
Jeslyn terus memandang ke arah jam dinding sambil sesekali melihat ke arah pintu. Dia sedang menunggu Dave pulang. Dia tampak cemas karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Dave belum juga menampakkan batang hidungnya.
Jeslyn sengaja menunggu Dave di ruang tamu. Dia beberapa kali mengirim pesan pada Dave tetapi belum ada balasan juga. Terakhir kali Dave membalas pesannya, saat pukul 5 malam. Dia mengatakan kalau dirinya akan pulang larut malam. Dave meminta Jeslyn untuk tidak menunggunya pulang. Dia menyuruh Jeslyn untuk tidur duluan.
Jeslyn kembali meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Dia berniat untuk menghubungi Dave kembali. Setelah memencet nomor ponsel Dave, Jeslyn mulai menempelkan benda pipih berwarna putih di telinganya. Panggilan sudah masuk, tapi tidak juga diangkat oleh Dave. Jeslyn kemudian mencoba beberapa kali, tetapi tetap sama, tidak ada jawaban.
Jeslyn kemudian meletakkan ponselnya di meja sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Dave, kenapa kau belum pulang juga?" tanya Jeslyn dalam hati.
******
"Tuan, Nyonya Jeslyn sudah menelpon beberapa kali," info Zayn pada Dave yang sedang menegak minuman beralkohol. Saat ini, mereka sedang berada di sebuat Lounge Bar di salah satu hotel ternama di Jakarta.
Dave meletakkan gelasnya lalu beralih menatap asistennya. "Berikan ponselku." Dave lalu mengulurkan tangannya untuk menerima ponselnya yang disodorkan oleh asistennya.
Dave nampak mengetik sesuatu di ponselnya, setelah itu dia memberikan kembali pada asistennya. "Jangan bilang pada istriku kalau kita ke sini," ujar Dave sambil kembali meneguk gelas yang ada di tangannya.
Dave sengaja tidak langsung pulang ke rumah setelah selesai bekerja karena sedang ingin menenangkan dirinya. Kenyataan bahwa Jeslyn adalah gadis yang dicari oleh Glen membuat Dave diliputi kecemasan. Dia belum siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jeslyn mengenai Glen jika dia bertanya nanti.
"Baik, Tuan," ucap Zayn sambil mengangguk.
"Daveeee." Seorang wanita cantik dengan pakaian seksi mendekati Dave. Dia tersenyum senang saat dia melihat Dave tampak sedang duduk dengan asistennya.
Dave menoleh sejenak lalu kembali menatap ke depan tanpa ada niat untuk menanggapi sapaan wanita cantik itu.
"Aku kira tadi, aku salah lihat. Ternyata benar kau yang sedang duduk di sini," ucap wanita cantik itu seraya duduk di samping Dave.
"Pergilaah. Aku sedang tidak ingin diganggu," ucap Dave dingin.
"Dave, kenapa kau selalu bersikap acuh padaku?" tanya wanita itu dengan wajah sedih.
Dave meletakkan gelasnya dengan sedikit keras. "Sonya, bukankah sudah pernah aku katakan padamu, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku," ucap Dave dengan suara berat
"Dave, apakah kau masih marah padaku karena masalah waktu itu?" tanya Sonya dengan mimik wajah sedih.
__ADS_1
"Aku tidak marah, hanya saja aku muak denganmu."
Masih teringat jelas saat Sonya berusaha menjebak dan menggodanya pada saat ayahnya melakukan pesta di hotel milik ayahnya.
Lounge Bar tempat Dave sedang minum berada di dalam hotel milik ayah Sonya. Sebab itulah, Dave bisa bertemu dengan Sonya karena setiap malam Sonya selalu menghabiskan waktunya di bar tersebut.
"Dave tolong maafkan, aku," ucap Sonya sambil memegang lengan Dave.
"Jangan berani menyentuhku Sonya!" hardik Dave dengan wajah marah.
Sonya tampak terkejut. "Davee, tidak bisakah kau bersikap lembut padaku?" pinta Sonya dengan mata berkaca-kaca.
Dave kemudian menatap tajam pada Sonya. "Tidak bisa. Jangan menggangguku. Pergilah." Dave tampak merasa sangat terganggu dengan kedatangan Sonya.
