
Dave tampak berpikir sejenak. "Sepertinya kau sangat mencintainya," tebak Dave. "Aku jadi penasaran wanita seperti apa yang sudah membuatmu melajang sampai sekarang?"
Awalnya Dave mengira kalau Glen sudah melupakan wanita tersebut karena dia sudah tidak pernah membahasnya, jika mereka sedang bertukar kabar. Ternyata dugaannya salah.
"Maka dari itu, bantu aku. Dengan kekuasaanmu dan pengaruhmu di sini, aku yakin kau bisa dengan mudah menemukannya," mohon Glen.
Glen berpikir kalau hanya Dave yang bisa membantunya saat ini. Selama ini dia sudah mencarinya, tetapi belum menemukan jejak apapun karena minimnya informasi mengenai wanita tersebut. Dia mencari wanita tersebut hanya berbekal nama panggilannya saja, jadi sangat sulit untuk menemukannya.
Dave mngetuk-ngetukkan tangannya di sandaran tagan sofa. "Baiklah. Aku akan membantumu," putus Dave. "Tapi, bagaimana jika setelah aku menemukannya, dia sudah menikah? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dave dengan kedua alis terangkat.
Glen tampak menatap ke kanan bawah sebelum menjawab pertanyaan dari Dave. "Aku harus melihatnya dulu, bagaimana kehidupannya saat ini. Apakah dia hidup bahagia atau tidak. Jika tidak, aku akan merebutnya," ucap Glen dengn wajah serius.
Sebenarnya dia juga memiliki pikiran yang sama dengan Dave. Pernah terpikir olehnya, bagaimana kalau wanita yang dia cari selama ini ternyata sudah menikah dan hidup bahagia dengan keluarganya, haruskah dia merelakannya, atau justru sebaliknya.
Dave sedikit terkejut mendengar jawaban Glen. Selama ini Glen tidak pernah serius itu dengan wanita. Sebenarnya, Glen tidak seperti Dave yang sulit didekati siapapun. Glen justru orang yang mudah bergaul dan mudah berbaur dengan orang lain. Meskipun begitu, dia sangat pemilih dalam hal wanita. Dia tidak mudah jatuh cinta, walaupun banyak yang mengejarnya.
"Jangan melakukan hal bodoh, Glen. Lebih baik kau lepaskan dia seandainya dia sudah menikah," nasehat Dave. "Aku membantumu bukan untuk merusak hubungan orang lain, tapi hanya agar kau tidak penasaran dengan wanita itu lagi. Berdoa saja, semoga dia belum menikah sehingga kau bisa bersatu dengannya."
"Yang terpenting saat ini, kau bantu aku dulu temukan wanita itu," pinta Glen penuh harap.
"Baiklah. Kau berikan saja infomasi yang kau punya padaku. Aku akan membantumu mencarinya."
"Nanti akan aku kirimkan lewat pesan."
"Baiklah. Setidaknya beritahu aku siapa nama panggilannya," ujar Dave.
"Nama panggilannya EL...."
"Tok...tok...." Ucapan Glen terpotong ketika mendengar suara ketikan pintu.
Dave dan Glen sektika menoleh ketika pintu terbuka dan terdengar suara langkah seseorang.
"Permisi, Pak." Diana datang dengan membawa minuman dan camilan untuk Dave dan Glen.
"Di, kenapa kau yang membawanya?" tanya Glen dengan wajah heran ketika melihat Diana meletakkan nampan di atas meja.
Diana melirik singkat pada Dave. "Dia tidak mau ada orang lain yang masuk ke ruangannya, kecuali aku dan Zayn. Jadi, harus aku yang mengantarkannya," terang Diana sambil berdiri.
"Kenapa?" tanya Glen penasaran.
__ADS_1
"Lebih baik kau tanyakan pada temanmu itu," jawab Diana sambil mengarahkan pandangannya pada Dave. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak," ucap Diana sopan yang ditujukan untuk Dave.
"Tunggu! Jangan pergi dulu," cegah Glen cepat.
Glen langsung menoleh pada Dave. "Kau menindas Diana?"
"Tidak," ucap Dave acuh tak acuh.
"Lalu kenapa kau menyuruhnya yang mengantarkan makan dan minum ini? Dia itu sekertarismu, bukan OB Dave!"
"Aku tidak suka ada orang lain masuk ke ruanganku."
Alasan Dave melarang orang lain selain Diana untuk masuk ke ruangannya adalah karena dulu banyak pegawai wanita yang mencoba untuk mendekatinya.
Dengan alasan pekerjaan mereka masuk ke ruangan Dave dengan mengenakan pakaian minim dan seksi, mencoba untuk merayunya. Bahkan ada beberapa dari mereka sengaja membuka beberapa kancing kemeja atasnya untuk menggoda Dave.
