Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Hanya Teman


__ADS_3

Dave menyunggingkan sudut bibirnya. "Kalau bukan kau yang melakukannya, bagaimana bisa ada banyak tanda di tubuhku." Dave mendekatkan wajahnya pada Jeslyn, kemudian berkata, "Apa menurutmu ada binatang buas yang habis menerkamku?"


Suasana seketika sunyi, hanya mata yang saling memandang tanpa ada kata-kata. Debaran jantung Jeslyn terpacu dengan cepat. "Maaf Dave..Aku kira kau tadi pura-pura tidur, jadi aku sedikit menjahilimu," ucap Jeslyn sambil menunduk. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," lanjut Jeslyn, ketika tidak mendengar balasan apapun dari Dave.


"Tatap aku Jes," pinta Dave.


Perlahan Jeslyn mengangkat kepalanya, dan tampak Dave sedang menatap lekat dirinya. "Maaf Dave," ucap Jeslyn pelan.


"Cium aku dulu, baru aku akan memaafkanmu," ucap Dave dengan wajah serius.


Dave sengaja menampilkan wajah datarnya, agar Jeslyn merasa bersalah. Sebenarnya Dave tidak marah. Dia hanya ingin mengerjai istrinya. Dalam hatinya, Dave justru merasa senang dengan tindakan istrinya.


Jeslyn sedikit menjauhkan wajahnya dari Dave sambil menatap ragu pada Dave. "Kau tidak mau menciumku?" tanya Dave lagi ketika Jeslyn tampak masih diam saja.


"Bukan begitu Dave, aku hanya.."


Dave kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Jeslyn. "Apa perlu aku melakukan hal yang sama seperti yang lakukan pada tubuhku?" bisik Dave dengan suara serak.


"TIdak Dave..Aku akan menciummu Dave," ucap Jeslyn cepat.


Lebih baik dia yang melakukannya dari pada Dave yang bergerak lebih dahulu. Urusannya akan berbeda, jika Dave sudah yang bertindak. Dave tidak akan melepaskannya begitu saja, jika dia sudah memulainya.


Dave menjauhkan tubuhnya lalu tersenyum. "Lakukan dengan benar sayang, jika tidaakk..."


"Iyaa..Iyaa Dave.. Aku akan melakukannya dengan benar." Walaupun Jeslyn belum mendengarkan semua ucapan Dave, tetapi dia sudah bisa menebak arah dari pembicaran Dave.


Perlahan Jeslyn menyatukan bibir mereka. Jeslyn mulai melu*mat bibir Dave dengan pelan, lalu berniat melepaskannya tetapi di tahan oleh Dave. Dia justru menekan tengkuk Jeslyn untuk memperdalam ciuman mereka.


Setelah beberapa saat Dave melepaskan pagutan mereka. Lalu dengan gerakkan cepat dia membalikkan posisi mereka berdua. "Dave, kau bisa terlambat nanti," ucap Jeslyn ketika dia sudah berada dibawah suaminya. Dia bisa merasakan perubahan pada tubuh bagian bawah Dave saat mereka saling memagut.


Jeslyn sudah bisa menebak apa yang ada di dalam kepala suaminya, apalagi Dave menatapnya dengan tatapan yang penuh hasrat.


Dave menatap sejenak Jeslyn dengan senyum tipis. "Aku akan melakukannya dengan cepat sayang."


Pagi itu, mereka kembali mengulang kegiatan yang menguras tenaga dan keringat. Jeslyn hanya bisa pasrah, membiarkan suaminya melakukan keinginannya.


*****


Zayn melajukan mobilnya menuju sekolah Alea. Sebelum berangkat ke kantor, Dave dan Jeslyn terlebih dahulu mengantar Alea ke sekolah. Sesuai permintaan Dave, hari ini Jeslyn menemani Dave ke kantor.


"Sayang, nanti oma yang akan jemput Alea ya?" ucap Jeslyn lembut ketika mereka baru saja turun dari mobil, setelah mereka tiba di depan sekolah Alea.


"Iyaa Ma," ucap Alea sambil mengangguk.


Jeslyn kemudian memeluk lalu mencium pipi Alea. "Alea jangan nakal yang sayang, harus jadi anak baik."


"Iyaa Ma," ucap Alea sambil tersenyum.


Dave kemudian berjongkok. "Peluk Daddy dulu," Dave merentangkan kedua tangannya. "Alea sayang Daddy," ucap Alea sambil memeluk Dave.


Dave melepaskan pelukannya. "Daddy juga sayang Alea."


"Alea tidak sayang dengan mama?" Jeslyn pura-pura merajuk.

__ADS_1


Alea kemudian berlari menghampiri Jeslyn, lalu memeluk kaki Jeslyn sambil mendongakkan kepala. "Alea juga sayang sama mama."


