Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Mau Bercerai


__ADS_3

Zayn menyerahkan berkas putih pada Felicia. “Silahkan Nona tanda tangani surat ini, tuan Dave tidak ingin menunggu lebih lama lagi.”


Felicia diam saja dan hanya memandangi kertas yang ada di atas meja. Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah Dave. “Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai dengan Dave.” Felicia mengambil lalu merobek surat yang disodorkan oleh Zayn.


“Anda hanya akan mempersulit hidup anda sendiri Nyonya jika menolak bercerai dengan tuan Dave secara damai.”


Felicia menyunggingkan senyum jahatnya pada Zayn. “Katakan pada Dave kalau aku tidak akan pernah mau bercerai dengannya. Ada anaknya dalam rahimku. Ibunya tidak akan membiarkan Dave menceraikan aku.” Felicia mengambil tasnya lalu berjalan pergi meninggalkan Zayn.


Zayn berusaha menyusul Felicia. “Apa Nyonya yakin tidak ingin mempertimbangkannya?” Zayn ingin memastikan kembali keputusan yang diambil oleh Felicia.


Felicia tampak enggan menanggapi pertanyaan Zayn. Dia terus berjalan menuju pintu keluar tanpa menjawab pertanyaan asisten Dave tersebut.


****


“Bagaimana hasilnya?” Dave menatap Zayn yang baru saja masuk ke ruangan kerja Dave.


Zayn langsung menghubungi Dave ketika dia sudah selesai berbicara dengan Felicia. Dave lalu memintanya untuk datang ke ruang kerjanya. “Nyonya Felcia menolak bercerai dengan Anda, Tuan,” jawab Zayn sopan.


“Baiklah, kita tidak perlu menunggu lagi. Langsung jalankan rencana kita selanjutnya. Aku tidak akan berdamai dengannya lagi kali ini,” ucap Dave dengan wajah tenang.


“Baik Tuan, saya akan melaksanakannya langsung.”


“Pergilah.”


Dave memejamkan matanya sejenak sambil bersandar pada kursi kerjanya, seperti sedang memikirkan sedang memikirkan sesuatu.


*****


Jeslyn mengedarkan pandangannya ketika tidak melihat Dave di tempat tidur. Pagi ini Jeslyn merasa badannya masih lemah. Semalam dia kurang tidur karena Dave terus mengganggunya. “Kau sudah bangun?”

__ADS_1


Dave melangkah masuk kamarnya dan berjalan mendekati istrinya ketika melihat wajah pucat Jeslyn.


“Apa kau sakit, sayang?” Dave memegang dahi Jeslyn. Dia ingin memeriksa apakah istrinya demam.


“Tidak Dave, aku hanya lelah.”


“Kalau begitu kau istrirahat saja di kamar. Aku akan mengambil makanan untukmu.”


Jeslyn mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur karena kepala terasa berat. Dia merasa memang butuh istirahat.bBeberapa menit kemudian Dave kembali dengan membawa sarapan bubur untuk Jeslyn.


Dengan hati-hati dia menyuapi istrinya. Setelah dokter Sarah memeriksa Jeslyn kemarin. Dave tampak puas. Tidak ada masalah apapun yang terjadi pada kandungan Jeslyn.


Awal Dave meminta dokter Sarah untuk datang, tetapi dia berubah pikiran. Dia memutuskan untuk mengantar Jeslyn ke rumah sakit. Dia ingin memastikan kalau anaknya baik-baik saja.


Setelah menghabiskan buburnya, Dave meminta Jelsyn untuk beristirahat. Jelsyn langsung menuruti permintaan suaminya. Dia mulai duduk sambil bersandar dengan bantal.


Bukan tanpa alasan Dave melarang Jeslyn untuk keluar kamarnya. Masih ada Felicia yang harus dia waspadai. Dia hanya berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu pada istrinya.


