Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Lahirnya Pewaris Tjendra Group


__ADS_3

"Tolong bungkuskan semua pakaian dan perlengkapan bayi masing untuk anak laki-laki dan perempuan dengan merk dan kualitas paling bagus di toko ini," pinta Dave.


Mereka bertiga dan pegawai toko yang mendengarnya terlihat tercengang sesaat. "Baik, Tuan," jawab pegawai toko itu cepat.


Dave memberikan kartu yang bertuliskan alamat pada pegawai toko tersebut. "Antarkan ke alamat sini. Nanti untuk pembayaranya bisa di selesaikan di sana."


"Baik, Tuan. Kami akan mengantarkan setelah kami menyiapkan semuanya," jawab pegawai toko itu sopan.


Setelah selesai berbelanja. Mereka berempat berencana untuk makan siang di salah satu restoran Italy yang ada di dalam mall tersebut.


"Dave, aku ingin ke toilet," ucap Jeslyn sambil mengapit lengan suaminya.


"Baiklah, ayo aku antar."


"Aku juga ingin ke toilet," timpal Stella. Akhirnya mereka berempat menuju toilet bersama.


Dion dan Dave terlihat menunggu istri mereka di dekat toilet wanita. Cukup lama mereka menunggu di depan sampai hingga akhinya Stella keluar dengan wajah panik.


"Dave, Jeslyn...."


Melihat wajah panik Stella, Dave langsung bertanya pada Stella, "Ada apa dengan istriku?"


"Dia sepertinya akan melahirkan Dave, air ketubannya sudah pecah," jawab Stella dengan wajah panik dan cemas.


Dave langsung masuk ke dalam tolilet wanita dengan cepat dengan wajah panik. Dia melihat istrinya sedang duduk di salah satu toilet duduk merintih kesakitan sambil memegang perutnya dengan ditemani beberapa wanita. Terlihat cairan bening sudah mengalir dari pangkal paha Jeslyn.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Dave denga wajah panik sambil berjongkok di depan istrinya.


"Sakit Dave," ucap Jeslyn sambil memegang perutnya.


"Apa aku masih bisa menahannya sampai rumah sakit?"


Dave terlihat sangat panik melihat istrinya merintih kesakitan. Dion dan Stella terlihat juga sudah berada di dalam toilet wanita setelah mereka meminta ijin untuk masuk untuk membantu Dave mengangkat Jeslyn.


"Iyaa, aku masih bisa menahannya." Meskipun terasa sangat sakit Jeslyn sebisa mungkin tidak terlalu menujukkan pada Dave agar suaminya tidak ikut panik.


"Baiklah, bertahanlah sayang. Kita ke rumah sakit sekarang." Dave langsung meraih tubuh Jeslyn dan mengendongnya keluar dari dalam toilet.


Banyak orang yang menatap heran ke arah Dave yang sedang menggendong Jeslyn menuju parkiran mobil dengan langkah cepat. Beruntung mereka berada di lantai yang sama tempat mereka memarkirkan mobilnya.


Dion akhirnya memutuskan untuk mengemudikan mobil Dave dan meninggalkan mobilnya di mall. Dave terlihat duduk di kursi belakang bersama dengan Jeslyn, sementara Stella dan Dion berada di kursi depan.


Dion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung hari ini hari libur, jalanan hanya ramai dan tidak macet. Saat dalam perjalanan tidak henti-hentinya Dave menguatkan istrinya meskipun dirinya juga panik.


Dave langsung menelpon Adnan untuk menyiapkan beberapa dokter kandungan wanita untuk menangani Jeslyn karena dia tidak menginjinkan istrinya ditangani oleh dokter pria.


Tidak lupa juga Dave menghubungi ibu untuk memberitahukan padanya kalau Jeslyn dalam perjalan menuju rumah sakit karena ketubannya sudah pecah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung di sambut oleh beberepa dokter dan perawat yang berdiri di ruang IGD. Jeslyn langsung dibawa ke ruangan persalinan.


Dave ikut masuk menemani istrinya. Sesampainya di sana ternyata Jeslyn memang sudah waktunya melahirkan. Beruntung Jeslyn segera dibawa ke rumah sakit.


Dion dan Stella terlihat menunggu di depan ruang bersalin. Tidak lama setelah Jeslyn masuk ruang bersalin, orang tua Dave tiba di rumah sakit. Mereka juga langsung menuju ruang bersalin dan melihat sudah ada Dion dan Stella di sana.


Ibu Dave terlihat sangat panik menunggu persalinan menantunya. Dia tidak bisa duduk tenang dan selalu mondar-mandir di depan ruang bersalin.


Stella berusaha menenangkan ibu Dave yang terlihat sangat cemas dan panik. Beberapa kali juga Dion mengingatkan istrinya untuk duduk tenang karena takut istrinya mengalami kontraksi.


Setelah pembukaan Jeslyn lengkap, semua dokter mulai bersiap untuk membantu persalinan istri dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Penampilan Dave sudah berantakan. Dia sudah tidak bisa lagi mengontrol kepanikannya.


Beberapa dokter nampak tidak bisa konsentrasi ketika mendengar kepanikan Dave saat melihat istrinya nampak kesakitan dan kesulitan untuk mengejan. Mereka tidak bisa mengusir Dave sari sana, selain karena dia pemiliknya, Jeslyn juga tidak mau ditinggalkan oleh Dave.


"Dave, sakiiittttt," pekik Jeslyn sambil memegang kuat tangannya suaminya.


"Ayo sayang, kau pasti bisa, sedikit lagi."


