
"Lalu kenapa kau meminta Dion untuk merahasiakannya dariku?"
"Itu karena aku tidak ingin kita bertengkar hanya karena Ricky. Dion saja sudah membuat kita sering berdebat apalagi kalau kau mengenai Ricky. Aku sungguh tidak memiliki perasaan apapun padanya." Jeslyn mempererat pelukannya ketika merasakan aura menyeramkan dari suaminya.
"Berikan ponselmu padaku?" pinta Dave seraya melepaskan pelukan istrinya.
Jeslyn mendongakkan kepalanya menatap Dave. "Untuk apa?"
"Aku ingin memeriksa isi ponselmu. Siapa tahu saja dia masih menghubungi sampai sekarang," jawab Dave jujur.
"Aku tidak pernah membalas pesan darinya Dave. Aku juga tidak tahu dia dapat nomor ponselku dari mana." Jeslyn harus menjelaskannya sebelum Dave salah paham padanya.
"Kalau kau tidak ingin aku berpikiran yang tidak-tidak, berikan ponselmu padaku dan jangan pernah mengunci ponselmu mulai sekarang," ucap Dave dengan tegas.
Dari pada terus berdebat Jeslyn akhirnya menuruti perkataan suaminya. Jeslyn bangun dari tidurnya lalu memberikan ponselnya pada Dave.
"Ini ponselku." Jeslyn menyodorkan ponselnya pada Dave. "Kata sandinya tanggal pernikahan kita." Selain menggunakan fingerprint, ponsel Jeslyn memakai kata sandi.
Senyum tipis tercetak di wajah tampan Dave ketika mendengar kata sandinya. "Aku harus tetap mengunci ponselku Dave agar tidak di salah gunakan oleh orang lain nanti."
Jeslyn hanya takut kalau tiba-tiba ponselnya tertinggal di suatu tempat atau hilang akan memudahkan orang lain untuk menyalahkan gunakan informasi pribadi dan perbankan miliknya.
"Baiklah, tapi jangn pernah merubah kata sandinya," perintah Dave.
"Iyaa sayang, jangan marah lagi," bujuk Jeslyn sambil memeluk tubuh Dave lagi.
Dave terlihat serius saat memeriksa isi ponsel istrinya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya dia pakai untuk memeluk tubuh istrinya. Jeslyn yang sudah mulai mengantuk, memilih memejamkan matanya. Aroma tubuh Dave membuatnya merasa tenang.
Selesai memeriksa ponsel istrinya Dave menunduk menatap wajah Jeslyn yang sudah terlelap dalam pelukannya. "Maafkan aku sayang. Aku hanya takut kehilanganmu." Dave mengecup kening istrinya setelah itu ikut memejamkan matanya.
********
"Ayo turun," ajak Dion ketika mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Dion.
"Apa kau sudah memberitahu orang tuanmu kalau aku akan menginap di sini?" Stella tampak menatap ragu pada Dion. Dia belum berani untuk turun dari mobil meskipun Dion sudah membukan pintu mobilnya.
Dion mengulurkan tangannya. "Sudah. Mama langsung antusias ketika mendengar kau akan menginap di sini." Dion sempat menelpon ibunya ketika menunggu Stella berkemas.
Meskupin ragu, Stella meraih uluran tangan Dion. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam dan langsung disambut oleh ibu Dion. "Kalian sudah datang?" Ibu Dion langsung menghampiri anak dan calon menantu saat melihat kedatangan mereka berdua.
"Iya Ma. Maaf karena Stella akan merepotkan Mama," jawab Stella.
"Tidak repot kok. Mama justru senang kau mau menginap di sini," ucap Ibu Dion dengan wajah bahagia. Dia mengajak Stella untuk masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang keluarga.
"Duduk sayang." Ibu Dion mengarahkan Stella untuk duduk di depannya. "Selamat malam, Pa," sapa Stella sebelum dia duduk di seberang calon mertuaya.
"Malam Stella. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri." Ayah Dion bisa menebak dari gerak-gerik Stella kalau calon menantunya itu masih saja canggung pada mereka.
"Iyaa, Pa," balas Stella dengan suara pelan seraya duduk.
"Alea ke mana? Kenapa tidak diajak?" tanya Ibu Dion dengan wajah penasaran. Mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Alea sedang menginap di rumah Dave, Ma," terang Dion.
"Dave?" Namanya terdengar tidak asing di telinga ibu Dion, hanya saja ibu Dion lupa kapan dia mendengar nama itu.
"Suami Jeslyn, Ma," jelas Dion lagi.
"Dave yang anak tunggal dari keluarga Tjendra?" tanya ayah Dion yang sedari tadi sedang fokus pada ponselnya.
__ADS_1
"Iyaaa, Pa," jawab Dion singkat.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang wanita paruh membawa minuman dan meletakkan minuman di atas meja.
