lembut seraya merapikan rambur istrinya.
Jeslyn langsung berhenti mengunyah dan menatap Dave sejenak seraya berpikir. "Jangan khawatir sayang, semua akan baik-baik saja," ucap Dave menenangkan. "Jangan berpikiran terlalu jauh. Setidaknya kita berusaha terlebih dahulu," ucap Dave.
"Baiklah." Jeslyn berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kegelisahannya.
*****
Malam harinya Jeslyn dan Dave pergi menemui Stella di kamarnya. Selain ingin menengok Alea, mereka berdua juga ingin berbincang dengan Stella. Rencananya lusa,
Dave dan Jeslyn langsung terbang ke benua Eropa untuk melaksanakan bulan madu yang sudah Dave rancang untuk mereka berdua, oleh karena itu mereka ingin menemui Alea dan Stella terlebih dahulu.
"Dion tidak datang bersamamu?" Jeslyn menatap Stella yang baru saja keluar dari kamar setelah menidurkan Alea. Anaknya kelelahan setelah bermain dengan Dave dan Jeslyn tadi.
Dave melirik istrinya ketika mendengar nama pria yang tidak dia suka. Walaupunn Dave udah tahu kalau Stella dan Dion akan segera menikah, tetap saja di hati Dave masih tersimpan rasa cemburu setiap istrinya membahas Dion.
__ADS_1
Stella duduk di depan Dave dan Jeslyn. "Nanti dia akan menyusul ke sini. Dia praktek sampai jam 10 malam," terang Stella.
Jeslyn mengangguk tanda mengerti. "Jadi, kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Jeslyn penasaran.
"Dion minta 2 minggu lagi, tapi menurutku itu terlalu cepat."
"Jika kau memang sudah yakin dengannya, jangan menunda terlalu lama, lagi pula, dia bisa menjagamu nanti dari tindakan nekat keluarga mantan suamimu," timpal Dave dengan wajah tenang.
Jelsyn mengangguk setuju dengan perkataan suaminya. "Benar yang dikatakan oleh Dave, Stella. Aku sangat mengenal Dion, kau tidak akan menyesal jika menikah dengannya. Dia adalah laki-lai baik dan bertanggung jawab. Dia bisa menjagamu dan Alea dengan baik."
"Sebenarnya aku hanya takut untuk memulai kehidupan rumah tangga yang baru. Aku juga takut mengecewakannya."
"Seharusnya dia beruntung mendapatkanmu," timpal Dave, "kau adalah wanita yang kuat, berhati baik, dan mandiri."
Jeslyn langsung melirik tajam pada suaminya. "Aku hanyalah janda beranak satu Dave, sementara dia masih bujang dan berasal dari keluarga terpandang."
"Status tidak begitu penting menurutku. Kalau dia dan keluarganya keberatan dengan statusmu, tidak mungkin mereka menerimamu begitu mudah. Kau jangan terlalu merendah." Ekpresi Dave tampak tenang.
"Aku rasa diluar sana banyak laki-laki yang menginginkanmu, meskipun kau sudah memiliki anak. Kau bahkan terlihat masih sangat muda, Stella. Kau bisa bertahan dengan kerasnya hidup dan bisa membesarkan Alea menjadi anak yang sangat pintar dan pengertian. Kau berhasil membesarkannya, meskipun tanpa suami di sisimu. Kau wanita yang hebat Stella. Sulit untuk mencari wanita sepertimu." Dave berbicara dengan santai tanpa tahu apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini.
"Iyaa benar Stella, mungkin kalau Dave belum memiliki istri, dia pasti akan kembali lagi padamu. Seharusnya aku tidak berada di tengah-tengah kalian. Aku bisa mundur jika kalian ingin bersama," ucap Jeslyn dengan senyuman yang dipaksakan.
"Belum terlambat untuk membatalkan pesta pernikahan kita, Dave." Jeslyn langsung memotong ucapan Dave. "Aku berkata sungguh-sungguh. Jika kalian ingin bersama, aku yang akan pergi. Lagi pula, kalau kau menikah dengan Stella, dia bisa memberikanmu keturunan, tidak seperti aku."
Jeslyn berusaha keras menahan air matanya. Akhir-akhir ini dia mudah sekali mengeluarkan air mata, emosinya juga tidak stabil dan sangat sensistif.
Dave langsung memucat. Kata-kata Jeslyn membuatnya merasa bersalah sekaligus takut. Takut kalau Jeslyn sungguh bertekad meninggalkannya dan dia tidak akan bisa mencegahnya kali ini. Dave segera meraih tangan istrinya.
"Sayang, kau salah paham. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Stella. Kami murni berteman sayang, sama seperti kau dan Dion. Jangan berkata yang tidak-tidak. Aku tidak suka."
Stella yang mendengar perkataan Jeslyn juga merasa tidak enak hati. "Jes, benar yang dikatakan oleh Dave. Hubungan kami sudah selesai. Kami tidak akan bisa kembali bersama walaupun kalian berpisah."
