Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Bisa Diselamatkan


__ADS_3

Dave tidak hentinya menatap ke ruang ICU sambil terus berjalan mondar-mandir. Sesekali, dia mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya. Penampilannya sudah berantakan dan lusuh dengan kemeja dan celana yang terkena noda darah. Perasaannya saat ini sangat gelisah.


“Dave tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kita berdoa saja semoga terjadi apa-apa dengan Jeslyn dan bayi dalam kandungannya.”


Perasaan bersalah seketika muncul di hati ayah Dave. Dia merasa kalau dirinya turut andil membuat Jeslyn menderita. Semenjak Jeslyn masuk dalam keluarganya, ada saja kemalangan yang menimpanya, apalagi saat melihat sikap istrinya selama ini yang selalu saja ketus pada Jeslyn. Belum lagi sikap dingin Dave yang dulu selalu mengabaikan Jeslyn.


Terkadang dia merasa menyesal karena sudah meminta Jeslyn untuk menikah dengan anaknya. Hanya kesedihan yang selama ini dia dapatkan. Padahal dulu dia berjanjanji untuk menjaga Jeslyn sebagai tanda terima kasih karena ayah Jeslyn sudah pernah membantunya.


Melihat ruang ICU terbuka, Dave langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU. “Bagaimana keadaan istriku dan anakku Dok?” tanya Dave dengan wajah panik.


Dokter Sarah tampak menghembuskan napas panjang. “Maaf tuan, Jeslyn mengalami keguguran. Saat Jeslyn belum sadarkan diri, Tuan.” dokter Sarah turut sedih dengan apa yang menimpa sahabat sekaligus teman seprofesinya.


Wajah Dave tampak sangat terkejut. Aliran darahnya dalam tubuhnya seolah berhenti seketika. Tubuhnya lemas, dia tidak bisa berdiri seimbang, seperti tenaganya sudah terkuras habis. Pikirannya seketika kosong. Dave memegang tembok untuk menahan bobot tubuhnya ketika merasa dirinya akan terjatuh.


“Kami akan melakukan kuretase setelah ini,” lanjut dokter Sarah ketika melihat Dave tampak masih terdiam.


Ayah Dave yang mendengar berita itu, tidak kalah terkejut. Dia tidak menyangka kalau calon cucunya sudah pergi, sebelum bisa melihatnya lahir ke dunia.


“Tolong selamatkan anakku Dok. Aku akan memberikan apapun padamu jika kau bisa menyelamatkan anakku,” ucap Dave dengan wajah memohon.


“Maaf Tuan, saya sudah mengusahakan yang terbaik, tetapi janinnya sudah tidak bisa diselamatkan, Tuan.”


“Pasti ada cara lain, bukan? Tidak mungkin anakku pergi begitu saja.” Dave masih belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut.

__ADS_1


“Maaf Tuan.” Hanya kata itu yang bisa dilontarkan oleh dokter Sarah sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Dave memejamkan matanya beberapa detik. Dia berusaha untuk menguasai diri. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. “Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah ada luka dalam pada tubuh dokter Jeslyn.” Dokter Sarah lalu melangkah masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


Dave hanya diam sambil memandang pintu ruang ICU yang kembali tertutup. Dave terlihat menghangtam tembok dengan tangan mengepal beberapa kali, hingga tangannya terluka. Dia memyalahkan dirinya karena sudah lalai menjaga Jeslyn dan bayi dalam kandungannya. Anak yang menjadi pengerat hubungan dengan Jeslyn kini sudah tidak ada.


“Kau harus merelakannya Dave. Mungkin memang ini sudah jalannya.” Ayah Dave tahu, kalau saat ini anaknya sangat terpuruk dengan kepergian calon penerusnya.


Setelah terdiam beberapa saat. Dave kemudian terlihat menghubungi seseorang. Dia berjalan sedikit menjauh dari ayahnya ketika panggilannya sudah terhubung. Setelah selesai menelpon, Dave kembali lagi ke depan ruang ICU, lalu duduk di samping ayahnya.


Mereka hanya duduk diam sambil terus menatap ke arah pintu ICU. Ayah Dave menoleh pada anaknya. “Dave lebih baik kau pergi melihat keadaan Felicia. Bagaimanapun dia juga adalah istrimu,” ujar ayah Dave, ketika melihat anaknya tampak terdiam menatap lurus dengan tatapan frustasi.


“Tapi Pa...”


