
“Apa yang terjadi dengannya??” tanya Dave panik ketika melihat Jeslyn terbaring di ranjang pasien di ruang IGD. Sesampainya di kantor, Adnan menghubunginya dan memberitahukan kalau Jeslyn sedang ada di IGD.
Seketika Dave langsung menuju rumah sakitnya. Dengan terburu-buru. Dia bahkan pergi mengendarai mobilnya tanpa mengajak asistennya.
Dokter Roby langsung menoleh pada Dave ketika mendengar pertayaan darinya. Dokter Roby cukup terkejut melihat pemilik rumah sakit mereka tampak panik, ketika melihat Jeslyn terbaring tidak sadarkan diri. Dokter Roby memang tidak mengetahui hubungan antara Dave dan Jeslyn.
“Menurut orang yang mengantarnya ke sini. Dokter Jeslyn mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan,” jelas dokter Roby sambil menatap Jeslyn yang belum juga sadar.
Seorang pengendara membawa Jeslyn ke rumah sakit Dave karena lokasinya yang dekat dari tempat Jeslyn mengalami kecelakaan. Sementara mobilnya Jeslyn diderek dan dibawa ke rumah sakit.
“Lalu bagaimana keadaannya?” Dave tampak menatap Jeslyn dengan wajah khawatir.
“Dokter Jeslyn mengalami patah pada pergelangan kaki. Ada luka pada tangan, kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Dave menatap ragu pada dokter Roby. “Apa kau yakin sudah memeriksanya dengan teliti?" Dave tampaknya belum percaya sepenuhnya dengan apa yang disampaikan oleh dokter Roby.
“Saya sudah melakukan beberapa pemerikasaan, Tuan. Selain patah pada pergelangan kaki kanan. Tidak ada luka serius pada tubuh dokter Jeslyn.”
Sebenarnya dokter Roby agak heran kenapa Dave sangat mengkhawatirkan Jeslyn. Dia penasaran ada hubungan apa sebenarnya mereka. Tapi dia tidak berani bertanya pada Dave. Dia hanya bisa memendam rasa penasarannya di dalam hati.
“Apakah dia sudah bisa dipindahkan ke ruangan perawatan?” tanya Dave sambil terus menatap wajah istrinya.
“Sudaah Tuan,” jawab dokter Roby singkat.
“Baiklah. Kau boleh pergi.” Dave mendekati ranjang pasien Jeslyn ketika dokter Roby pergi.
Dave meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah selesai menelpon Dave memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.
Dave menatap Jeslyn cukup lama. “Permisi Tuan,” ucap Adnan sembari mendekati Dave yang tampak sedang duduk di samping ranjang Jeslyn. Dia sedang memegang tangan istrinya dan menatap khawatir pada Jeslyn.
“Apa yang sebenarnpya terjadi dengan istriku?” tanya Dave tanpa menoleh pada Adnan.
Adnan kemudian menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Jeslyn. Saat Jeslyn dibawa ke IGD, Maya yang melihatnya langsung melaporkan pada Adnan. Maya adalah perawat yang bekerja di rumah sakit itu, yang pernah diminta oleh Dave untuk menjaga Jeslyn selama dia hamil.
Ketika mengetahui Jeslyn ada di IGD, Adnan langsung turun ke ke bawah untuk mencari tahu penyebab Jeslyn berada di IGD. Kebetulan saat Adnan ke bawah, orang mengantar Jeslyn ke rumah sakit masih di sana, jadi Adnan mengorek informasi yang terjadi pada Jeslyn, setelah tahu, Adnan langsung menghubungi Dave.
“Bagaimana dengan korban yang hampir ditabrak oleh istriku?”
__ADS_1
“Mereka tidak terluka, Tuan. Dokter Jeslyn langsung membanting stir untuk menghindari mereka,” jawab Adnan.
Dave menoleh pada Adnan. “Urus kepindahkan istriku ke ruang perawatan,” perintah Dave pada Adnan.
“Baik Tuan.” Adnan segera meningglakan ruang IGD. Dia meminta perawat untuk memindahkan Jeslyn segera.
Dave terlihat menghubungi asistennya untuk datang ke rumah sakit sesudah Jeslyn dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah menelpon asistennya Dave pergi ke ruangan Jeslyn.
Ketika masuk dia melihat istrinya belum juga sadarkan diri. Tangan dan kaki kanannya tampak dibalut oleh perban. Ada beberap luka kecil di wajah, kaki dan tangannya. Dave duduk di samping Jeslyn sambil menatap cemas pada istrinya.
Setengah jam kemudian Zayn masuk ke dalam ruangan Jeslyn. “Zayn, segera urus masalah yang terjadi pada istriku,” perintah Dave. “Jangan lupa berikan kompensasi pada orang yang hampir ditabrak. Dan berikan imbalan yang pantas untuk orang yang sudah menolong istriku,” sambung Dave lagi.
Dave sudah menjelaskan pada asisten tentang apa yang sudah menimpa istrinya saat Dave menelponnya tadi, jadi Zayn sudah tahu apa yang harus dia lakukakan.
