
Pagi ini, kesibukan sudah nampak di kediaman Dion. Bagaimana tidak. Hari ini adalah hari lamaran sekaligus pertunangan Dion dan Stella. Keluarga Dion memutuskan untuk mengadakan acaranya di hotel milik keluarga mereka yang berada di pusat kota.
Stella sudah diboyong oleh keluarga Dion untuk tinggal sementara di rumah mereka sampai hari pernikahan mereka tiba. Keluarga Dion sengaja meminta Stella untuk tinggal sementara di rumah mereka supaya lebih mudah supaya mendiskusikan mengenai pernikahan mereka.
Sebenarnya itu adalah usul Dion. Mendekati hari pernikahannya Dion disibukkan dengan jadwal praktek dan jadwal operasi yang padat. Belum lagi disibukkan dengan persiapan pernikahan dan menyambut keluarga besor Dion yang datang dari laur daerah dan luar negeri.
Dia takut tidak bisa mengawasi Stella dan Alea sehingga Dion meminta ibunya untuk membawa Stella untuk tinggal sementara di rumah mereka. Keamanan rumah mereka juga lebih terjamin.
Dion tidak ingin ada masalah yang terjadi sebelum hari pernikahan mereka tiba. Keluarga Daniel sudah mendengar berita mengenai pernikahan Stella. Ryan sempat menghubungi Stella untuk meminta Alea darinya.
Ryan mengatakan kalau Stella masih bisa memiliki anak jika dia menikah lagi. Sementara keluarga mereka tidak akan memiliki penerus lagi selain Alea karena kekurangan yang Ryan miliki sehingga membuatnya tidak bisa memberikan penerus untuk keluarganya.
Tentu saja Stella menolak keras. Dia masih ingat bagaimana keluarga Daniel dengan angkuhnya, tidak mau mengakui Alea sebagai bagian dari keluarga mereka.
Bahkan mereka tidak peduli dengan hidup dan mati Alea ketika mereka dengan tega mengusir Stella dan Alea tanpa membawa apapun. Dan Sekarang saat mereka tidak bisa memiliki keturunan, dengan mudahnya mereka meminta Alea darinya.
Stella yang merasa takut kalau keluarga Daniel akan mengambil paksa Alea darinya memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Dion untuk tinggal di rumah mereka.
Sebenarnya Dave sudah menawarkan bantuan untuk menjaga mereka berdua tetapi langsung ditolak Stella karena tidak ingin merepotkan Dave lagi.
"Reina, Stella ke mana?" tanya Dion saat melihat adiknya sedang bermain dengan Alea berdua di taman belakang.
Reina menoleh pada kakaknya diikuti oleh Alea. "Tadi sedang bersama dengan mama di kamar. Kak Stella sedang mencoba pakaian yang akan digunakan nanti malam," terang Reina.
Reina terlihat sangat senang ketika mengetahui kalau dia memiliki keponakan baru. Semenjak Reina dikenalkan dengan Alea, dia langsung bisa mengakrabkan dirinya dengan Alea.
Dari dulu dia memang sangat menginginkan adik. Dia merasa kesepian karena Dion memilih untuk tinggal terpisah semenjak dia kuliah jadi dia selalu sendiri di rumah seperti anak tunggal. Itu salah satu yang membuat Reina lebih banyak menghabiskan waktu di luar bersama dengan teman-temannya.
Awalnya Reina terkejut dan tidak menyangka kalau Stella sudah memiliki anak karena menurutnya, Stella tidak terlihat seperti wanita yang sudah pernah menikah dan memiliki anak. Tubuhya sangat bagus dan terawat.
Reina justru merasa penasaran bagaimana bisa Stella menjaga penampilan dan tubuhnya sehingga terlihat lebih muda dari umurnya. Reina bahkan tidak percaya kalau Stella lebih tua 3 tahun dari kakaknya.
Reina dengan antusias bertanya pada Stella resep memiliki tubuh indah dan bagus meskipun dia sudah memiliki anak. Dia yang masih gadis saja terkadang kesulitan untuk menjaga berat badannya.
Reina bahkan pernah melakukan diet agar tetap memiliki tubuh langsing. Sebenarnya tubuh Reina tidak pernah gemuk, terbilang justru memiliki tubuh proposional karena dia memiliki kelebihan tubuh tinggi seperti Dion.
Jadi, meskipun berisi justru membuatnya terlihat memiliki tubuh yang bagus tapi menurut Reina tubuh kurus dan tanpa lemak adalah idaman karena kiblat Reina adalah idol kpop yang memiliki tubuh tinggi semampai dengan lingkar pinggang kecil dan perut rata.
"Papi kenapa baru pulang?" tanya Alea saat melihat Dion sedang berjalanan ke arahnya.
Dion meraih Alea dan menggendongnya. "Papi sedang banyak kerjaan di rumah sakit, sayang."