Dave terus memberikan  semangat pada istrinya setiap kali istrinya tidak berhasil mengejan. Napas Jeslyn mulai terengah-engah. Jeslyn beberapa kali mengerang kesakitan saat dia akan mengejan. 


"Gigit saja tanganku sayang jika kau merasa sakit." Dave mengulurkan lengannya kirinya tepat di depan mulut Jeslyn sambil mengusap kepala istrinya dengan tangan kanannya.


Tiga jam sudah berlalu tapi Jeslyn belum juga berhasil mendorong bayinya keluar. Jeslyn terlihat sudah lemas dan tidak memiliki tenaga lagi untuk mendorong bayinya.


Dave bertambah panik ketika melihat Jeslyn tampak kelelahan dan bebeapa kali dia memejamkan matanya karena dia merasa lelah dan mengantuk. Dave sudah meminta pada dokter Sarah untuk melakukan operasi Caesar tapi ditolak oleh Jeslyn karena dia ingin melahirkan dengan normal.


"Sayang, bagaimana kalau kita melakukan operasi saja?" Dave kembali membujuk Jeslyn ketika melihat istrinya nampak sudah pucat .


"Tidak Dave, aku tidak mau." Jeslyn berusaha untuk mengumpulkan tenaganya untuk mengejan kembali.


"Tapi sayang akan berbahaya untukmu dan anak kita jika kau memaksa untuk melahirkan normal, sementara kau sudah tidak memiliki tenaga lagi."


"Aku akan mencobanya lagi, Dave."


"Baiklah Jes, kita coba lagi," ucap dokter Sarah.


"Daveee,, sakiitt." Jeslyn kembali gagal unutk mendorong bayinya. Jeslyn terlihat mencoba beberapa kali tapi belum berhasil juga.


"Ayooo Jes, kau pasti bisa. Sedikit lagi. Kepalanya sudah terlihat," ucap Sarah memberikan semangat.


Keringat sudah membanjiri wajah dan tubuh Jeslyn. "Aku tidak kuat lagi, Sarah," ucap Jeslyn sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah lelah.


"Kau pasti bisa sayang." Dave memberikan kecupan berkali-kali pada istrinya. "Ingat sayang, kita sudah menanti sangat lama untuk memiliki anak. Kau pasti bisa sayang."


"Baiklah, kita coba sekali lagi," ucap Jeslyn.


Dave mencium kening Jeslyn dan bibirnya sebelum Jeslyn mulai lagi.

__ADS_1


"Ayo Jes, lakukan dengan benar. Kau pasti bisa. Tadi kepalanya sudah terlihat dan sudah keluar sedikit." Dokter Sarah memberikan semangat pada sahabatnya.


"Gigit tanganku sayang atau kau bisa mencakarnya sesuka hatimu." Dave kembali menyodorkan tangannya pada Jeslyn.


"Baiklah kita mulai," ucap Jeslyn setelah dia mengumpulkan tenaganya.


Jeslyn menarik napas panjang lalu mengejan dengan kuat sambil menggigit tangan Dave.


"Oeeekkk... Oeeekk.." Terdengar tangisan bayi yang nyaring. Jeslyn merasa plong ketika dia berhasil mendorong bayinya keluar.


"Oeeek... Oeeek..." Air mata Dave langsung menetes ketika melihat bayi mungilnya yang masih berlumuran darah menangis ditangan dokter Sarah.


"Selamat Jes, anakmu laki-laki," ucap Dokter Sarah sambil memperlihatkan sekilas pada Jeslyn. Dokter Sarah turut bahagia dengan kelahiran putra pertama sahabatnya.


Dengan wajah lesu dan lemas Jeslyn berusaha untuk tersenyum ketika melihat bayinya. "Anakmu tampan sekali, Jes," puji Dokter Sarah sambil tersenyum bahagia.


"Terima kasih Sarah karena sudah membantuku dengan sabar," ucap Jeslyn dengan tulus.


"Iya Jes, sama-sama. Aku senang bisa membantumu."


Jeslyn kemudian menatap suaminya. "Dia mirip sekali denganmu, Dave."


"Iyaaa sayang." Dave memberikan kecupan bertubi-tubi pada istrinya.


"Terima kasih sayang. Terima kasih karena sudah melahirkan anakku dengan mempertaruhkan nyawamu. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu kedepannya," ucap Dave sungguh-sungguh.


Jeslyn mengangguk lemah. "Akhirnya aku bisa melahirkan anak untukmu, Dave."


"Iyaa, terima kasih sayang." Jeslyn mengangguk lemah. Dia merasa mengantuk sekali dan ingin segara tidur.


Di waktu yang sama Ibu Dave yang mendengar suara tangisan dari dalam seketika langsung menetes air mata kebahagiaan. Dia terlihat langsung menghampiri suaminya dan memeluknya dengan berlinang air mata.


"Akhirnya cucu kita sudah lahir, Pa." Rasa haru sekaligus gembira bercampur jadi satu.


"Iyaa, Ma. Semoga dengan kehadiran anak diantara mereka membuat keluarga kecil mereka bertambah bahagia."


"Iyaa, Pa."


"Mama tidak sabar untuk bertemu dengan Jeslyn dan cucuku kita, Pa."


"Sabar, Ma. Kita tunggu saja sampai menantu dan cucu kita dipindahkan ke ruang perawatan." Mereka dengan sabar duduk di depan ruang bersalin.


"Iyaa, Pa."


Dion dan Stella sudah tidak berada di depan ruang bersalin lagi karena Stella terlihat mulai kelelahan setelah menunggu selama satu jam di depan ruangan bersalin. Dion memintanya beristirahat di ruang perawatan karena takut terjadi apa-apa dengan kandungan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2