Jeslyn tersenyum, lalu memeluk kembali Alea. "Ayoo kita masuk." Jeslyn dan Dave kemudian mengantar Alea sampai di depan gerbang sekolah tepat di mana gurunya sudah berdiri menunggu kedatangab murid-murid lain.


Setelah mengantar Alea, mobil melaju menuju kantor Dave. Dave langsung mengajak Jeslyn menuju ruangannya setelah tiba di depan kantornya. Dari mulai turun dari mobil sampai masuk lift, mereka tidak luput dari tatapan diam-diam karyawan yang turut menyaksikan atasan mereka menggandeng seorang wanita yang tidak mereka kenali.


Dalam hati mereka bertanya-tanya siapakah wanita yang bersama Dave. Mereka sangat penasaran dengan identitas wanita tersebut, apalagi setelah melihat perlakuan Dave pada wanita di sebelahnya. Terlihat sekali kalau Dave memperlakukan wanita itu dengan istimewa. Selama perjalanan menuju ruangannya, Dave tampak melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Selamat pagi pak," ucap Diana sambil sedikit membungkuk, ketika melihat kedatangan bosnya.


Diana sempat melirik sekilas pada Jeslyn, sebelum menyapa Dave.


Dave hanya mengangguk sambil terus berjalan menuju ruangannya bersama dengan Jeslyn dan tentu saja asisten setianya.


"Zayn, kau boleh pergi," ucap Dave, ketika dia sudah duduk bersama dengan Jesyn di sofa dalam ruangannya. "Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu."


"Baik Tuan," ucap Zayn seraya membungkuk. Dia kemudian keluar dari ruangan Dave.


"Sayang tunggu sebentar," ucap Dave sambil berdiri, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Dia terlihat menghubungi seseorang.


Setelah selesai, dia mengampiri Jeslyn lagi, lalu duduk di sampingnnya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan pintu pun terbuka. "Permisi Pak," ucap Diana sambil terus berjalan mendekati tempat duduk Dave dan Jeslyn.


"Di, tolong suruh orang untuk mengantar teh dan camilan untuk istriku," pinta Dave sambil menatap Diana.


Diana sedikit terkejut ketika melihat tanda merah di leher Dave. Dia langsung melirik sekilas pada Jeslyn sebelum kembali menatap Dave.


Tentu saja Diana tidak tahu, kalau di leher Jeslyn lebih banyak tandanya karena sebelum ikut Dave ke kantor, Jeslyn terlebih dahulu menyamarkan bekas tersebut dengan make up, sehingga tidak terlihat jelas, jika tidak dilihat dari jarak yang sangat dekat.


"Baik Pak," ucap Diana sambil mengangguk. "Apa ada yang bisa saya bantu lagi pak?" tanya Diana sebelum dia keluar dari ruangan Dave.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu." Dave hanya mengangguk, setelah itu Diana keluar dari ruangan Dave sambil menutup pintu.


Jeslyn merubah posisi duduknya setelah kepergian Diana. Dia memiringkan tubunya menghadap pada Dave yang tampak sedang duduk bersandar. "Dave, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Jeslyn hati-hati. Dia menatap serius wajah suaminya.


Dave tersenyum, lalu menatap istrinya. "Tanya saja sayang, kenapa harus meminta ijin dulu," ucap Dave sambil memainkan ujung rambut Jeslyn.


"Apakah Diana masih menyukaimu?" Jeslyn tampak meneliti wajah suaminya sambil menunggu jawaban dari suaminya.


Dahi Dave berkerut, dia seketika menghentikan tangannya yang sedang memegang rambut Jeslyn yang sedang terurai. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah dulu sudah pernah aku jelaskan," ucap Dave sambil menatap istrinya.


"Tidak apa-apa. Aku merasa Diana tidak suka dengan kedatanganku. Terlihat sekali kalau dia tidak menyukaiku Dave. Aku bisa melihat dari sorot matanya, ketika menatapku tadi," papar Jeslyn dengan suara rendah.


Dave kemudian mendekatkan tubuhnya pada istrinya, lalu dengan gerakan cepat dia mendudukan Jelsyn di pangkuannya, kemudian melimgakrkan tangannya di perut istrinya.


"Dia memang seperti itu sayang. Dia jarang tersenyum. Kau jangan salah paham padanya," ungkap Dave. "Mengenai perasaannya aku juga tidak tahu, apakah dia masih menyakaiku atau tidak. Di kantor kami hanya rekan kerja sayang, jika di luar kantor kami berteman. Dia juga sudah dia tidak pernah menyinggung masalah perasaannya padaku," ungkap Dave.


Walaupun Dave dulu pernah menjelaskan mengenai hubungannya dengan Diana, tetap saja Jeslyn merasa sedikit curiga, apalagi ketika melihat Diana hari ini, Jeslyn seperti memiliki pemikirian berbeda mengenai Diana.


