Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Hadiah Tak Ternilai


__ADS_3

"Apa kau marah denganku?" tanya Jeslyn dengan hati-hati.


Dave langsung berbalik dan menghampiri Jeslyn. "Tidak sayang. Aku hanya ingin membasuh wajahku," jawab Dave seraya tersenyum. Dave mencium kening Jeslyn sebelum dia masuk ke kamar mandi.


Ada rasa bersalah di hati Jeslyn karena sudah menolak keinginan suaminya. Setelah Dave masuk ke kamar mandi. Jeslyn bangun dari tidurnya dengan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke lemari untuk mencari pakaian untuknya.


Jeslyn memakai baju dengan cepat setelah itu dia mengambil kotak berwarna putih berbentuk persehi panjang dan sudah di bungkus dengan rapi yang berisi alat tes kehamilan.


Setelah mengambil kotak itu, dia berjalan ke tempat tidur sambil menunggu Dave keluar dari kamar mandi. Jantung Jeslyn berdebar kencang ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dia menghembuskan napas panjang dan mengatur pernapasannya. Entah kenapa dia seketika merasa sangat gugup.


"Dave," panggil Jeslyn ketika melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dave tersenyum lalu menghampiri Jeslyn dan duduk tepat di sebelahnya. "Ada apa sayang," tanya Dave dengan suara lembut.


"Maafkan aku." Jeslyn masih saja diliputi rasa bersalah terhadap suaminya.


Dave mengusap lembut pipi istrinya. "Kau tidak salah sayang. Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku." Dave lalu berdiri. "Lebih baik kita sarapan dulu."


"Tunggu dulu, Dave." Jeslyn menyodorkan kotak yang ada di tangannya ke hadapan suaminya. "Ini untukmu."


Dave menoleh pada Jeslyn dengan dahi yang berkerut. "Ini hadiah untukmu," ucap Jeslyn ketika melihat Dave yang sedang menatap bingung pada kotak yang ada di tangannya.


Dave yang semula sudah mau berjalan, seketika kembali duduk di samping istrinya. "Terima kasih, sayang." Dave mengambil kotak yang ada di tangan Jeslyn.


Dave menatap sejenak kotak yang terbungkus dengan rapi dan ada ikatan pita merah di tengah kotak itu. "Apa aku boleh membukanya sekarang?" tanya Dave sambilĀ  mengangkat kotak yang ada ditangannya seolah meminta persetujuan dari Jeslyn terlebih dahulu.


Jeslyn mengangguk cepat sambil tersenyum. "Bukalah."


Dengan tidak sabar Dave langsung membuka kotak tersebut. Ketika kotak tersebut sudah terbuka. Dave terlihat mengeryit menatap benda pipih panjang yang ada di dalam kotak tersebut. Dia mulai meraih benda tersebut dan membaliknya. Dave langsung tercengan ketika melihat benda yang dipegangnya adalah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah yang terlihat sangat jelas.


Dave tertegun sesaat dan terlihat syok melihat benda yang ada di tangannya. "Dave." Jeslyn terlihat cemas melihat Dave yang hanya diam sambil menatap alat tes kehamilannya.


Dave langsung tersadar dari keterkejutannya. Dia kemudian langsung menoleh pada istrinya. "Kau hamil, Sayang?"

__ADS_1


Sebenarnya Dave tahu arti dari garis dua yang ada di alat tes kehamilan itu. Hanya saja dia ingin mendengar langsung dari mulut istrinya.


"Iyaa," ucap Jeslyn sambil mengangguk.


"Benarkah? Kau sungguh hamil? Hamil anakku?" tanya Dave seraya menepuk dadanya.


Dave masih terlihat belum percaya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat. Berita tentang kehamilan Jeslyn sangat mengejutkan baginya. Meskipun Stella sudah sempat memberitahukan padanya tentang dugaan Jeslyn sedang hamil, tapi dia tetap saja masih terkejut dengan berita membahagiakan tersebut.


Jeslyn mengangguk sambil tersenyum. "Iyaa, ada anakmu di dalam perutku," jawab Jeslyn lembut dengan senyum bahagianya.


Dave langsung meraih tubuh istrinya. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Ini adalah kado yang paling berharga yang pernah aku terima selama hidupku." Dave memeluk erat istrinya.


Dia merasa sangat bahagia karena keinginannya untuk memiliki anaknya akhirnya terwujud. Dia memang sudah lama mengharapan agar Jeslyn cepat hamil. "Aku tidak menyangka akan mendapatkan kado yang paling aku inginkan setelah pesta pernikahan kita selesai. Aku sangat bahagia sayang." Dave melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah istrinya dan memberikan kecupan kecil di seluruh wajah istrinya.


Jeslyn hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia pikir Dave tidak menyukai kejutannya ketika melihat Dave tampak terdiam setelah membuka kotak yang dia berikan. Ternyata Dave hanya terkejut dan tidak bisa berkata-kata untuk sesaat.


"Aku juga sangat bahagia Dave. Akhirnya aku bisa mengandung anakmu lagi."


