Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Meminta Penjelasan Diana


__ADS_3

Dengan langkah cepat, Jeslyn kembali naik ke atas menuju ruang Dave. Dia penasaran apa yang dave sedang lakukan sampai dia melupakan dirinya.


Jeslyn terus berjalan menuju ruangan Dave. Dia melirik pada meja Diana yang masih tampak kosong sebelum membuka pintu ruangan Dave.


"Ke mana sebenarnya Dave?" gumam Jeslyn ketika melihat ruangannya masih kosong.


Jeslyn menghela napas halus kemudian duduk di sofa panjang. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya. Hatinya mulai tidak tenang ketika panggilannya tidak dijawab oleh Dave.


"Tot...Tok..." Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk." Jeslyn mempersilahkan masuk.


Ketika pintu terbuka, wanita yang tadi pagi mengangtar camilan untuknya masuk dengan membawa nampan. "Permisi Bu, saya diminta untuk mengantar makanan ini," ucap wanita muda itu dengan sopan sambil mendekati sofa.


Jeslyn mengangguk. "Iyaaa, letakkan saja di meja." Wanita muda itu langsung mengangguk lalu meletakkan makanan di atas meja.


"Siapa yang menyuruhmu membawa makanan untukku?" tanya Jeslyn ketika wanita itu sudah selesai meletakkan semua makanannya. "Bapak Zayn, Bu," jawab wanita itu sopan.


"Baiklah, terima kasih." Wanita itu lalu pamit keluar setelah Jeslyn berterima kasih.


Jeslyn menatap makanan di atas meja sejenak. Itu adalah salah satu makanan kesukaannya. Dia berpikir pasti Dave yang menyuruh Zayn untuk mengantarkan makanan untuknya.


Jeslyn sebenarnya ingin pergi ke ruangan meeting untuk melihat apakah benar Dave masih berada di sana, tetapi dia urungkan karena selain dia tidak tahu letak ruangan meetingnya. Dia takut melihat sesuatu yang akan mengecewakan dirinya.


Dia akhirnya hanya duduk di sofa sambil memainkan jari lentiknya di atas layar ponselnya. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Jeslyn melirik sekilas untuk melihat siapa yang datang. Jeslyn kembali menatap layar ponselnya kembali setelah melihat Dave masuk bersama dengan Diana, diikuti Zayn di belakangnnya.


Dave tampak mengerutkan keningnya ketika melihat tatapan malas dari istrinya. "Sayang, kenapa kau belum makan?" tanya Dave sambil menghampiri istrinya yang nampak tidak bersemangat. "Belum lapar," jawab Jeslyn singkat.


"Kau tunggu di sini dulu ya, aku ingin mengurus pekerjaan sebentar dengan Diana," Dave mengecup kening istrinya sebelum bangkit dari tempat duduk.


Jeslyn hanya diam, tidak menanggapi ucapan Dave. Dia masih terlihat fokus pada layar ponselnya. Diana dan Zayn kemudian melangkah mengikuti Dave dari belakang.


Dave duduk di kursinya setelah itu membuka berkas, sementara Diana berdiri di samping meja Dave. Mereka terlihat sedang membicarakan hal serius, sementara Zayn hanya memperhatikan mereka saja.

__ADS_1


Merasa bosan, Jeslyn kemudian berdiri. Dia menoleh pada suaminya yang tampak masih berbicara dengan Diana. "Dave, sepertinya kau sedang sibuk, lebih baik aku pulang," ucap Jeslyn sambil meraih tasnya.


Dave menatap heran pada istrinya. "Kalian keluar dulu," ucap Dave sambil menatap pada Diana dan Zayn. Mereka mengangguk dan berjalan keluar. 


Dave bangkit dari kursinya kemudian berjalan menghampiri Jeslyn yang masih berdiri. Dave duduk tepat di samping istrinya yang sedang berdiri lalu memegang tangan Jeslyn. "Duduklah dulu." Dave menarik lembut tangan Jeslyn dan menatap Jeslyn dari dekat. "Ada apa sayang? Apa kau bosan?" tanya Dave lembut.


"Bukankah kau yang sedang sibuk sampai melupakan aku?" tanya Jeslyn dengan wajah datar.


Dave tersenyum. "Maaf sayang, aku sedang ada meeting penting. Aku agak sibuk tadi sehingga tidak bisa menemanimu makan siang."


"Meeting penting? Bukankah meetingmu sudah selesai saat jam makan siang tadi? Kenapa kau baru keluar sekarang? Apa kau sedang sibuk berduaan dengan Diana di ruang meeting? Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku sehingga kau menghabiskan waktu di ruang meeting bersama dengannya?" cecar Jeslyn dengan wajah sinis.


Dave terteguan sesaat, kemudian dia tersenyum lebar. "Aku memang ada meeting dengan rekan bisnisku tadi," jelas Dave, "kau menggemaskan sekali sayang jika sedang cemburu seperti ini," ucap Dave sambil mencubit wajah istrinya yang sedang ditekuk.


Jeslyn langsung menampilkan wajah sebal. "Sakit Dave," jawab Jeslyn ketus.


Sebenarnya saat jam makan siang, Zayn sudah menyuruh office girl untuk ke ruangan Dave mengantarkan makanan untuk Jeslyn atas perintah Dave, tetapi melihat Jeslyn tidak ada. office girl tersebut kemudian keluar lagi dengan membawa makanannya.


Dia sengaja tidak memberi tahukan pada Dave karena tidak ingin mengganggu Dave yang sedang meeting. Zayn berpikir kalau Dave tahu istrinya menghilang, dia pasti akan langsung meninggalakan ruangan meeting saat itu juga.