Dion baru saja pulang dari rumah sakit siang hari setelah melakukan operasi besar yang memakan waktu cukup lama. Dia masih berkerja dan berencana akan cuti 2 hari sebelum hari pernikahannya tiba.
"Lebih baik kakak istirahat. Biarkan Alea dengan Reina," usul Reina sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil Alea.
Dion mengangguk. "Ayo, Alea sama aunty."
"Alea, papi istirahat dulu. Alea dengan Aunty Reina dulu ya?" bujuk Dion ketika melihat Alea tidak mau turun meskipun Reina sudah mengulurkan tangan padanya.
Alea terlihat ragu. "Bagaimana kalau kita berenang?" bujuk Reina agar Alea mau turun dari gendongan Dion.
"Iyaaa." Alea akhirnya mau turun dari gendongan Dion.
Setelah menyerahkan Alea pada Reina. Dion berjalan menuju kamarnya untuk mencari Stella.
__ADS_1
Dion mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamarnya. "Mama ke mana?" Dion langsung bertanya pada Stella ketika melihatnya berada di kamar sendirian.
Stella menoleh ke arah pintu. "Sudah keluar, katanya mama ingin pergi untuk mengecek persiapan nanti malam," jelas Stella.
"Kau baru saja pulang?" tanya Stella ketika melihat Dion memasuki kamarnya, masih dengan setelan lengkapnya.
Stella sedang menyiapkan keperluannya yang akan dibawa ke hotel nantinya. "Iyaaa, aku lelah sekali." Dion duduk bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya.
Stella menghentikan kegiatannya lalu duduk di samping Dion. "Kenapa kau tidak cuti saja dulu?"
Stella merasa kasih melihat Dion yang seperti kelelahn karena belakangan ini sering pulang kali pulang malam. Dia baru saja pulang dini hari dan harus berangkat pagi-pagi lagi ke rumah sakit karena ada panggilan darurat dari rumah sakit.
"Tidak bisa. Pekerjaanku sedang banyak apalagi jadwal operasi sedang padat. Tidak bisa dialihkan pada dokter lain karena bertabrakan dengan jadwal mereka," terang Dion
"Kalau begitu istirahatlah di kamar."
"Nanti saja, aku masih mau di sini," tolak Dion.
"Kalau begitu istirahatlah di sini. Berbaring di tempat tidur," usul Stella. Dia merasa iba melihat wajah lelah Dion.
"Kau mau ke mana?" tanya Dion ketika melihat Stella berdiri.
Stella menoleh pada Dion sebelum melangkah. "Aku ingin menyiapkan keperluanku yang akan dibawa ke hotel nanti," jawab Stella.
Dion menarik tangan Stella hingga dia terduduk kembali. "Nanti saja, temani aku mengobrol sebentar."
"Kita masih bisa mengobrol sambil aku membereskan barang-barangku, Dion."
"Tidak bisa karena aku ingin tidur di pangkuanmu." Dion langsung merebahkan tubuhya di sofa panjang dengan kepala yang dia letakkan di paha Stella. Dia terlihat langsung memejamkan matanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin istirahat sebentar," balas Dion tanpa membuka matanya. Dia memang merasa sangat lelah dan membutuhkan istirahat.
"Dion," panggil Stella dengan suara pelan.
"Hhhhmm," guman Dion.
Stella menunduk menatap wajah Dion yang sudah memejamkan matanya sedari tadi. "Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi. Apa kau yakin akan tetap melanjutkan pernikahan kita?"
Dion langsung membuka matanya. "Apa maksudmu? Apa kau mulai ragu dan tidak ingin menikah denganku?"
Stella langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, aku hanya ingin kau memikirkannya lagi agar kau tidak menyesal nantinya."
"Kau pikir aku tidak berpikir dengan matang saat aku mengajakmu menikah? Apa kira aku hanya ingin bermain-main denganmu?" Dion mulai mengeraskan wajahnya. Sorot matanya pun sudah mulai berubah lebih tajam.
"Bukan seperti itu." Stella merasa kalau Dion salah menangkap maksud dari ucapannnya.
Dion langsung bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Stella. "Apa kau merasa aku tidak sebanding dengan Dave dan mantan suamimu sehingga membuatmu menyesal karena sudah menerima lamaranku?"
Stella langsung panik karena ucapannya justru disalah artikan oleh Dion. "Dion, kau salah paham, bukan itu maksudku," sanggah Stella.
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku justru kasihan padamu karena harus menikah denganku yang sudah memiliki an...."
"Stella, bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan padamu. Jangan kau jadikan statusmu sebagai alasan untuk ragu denganku. Aku tidak keberatan sama sekali dengan statusmu," ucap Dion penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Jadi, jika kau tidak ingin aku salah paham padamu, jangan pernah menanyakan hal ini lagi padaku atau aku akan berpikir kalau sebenarnya kaulah yang tidak ingin menikah denganku karena kau merasa aku tidak pantas untukmu. "
Jelas saja Dion merasa marah dengan Stella karena menjelang hari pernikahan mereka, Stella terlihat ragu dan selalu saja menanyakan hal yang sama pada Dion. Awalnya Dion menanggapinya dengan santai tapi karena Stella terus mengungkitnya. Dion jadi memiliki pemikiran lain terhadap Stella.