Seketika Dave teringat saat Jeslyn menolanya tadi. Padahal, dia bisa merasakan kalau Jeslyn juga menginnginkan hal yang sama dengan dirinya. Dia bisa melihat reaksi tubuh Jeslyn saat dia memberikan sentuhan pada istrinya.


Jeslyn mengangguk pelan. "Iyaa. Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan anak kita Dave, apalagi kita sudah melakukannya dari malam sampai pagi." Meskipun Dave melakukannya dengan hati-hati dan tidak menyakitinya, tetap saja Jeslyn merasa khawtir.


"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya kau memberitahuku langsung semalam agar aku tidak menyentuhmu. Aku pasti akan menahan diriku kalau aku tahu kalau sedang hamil, Sayang," ucap Dave dengan wajah penuh penyesalan.


Jeslyn melingkarkan tangannya di pinggang suaminya sambil menatap Dave. "Iyaa. Maafkan aku Dave. Aku hanya tidak tega untuk menolakmu."


"Aku akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada anak kita, Sayang."


Dave sedang merutuki kebodohannya karena tidak mendengarkan Jeslyn Jeslyn saat memintanya untuk membuka hadiahnya terlebih dahulu semalam. Dia tidak pernah berpikir kalau hadiah yang dimaksud Jeslyn adalah berita kehamilannya. Dia awalnya mengira kalau Jeslyn membelikan sesuatu untuknya. Oleh sebab itu, dia berpikir hadiah bisa dia buka keesokan harinya.


"Kalau begitu kita sarapan dulu, setelah itu kita langsung ke rumah sakit. Kita harus mengetahui kondisi janin yang ada di dalam perutmu," usul Dave antusias.


"Baiklah." Jeslyn berdiri dan berniat melangkah tapi sebelum itu terjadi, Dave sudah mengangkat tubuh istrinya menuju sofa. "Dave, aku bisa berjalan sendiri."

__ADS_1


"Kau tidak boleh kelelahan, Sayang. Aku belum tenang sebelum mengetahui tentang kondisi anak kita." Jeslyn akhirnya menurut. Dia melingkarkan tanganya di leher suaminya agar tidak terjatuh.


Dave meletakkan dengan hati-hati tubuh istrinya di atas sofa. Di atas meja sudah tersedia berbagai macam menu sarapan untuk mereka berdua. Makanan yang dipesan oleh Dave, diantar setengah jam setelah Dave menelpon untuk diantarkan sarapan ke kamar mereka.


"Kau ingin makan apa sayang?" tanya Dave setelah mereka berdua sudah duduk bersebelahan.


"Aku ingin makan itu," tunjuk Jeslyn pada piring yang berisi nasi goreng.


Dave langsung maraih piring yang ditujuk oleh istrinya. "Buka mulutmu." Dave mengarahkan sendok yang sudah diisi dengan nasi goreng ke dekat mulut istrinya. "Aku akan menyuapimu," sambung Dave lagi ketika melihat wajah heran istrinya.


Jeslyn terkekeh melihat tingkah suaminya. "Dave, aku ini hamil, bukannya sakit. Aku masih bisa makan sendiri."


Dave menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Biarkan aku menyuapimu, Sayang. Aku akan menebus kesahanku yang dulu."


Ketika Jeslyn hamil pertama kalinya, Dave sangat menyesal karena terlambat mengetahui tentang kehamilan Jeslyn. Dia juga tidak berada di samping Jeslyn di masa-masa sulitnya karena saat itu mereka sedang dihadapkan dengan urusan perceraian mereka. Dia merasa sangat bersalah ketika tahu kondisi Jeslyn yang lemah karena hamil dan harus hidup seorang diri.


Jeslyn kembali merasa bersalah ketika mengingat perihal kehamilan pertamanya. "Dave, itu bukan salahmu. Saat itu, aku juga tidak tahu kalau diriku sedang hamil sehingga kau juga tidak tahu mengenai kehamilanku. Aku juga salah karena sempat berpikir untuk tidak memberitahumu tentang kehamilanku. Seharusnya aku langsung memberitahumu kalau aku sedang hamil anakmu."


Dave meletakkan piring di pangkuannya lalu membelai wajah istrinya. "Berjanjilah untuk selalu terbuka, Sayang. Jangan pernah menyembuyikan apapun dariku. Begitu pun sebaliknya. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu."


Jeslyn mengangguk seraya tersenyum. "Semenjak kapan kau mengetahui kalau dirimu hamil?" Dave mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut istrinya.


"Dua hari yang lalu," jawab Jeslyn seraya mengunyah makanan yang ada di mulutnya. "Aku sengaja ingin memberikan kau kejutan di hari pernikahan kita, tetapi kau justru tidak ingin langsung membukanya," jelas Jeslyn dengan senyum tipis di wajanya.


Dave seketika teringat ketika dia menolak untuk membuka kadonya karena dia lebih memilih untuk menghabiskan malam panjang bersama istrinya. "Maafkan aku sayang. Seharusnya aku membukanya terlebih dahulu." Dave masih terus menyuapai Jeslyn dengan hati-hati.


"Tidak apa-apa Dave. Yang terpenting saat ini, kau sudah tahu."


"Iyaa, habiskan makananmu setelah itu kita ke rumah sakit."


"Iyaa."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2