Zayn mengangguk cepat. “Baik Tuan.” Tanpa menunggu lama, Zayn langsung berjalan keluar dari ruang Jeslyn.
Setelah kepergian Zayn, Dave menatap istrinya dengan cemas. “Sayaaaang...Bangun sayaaang,” ucap Dave sambil mencium tangan istrinya. “Kenapa kau bisa sampai kecelakaan?” tanya Dave dengan suara pelan sambil memegang tangan Jeslyn. "Bangun sayaang."
Dave memutuskan untuk menunggu Jeslyn sampai sadar. Dia sudah meminta Mark dan Diana untuk menghandle pekerjaan kantornya.
********
“Dia mengalami kecelakaan saat akan berangkat kerja,” jawab Dave seadanya.
Stella berdiri di samping Dave sambil menatap Jeslyn. "Maafkan aku Dave..ini adalah salahku. Aku yang sudah membuatnya kecelakaan. Seharusnya aku tidak menemuinya tadi," ucap Stella penuh sesal.
Dave menoleh pada Stella. "Sudahlah. Ini bukan salahmu. Aku juga belum tahu apa penyebab dia mengalami kecelakaan."
"Baiklah.. Lebih baik kau urus saja Jeslyn dulu. Sepertinya kita harus berhenti sampai di sini. Aku takut dia akan benar-benar meninggalkanmu nanti jika kita masih melanjutkan rencana kita.”
Dave merenung sejenak. “Iyaa..Kau sudah memberikan surat itu padanya?” tanya Dave sambil menoleh pada Stella.
Stella mengangguk pelan. “Sudah..Dia merobeknya. Dia bilang tidak ingin bercerai denganmu. Biar aku yang menjelaskan padanya nanti.”
“Tidak usah.. Aku takut dia semakin membencimu. Biar aku yang menjelaskan padanya nanti.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Dave menoleh lagi pada Stella. “Di mana Alea? Kenapa kau datang sendiri?” Dave baru menyadari kalau Stella datang sendirian ke rumah sakit.
“Dia masih di sekolah. Aku akan menjemputnya setelah jam belajarnya selesai.”
Dave mengangguk-angguk. “Baiklah..Katakan padanya, aku tidak bisa menjemput hari ini. Aku tidak bisa meninggalkan Jeslyn sendiri.”
Stella memegang bahu Dave. “Tidak apa-apa Dave. Aku akan memberikan pengertian padanya nanti.”
“Sampaikan permintaan maafku pada Alea. Mungkin dia akan merasa kecewa karena aku tidak bisa menjemputnya.”
Stella tersenyum tipis. “Kau tenang saja Dave. Dia tidak akan marah padamu. Dia adalah anak yang pengertian.”
“Bukankah seharusnya kalian tidak berada di sini saat ini?” Dave dan Stella seketika menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara seorang pria.
Dave menatap tidak suka pada Dion, ketika melihat pria itu berjalan mendekati Jeslyn.
“Dave, aku pulang dulu. Aku akan menjemput Alea. Nanti aku ke sini lagi jika semua pekerjaanku sudah selesai,” ucap Stella lembut.
“Yaa.. Hati-hati.” Stella mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan Jeslyn. Stella sempat melirik tajam pada Dion sebelum meninggalkan ruangan itu.
“Davee.. Kali ini, apalagi yang sudah kau perbuat pada Jeslyn sehingga dia sampai mengalami kecelakaan?” tanya Dion dengan wajah geram. Dia menatap marah pada Dave.
Kalau saja mereka bukan berada di ruangan Jeslyn. Dion mungkin sudah menghajar Dave habis-habisan.
“Itu bukan urusanmu..! Kau hanya orang luar yang tidak berhak sama sekali mencampuri urusan rumah tanggaku.”
Dion tersenyum sinis. “Lalu, apakah wanita tadi adalah keluargamu sehingga dia bisa dengan mudah masuk dan ikut campur urusan rumah tanggamu?” tanya Dion.
Dave menatap tajam Dion. “Jangan memancing emosiku. Saat ini, aku dalam keadaan tidak ingin diganggu. Lebih baik kau pergi, sebelum kesabaranku habis,” seru Dave dengan wajah yang mulai berang.
“Lebih baik cepat urus perceraian kalian. Jangan menyakitinya terus-menerus. Bukankah wanita yang kau cintai sudah datang? Untuk apalagi kau menahan Jeslyn di sisimu jika kau hanya memberikan luka padanya.”
Dave menatap Dion dengan senyuman mengejek. “Sepertinya kau berharap sekali aku berpisah dengan Jeslyn. Apa kau pikir kau bisa bersamanya jika aku bercerai dengannya?”
“Tentu saja.. Aku akan berusaha keras untuk membuatnya menjadi milikku dan membuatnya melupakanmu. Laki-laki brengsek sepertimu tidak pantas untukknya,” tukas Dion.
“Tapi sayangnya, dia tidak ingin bercerai denganku. Dia merobek surat perceraian kami. Jadi, berhenti untuk bermimpi untuk memilikinya karena kami tidak akan pernah bercerai.”
__ADS_1
Bersambung...