Sebenarnya Stella tidak bermaksud meragukan Dion. Dia hanya takut kalau Dion akan menyesal menikah dengannya karena Dion bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya dengan status dan kedudukannya saat ini. Stella tidak ingin gagal dalam membina rumah tangganya nanti.
Stella seketika langsung terdiam. Dia tidak berani berkata apa-apa lagi saat melihat api kemarahan dalam sorot mata Dion.
"Aku akan kembali ke kamarku." Dion langsung berdiri melangkah ke arah pintu.
"Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak ingin melanjutkan pernikahan kita. Kau boleh tidak datang di acara pertunangan kita nanti malam kalau kau tidak ingin menikah denganku," ucap Dion tanpa menoleh pada Stella sebelum dia menutup pintunya.
Stella menghela napas setelah kepergian Dion. Stella tidak berani menyusul Dion ke kamarnya karena ini pertama kalinya dia melihat Dion marah sekaligus kecewa padanya.
Di saat yang sama Dave dan Jeslyn sedang berada di salah satu butik langganan mereka untuk mengambil baju pesanan yang akan mereka kenakan saat acara pertunangan Dion malam harinya.
"Sayang, kita mampir dulu ke rumah sakit ya? Aku ada urusan sebentar dengan Adnan," ucap Dave ketika mereka baru saja selesai mengambil baju pesanan mereka dan baru saja memasuki mobil.
"Iyaa," jawab Jeslyn sambil tersenyum.
"Zayn, ke rumah sakit," perintah Dave.
"Baik, Tuan." Zayn mulai melajukan mobil ke arah rumah sakit milik bosnya.
Setengah jam berlalu, mereka akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. "Zayn, kau tunggu di mobil, kami tidak akan lama," perintah Dave.
"Baik, Tuan." Dave dan Jeslyn berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Dave, bolehkah aku menemui Sarah sambil menunggumu bicara dengan pak Adnan?"
Dave mnghentikan langkahnya ketika ingin memasuki rumah lift. "Nanti saja sayang, aku akan menemanimu menemui dokter Sarah setelah berbicara dengan Adnan."
"Tapi Dave Sarah tidak akan nyaman kalau ada kau. Lebih baik kau berbicara dengan pak Adnan berdua saja," usul Jeslyn.
"Jadi menurutmu aku mengganggu kalian?" Dave terlihat tidak senang mendengar perkataan istrinya.
"Dave, apa kau tidak sadar kalau Sarah tampak tertekan jika ada kau. Dia tidak bisa leluasa berbicara denganku kalau ada kau."
Meskipun Sarah tidak pernah mengatakan padanya, tapi Jeslyn bisa melihat kalau Sarah terlihat membatasi diri dan terlihat canggung jika ada Dave di sekitar mereka.
Bahkan Saat mereka memeriksakan kehamilannya, dokter Sarah terlihat hanya bicara saat ditanya dan berbicara formal padanya. Berbeda sekali saat tidak ada Dave diantara mereka berdua. Aura yang ditampilkan oleh Dave membuat dokter Sarah merasa terdintimidasi.
"Memangnya aku pernah memarahinya atau wajahku tampak meyeramkan?" Dave masih tidak terima dengan alasan yang dilontarkan istrinya.
"Tidak Dave, maksudku adalah dia pasti merasa canggung terhadapmu karena kau adalah pemilik rumah sakit ini. Aku pun akan merasa begitu seandainya pemilik rumah sakit ini orang lain," jelas Jeslyn dengan hati-hati.
"Kenapa dia hanya merasa seperti itu padaku? Kau adalah istriku. Istri dari pemilik rumah sakit ini. Bukankah seharusnya dia canggung terhadapku?"
Jeslyn langsung mengapit lengan suaminya. "Dave, kami sudah berteman sebelum aku menikah denganmu dan dia juga baru tahu kalau aku adalah istrimu."
Dave menoleh pada istrinya sambil memicingkan matanya. "Jangan banyak alasan sayang. Jangan-jangan, kau tidak ingin aku ikut denganmu karena kau akan bertemu dengan Dion?" tuduh Dave. "Ingat sayang, ada anakku di perutmu."
Jeslyn menoleh di sekitarnya. Dia rasanya ingin berteriak pada Dave saat ini. Dia merasa kesal pada suaminya karena masih saja membawa-bawa Dion padahal sudah jelas Dion akan menikah dengan Stella.
"Daveee." Jeslyn berusaha untuk menahan emosinya.
__ADS_1
Bersambung...