
Jeslyn mulai menggerakkan tangannya ketika dia baru saja membuka matanya. Butuh waktu beberapa detik sebelum mata terbiasa dengan cahaya remang dalam kamarnya. Dia menoleh sejenak ke belakang ketika merasakan pelukan suaminya dari belakang.
Perlahan Jeslyn mengangkat tangan Dave yang berada di pinggangnya. Baru saja Jeslyn ingin menyingkirkan tangan Dave dari tubuhnya, tapi Dave kembali mempererat pelukannya. Jeslyn mencoba beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Dave justru mempererat pelukannya.
"Dave, lepaskan, aku ingin mandi." Jeslyn akhirnya bersuara agar Dave melepaskan pelukannya.
"Nanti saja sayang, ini masih gelap," balas dengan dengan suara serak. Dave membenamkan wajahnya di leher belakang istrinya.
"Dave, hari ini aku ada rapat dengan dokter lainnya. Aku harus datang lebih pagi agar tidak terlambat," terang Jeslyn.
Dave seolah tidak menghiraukan ucapan Jeslyn. Tangannya justru bergerak liar di tubuh istrinya. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit nanti." Deru napas Dave mulai memanas.
Jeslyn bisa merasakan sinyal bahaya ketika Dave mulai mencium leher dan bahunya dari belakang. "Dave, hentikan. Aku harus mandi dan kau juga harus bekerja."
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" usul Dave tanpa menghentikan kegiatannya menjelahi tubuh istrinya.
"Tidak, lebih baik aku mandi sendiri." Jeslyn sangal hapal dengan kelakuan suaminya. Kegiatan mandi yang seharusnya tidak sampai setengah jam akan berakhir berjam-jam jika mereka mandi bersama.
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti." Dengan gerakan cepat Dave menyingkap selimut dan merubah posisinya menjadi di atas Jeslyn. "Aku menginginkanmu sayang," ucap Dave dengan tatapan penuh gairah.
"Dave, bukankah semalam sudah? Apa kau tidak lelah?"
"Iyaa, tapi aku mau lagi sayang." Tanpa menunggu lama Dave langsung melancarkan aksinya.
*******
Jeslyn yang sudah selesai memoles wajahnya seketika menoleh pada Dave yang sedang berada di walk in closet.
"Dave, apa kau sudan siap?" teriak Jeslyn sambil menoleh ke arah walk in closet.
"Sebentar sayang," jawab Dave.
Melihat suaminya sedang berjalan ke arahnya dengan dengan baju yang belum terkancing, Jeslyn langsung menghampirinya.
"Dave, Dion bilang dia akan cuti dan berencana untuk ke Swiss untuk mengunjungi ibu Stella sekaligus liburan dengan keluarganya, apakah aku boleh ikut dengan mereka?" tanya Jeslyn dengan nada lembut.
Dave menunduk sambil menatap wajah istrinya yang sedang fokus mengancingkan baju kemejanya. "Aku sedang tidak bisa cuti sayang, pekerjaanku masih banyak."
"Kau tidak perlu ikut Dave, aku akan pergi bersama dengan mereka. Kau tidak perlu khawatir."
Dave melingkarkan tangan di pinggang istrinya setelah Jeslyn selesai mengancingkan kemejanya. "Aku tidak mengijinkanmu pergi tanpa aku. Kau bisa saja bertemu dengan pria lain di sana nanti jika tidak ada aku."
Jeslyn memukul dada Dave dengan pelan. "Dave, jangan mengada-ada. Aku sudah memiliki suami tampan sepertimu untuk apalagi aku melihat pria lain."
Dave tersenyum tipis. "Kita akan ke Swiss setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku. Kau harus pergi denganku jika ingin mencari Celine."
Tanpa Jeslyn bicara, Dave sudah tahu maksud dari istrinya ingin pergi ke Swiss.
Jeslyn tampak berpikir sejenak. "Baiklah." Jeslyn berbalik lalu meraih tasnya. "Lebih baik kita turun untuk sarapan."
Dave mengangguk lalu berjalan berdampingan dengan istrinya menuju lantai bawah.
Sudah 8 tahun berlalu semenjak kepergian Celine ke Swiss. Tidak ada berita apapun darinya. Celine menghilang tanpa jejak. Alamat tempat tinggal yang pernah diberikan oleh Felix dan Sandra sudah beralih kepemilikan. Menurut informasi mereka sudah pindah.
