Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Bi Sarti berjalan dengan cepat menuju pintu depan saat mendengar bel rumah berbunyi. Dave dan Jeslyn belum nampak keluar dari kamarnya. "Di mana anak dan menantuku?" Ibu Dave langsung bertanya ketika bi Sarti sudah membuka pintu.


"Masih di kamar Nyonya. Belum keluar dari tadi," jawab Bi Sarti sopan.


Ibu Dave mengambil ponselnya di tas lalu melihat jam pada ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. "Ini bawa ke dapur." Ibu Dave memberikan tiga tas wadah makanan dan 3 plastik besar kepada bi Sarti.


"Baik Nyonya." Bi Sarti berjalan menuju dapur diikuti oleh ibu Dave.


"Panaskan makanan ini jika menantuku sudah bangun," tunjuk ibu Dave pada tas besar yang berisi makanan.


"Baik Nyonya."


Bi Sarti mulai membongkar semua yang dibawa oleh mertua Jeslyn. Tidak hanya makanan, Ibu Dave juga membawakan banyak sekali buah-buahan, salad buah, sayur, beberapa ramuan herbal dan minuman sehat untuk ibu hamil. Untuk buah, salad, sayuran segar serta minuman langsung dimasukkan ke dalam kulkas.


Ibu Dave sengaja memasak sendiri untuk menantunya. Dia meminta bantuan dari juru masaknya. Dia ingin memastikan gizi menantunya terpenuhi dengan makanan sehat.


Dia juga meminta juru masaknya untuk membuatkan camilan sehat, meskipun sudah ada juga camilan sehat yang dibeli untuk menantunya. Ibu Dave bahkan memasak olahan daging dengan kematangan sempurna.


Ibu Dave sangat antusias ketika mendengar kabar menantunya hamil. Dia langsung pergi berbelanja ke supermarket ditemani 2 pelayan di mansionnya. Dia berniat untuk membawakan menu makanan sehat dan bergizi untuk menantunya.


"Bi, tolong ambilkan jahe dan madu." Ibu Dave terlihat baru saja mengambil gelas.


Bi Sarti langsung mengambilkan jahe parut dan madu yang dibawa oleh ibu Dave tadi. "Ini Nyonya."


Ibu Dave langsung mengambil jahe dan madu tersebut lalu menyeduhnya dengan air panas.


"Mama kapan datang?" Dave yang baru saja memasuki area dapur terkejut melihat ibunya sudah berada di sana.


Ibu Dave langsung mengangkat kepalanya menatap anaknya yang sudah berdiri di depan meja panjang yang ada di dapur.


"Dave, kau sudah bangun?" Ibunya terlihat sangat senang melihat kedatangan anaknya. "Mama baru saja datang. Di mana Jeslyn?" Ibunya terlihat mengedarkan pandangannya mencari sosok menantunya.


"Sedang mandi, Ma." Dave mulai duduk di kursi depan ibunya. Dave terlihat sedang memperhatikan ibunya yang sedang menyeduh sesuatu. "Mama sedang apa?"


"Membuatkan jahe hangat untuk Jeslyn," jawab ibu Dave tanpa menoleh pada anaknya. "Mama membawakan banyak makanan sehat, buah dan sayuran segar untuk Jeslyn. Mama membuatnya sendiri khusus untuk istrimu."


"Kenapa tidak menyuruh orang untuk menyiapkannya? Mama tidak perlu repot-repot membuatnya." Dave belum pernah melihat ibunya turun tangan sendiri ke dapur hanya untuk menyiapkan makanan untuk orang lain bahkan untuknya sekalipun.


Selesai membuat jahe hangat untuk menantunya. Ibu Dave meminta bi Sarti untuk menyiapkan makanan yang dia bawa tadi karena Jeslyn sudah bangun.


"Tentu saja harus mama yang membuatnya. Dia menantu mama apalagi dia sedang hamil." Ibu Dave tidak keberatan sama sekali menyiapkan semua untuk menantunya.


"Belakangan ini dia tidak nafsu makan, Ma." Dave memang memperhatikan kalau belakangan ini Jeslyn hanya makan sedikit.