Jeslyn mengangguk sambil tersenyum. “Iya Dave.” Setelah memastikan Jeslyn berbaring, Dave berjalan menuju ruang kerjanya.


Setelah beristirahat selama 3 jam, Jeslyn bangun dari tidurnya. Dia berjalan keluar kamar untuk memanggil bi Asri karena tiba-tiba dia merasa haus. “Bi, bi Asri,” panggil Jeslyn dengan suara keras.


Setelah memanggil beberapa kali tidak ada sahutan. Jeslyn memutuskan untuk turun ke dapur sendiri. Baru saja berjalan beberapa langkah. Dia sudah bertemu dengan Felicia. “Menyingkir Fel, aku ingin lewat.” Jeslyn menatap jenga Felicia ketika jalannya dihalangi olehnya.


Felicia tersenyum sinis. “Aku perhatikan, kau semakin besar kepala setelah berhasil hamil anak Dave.”


“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Jeslyn mulai melangkah ke sisi yang lain, tetapi kembali dihalangi oleh Felicia.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kau dan anakmu seharusnya tidak merebut apa yang seharusnya aku dan anakku miliki.”

__ADS_1


Felica sudah muak melihat Dave yang terus saja memihak pada Jeslyn. Dia ingin membuat perhitungan kepada Jeslyn karena dia sudah membuat Dave mengabaikan dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya. Dia merasa sakit hati karena Dave tidak pernah sekalipun memperhatikannya.


Jeslyn melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan tajam. Dia merasa kesal dengan sikap Felicia yang selalu saja mencari masalah dengannya.


“Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu? Kau adalah orang ketiga dalam hubungan rumah tangga kami. Aku juga tidak pernah mengambil tempat anakmu. Anak dalam kandunganku adalah anak Dave. Sementara bayi dalam kandunganmu bukanlah anak Dave. Kau yang sudah mengambil tempat kami.”


Felicia sektika meradang mendengar perkataan Jeslyn. “Apa kau bilang? Anak dalam perutku bukan anak Dave?” Felicia maju dan mengangkat tangannya untuk menampar Jeslyn, tapi sayangnya tangan Felicia langsung ditangkap oleh Jeslyn.


“Jangan pernah berani menyentuhku, Fel! Aku bukanlah orang bisa dengan mudah kau tindas,” ucap Jeslyn dengan tatapan tajam.


“Lepaskan tangannku!” Felicia berusaha untuk melepaskan tangannya dari gengaman Jeslyn.


“Aku tidak akan melepaskan sebelum kau berjanji untuk tidak menggangguku.”


Felicia kembali mengangkat tangan satunya untuk menampar Jelsyn, tetepi kembali tangannya ditangkap oleh Jeslyn.


“Dengar Jeslyn, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang sebelum kau berpisah dengan Dave.” Felicia mulai memberontak untuk melepaskan tangannya dari Jeslyn.


“Kau tunggu saja Fel sampai aku mempunyai bukti bahwa anak yang ada di perutmu bukan anak Dave. Aku sendiri yang akan mengusirmu dari rumah ini.” Jeslyn menghempaskan kedua tangan Felicia, kemudian berjalan menuruni tangga meninggalkan Felicia.


Felicia menyeringai dengan senyum jahatya. “Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan dirumah ini. Jika aku tidak bisa menjadi Nyonya dirumah ini, maka kau juga tidak boleh berada di sini.” Felicia menyusul langkah Jeslyn menuruni tangga.


Jeslyn seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Felicia. Dia menoleh pada Felicia. “Aku rasa kau sudah gila.”


Felicia tertawa keras. “Kalau kau sudah tahu aku gila, seharusnya kau tidak mencari gara-gara denganku.”


Felicia langsung mendorong Jeslyn dengan kuat ke arah tangga bawah, tapi sayangnya Jeslyn menarik baju Felicia sehingga mereka berguling bersama sampai lantai bawah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2