Dave dan Jeslyn tidak bisa menemukan keberadaan Celine meskipun mereka sudah melakukan pencarian dengan berbagai cara. Dave bahkan meminta bantuan pada temannya yang memiliki pengaruh di negeri tersebut, tetapi hasilnya tetap sama. Keberadaan Celine tidak bisa dilacak sama sekali.
Ketika mereka berdua memasuki ruang makan, sudah ada Jen dan Levin di sana.
"Ma, Pa, setelah lulus kuliah ini, aku ingin melanjutkan studiku lagi di Inggris," ucap Levin ketika orang tuanya baru saja duduk di depannya.
"Tidak, kau harus langsung pulang ke sini setelah lulus kuliah. Kau harus membantu papa mengurus perusahaan di sini," tolak Dave dengan tegas.
Levin saat ini adalah mahasiswa tingkat akhir di universitas ternama yang ada di Inggris. Setiap liburan, dia selalu pulang ke Indonesia. Terkadang dia pergi ke Swiss bersama dengan Erzio, anak dari Dion dan Stella jika dia tidak pulang ke Indonesia.
"Pa, minta saja Jen yang membantu papa di sini," usul Levin dengan wajah santai.
Jen langsung menatap tajam pada kakaknya. "Enak aja, nggak bisa gitu dong Kak. Jen kan masih kuliah. Seharusnya Kakak yang membantu Papa. Yang menjadi anak tertua dan pewaris Tjendra Group kan Kakak, bukan Jen," ucap Jeniffer sewot.
"Kakak ingin memulai dari nol tanpa bantuan papa. Lagi pula, Kakak harus melanjutkan S2 Kakak dulu, jadi tidak ada waktu. Kau saja yang mengambil alih perusahaan."
"Ma, lihat Kak Levin, dia seenaknya melemparkan tanggung jawabnya pada Jen," adu Jen dengan wajah cemberut.
"Levin, itu adalah tanggung jawabmu sebagai putra satu-satunya di keluarga Tjendra. Kau tidak bisa membebankan tanggung jawabmu pada Jen," ucap Dave dengan sorot mata tajam.
"Dave, sudahlah, ini masih pagi," sela Jeslyn sambil menatap suaminya.
Jika dia tidak segera menengahi perdebatan antara anak dan ayah itu, maka, bisa dipastikan kalau dia akan terlambat ke kantor karena Dave dan Levin memiliki watak yang sama kerasnya sehingga tidak ada yang akan mau mengalah.
"Baiklah, aku akan mengambil alih perusahan tapi tidak sekarang. Berikan aku waktu dua tahun. Setelah lulus kuliah, aku ingin bekerja dulu di Swiss, setelah itu aku akan pulang ke Indonesia mengambil alih perusahaan di sini," tawar Levin.
"Untuk apa kau bekerja di Swiss?" tanya Dave dengan wajah heran.
"Tentu saja mencari kak Celine," celetuk Jen.
Levin langsung melayangkan tatapan tajam pada Jen. "Jangan sok tahu!" ucap Levin dengan ketus.
"Kak Zio bilang selama Kakak kuliah di Inggris, Kakak sering kali pergi ke Swiss untuk mencari seseorang, kalau bukan untuk mencari kak Celine, untuk apa Kakak sering keluar-masuk Swiss?" celoteh Jen.
"Sepertinya aku harus menyumpal mulut Zio. Dasar mulut ember," gerutu Levin.
__ADS_1
"Aku rasa kak Celine pasti tidak mau bertemu dengan Kakak lagi karena Kakak selalu memarahi dan bersikap dingin padanya. Aku pun akan begitu kalau menjadi kak Celine. Aku rasa kak Celine pasti membenci Kakak dan tidak ingin melihat wajah Kakak lagi. Itu sebabnya dia tidak pernah datang ke sini lagi," ucap Jen dengan wajah sewot.
Levin terdiam dengan wajah dingin. "Aku sudah kenyang." Levin langsung berdiri setelah itu berjalan meninggalkan ruang makan.
"Jen, bukankah mama sudah bilang agar tidak mengungkit masalah Celine di depan kakakmu? Kau kan tahu sendiri kalau Kakakmu sangat sensitif jika membahas mengenai Celine," tegur Jeslyn sambil menatap anak perempuannya.