Ibu Dave langsung duduk di depan anaknya. "Benarkah? Apa dia mual-mual?" tanya ibu Dave dengan wajah cemas.


Dia kembali teringat ketika Jeslyn hamil pertama kali. Dia terlihat sangat lemah sampai harus masuk rumah sakit. Dia takut kalau kejadian dulu terulang lagi.

__ADS_1


"Belum Ma. Hanya saja dia lebih pemilih dan tidak bisa makan terlalu banyak sekarang. Dia juga lebih sensitif Ma," ungkap Dave dengan wajah serius.


"Wajar saja. Dulu waktu mama saat mengandungmu juga seperti itu. Kau harus lebih sabar dan lebih memperhatikannya lagi."


"Iyaa aku tahu, Ma. Mungkin untuk sementara aku akan menyerahkan urusan perusahaan pada Mark Dan Zayn. Aku tidak bisa bekerja fulltime di kantor karena semenjak hamil Jeslyn tidak mau jauh dariku."


"Iyaa tidak apa-apa. Kau bisa kerjakan urusan kantor yang penting saja. Lainnya biarkan mereka yang menangani." Ibu Dave juga sebenarnya berpikiran sama  dengannya. "Mungkin itu bawaan bayi, Dave. Dia ingin selalu dekat dengan ayahnya," sambung ibu Dave sambil tersenyum.


"Iyaa, Ma. Dia lebih manja dibandingakan dengan kehamilan pertamanya." Dave kembali teringat masa-masa Jeslyn hamil pertama kali. Dulu, dia juga bersikap manja padanya, tetapi tidak semanja sekarang.


"Berarti kau harus lebih memperhatikannya. Jangan pernah membuatnya stess, Dave. Turuti semua keinginan istrimu," nasehat ibu Dave.


Sebenarnya dia merasa bersalah karena tidak memperhatikan Jeslyn saat dia hamil dulu. Dia bahkan tidak mau mengakui anak yang ada di dalam kandungan Jeslyn.


Setiap mengingat kejadian itu, Ibu Dave langsung langsung diliputi rasa penyesalan yang sangat besar. Itu sebanya sekarang dia berusaha untuk menebus kesalahan yang pernah dia perbuat dulu. Dia ingin memperlakukan Jeslyn dengan baik.


"Iya Ma. Itu sebabnya aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jeslyn. Setidaknya sampai kandungannya memasuki trimester kedua." Dave ingin memastikan kandungan istrinya tetap sehat dan Jeslyn tidak mengalami masa sulit diawal kehamilannya.


"Iyaa tidak masalah. Mama pikir juga itu lebih baik." Ibu Dave memberikan teh hangat pada anaknya. "Ini minumlah."


"Terima kasih Ma." Dave menyesap teh yang diberikan oleh ibunya. "Papa tidak ikut?"


"Tidak, papamu sedang ada acara. Dia bilang akan ke sini besok siang."


Sebenarnya ibu Dave sudah mengajak suaminya untuk datang bersama, tetapi tidak bisa karena sedang ada pertemuan penting dengan teman bisnisnya.


Dave manggut-manggut. "Dave... Dave...." Terdengar suara seoarng wanita yang memanggil-manggil namanya. "Davee...."


"Iyaa, pergilah."


Dengan langkah cepat Dave berjalan ke arah suara Jeslyn yang terus memanggilnya.


"Ada apa sayang?" Dave menghampiri Jeslyn yang sedang berdiri di dekat tangga.


Jeslyn langsung merasa lega ketika melihat suaminya. "Kau dari mana? Kenapa meninggalkan aku sendirian di kamar?"


Jeslyn berpikir kalau Dave akan bekerja hari ini karena mereka tidak jadi berbulan madu. Itu sebabnya dia sedikit panik saat melihat Dave tidak ada di kamar saat dia keluar dari kamar mandi.


Dave berdiri di depan istrinya. "Aku dari dapur sayang. Tadinya aku ingin meminta bi Sarti untuk menyiapkan sarapan untukmu, tapi tidak jadi karena mama sudah datang membawa makanan untukmu."


