Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Jeslyn mengelap mulutnya dengan tisu. “Aku hanya kekenyangan Dave.” Jeslyn kemudian mencuci mulutnya.


Dave menatap Jeslyn cukup lama. “Jeslyn apa ada yang kau sembunyikan dariku?”


Wajah Jeslyn langsung berubah pucat. Dia tiba-tiba gugup. “Ti-tidak.. Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu.” Jeslyn langsung tergagap.


Dave masih merasa kalau Jeslyn sedang berbohong. “Kau bilang tidak sakit, tetapi kenapa kau bisa muntah?”


“Aku terlalu banyak makan, Dave.” Jelsyn mencoba untuk berkilah. Dia tidak ingin kalau Dave sampai tahu keadaan yang sebenarnya. “Aku lelah Dave,” ucap Jeslyn lemah, wajah kembali memucat.


“Kalau begitu kau istirahat saja di kamar.”


Dave memapah Jeslyn masuk ke dalam kamar lalu membaringkannya ke tempat tidur. “Kau sudah memuntahkan semua makanan yang kau makan tadi. Kau harus makan sedikit agar perutmu tidak kosong.”


Jeslyn merasa tidak lapar, tetapi saat mengingat ada janin di perutnya. Dia terpaksa harus mengisi perut walaupun sedikit. “Aku mau makan roti tawar dengan selai coklat dan buah pisang.”


Dave kemudian berdiri. “Kau tunggu di sini. Aku akan mengambilkannya.” Setelah kepergian Dave, Jeslyn menyusun beberapa bantal untuk menjadi sandaran tubuhnya.


Dave kembali dengan membawa pesanan yang diminta oleh Jeslyn. “Makanlah.”


Dave menyuapi Jeslyn dengan roti tawar. Setelah Jeslyn menghabiskan 2 roti tawar dan satu buah pisang, Dave lalu memberikannya air putih hangat.


“Tidurlah.” Dave menarik selimut ketika Jeslyn sudah berbaring. “Aku akan pulang setelah kau tertidur.”


Jelsyn memiringkan tubuhnya membelakangi Dave, sudut matanya mengeluarkan air mata. Dia langsung merasa sedih dan tidak rela ketika mendengar Dave akan pergi.


Jeslyn berpikir kalau dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Dave apalagi setelah perceraian mereka selesai nantinya.


Dave mengernyit saat mendengar sayup-sayup suara isakan Jeslyn. Dave kemudian memegang lengan Jeslyn. “Kau kenapa Jes?” Dave berusaha membalikkan tubuhnya Jeslyn, tetapi ditahan oleh Jeslyn. Dia tidak ingin Dave melihatnya menangis.


Melihat tidak ada respon dari Jelsyn, Dave berjalan ke sisi lain tempat tidur dan terkejut saat mengetahui Jelsyn menangis. Dave kemudian naek ke tempat tidur lalu mengusap air mata Jeslyn.


“Kenapa kau menagis?” Dave meraih tubuh Jeslyn lalu memeluknya. “Apa aku berbuat salah padamu?” tangisan Jeslyn bertambah saat berada di pelukan Dave.


“Maafkan aku. Aku tidak tahu salahku apa, tapi aku minta maaf kalau aku membuatmu menangis.” Dave terus mengusap kepala Jeslyn sambil terus menenangkannya.


“Tidurlah.”


Dave mengecup kening Jeslyn. Dia merasa sedih saat melihat Jeslyn tampak sangat rapuh saat ini. Dia bertanya-tanya kenapa sekarang dia terlihat sangat lemah, tidak seperti dulu.


Dave terkejut saat Jesyn memeluk erat dirinya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Jeslyn tidak ingin ditinggalkan sendiri. “Aku akan pulang besok pagi kalau kau mengijinkan aku menginap di sini.”


Jeslyn hanya diam sambil memejamkan matanya tanpa melepas pelukannya pada Dave. Dia mengendus aroma tubuh Dave. Aroma tubuh Dave membuatnya tenang.


Melihat Jeslyn tampak nyaman berada di pelukannya, Dave pikir kalau Jeslyn setuju kalau dia menginap, apalagi Jeslyn tampak tidak mau melepaskan pelukannya.