"Maaf Ma, tapi itu memang salah kak Levin. Dia yang sudah membuat kak Celine pergi."
"Sudaah, jangan pernah membahas Celine lagi di depan kakakmu. Lebih baik kau habiskan sarapanmu agar kau tidak terlambat ke kampus."
Tidak seperti Levin yang berkuliah di luar negeri, Jeniffer justru melanjutkan kuliahnya di Indonesia karena tidak mendapatkan ijin dari Dave. Alasannya karena Jen adalah wanita. Dave takut terjadi apa-apa dengannya meskipun ada Levin yang menjaganya di sana.
"Iyaa Ma," ucap Jen dengan suara pelan.
"Yang dikatakan Jen ada benarnya, seharusnya Levin bersikap baik dari dulu ketika Celine masih di sini," timpal Dave sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.
Jeslyn melirik sekilas pada suaminya. "Dave, apa kau sudah lupa bagaimana kau memperlakukanku di awal pernikahan kita."
"Sayang, kenapa kau membahasnya lagi. Aku kan sudah menyesal. Lihatlah sekarang bagaimana aku memperlakukanmu."
Jeslyn terkekeh. "Iyaaa aku tahu, kau adalah suami terbaik di dunia ini," gurau Jeslyn.
Selesai sarapan, Dave mengantarkan Jelsyn ke kantornya, sementara Jen diantar oleh supir.
"Dave, jangan lupa nanti jemput aku, jangan sampai terlambat," ucap Jeslyn sebelum turun dari mobil.
"Iyaaa sayang."
"Kalau begitu aku turun dulu." Jeslyn lalu membuka pintu.
"Kenapa buru-buru sekali sayang. Apa kau merasa tidak melupakan sesuatu?"
"Apa?" tanya Jeslyn sambil menoleh pada suaminya.
Dave langsung menarik tangan Jeslyn dan melu*mat bibir istrinya sebentar. "Dave, kita sedang berada di depan rumah sakit," protes Jeslyn setelah Dave melepaskan pagutannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Dave dengan wajah tak bersalah.
Jeslyn menghembuskan napas pelan lalu menatap suaminya. "Sudahlah, aku akan terlambat nanti." Jeslyn turun dari mobil lalu menutup pintu.
"Pergilah, hati-hati di jalan suamiku," lanjut Jeslyn lagi sambil melambaikan tangannya.
Dave tersenyum sambil mengangguk. "Iyaaa sayang."
Hari-hari berlanjut seperti biasa sampai akhirnya Levin lulus kuliah. Dave memutuskan untuk mengijinkan Levin untuk tinggal lagi selama 3 tahun di luar negeri, kali ini bukan di Inggris atau Swiss, melainkan di Paris, Perancis.
Dave meminta Levin untuk bekerja di salah satu anak perusahaan Tjendra Group yang ada di sana. Meskipun berat hati, Levin akhirnya menyetujuinya. Dia tidak punya pilihan lain lagi selain mengikuti kemauan ayahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya cerita ini tamat juga. Author ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pembaca setia dan kepada yang semua yang sudah mendukung cerita ini.
Jika suka dengan cerita ini, mohon bantu berikan bintang 5 Yaa..
Jika tidak suka, cukup abaikan saja. Terima kasih sekali lagi.
Author berencana untuk membuat ceria mengenai Levin dan Celine. Author akan infokan lagi kapan Author akan merilisnya. Ini adalah Covernya dengan Judul "Takdir Celine & Levin"
Setelah lulus kuliah di universitas ternama di Inggris, Levin pulang ke Indonesia atas perintah ayahnya.
"Kau harus bekerja di anak perusahaan kita yang ada di Perancis. Papa tidak mengijinkanmu bekerja di Swiss," ucap Dave ketika mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Tapi, Paa...." Hendak kembali protes tetapi ayahnya sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Bukankah Perancis dekat dengan Swiss? Kau bisa bekerja di perusahaan kita yang ada di Paris sambil mencarinya."
Dave tahu betul kenapa Levin bersikukuh untuk bekerja di Swiss dibandingkan di perusahaan mereka yang ada di Paris. Alasannya cuma satu yaitu Celine.
Levin langsung terdiam. "Papa tidak akan melarangmu untuk mencarinya, tapi kau harus tahu kapan waktunya untuk berhenti."