Zayn tidak mau mengambil resiko, gagalnya kesepatan yang sedang dibicarakan Dave dengan rekan bisinisnya, apalagi itu proyek penting bagi perusahaan mereka. Sebab itulah Zayn memutuskan untuk keluar mencari keberadaan istri bosnya.


Dia pergi ke ruangan kontrol untuk melihat rekaman CCTV. Dia ingin mencari tahu di mana keberadaa Jeslyn. Setelah beberapa saat mencari di seluruh gedung, akhirnya Zayn melihat Jeslyn sedang berada di Coffee Shop.


Zayn akhirnya meminta seseorang untuk mengawasi Jeslyn dari jauh setelah itu dia kembali lagi ke tuangan meeting. Dia sengaja melakukan hal itu agar memudahkannya untuk tahu lokasi Jeslyn berada.


Saat Jeslyn berjalan ke atas menuju ruangan Dave, orang yang mengawasi Jeslyn langsung melaporkan kembali pada Zayn. Sebab itu, wanita itu kembali datang dengan membawa makanan tadi setelah dia menghangatkannya.


Dave meraih tubuh Jeslyn dan mendudukan dia pangkuannya. "Lepas Dave, bagaimana kalu ada yang melihat?" Jeslyn berusaha melepaskan tangan Dave yang melingkar pada perutnya.


"Aku tidak peduli," ucap Dave acuh tak acuh. "Baru sebentar tidak melihatmu, aku sudah merindukanmu," ucap Dave sambil memeluk erat istrinya dari belakang.


Jeslyn berusah melepaskan tangan Dave di perutnya. "Dave, turunkan aku," pinta Jeslyn sambil menoleh sedikit ke belakang.

__ADS_1


"Katakan dulu, kenapa kau bisa menuduhku berduaan dengan Diana?" tanya Dave sambil meletakkan dagunya di bahu istrinya.


"Aku mendengar dari salah satu karyawanmu kalau kalian berdua tidak langsung keluar dari ruang meeting setelah meeting selesai. Kalian bahkan tampak mesra saat berada di ruangan meeting. Kau bahkan melupakan keberadaanku. Telpon tidak kau angkat dan pesanku tidak ada yang kau balas," jelas Jeslyn.


"Apakah hanya itu yang membuatmu marah seperti ini?" tanya Dave lembut.


Jeslyn lalu menceritakan semuanya pada Daveq yang dia dengar dari karyawan suaminya. "Sayang kau salah paham. Aku memang selesai meeting dengan bagian pemasaran saat jam makan siang, tetapi ada salah satu rekan bisnisku yang tiba-tiba mengubah jadwal meeting kami karena dia ada urusan penting dan harus terbang ke luar negri sehingga dia memajukannya pertemuan kami," ungkap Dave.


Melihat istrinya masih diam, Dave melanjutkan ucapannya. "Mengenai telpon yang tidak aku angkat dan pesan yang tidak aku balas, itu karena ponselku dalam keadan silent sayaang. Aku juga tidak sempat membuka ponselku karena sedang mendiskuiskan hal penting masalah pekerjaan dengan Diana. Lagi pula, aku tidak hanya berduaan dengan Diana. Ada Zayn juga di sana sebelum rekan bisnisku datang," jelas Dave dengan detail.


Sebenarnya Dave menerapkan aturan larangan penggunaan ponsel pada karyawannya disaat meeting berlangsung. Walaupun dirinya dan Zayn pengecualian dalam aturan tersebut. Dia terkadang jarang mengecek ponselnya selama meeting. Biasanya orang akan menghubungi asisten Dave jika dirinya tidak mengangkat ponsel atau membalas pesan.


Ketika semua karyawan keluar dari ruang meeting, Zayn meminta ijin pada Dave untuk ke toilet sehingga menyisakan Dave dan Diana dalam ruangan tersebut. Itulah yang membuat karyawan lain salah paham dengan mereka berdua, apalagi dari dulu mereka memang sudah digosipkan memiliki hubungan spesial.


Dave membalikkan tubuh Jeslyn agar bisa menghadapnya lalu meraih dagunya istrinya. "Kau tidak percaya denganku?" tanya Dave sambil menatap lekat mata istrinya.


Melihat Jeslyn masih diam juga, Dave kemudian meraih ponsel yang ada di sakunya lalu menghubungi seseorang.


Tidak lama kemudian suara ketika pintu terdengar dan muncul lah Diana dari balik pintu. "Permisi Pak, ada bisa saya bantu?" tanya Diana sambil menghampiri Dave. Dia tampak sedikit merasa sedikit risih melihat pemandangan di depannya.


"Di, coba beritahu pada istriku apa yng terjadi setelah kita selesai meeting dengan bagian pemasaran tadi," pinta Dave tampak merubah posisinya sedikitpun. Jeslyn masih setia duduk di pangkuannya.


"Dave, biarkan aku turun dulu," pinta Jeslyn dengan suara pelan ketika melihat lirikan dari Diana.


Dave kemudian melepaskan tangannya yang melingkar di perut istrinya kemudian Jeslyn duduk di sebelan kiri Dave. "Maksudnya?" tanya Diana dengan wajah bingung. Dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan atasannya.


"Ada gosip yang mengatakan kalau kita kembali menjalin hubungan dan sedang menghabiskan waktu berdua di dalam ruang meeting. Tolong jelaskan padanya kalau dari dulu kita memiliki hubungan apapun selain pertemanan dan juga beritahu apa yang saja yang kita lakukan di ruang meeting tadi," pinta Dave.


Diana melirik sekilas pada Jeslyn lalu beralih menatap Dave. "Kau memintaku untuk menjelaskan padanya sebagai sekertarismu atau sebagai temanmu?" tanya Diana dengan wajah tenang.


Bersambung...


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..

__ADS_1


__ADS_2