"Terima kasih, Bi," ucap Ibu Dion pada bi Ratih.
"Iyaa Nyonya."
Setelah kepergian bi Ratih. Mereka kembali melanjutkan obrolan yang sempat terhenti. "Diminum sayang," ujar Ibu Dion. Dia terus tersenyum semenjak kedatangan anak dan calon menantunya.
Semenjak anaknya memperkenalkan Stella padanya. Dia tidak hentinya bersyukur karena pada akhirnya Dion membawa dan memperkenalkan wanita padanya bahkan berniat untuk menikahinya.
Meskipun awalnya dia terkejut karena status Stella yang sudah memiliki anak tapi dia tidak keberatan sama sekali dengan status Stella. Menurutnya siapapun pilihan anaknya selama wanita baik-baik, dia akan menerima. Tidak peduli dari mana dia berasal, baginya status tidaklah penting.
Dia percaya kalau anaknya akan memilih wanita tepat. Itulah mengapa selama ini dia tidak pernah ikut campur dengan masalah asmara anaknya. Dia memberikan kepercayaan penuh pada anaknya untuk memilih pasangan hidupnya.
Meskipun dia sempat khawatir karena Dion tidak pernah sama sekali mengenalkan wanita padanya. Dia juga sempat takut kalau anaknya memiliki kelainan karena selama ini dia tidak pernah dekat atau menjalin hubungan dengan wanita mananpun.
Ibu Dion hanya mengenal satu-satunya teman wanita Dion adalah Jeslyn. Itulah yang membuat ibu Dion sangat senang waktu Dion mengatakan kalau akan menikahi Stella.
"Kakaaaak." Terdengar suara nyaring yang berasal dari arah tangga.
Semua orang langsung menoleh pada sumber suara. Terlihat seorang gadis berumur sekitar 23 tahun sedang berjalan ke arah mereka. "Dia siapa?" tunjuk gadis cantik berambut sebahu dan berparas cantik pada Stella
"Dia calon kakak iparmu," jawab Dion dengan wajah acuh.
Reina langsung duduk di samping Stella. "Cantik sekali," ucap Reina dengan wajah kagum. "Kenapa kakak mau dengan kak Dion? Dia kan jomblo akut. Alias tidak laku," ejek Reina sambil tertawa lebar.
Wajah Dion langsung berubah masam. "Apa kau sudah tidak perlu uang trasferan dari kakak?" ancaman Dion sukses membuat Reina takut.
Bibir Reina langsung mengerucut. "Kakak selalu saja mengancamku dengan hal itu," ucap Reina dengan wajah sebal.
"Kak Stella, kenalin nama aku, Reina. Aku adik satu-satunya kak Dion," ucap Reina sambil mengulurkan tangan ke arah Stella dengan senyum lebarnya.
Stella menyambut uluran tangan Reina. "Stella," balas Stella dengan senyum canggung. Kehangatan keluarga Dion membuatnya merasa tidak percaya diri.
Reina terlihat memperhatikan dengan seksama wajah Stella. "Kak Stella model ya?" tanya Reina spontan.
Stella tersenyum kaku. "Bukan, memang kenapa?"
"Sepertinya wajah kakak nggak asing. Kayak pernah lihat di mana gitu, Reina lupa," ucap Reina seraya melirik ke arah kiri, mencoba untuk mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu atau melihat Stella.
"Bilang aja kamu iri dengan Stella karena dia lebih cantik dari kamu," cibir Dion seraya menatap meremehkan pada adiknya.
Reina langsung melayangkan tatapan menghunus pada kakaknya. "Kak Stella pasti dipaksa sama kak Dion untuk nikah sama dia, kan?" tanya Reina yang saat ini sedang menatap Stella dengan wajah penasaran.
"Dion melemparkan bantal sofa pada Adiknya. "Kakaaaak, sakit tahu," pekik Reina dengan wajah kesal.
"Kalian ini setiap ketemu tidak pernah akur," ucap ibu Dion sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak Dion itu Ma yang mulai duluan," rajuk Reina sambil melirik tajam pada kakaknya.
"Sudaaah-sudah, jangan ribut terus."
"Kak Stella, kenapa kakak bisa suka sama kak Dion? Aku aja adiknya males ngeliat kak Dion lama-lama. Jangan-jangan kak Dion melet kakak ya?"
Dion mendengus mendengar tuduhan adiknya yang tidak berdasar. "Anak kecil ini, berani sekali menghina kakaknya sendiri," ucap Dion.
Stella terlihat bingung mau menjawab apa pertanyaan dari adik Dion. "Tidak, justru kakak yang suka duluan dengan kakak kamu," ungkap Stella dengan wajah malu.
__ADS_1
Dion hampir saja tersedak minuman yang baru saja dia teguk saat mendengar jawaban atas pertanyaan adiknya. Dia langsung melirik ke arah Stella.