“Papa akan di sini menunggu sampai dokter keluar,” ucap ayah Dave sambil memegang bahu anaknya. Dia tahu kalau Dave masih sangat mengkhawatirkan keadaan Jeslyn.


Dave mengangguk, lalu berjalan menuju ruang IGD. Setelah sampai di IGD, Dave tidak menemukan ibunya. Dia kemudian menghubungi ibunya menanyakan keberadaan mereka berdua. Setelah menelpon ibunya, Dave langsung menuju ruangan operasi. Dengan langkah gontai Dave melangkah mendekati ibunya yang tampak duduk dengan wajah sedih. “Ma, bagaimana keadaan Felicia?”


Ibu Dave langsung menoleh. “Bayinya tidak bisa di selamatkan Dave, rahimnya juga akan diangkat,” ucap ibunya dengan tangis yang kembali pecah. Rasa sedih bersampur kecewa karena harapannya untuk mendapatkan cucu dari menantu kesayangannya seketika sirna.


Dave menghembuskan napas panjang. Dia terpaksa merahasiakan dulu tentang keadaan Jeslyn setelah mendengar berita buruk yang menimpa Felicia juga. Dalam hati Dave, dia bersyukur kalau Jeslyn hanya keguguran saja, berbeda dengan Felicia yang harus kehilangan rahimnya juga.


“Lebih baik Mama istirahat di kamar atas. Aku akan menyuruh Adnan untuk menyiapakan kamar untuk Mama,” saran Dave ketika melihat wajah sedih ibunya.

__ADS_1


“Tapi Felicia masih di dalam.” Ibu Dave tampak keberatan untuk meninggalkan menantu kesayangannya.


“Aku akan berjaga di sini sampai Felicia selesai operasi Ma.”


“Bukankah kau harus menjaga istri kesayanganmu?” Nada ibu Dave masih saja sinis saat membicarakan Jeslyn.


Dave menghela napas. Dia sebenarnya tidak suka dengan sikap ibunya, tetapi dia tidak mau berdebat dengan ibunya disaat genting seperti ini. Jika tidak mengingat keadaan Felicia yang sama buruknya dengan Jeslyn. Dave pasti sudah meluapkan emosinya saat itu juga. “Ada papa yang menjaga Jeslyn di sana. Mama juga harus beristirahat.”


“Baiklah.” Ibu Dave akhirnya mau menuruti perkataan anaknya. Setelah menghubungi Adnan, tidak lama kemudian datanglah Adnan beserta seorang perawarat. Mereka berdua mengantar ibu Dave ke kamar yang sudah disediakan untuk ibu dari pemilik rumah sakit tersebut.


Setelah kepergian ibunya, ponsel Dave berbunyi. Dengan cepat Dave mengangkatnya. Beberapa saat kemudian wajah Dave menggelap, tangannya terkepal dan tatapannya berapi-api seolah sedang menahan emosi yang sudah tidak tertahan. “Cepat bawa kemari..! Siapkan juga semua berkasnya. Aku tidak akan bersikap lunak lagi padanya,” ucap Dave penuh penekanan.


Setelah Dave mematikan sambungan ponselnya. Dia meremas kuat ponselnya sambil menggertakan giginya.


*****


Setelah operasi selesai dilakukan, Felicia langsung dipindahkan ke ruangan perawatan. Dave sempat kembali ke ruangan ICU sebentar untuk menanyakan keadaan Jeslyn. Ketika Zayn tiba di rumah sakit, Dave mengajak asistennya untuk ke ruangan Adnan untuk membicarakan masalah serius.


Setelah mereka selesai berbicara, mereka berdua menuju ke ruang perawatan Felicia. “Dave,” panggil Felicia ketika melihat suaminya berjalan menuju ke arahnya.


“Anak kita Dave..” Felicia langsung menangis ketika Dave sudah berdiri di depannya.


Felicia belum menyadari kalai Dave datang dengan wajah yang penuh amarah. “Felicia, katakan sejujurnya, apa yang terjadi sebenarnya?”

__ADS_1


Felicia tampak sedikit terkejut ketika melihat tatapan menyala dari Dave. Dia baru menyadari kalau Dave terlihat sedang marah. “Jeslyn mendorongku dari tangga atas Dave. Dia tidak mau anak kita lahir ke dunia,” ucap Felicia dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Felicia berusaha untuk bersandiwara. Dia tidak mungkin mengakui kalau sebenarnya dialah mendorong Jeslyn.


Bersambung...


__ADS_2