"Aku hanya merasa kalau dia masih menyukaimu Dave."


Ada sedikit kekhawatiran dalam hati Jeslyn ketika melihat Diana langsung. Dia mulai tidak percaya diri, ketika melihat penampilan Diana yang terlihat sangat cantik, apalagi dia pernah mendengar dari Dave kalau Diana termasuk karyawan terbaik di perusahaannya.


Dave meletakkan dagunya di bahu istrinya. "Apa kau cemburu dengan Diana?" tanya Dave sambil memiringkan sedikit kepalanya menatap istrinya.

__ADS_1


"Iyaaa," jawab Jeslyn jujur.


Senyum lebar tersungging di bibir Dave. "Kau menggemaskan sekali jika sedang cemburu, membuat aku jadi ingiin..."


"Dave..Aku serius," ucap Jeslyn dengan tatapan kesal.


Dave tersenyum kembali. "Aku tidak tertarik dengannya sayang. Dari dulu aku hanya menganggapnya teman sekaligus sekertarisku, tidak lebih," ungkap Dave.


"Iyaa, aku tahu Aku hanya takut kau tergoda dengannya nanti, apalagi dia sangat cantik dan juga cerdas."


Dave merubah posisi duduk Jeslyn sedikit miring agar mereka bisa bertatapan. "Jangan khawatir sayang, aku hanya mencintaimu. Aku tidak tertarik sama sekali dengannya," ucap Dave sambil mengusap lembut pipi istrinya.


"Tok.Tok." Pintu terbuka setelah terdengar suara ketukan pintu. Seketika Jeslyn ingin bangun dan pindah tetapi ditahan oleh tangan Dave. "Di sini saja sayang, jangan bergerak," ucap Dave sambil mempererat pelukannya.


"Tapi Dave..."


"Permisi pak, maaf mengganggu," ucap seseorang wanita muda berusia sekita 22 tahun dengan seragam putih biru masuk dengan membawa nampan yang berisi dua gelas teh dan beberapa camilan.


Jeslyn merasa canggung ketika ada yang masuk ke dalam ruangan Dave. Dia tidak enak hati karena posisinya saat ini.


"Letakkan saja di situ," ucap Dave sambil menggerakkan kepala ke arah meja.


"Baik Pak." Setelah selesai meletakkan semua yang dia bawa di atas meja, dia kemudian undur diri. Tidak lama berselang Diana masuk dengan membawa tumpukan brkas di tangannya.


"Ini berkas yang harus bapak periksa dan tanda tangani," ucap Diana sambil menatap Dave dan Jeslyn yang tampak masih bertahan dengan poisis mereka yang tadi.


Dave mengangguk. "Letakkan saja di mejaku." Diana kemudian berjalan menuju meja Dave, dan meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja kerja Dave.


"Maaf pak. Setengah jam lagi akan ada meeting dengan bagian pemasaran," ucap Diana sebelum keluar dari ruangan Dave. Dia takut Dave lupa dengan meeting yang sebentar lagi akan dimulai.


"Baiklah, siapkan saja berkasnya."


"Baik Pak." Dia kemudian keluar dari ruangan Dave.


"Dave, kenapa kau menahan tubuhku saat aku akan pindah?" tanya Jeslyn dengan wajah cemberut. "Aku merasa tidak nyaman, jika ada yang melihat kita seperti tadi Dave," sungut Jeslyn.


"Aku hanya ingin menunjukkan padanya, kalau aku sangat mencintaimu sayang. Maafkan aku, jangan marah lagi," ucap Dave sambil mengecup punggung tangan Jeslyn. "Seharusnya kau meninggalkan banyak tanda di leherku agar semua orang tahu, kalau aku sudah ada yang memiliki."


Jeslyn tampak terkejut mendengar penuturan suaminya. Awalnya dia pikir kalu Dave akan marah karena meninggalkan satu tanda merah di leher suaminya. Ternyata Dave tidak marah sama sekali.


"Apa kau tidak malu jika dilihat oleh orang lain?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku malu dengan tanda yang dibuat oleh istriku sendiri. Aku bahkan ingin memamerkan pada semua orang."


Jeslyn memukul dada Dave. "Jangan bercanda Dave!"


"Aku serius sayang."


"Dave, apakah selama ini kalian sering makan berdua?" tanya Jeslyn sambil menatap Dave.


"Iyaa, biasanya jam istirahat aku makan dengannya, kenapa?" tanya Dave dengan dahi berkerut.


"Bisakah kau sedikit menjaga jarak dengannya?" pinta Jeslyn. "Aku merasa kalau dia masih menyimpan perasaanmu pada Dave."

__ADS_1


"Iyaa sayang. Aku akan menuruti semua keinginanmu."


Bersambung...


__ADS_2