
Jeslyn sedang bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini dia sudah mulai bekerja lagi. Seminggu semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Jeslyn sudah tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan Dave lagi.
Selama itu pula Jeslyn tinggal sendiri di apartemennya. Pagi ini, Dion akan menjemputnya di apartemennya. Hari terakhir Zayn mengantarnya. Dia sengaja meninggalkan mobil Dave di parkiran setelah memberikan kuncinya pada Jeslyn.
Dave menyuruh Zayn untuk meninggalkan mobilnya agar Jeslyn memakai mobil tersebut, jika ingin pergi ke mana-mana. Sementara mobil Jeslyn yang dibelikan olah Dave berada di rumah lama mereka. Dave tahu, kalau Jeslyn tidak akan mau kembali ke rumah itu hanya untuk mengambil mobil tersebut sehingga Dave menyuruh Zayn untuk memberikan mobilnya pada Jeslyn.
Saat ini, Jeslyn sedang berdiri di depan loby apartemennya menunggu Dion datang menjemputnya. Dia sengaja tidak membawa mobil karena dia sedang malas untuk menyetir.
Jeslyn tersenyum ketika melihat mobil Dion baru saja berhenti tepat di depannya. “Apa kau sudah menunggu lama?” tanya Dion ketika Jeslyn baru saja duduk di sebelahnya.
Jeslyn menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku baru saja turun 5 menit yang lalu.”
Tidak lama kemudian mobil melaju menuju rumah sakit. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan masing-masing. Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan mereka.
Tepat pukul 12 siang Jeslyn keluar dari ruangannya. Dia berencana untuk makan siang dengan Dion di luar. Jeslyn kemudian menyusul Dion ke ruangannya.
“Apa kau belum selesai?” tanya Jeslyn ketika dia membuka pintu ruangan Dion dan melihat Dion masih berkutat dengan berkas yang ada di depannya.
Dion mengangkat kepalanya dan langsung menutup berkas yang ada di tangannya ketika melihat Jeslyn sudah berada di ruangannya. “Sudaah. Ayo kita pergi,” ucap Dion sambil berdiri.
“Kita akan makan di mana?” tanya Jeslyn ketika mereka sedang berjalan menuju pintu keluar.
“Terserah kau saja.” Mereka berjalan berdampingan.
“Kau kenapa?” tanya Dion ketika melihat Jeslyn menghentikan langkahnya.
Jeslyn tampak tidak merespon pertanyaan Dion. Dia mengikuti arah mata Jeslyn yang sedang menatap lurus ke depan.
Terlihat Dave baru saja keluar dari lift. “Dady...." Seorang anak perempuan berlari menuju Dave sambil merentangkan tangannya.
Dave langsung menggendongnya anak perempuan tersebut. “Apa sayang?”
“Kenapa Daddy tidak menjemputku di sekolah?” Anak perempuan tersebut menampilkan wajah cemberutnya.
“Maafkan Daddy sayang. Daddy masih banyak kerjaan. Daddy janji akan menjemputmu besok,” ucap Dave sambil mencium pipi anak itu.
__ADS_1
Anak perempuan itu langsung tersenyum senang. “Benarkah? Daddy janji akan menjemputku besok?”
“Iyaa, daddy janji. Apa kau sudah makan?” tanya Dave dengan lembut sambil memegang pipi anak perempuan tersebut.
“Belum Dad, Alea ingin makan bersama Daddy,” ucap Alea manja sambil mengalungkan tangannya di leher Dave. Terlihat sekali kalau Dave sangat dekat dengan anak perempuan tersebut.
Setetika tubuh Jeslyn menegang ketika melihat pemandangan tersebut, apalagi ada wanita cantik di dekat Dave. Jelas saja Jeslyn mengenali wanita cantik yang sedang berdiri di samping Dave. Wanita itu adalah Stella.
Dion yang melihat pemandangan tersebut mulai bertanya-tanya dalam benaknya. Siapa gerangan wanita dan anak kecil yang sedang digendong oleh Dave. Kenapa anak kecil itu memanggil daddy pada Dave. Pertanyaan itu juga yang ada di benak Jeslyn saat ini.
“Baiklah. Alea ingin makan apa?” tanya Dave lembut.
“Apa saja, yang penting bersama Daddy.”
“Dave, jangan terlalu memanjakan Alea. Turunkan dia. Kau bisa pegal nanti,” ucap Stella dengan lembut.
“Aku hanya ingin membuatnya senang,” ucap Dave enteng. Dave kemudian menurunkan Alea. “Ayoo kita pergi sayang.”
Ketika dia ingin berjalan keluar tidak sengaja dia melihat Jeslyn dan Dion sedang berdiri tidak jauh darinya. Dave dan Jeslyn sempat bertatapan sebentar.