“Seandainya hubungan kita bisa kembali seperti dulu, aku akan sangat bahagia Jeslyn. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin bercerai denganmu. Aku sangat mencintaimu Jeslyn."


*****

__ADS_1


Dave membuka matanya ketika meraba tempat tidur sebelahnya kosong. Dia mengedarkan pandangannya di seluruh kamar, tetapi tidak menemukan keberadaan Jeslyn. Dave kemudian keluar dari kamar. Dia berusaha mencari keberadaan Jeslyn di ruangan keluarga.


“Kau sedang apa?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn duduk memunggunginya.


Jeslyn menoleh ketika mendengar suara serak Dave. “Aku lapar, Dave.” Setelah memuntahkan semua makanannya, Jeslyn hanya memakan sedikit makanan. Dia terbangun karena merasa lapar.


Dave duduk di sebelah Jeslyn. “Kenapa kau bangun?” tanya Jeslyn sambil menyendokkan buah naga ke mulutnya.


“Aku kaget saat melihatmu tidak ada di kamar.” Dave melirik jam yang ada di dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi.


“Tidurlah Dave, aku akan menghabiskan buah ini dulu.” Dia merasa sedikit salah tingkah ketika Dave terus memandangi wajahnya.


“Aku akan menemanimu sampai kau selesai makan.” Dave merasa tidak tega meninggalkan Jeslyn sendirian.


“Bukankah kau akan bekerja besok? Kau akan kesiangan nanti.”


Sebenarnya Jeslyn lebih suka ditemani oleh Dave, hanya saja Jeslyn tidak ingin membuat Dave terlambat ke kantor karena menemaninya makan.


“Tidak, aku akan menyetel alarm nanti.”


Dave tidak ingin menyia-nyiakan waktu berdua dengan Jeslyn karena sudah lama sekali tidak bertemu dengannya sehingga dia masih merindukan istrinya.


Jeslyn meraih susu hangat yang ada di depannya lalu meminum habis susu tersebut.


Dahi Dave mengerut. “Bukankah kau tidak menyukai susu putih?” Jeslyn memang tidak pernah mau minum susu putih karena tidak menyukainya dan hanya meminum susu coklat saja.


Saat Jeslyn menebus obat di rumah sakit setelah diperiksa oleh dokter Sarah, dia juga membeli susu ibu hamil di mini market yang ada di dalam rumah sakit.


“Dave, aku akan menonton televisi dulu baru setelah itu tidur.” Jeslyn baru saja makan, dia merasa perutnya penuh, jadi ingin menurunkan makanannya dulu baru tidur.


“Tidak apa-apa, aku akan menemanimu.” Jeslyn menyadarkan kepalanya sofa. “Jeslyn, setelah kita bercerai, apa kau akan tetap tinggal di sini?”


Dave sudah lama ingin menanyakan hal tersebut. Dia sering kali memikirkan hal itu, apakah dia masih bisa bertemu dengan Jeslyn setelah mereka bercerai.


Wajah Jeslyn tiba-tiba berubah sedih ketika Dave membahas soal perceraian. “Aku belum memikirkannya.”


“Aku harap kau bisa hidup bahagia setelah perceraian kita, Jes. Apa aku boleh menemuimu sesekali setelah kita berpisah?”


Walaupun Dave setuju bercerai, tetapi dia Dave belum bisa melepaskan Jeslyn begitu saja. Dia merasa masih sangat mencintai Jeslyn, terbukti setelah mencoba untuk tidak bertemu dengan Jeslyn beberapa hari, dia merasa sangat merindukannya.


“Kita lihat saja nanti.”


Jeslyn sendiri tidak tahu bagaimana dia menjalani hidup setelah bercerai dengan Dave. Hidup selamanya bersama Dave adalah harapan terbesarnya. Tidak pernah terpikirkan kalau rumah tangganya akan berakhir lebih cepat.


Mendengar jawaban Jeslyn yang tidak pasti. Dave menduga kalau Jeslyn enggan bertemu dengannya lagi setelah mereka bercerai. “Aku minta maaf karena selama menikah denganku, kau selalu menderita.”