Levin terdiam seraya berpikir. "Baiklah, aku akan bekerja di perusahaan kita," jawab Levin dengan wajah lesu. "tapi, sebelum ke Paris, aku akan pergi ke Swiss terlebih dahulu."
Tidak masalah bagiku jika harus bekerja di perusahaan papa. Aku bisa pergi ke Swiss setiap akhir pekan untuk mencarinya, batin Levin.
******
Seminggu sudah berlalu. Hari ini, Levin akan berangkat ke Swiss dan tinggal selama seminggu di sana sebelum akhirnya dia terbang ke Paris.
"Sayang, jangan dirimu baik-baik di sana. Jangan sampai sakit. Kau harus makan dengan teratur," ucap Jeslyn ketika dia hendak melepas kepergian Levin di bandara.
Meskipun dia sudah terbiasa tinggal berjauhan dengan Levin, tapi tetap saja Jeslyn selalu sedih dan menangis setiap mengantarkan Levin ke bandara.
Levin lalu memeluk Jeslyn sambil mengusap lembut punggungnya ketika melihat ibunya mulai meneteskan air mata. "Iyaaa Ma, tenang saja, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."
Levin melepaskan pelukannya setelah cukup lama menenangkan ibunya. "Ingat, kabari kami kalau kau sudah sampai di Swiss," ucap Dave.
"Iyaaa, Pa," jawab Levin sambil mengangguk.
__ADS_1
"Kak, baik-baik di sana," ucap Jen dengan wajah sedih.
"Iyaaa, jagain Mama ya?"
Jen mengangguk. "Levin pergi dulu," ucap Levin sambil melambaikan tangan.
"Iyaa, hati-hati," ucap mereka serempak.
Setelah Levin tidak terlihat lagi, mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang. Saat Levin tiba di Bandara Internasional Zurich, Levin tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita ketika menuju tolilet.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," ucap wanita sambil membungkuk meraih ponselnya yang terjatuh.
Levin menatap wanita yang menabraknya tadi tanpa berkedip. Wanita itu berkulit putih, tinggi langsing, rambut panjang, menggunakan topi hitam, kaca mata hitam besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya dan menggunakan masker. Tidak terlihat jelas bagaimana rupanya. Yang jelas wanita itu terlihat cantik, meskipun wajahnya hanya terlihat sedikit.
"Tuan, maaf saya buru-buru. Sekali lagi saya minta maaf." Wanita itu pergi tanpa menunggu jawaban dari Levin.
Tanpa sadar, tatapan Levin terus mengikuti kemana arah wanita itu pergi.
"Celine tunggu!" Seorang pria tampan berteriak sambil berlari kecil ke arah wanita itu tadi pergi.
Tubuh Levin langsung menegang dan kaku. Jantungnya berdebar kencang ketika mendengar nama Celine disebut. Levin terdiam beberapa saat sampai akhirnya kesadarannya kembali lagi.
Dengan langkah cepat Levin berjalan ke arah wanita itu tadi pergi. Levin mencari ke sana-kemari, tetapi tidak menemukannya. Setelah mencari cukup lama, Levin berjalan menuju tempat duduk dengan langkah gontai. Dia mengusap wajahnya setelah menghembuskan napas kasar.
Celine, apakah yang tadi itu kau? Tapi, kalau itu memang kau, kenapa kau tidak mengenaliku sama sekali? Sebenarnya di mana kau bersembunyi selama ini? Apa kau tidak tahu kalau aku sudah mencarimu selama 9 tahun?
********
Satu tahun kemudian.
"Vin, apa kau senggang nanti malam?" Zio mendatangi Levin yang sedang duduk di meja kebesarannya yang ada di ruangan kantornya.
Levin mengangkat kepalanya lalu menatap malas pada Zio. "Memangnya kenapa?"
Erzio adalan anak dari Stella dan Dion. Sama halnya dengan Levin, Erzio memilih untuk tinggal di Paris mengikuti jejak Levin. Zio sendiri menjadi asisten sekaligus sekertaris Levin atas permintaan dari Levin.
Padahal, Dion sudah menyuruhnya pulang untuk mengambil alih perusahaan milik keluarganya, tapi Zio tidak mau. Dion masih tetap tidak mau mengambil alih perusahaan keluarganya karena dia lebih suka menjadi dokter sehingga perusahaan tersebut sekarang dipimpin oleh Stella sebagai Direktur Utama di perusahaan milik keluarga Dion.