Seketika Dave mengalihkan padangannya dari Jeslyn ke Alea. “Iyaaa sayang. Ayo kita pergi.”
Mereka bertiga akhirnya keluar dari rumah sakit. Dave dan Jeslyn tampak seperti orang asing. Mereka tidak bertegur sapa setelah tidak bertemu selama seminggu lebih.
“Jes,” panggil Dion dengan suara pelan.
Jeslyn seketika tersadar dari lamunannya. “Aah, iya, maaf Dion. Aku sampai melupakanmu. Ayoo kita pergi.” Jeslyn berjalan lebih dulu mendahului Dion.
Ketika sampe di luar, Jeslyn tidak sengaja menabrak seseorang. “Maaf Tuan, sayang tidak sengaja. Maaf,” ucap Jeslyn sambil membungkuk.
Orang yang ditabrak oleh Jeslyn langsung mengangguk lalu pergi. “Kau tidak apa-apa?” tanya Dion.
“Iyaaa. Aku tidak apa-apa.” Mereka langsung berjalan menuju parkiran menuju restoran yang tidak jauh dari rumah sakit.
Selama di perjalanan Jeslyn tampak hanya diam. Dia terlihat seperti sedang melamun. “Jes, apa kau tahu siapa anak dan wanita yang bersama Dave tadi?” tanya Dion ketika mereka sudah berada dalam restoran.
__ADS_1
Jelsyn langsung tersadar dari lamunannya. “Wanita itu namanya Stella, dia adalah wanita yang Dave cintai. Anak kecil itu adalah anak Stella.”
“Jadi kau mengenal anak kecil dan wanita itu?”
“Tidak. Aku pernah tidak sengaja bertemu dengan mereka di dekat apartemenku. Saat ini aku sedang menenangkan anak itu ketika terjatuh. Waktu itu aku tidak tahu kalau wanita itu adalah Stella.”
“Kenapa anak kecil itu memanggil daddy pada Dave? Apa hubungan Dave dengan anak itu?” tanya Dion dengan wajah penasaran.
Jeslyn menggeleng dengan wajah lesu. “Aku juga tidak tahu, Dion,” jawab Jeslyn pelan.
“Apa mungkin itu anak Dave dengan wanita itu? Aku lihat mereka sangat dekat.”
“Aku tidak tahu Dion. Dave pernah bilang kalau dia tidak pernah menyentuh wanita lain selain aku, tetapi melihat bagaimana kedekatan mereka. Aku jadi meragukan perkataan Dave.” Dugaan Jeslyn juga sama seperti Dion, tetapi dia belum begitu yakin.
Sakitt... Itu yang dirasakan Jeslyn saat melihat kedekatan Dave dengan Stella dan anaknya. Jeslyn tidak menyangka hubungan mereka bagai orang asing sekarang.
Jeslyn sedang berpikir, pantas saja Dave sudah tidak pernah menghubungi dan menemuinya lagi. Ternyata Stella sudah kembali.
Hubungan mereka sudah tidak seperti dulu walaupun mereka berdua saat ini masih berstatus suami istri. Jeslyn belum juga mengajukan gugatan cerai seperti yang pernah dia rencakan waktu itu.
“Kau harus memperjelas status kalian Jeslyn. Jangan seperti ini. Kalian masih berstatus suami istri tapi kalian tinggal terpisah. Kalian seperti orang yang tidak saling mengenal. Jika kau tidak mencintainya. Lepaskan dia, tetapi jika kau masih mencintainya, perbaiki hubungan kalian.”
Dion hanya bisa memberikan masukan untuk Jeslyn. Semua keputusan tetap berada di tangan Jeslyn.
“Aku rasa dia sudah tidak mencintaiku, Dion. Dia terlihat bahagia sekali saat bersama Stella tadi. Dari dulu dia memang sangat mencintai Stella. Aku.. Aku hanya seb..” Dia tidak sanggup meneruskan perkataanya, seketika air matanya sudah keluar membasahi pipinya.
Dion berpindah tempat duduk di samping Jeslyn. Dia berusaha untuk menenangkan Jeslyn yang tampak menunduk menyembunyikan air matanya.
“Temui Dave jika kau sudah merasa tenang. Kalian harus segera menyelesaikan permasalahan kalian berdua. Walaupun kenyataannya akan menyakitkan nanti, tetapi kau harus tetap meluruskan masalah ini," ujar Dion sambil mengusap bahu Jeslyn.
“Sepertinya dia marah padaku karena aku mengacuhkannya waktu itu.”
“Jika kalian terus begini, kalian hanya akan menyakiti satu sama lain. Jika memang sudah tidak bisa bersama. Selesaikan dengan cara baik-baik. Agar tidak akan ada lagi yang tersakiti nantinya.”
Bersambung...
__ADS_1