Dave berusaha menutupi perasaan sedihnya di depan Jeslyn. Padahal saat ini hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya dia memeluk Jeslyn dengan erat dan tidak mau melepskannya.


“Dave, aku sudah melupakan semuanya. Tidak perlu membahas masa lalu lagi.”

__ADS_1


“Aku hanya tidak ingin kau membenciku Jeslyn.”


Dave ingin memastikan kalau mereka berpisah secara baik-baik agar kedepannya dia masih bisa menjalin hubungan baik setelah perceraian mereka.


Jeslyn menatap Dave. “Aku tidak membencimu, Dave.” Dalam hatinya, Jeslyn justru mengatakan kalau di justru masih sangat mencintai Dave.


“Lebih baik kau tidur sekarang. ini sudah pagi. Badanmu masih lemah. Kau bisa sakit lagi nanti.” Jeslyn menuruti perkataan Dave. Dia kemudian berjalan menuju kamarnya.


“Kau tidak tidur?” tanya Jeslyn saat melihat Dave tampak tidak bergerak.


“Aku akan tidur di sini, tidurlah.”


Dave sengaja ingin tidur di ruangan keluarga karena tidak ingin Jeslyn tergganggu dengan keberadaannya. Dia takut Jeslyn merasa tidak nyaman kalau dia tidur di dalam kamar Jeslyn.


Mata Jeslyn mulai berkaca-kaca. “Apa kau marah padaku sehingga tidak ingin lagi tidur denganku?” Jeslyn tiba-tiba merasa kalau Dave sedang berusaha menghindarinya.


Melihat Jeslyn yang tampak salah paham padanya Dave langsung berkata, “Tidak, aku hanya tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman kalau aku tidur di kamarmu.”


Jeslyn langsung berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Dave yang tampak kebingungan dengan sikapnya. Jeslyn langsung membenamkan wajahnya ke dalam selimut ketika sudah berbaring di tempat tidur. Dia kembali mengeluarkan air matanya. Perubahan suasana hatinya terjadi begitu cepat selama dia hamil.


Dave merebahkan tubuhnya di sofa setelah kepergian Jeslyn ke kamar. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Setengah jam kemudian, dia kembali membuka matanya karena dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus tertuju pada Jeslyn.


Dave akhirnya berjalan menuju kamar Jeslyn untuk memeriksanya apakah dia sudah tidur atau belum. Saat Dave membukan pintu kamar Jeslyn, dia melihat Jeslyn tidur dengan menutup seluruh wajahnya dengan selimut.


Dia kemudian menurunkan selimutnya. “Kau belum tidur?” tanya Dave ketika melihat mata Jelsyn belum terpejam.


“Aku tidak bisa tidur.”


Dave duduk di tepi tempat tidur. “Kenapa? Apa ada yang sedang kau pikirkan?”


“Tidak.”


“Aku akan menemanimu di sini sampai kau tertidur.” Suasana hati Jeslyn langsung berubah. Dia merasa senang ketika Dave mau menemaninya tidur.


“Kau tidur di sini saja. Aku tidak terganggu olehmu.” Jeslyn menepuk tempat tidur kosong di sebelahnya sambil tersenyum.


Dave tampak ragu sesaat. Dia hanya takut tidak bisa mengotrol dirinya jika tidur dengan Jeslyn di tempat tidur yang sama. “Aku duduk saja. Setelah kau tertidur akan akan keluar.”


Jeslyn langsung cemberut. “Kalau kau tidak ingin tidur di sini, lebih baik kau keluar.” Melihat Jeslyn tampak marah, Dave merasa kalau Jeslyn salah mengartikan lagi maksud dari perkataannya.


“Apa kau sungguh tidak keberatan kalau aku tidur di sini?”


“Tidak,” jawab Jeslyn singkat.


“Baiklah kalau begitu.” Dave akhirnya naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sebelah Jeslyn. “Tidurlah.” Jeslyn langsung memejamkan matanya lagi sambil memeluk Dave.


Bersambung...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2