Dave bahkan langsung memecat pegawai yang terang-terangan mencoba untuk menggodanya. Semenjak saat itu, dia melarang pegawai wanita untuk masu ke ruangannya selain Diana, termasuk Office Girl.
Biasanya makanan dan minuman Dave hanya akan diantar sampai di meja Diana, selanjutnya Diana yang akan membawanya masuk. Begitu pun dengan dokumen yang harus ditanda tangani oleh Dave. Semuanya berakhir di meja Diana dan selanjutnya Diana yang akan mengantarkan ke ruangan Dave.
Itu juga salah satu alasan muncul rumor kalau Dave memiliki hubungan khusus dengan Diana karena hanya Diana yang diperbolehkan untuk masuk ke ruangannya. Bahkan untuk sekedar makan siang pun Dave hanya akan makan dengan Diana atau dengan asistennya.
"Pesonamu memang luar biasa Dave. Kenapa kau tidak manfaatkan mereka saja untuk kesenanganmu?"
Dave langsung melemparkan bantal sofa ke arah Glen, tetapi dengan mudah ditangkap oleh Glen. "Kau pikir aku laki-laki brengsek, seperti Alfred?" Dave tampak tidak terima dengan ucapan sahabatnya. "Kalau kau ada di posisiku, apa kau akan menerima mereka dengan senang hati?"
"Tentu saja tidak. Aku ini laki-laki baik dan setia," sergah Glen.
"Banyak dari kalangan atas seperti anak konglemerat, anak pejabat dan anak pengusaha sukses yang mencoba mendekatinya, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Dave. Mereka terlalu menganggap tinggi diri mereka dengan berpikir bisa merayu Dave dengan mudah," papar Diana.
Dahi Glen mengeryit. "Lalu, wanita seperti apa yang mampu meluluhkan hati Dave, Di? Apakah dia dari kalangan atas juga?" tanya Glen penasaran.
"Entahlah. Aku tidak terlalu mengenalnya," jawab Diana acuh.
"Apa kau pernah bertemu dengannya?" tanya Glen lagi.
"Iyaa," jawab Diana singkat.
"Apakah dia cantik?"
__ADS_1
"Tentu saja."
"Siapa yang lebih cantik? Stella atau wanita yang dicintai, Dave?"
"Jangan membanding-bandingkan wanitaku dengan Stella," ucap Dave dengan wajah tidak suka.
Glen menoleh pada Dave. "Itu karena aku sangat penasaran dengannya. Kau tidak mau membertitahukan padaku tentangnya," cetus Glen.
"Kau akan tau saat acara pernikahanku nanti. Aku akan mengenalkan langsung padamu," terang Dave.
"Apa kau takut kalau dia akan jatuh hati padaku?"
Dave mencibir. "Kau terlalu percaya diri. Kau tidak akan bisa menggoyahkan hatinya, karena dia itu sangat mencintaiku," ungkap Dave dengan wajah yakin.
"Sudahlah, lanjutkan saja obrolan kalian. Aku akan kembali ke mejaku. Jangan menganggu pekerjaanku," tukas Diana.
"Di, bagaimana kalau nanti kau pulang bersamaku?" tawar Glen. "Temani aku mencari pakaian di mall. Aku ke sini tidak membawa apapun," ungkap Glen. "Lagi pula, kita sudah lama tidak bertemu, temani aku jalan-jalan."
"Baiklah."
"Jangan sampai kau termakan dengan rayuan gombalnya, Di. Banyak sekali wanita yang berada di sekitarnya," ucap Dave dengan santai.
"Dave, jangan mengarang cerita. Aku ini pria baik-baik," ucap Glen dengan wajah kesal.
Diana tidak menghiraukan perdebatan mereka berdua. Dia berjalan keluar tanpa berminat menimpali obrolan mereka.
******
Sebelum pulang, Dave meminta asistennya untuk mampir ke mansion orang tuanya. Ibunya meminta Dave untuk mengambil undangan untuk diberikan pada teman dan rekan Jeslyn. Sementara untuk kenalan Dave dan orang tuanya sudah dibagikan 2 hari yang lalu.
Setelah urusannya selesai, Dave langsung menuju rumahnya. Dia merasa sedikit cemas karena Jeslyn tidak membalas pesannya. "Zayn," panggil Dave ketika mereka baru sampai di depan rumahnya.
"Iya, Tuan," jawab Zayn sopan.
"Besok pagi suruh orang untuk memasang CCTV di seluruh rumah kecuali kamar. Pasang juga untuk di luar rumah," perintah Dave. Dia ingin memantau setiap aktiftas istrinya.
"Baik, Tuan."
Bersambung..
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..