"Josep mengudang kita untuk datang ke acara ulang tahunnya. Dia mengadakan pesta di sebuah club malam ternama. Pasti banyak wanita cantik yang akan datang."
Levin langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan wajah lelah. "Aku tidak mau datang, kau saja yang pergi."
"Ayoolah, temani aku. Sampai kapan kau hidup dalam duniamu sendiri. Aku akan menemanimu lagi minggu depan ke Swiss untuk mencarinya," bujuk Zio.
Levin mengetukkan jari-jari tangannya ke meja sambil berpikir. "Baiklah, tapi kau harus menemaniku minggu depan ke Swiss."
"Hhmmmm," gumam Zio sambil mengangguk.
"Bagaimana kabar kak Alea? Kapan dia ke sini?" Seketika Levin teringat dengan wanita cantik yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Alea memang sangat dekat dengan Levin dan Erzio.
"Dia akan ke sini seminggu lagi. Dia bilang akan tinggal di sini selama sebulan karena ada pemotretan di sini."
"Lalu dia akan tinggal di mana?"
"Aku sudah memintanya untuk tinggal di apartemenku, tapi dia menolak karena dia bilang perusahaan yang mengontraknya sudah memberikan dia tempat tinggal di salah satu apartemen yang tidak jauh dari tempat kantor yang memberikan kontrak padanya."
Levin manggut-manggut. "Jangan beritahu dia kalau aku masih mencari Celine. Dia pasti akan memarahiku habis-habisan."
Erzio tersenyum mengejek sembari duduk di depan Levin. "Tentu saja dia akan memarahimu. Kau mengabaikan nasehatnya untuk berhenti mencari cinta pertamamu itu."
Levin langsung melemparkan pulpen pada Erzio tapi bisa dihindari dengan cepat olehanya. "Sudah kukatakan dia bukan cinta pertamaku," sanggah Levin dengan kesal, "dia itu bagian dari keluargaku. Aku tidak pernah melihatnya sebagai wanita."
"Benarkah?" tanya Erzio dengan tatapan ragu. "Kalau kau tidak melihatnya sebagai seorang wanita lalu kau menganggapnya apa?"
Setahu Erzion, Levin tidak pernah mau mengakui Celine sebagai adiknya. Dia akan marah jika ada yang menyebut Celine sebagai adiknya. Bahkan ketika mereka masih kecil, Erzio sering menggodanya dengan mengatakan kalau Celine memang cocok menjadi adiknya dan itu sukses membuat Levin marah.
Dulu Erzio memang sering ke berkunjung ke rumah Levin untuk sekedar bermain dengannya atau bertemu dengan Celine. Erzio cukup dekat dengan Celine karena sikap Erzio yang humble, tidak seperti Levin yang sering bersikap dingin pada Celine.
"Seperti Jen?" tebak Zio sebelum Levin sempat menjawab.
"Tentu saja tidak," jawab Levin acuh tak acuh.
Erzio tersenyum mengejek lalu berkata, "Kalau kau tidak memiliki perasaan pada Celine lalu untuk apa kau mencarinya selama 10 tahun?"
"Itu karena mama ingin dia kembali. Aku juga ingin menebus kesalahan karena sudah bersikap dingin padanya."
Erzio memajukan tubuhnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Levin sambil memasang wajah penasaran. "Kalau begitu, katakan padaku, kenapa sampai sekarang tidak ada satu pun wanita yang kau jadikan kekasih? Padahal, banyak yang mengejarmu. Bukankah karena di hatimu sudah sepenuhnya diisi oleh Celine?"
"Tentu saja tidak. Aku belum menemukan wanita yang mampu menggetarkan hatiku, hanya itu alasannya."
Erzio mendengus. "Bilang saja kau tidak bisa berpaling dari gadis kecilmu itu," cibir Erzio
"Sudah aku bilang semua tidak seperti yang kau pikirkan," elak Levin.
"Kalau begitu, bolehkah aku mendekatinya jika kita sudah menemukannya?"
"Tidak boleh! Cari saja wanita lain," ujar Levin, "lebih baik kau dekati Jen. Dia sudah lama menyukaimu."
Erzio kembali mendengus kesal. "Aku tidak suka dengan anak kecil."
__ADS_1
...Bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=