"Dave, kau jangan lupa kalau hotel ini adalah milik keluargaku dan kau sedang berada dalam jangkauanku. Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, Dave. Ini adalah tempatku," ucap Sonya dengan angkuh.
Dave kemudian berdiri. "Zayn, segera bayar tagihannya. Aku tunggu di luar."
"Baik, Tuan."
Dave mulai berjalan keluar, meninggal Sonya sendirian. Tanpa dia duga, Sonya menghadang dan langsung memeluknya. "Dave, jangan pergi Dave. Aku sangt merindukanmu. Perasaanku masih sama Dave. Aku masih sangat mencintaimu."
Dave lansung berjalan meninggalkan Sonya dengan wajah diliputi kemarahan. "Daveee, ijikan aku berada di sisimu. Aku tidak akan menuntut banyak darimu. Asalkan bisa berada di dekatmu, aku tidak keberatan jika kau memanfaatkan aku."
Dave menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Sonya. "Kau sungguh sudah gila," ucap Dave, "aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan pernah mendekatiku ataupun menampakkan wajahmu lagi di depanku, jika tidak. Aku akan membuatmu kelihangan segalanya," ancam Dave dengan wajah yang menakutkan.
"Apa salah kalau aku mencintaimu dan berharap bisa berada di dekatmu?"
"Tentu saja salah, karena aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai, jadi sebelum kesabaranku habis, menjauh dari hidupku." Dave langsung berjalan meninggalkan Sonya dengan perasaan marah.
*****
Dave membuka pintu rumahnya perlahan. Suasana rumah tampak sunyi dan sepi. Tidak terlihat aktifitas apapun dari rumahnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dave menduga kalau istrinya pasti sudah tertidur.
Dave berjalan masuk lift menuju ke lantai 2. Dave lalu melanhkah keluar dari lift menuju kamar tamu. Dia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar tamu agar tidak membangunkan Jeslyn. Setelah selesai mandi, Dave baru berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Dave melangkah masuk dengan langkah kaki pelan, saat melihat istrinya tampak sudah terlelap. Dave kemudian berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya.
Setelah selesai berpakaian, Dave naik ke tempat tidur dengan gerakan pelan lalu berbaring di samping Jeslyn sambil memeluk istrinya dengan erat.
Jeslyn tampak mulai bergerak, saat merada da yang memeluknya. "Dave kau sudah pulang?" tanya Jeslyn sambil memegang tangan Dave yang ada di perutya.
"Hhhmmm," gumam Dave tanpa melepaskan pelukannya. "Tidurlah sayang, ini sudah larut malam."
Jeslyn lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dave. "Kau habis minum?" tanya Jeslyn sambil mendekatkan wajahnya pada suaminya untuk mencium aroma dari mulut Dave.
"Sedikit sayang," Dave berusaha menghindari tatapan menyelidik istrinya.
"Bukankah aku sudah melarangmu untuk minum minuman beralkohol?" Jeslyn tampak marah pada Dave karena mengabaikan peringatannya.
Dave kembali merengkuh Jeslyn dalam pelukannya. "Maafkan aku," ucap Dave pelan.
"Dave, sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada yang kau sembuyikan dariku?"
"KIta bicara besok pagi sayang, aku sudah lelah."
Merasa ada yang aneh, Jeslyn kemudian melepaskan pelukan Dave lalu duduk menghadap suaminya. Dia bisa menangkap raut kegelisahan dalam wajah Dave.
"Dave, katakan ada sebenarnya?" desak Jeslyn sambil menunduk menatap suaminya yang masih berbaring.
Melihat Jeslyn tampak menatap curiga padanya, Dave kemudian mengikuti Jeslyn untuk duduk juga. "Aku ingin kau jawab jujur pertanyaanku. Jangan menutupi apapun dariku," ucap Dave dengan wajah serius.
Jeslyn sudah mendunga kalau Dave pasti menyembuyikan sesuatu darinya. "Apa?"
"Apa kau mengenal Glen Sebastian Tanujaya?" tanya Dave.
"Tidak," jawab Jeslyn cepat.
Dahi Dave tampak berkerut. "Apa kau yakin tidak mengenalnya? Coba kau ingat lagi?"
Jeslyn menatap ke kanan atas. Dia tampak berusaha untuk mengingat sesuatu. "Aku memang tidak mengenalnya Dave," jawab Jeslyn dengan yakin. "Memangnya ada apa?"
__ADS_1
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..