"Aiiih, kakak jangan bercanda. Mana mungkin wanita secantik kakak suka dengan kakakku yag wajahnya biasa saja."
Stella terkekeh. "Apa kau tidak tahu kalau kakakmu sangat populer di rumah sakit? Aku dengar banyak dokter muda yang menyukai kakakmu," ungkap Stella.
Sebenarnya info itu Stella dapat dari Jeslyn. Beberapa kali, Jeslyn mencoba menjodohkan Dion dengan rekan kerja mereka tetapi gagal karena Dion terlihat tidak tertarik sama sekali.
Banyak diantara mereka mengamgumi Dion karena ketampanan dan keahliannya. Dion adalah Dokter Spesialis Bedah Syaraf paling muda yang berbakat dan terbaik di rumah sakit milik Dave.
Reina mengerutkan kening sambil memicingkan ke arah kakaknya. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Dion terlihat kesal pada adiknya saat melihat ketidak percayaan dari wajah adiknya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa, kenapa kakak jadi kesal?" tanya Reina dengan wajah acuh.
Dion mendengus. "Aku bisa tahu maksud dari tatapanmu itu kalau kau meragukan kakakmu ini."
Melihat kakaknya yang kesal membuat suasana hati Reina jadi baik. "Aku hanya bercanda kak. Aku senang akhirnya kau menikah juga. Aku kira kau tidak akan pernah menikah karena tidak laku," gurau Reina sambil terkekeh.
"Aku akan mencambut semua fasilitas yang aku berikan padamu, termasuk kartu kreditmu," ucap Dion dengan wajah acuh.
Reina langsung bangun dan duduk di sofa single samping kakaknya, "Kak, aku hanya bercanda kak. Kakak tidak boleh begitu."
Dion terlihat acuh. "Maa, lihat kak Dion, dia ingin membuatku hidup sengsara," adu Reina.
"Dion, jangan seperti itu, kasihan adikmu."
Dion memang yang memegang kendali dalam keluarganya. Meskipun dia tidak terjun langsung mengurus perusahaan keluarganya tapi semua kebijakan masih atas persetujuannya. Dia tidak terlalu suka terjun dalam urusan perusaahan.
Dia lebih tertarik di bidang medis. Saat ini dia hanya menjabat sebagai pemegang saham mayoritas saja di perusahaan ayahnya. Begitu juga dengan aset keluarganya semua sudah dilimpahkan kepadanya dan sebagian pada Reina tapi masih dalam pengawasan Dion. Semua keperluan dan kebutuhan Reina, Dion lah yang mengurus.
"Biarkan saja, Ma, selama ini hanya tahu meminta tanpa tahu bagaimana caranya mencari uang. Kerjaannya hanya bermain-main saja," jawab Dion dengan wajah acuh.
"Kak, aku kan masih kuliah. Bagaimana aku bisa bekerja kalau kuliahku saja belum selesai," sangkal Reina. Saat ini, Reina sedang menempuh pendidikan S2 Managemen.
"Diluar saja banyak orang yang kuliah sambil bekerja."
"Kak, keluarga kita tidak miskin sampai aku harus bekerja saat masih kuliah," ucap Reina dengan enteng.
Dion menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa selamanya berlindung di belakang nama besar keluarga kita. Kau harus berdiri di kakimu sendiri."
Meskipun Dion berasal dari keluarga konglemerat di negerinya, tidak membuatnya selalu bergantung dengan keluarganya. Sedari sekolah dia selau mendapatkan beasiswa prestasi di sekolah. Dia selalu mendapatkan beasiswa sampai dia menyelesaikan study kedokterannya.
Dion memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Itulah sebabnya dia bisa dengan cepat menyelesaikan studynya. Dion tidak pernah bergantung dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya, Bahkan banyak yang tidak tahu tentang latar belakang keluarganya.
"Maa, lihat kak Dion. Dia selalu saja menceramahiku. Bantu aku Ma. Mama tega melihatku hidup susah jika kak Dion tidak memberikan aku uang lagi dan mencabut semua fasilitasku?" rengek Reina.
Mungkin karena anak bungsu sehingga membuar Reina menjadi anak yang manja dan selalu bergantung dengan kluarganya.
"Kau juga kenapa terus menggoda kakakmu."
Reina mencebikkan bibir bawahnya. "Kak Stella, tolong aku," mohon Reina dengan wajah tidak berdaya.
Stella terlihat bingung. "Dion tidak akan mendengarkan perkataanku Reina," jawab Stella dengan wajah pasrah.
Dion beralih menatap Stella. "Aku akan menuruti perkataanmu," sela Dion dengan wajah tenang.
Bersambung...
Jika berkenan, silahkan baca juga karya baru Author dibawah ini.
__ADS_1