Jeslyn berusaha menampilkan senyum lebarnya. "Maaf Stella, aku hanya terbawa suasana. Mungkin karena aku akan datang bulan sehingga jadi lebih sensitif ini. Kau jangan merasa tidak enak padaku. Akulah yang merebut Dave darimu. Maafkan aku. Kalian bicaralah. Aku kembali ke kamar dulu." Tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua, Jeslyn langsung pergi meninggalkan kamar Stella.
Entah mengapa mendengar Dave memuji Stella membuat hatinya panas dan kesal. Yang ada di pikiran adalah Dave masih ada perasaan dengan Stella.
Dave menghela napas panjang. "Apa kalian bertengkar sebelumnya?" tanya Stella setelah Jeslyn menghilang dari balik pintu.
"Tidak, kami baik-baik saja. Hanya belakangan ini dia sangat sensitif. Sikapnya sedikit aneh, terkadang manja, seketika berubah marah dan sedih. Moodnya cepat sekali berubah. Dia bahkan sering mencurigaiku dekat dengan wanita lain."
__ADS_1
Dave memang sedikit kewalahan awalnya menghadapi perubahan sikap Jeslyn, tapi lama-lama dia mulai terbiasa.
Stella terdiam sejenak. Seperti sedang memikirkan sesuatu."Dia begitu karena sangat mencintaimu, Dave. Apa dia memiliki keanehan lain selain itu?"
Dave tampak mengerutkan keningnya. "Maksudku, suatu hal yang diluar kebiasaannya," tambah Stella.
"Dia belakangan ini terlihat lesu dan tidak napsu makan. Dia lebih manja dari biasanya, dan selalu ingin dekat denganku. Dia bahkan bisa menangis hanya karena aku tidak bisa menemaninya tidur. Jika aku tidak menuruti keinginannya dia langsung marah, padahal dia bukanlah orang sepeti itu. Belakangan ini lebih ekpresif," ungkap Dave seraya membayangkan perilaku istrinya yang berubah 180 derajad dari biasanya.
Sebenarnya dia merasa senang karena Jeslyn selalu ingin dekat dengannya, apalagi saat Jeslyn bersikap manja padanya, Dave sangat menyukainya. Hanya saja terkadang dia memiliki urusan penting yang tidak bisa dia tinggalkan sehingga membuatnya harus pergi ke meninggalkan Jeslyn di rumah.
Stella tersenyum penuh arti. "Lebih baik kau bawa dia ke dokter."
Dave mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"
"Kau akan mengerti nanti. Lebih baik kau temui dokter kandungan dan batalkan rencana bulan madumu."
"Maksudmu?" Dave masih belum bisa menangkap jelas maksud dari perkataan Stella.
"Kemungkinan Jeslyn sedang hamil, Dave," tebak Stella lembut seraya tersenyum.
Dave sedikit tercengang sesaat, tapi beberapa detik kemudian dia mengembalikan kesadaranya. Sebenarnya dia juga sempat mendunga hal itu saat melihat Jeslyn tampak menyukai makanan asam.
"Tapi dia tidak mual dan muntah seperti ketika hamil dulu. Dia bahkan bilang akan datang bulan karena dia sudah muncul flek."
Stella mengulum senyumannya. "Dave, tidak semua wanita hamil akan mengalami mual dan muntah saat hamil. Mungkin saja dia belum dalam fase itu, atau dia memang tidak mengalami hal itu. Meskipun dulu dia mengalami mual dan muntah, belum tentu kehamilan yang sekarang dia akan mengalami hal yang sama," terang Stella, "lebih baik lusa kau ajak Jeslyn ke dokter," sarannya. Menurut pengalamannya dia sangat yakin kalau Jeslyn saat ini sedang hamil.
Wajah Dave langsung memancarkan kebahagian. "Aku harap yang kau katakan benar Stella." Membayangkan istrinya sedang hamil membuatnya sangat bahagia. Senyum lebar langsung menghiasi wajah tampannya.
"Lebih baik kau susul dia atau dia akan bertambah marah padamu. Aku takut dia berpikir yang tidak-tidak pada kita. Kau harus lebih sabar menghadapinya mulai sekarang Dave," saran Stella. "Aku pun begitu saat hamil. Aku justru lebih parah darinya. Aku selalu menangis setiap hari dan marah-marah tidak jelas pada Daniel saat hamil Alea."
"Baiklah." Dave langsung berdiri. Dia sudah tidak sabar untuk menyusul istrinya. "Terima kasih Stella karena sudah memberitahuku."
Dave memegang tangan Stella setelah itu keluar dari kamar Stella dengan wajah bahagia dan mata yang berbinar.
"Dave, kalau bisa jangan pernah membahasku untuk sementara waktu. Aku rasa dia masih cemburu padaku," saran Stella sebelum Dave keluar dari kamarnya.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
Bersambung..
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..