"Mama ada di sini?" tanya Jeslyn dengan wajah terkejut.


"Iyaa sayang. Dia sedang ada di dapur." Dave menuntun istrinya untuk berjalan menuju ruangan makan.


"Semenjak kapan mama di sini?" Mereka terus berjalan menuju meja makan.


Dave menarik kursi untuk istrinya sesaampainya di ruang makan. "Setengah jam lalu sayang."

__ADS_1


"Aku akan menemui mama dulu." Jeslyn hendak bangun dari duduknya tapi ditahan oleh suaminya.


"Tunggu di sini saja, sayang. Mama sedang menyiapkan makanan untukmu bersama bi Sarti."


"Kenapa kau membiarkan mama masuk ke dapur? Biarkan bi Sarti saja yang melakukannya."


Jeslyn merasa tidak enak hati membiarkan ibu mertuanya masuk area dapur apalagi sampai menyiapkan makanan untuknya. Ibu mertuanya terbiasa dilayani oleh orang lain. Bahkan untuk anak dan suaminya saja dia menyuruh orang lain untuk menyiapkan semua keperluan mereka.


Dave tersenyum seraya mengusap tangan istrinya. "Saat aku datang ke dapur. Mama sudah berada di sana. Lagi pula, dia melakukannya dengan sukarela."


"Jeslyn... Bagaimana kabarmu sayang." Ibu Dave langsung memanggil Jeslyn ketika dia baru saja memasuki ruang makan. Dia berjalan menghampiri menantunya lalu memelukya.


"Baik Ma." Ibu Dave lalu melepaskan pelukannya.


"Ini sayang, minumlah. Ini baik untuk ibu hamil." Ibu Dave meletakkan minuman jahe hangat di depan Jeslyn.


"Terima kasih, Ma." Jeslyn kembali duduk setelah ibu Dave  duduk di depan mereka.


"Minumlah sayang." Ibu mertuanya tampak senang ketika melihat menantunya tampak sehat.


"Iya Ma." Jeslyn mulai menyesap cangkir yang ada di tangannya. "Maaf sudah merepotkan Mama."


"Mama tidak repot. Mama justru dengan senang hati membuatkan untukmu."


Beberapa saat kemudian, bi Sarti datang dengan membawa beberapa makanan yang disusun di atas meja makan. "Mama sengaja membuatkan makanan ini untukmu. Mama harap kau menyukainya," ungkap ibu Jelyn ketika semua makanan sudah terhidang di meja makan.


"Terima kasih Ma." Jeslyn tercengang melihat banyaknya makanan yang berada di atas meja makan. "Mama tidak perlu repot-repot membawa banyak makanan, Ma."


"Tidak apa-apa. Mama ingin gizimu terpenuhi. Mama akan mengirimkan setiap hari makanan sehat untukmu," terang ibu Dave.


"Mama sendiri yang ingin melakukannya sayang. Kau tidak perlu merasa terbebani." Dave sangat tahu apa yang ada dipikiran istrinya saat ini.


"Iyaa itu benar," sela ibu Dave, "lebih baik kita sarapan sekarang," usul Ibu Dave.


Jeslyn mengangguk. "Kau ingin makan apa sayang? Biar aku ambilkan?" tanya Dave lembut seraya menoleh pada istrinya.


"Aku ingin makan itu." Jeslyn menunjukkan makanan yang ingin dia makan.


Beruntung dia belum mengalami mual selama kehamilan keduanya sehingga dia masih bisa mengkonsumsi makanan tanpa khawatir akan memuntahkan makanannya.


"Biar aku makan sendiri, Dave," ucap Jeslyn saat melihat suaminya ingin menyuapinya.


"Aku saja," tolak Dave seraya mengarahkan sendok ke mulut istrinya. "Buka mulutmu."


Jeslyn sempat melirik sebentar ke arah ibu mertuanya  sebelum akhirnya membuka mulutnya. Ibu Dave terlihat sedang tersenyum ke arah mereka.


Bersambung...

__ADS_1


Jika berkenan, silahkan baca juga karya baru Author dibawah ini.



__ADS_2