Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Berusaha lebih keras


__ADS_3

Jeslyn mulai membuka matanya dengan perlahan. Setelah matanya terbiasa dengan cahaya lampu, Jeslyn kemudian menoleh pada suaminya yang sedang tertidur pulas.


Dia tersenyum sambil memegang wajah semuanya lalu mengecup pipi Dave. "Wajahmu tampan sekali Dave kalau sedang tidur seperti ini," ucap Jeslyn dengan suara pelan sambil tersenyum.


Sebelum turun dari tempat tidur, Jeslyn menoleh pada jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Itu berarti Jeslyn tertidur selama lebih dari 3 jam. Dengan langkah cepat, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat aktifitas mereka tadi sore.


Jeslyn tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian, dia berjalan ke tempat tidur untuk membangunkan suaminya. Dave tampak tertidur tanpa mengenakan bajunya. Dada bidangnya terlihat jelas karena tidak tertutup oleh selimut.


"Dave, bangun," panggil Jeslyn sambil mengguncang pelan bahu suaminya.


Dave masih tertidur, terlihat dia hanya menggerakkan kepalanya saja tanpa membuka matanya.


"Bangun sayang, kita harus makan malam dulu," bisik Jeslyn dengan suara lembut.


"Heeemm," gumam Dave pelan.


Jeslyn yang gemas melihat suaminya yang masih enggan membuka mantanya, langsung memberikan ciuman bertubi-tubi pada pipi Dave. "Bangun." Jeslyn mengulangi perkataannya setiap habis mencium wajah suaminya.


Dave yang menyadari kalau ada yang mencium pipinya seketika membuka matanya dengan cepat lalu menarik tangan Jeslyn hingga istrinya terjatuh dipelukannya.


"Kenapa kau menggangguku, Sayang?" tanya Dave yang kembali menutup matanya tanpa melepaskan pelukannya pada Jeslyn.


"Kita belum makan Dave," jawab Jeslyn sambil mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya. "Oyaa, apakah Stella sudah pulang?" Jeslyn baru teringat dengan pertemuan Stella dan Dave tadi sore.


"Iyaaa. Dia sudah membawa pulang Alea tadi," jawab Dave dengan suara pelan.


"Dave lepaskan dulu." Jeslyn merasa sedikit sesak akibat dipeluk oleh Dave, apalagi posisinya yang sedang berada di atas suaminya membuat dia tidak nyaman.


Dave membuka matanya lalu bertatapan dengan mata istrinya. "Apa kau habis mandi?" tanya Dave sambil memegang rambut Jeslyn yang masih setengah basah.


"Iyaaa," jawab Jeslyn sambil mengangguk.


Dave mendekatkan wajahnya ke leher Jeslyn. "Pantas saja, kau wangi sekali, Sayang." Dave mulai mengendus wangi tubuh istrinya sambil menelusuri leher istrinya dengan bibirnya.


"Dave, kita harus makan dulu." Jeslyn berusaha untuk menghentikan suaminya yang tampak mulai mencium lehernya dan merasakn hembusan napas hangat yang menerpa lehernya.

__ADS_1


"Nanti, Sayang." Tangan Dave mulai bergerak menyusup masuk ke dalam pakaian istrinya.


"Dave, ini sudah malam. Sakit maagmu bisa kambuh jika kau telat makan." Jeslyn berusaha memperingatkan suaminya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi.


"Aku akan memakanmu terlebih dahulu." Dengan gerakan cepat, Dave merubah posisinya yang tadinya di bawah menjadi di atas.


"Dave, apa kau tidak lelah?" Jeslyn bisa melihat kalau hasrat Dave sudah membumbung tinggi.


Dave lalu tersenyum. "Aku ingin kau cepat mengandung anakku, Sayang," ucap Dave lembut.


"Iyaa, aku tahu. Aku juga ingin segera hamil, tapi kita harus makan dulu Dave," bujuk Jeslyn. Dia hanya tidak ingin kalau sampai Dave sakit karena terlambat makan.


"Kalau begitu kita makan dulu, tapi setelah makan, jangan harap kau bisa lepas lagi. Aku akan membuatmu tidak tidur malam ini karena aku berniat melakukannya sampai pagi," ucap Dave dengan senyuman nakalnya, kemudian bangun lalu duduk di tepi ranjang.


Jeslyn tampak tercengang mendengar ucapan suaminya. Dia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengannya jika Dave sungguh melakukan seperti yang dia katakan. Jeslyn kemudian juga ikut bangun dan duduk tegak di dekat suaminya.


"Waktu kita masih banyak, Dave. Kau tidak perlu terburu-buru. Lagi pula, kau harus bekerja besok pagi. Kau akan lelah nanti." Sebenarnya Jeslyn hanya mencari alasan agar Dave tidak merealisasikan ucapannya.


Bisa dibayangkan jika Dave benar-benar melakukannya sampai pagi. Tubuhnya akan remuk dan dia tidak akan bisa melakukan apapun selain beristihat seharian di kamar.


"Ayo, Sayang, kita makan dulu," ucap Dave sambil menarik tangan istrinya. Jeslyn hanya bisa pasrah mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar.


Rumah tampak sangat sepi ketika mereka sampai di lantai bawah. Bi Sarti tampak sedang berada di dapur mengerjakan sesuatu. Ketika mendengar suara Dave dan Jeslyn. Dia langsung menghampiri mereka berdua.


"Bi, tolong siapkan makan malamnya ya?" pinta Jeslyn dengan suara lembut.


"Baik, Nyonya."


Bi sarti langsung menuju dapur dan memanaskan makanan yang sudah dia masak. Sementara Jeslyn dan Dave duduk di meja makan sambil menunggu Bi Sarti menyiapkan makanan.


Sebenarnya mereka terbiasa makan malam pukul 7 malam jika Dave tidak pulang terlambat, tapi malam ini mereka terpaksa makan larut malam karena mereka tadi tertidur sehingga mereka belum sempat makan malam.


Tidak membutuhkan waktu lama, semua makanan sudah terhidang di atas meja makan. Dave dan Jeslyn juga langsung menyantap makanan yang tersaji. Setelah selesai makan, mereka berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka baru saja duduk di ruangan keluarga.


"Tadi Dion ke sini," ucap Dave tanpa menoleh pada istrinya. Dia terlihat sedang menatap ke arah televisi yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Jeslyn yang mendengar nama Dion disebut, seketika langsung menoleh pada Dave. "Benarkah? Untuk apa dia ke sini? Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Wajah Dave langsung berubah masam setelah melihat reaksi istrinya yang tampak antusias.


"Sepertinya kau bersemangat sekali? Apa kau begitu senang ingin bertemu dengannya?" tanya Dave dengan wajah masam.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya Dave. Aku hanya penasaran kenapa dia tiba-tiba ke sini tanpa memberitahuku." jelas Jeslyn. "Biasanya dia selalu mengabariku tanpa aku tanya sekalipun. Dia seperti sedang menjaga jarak denganku."


Dave melirik istrinya sejenak. "Apa kau merasa sedih karena tidak bertemu dengannya?" Terlihat sekali kalau Dave tidak suka saat melihat reaksi istrinya. "jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak Jeslyn. Kau tahu sendiri kalau aku sangat cemburu dengannya," sambung Dave lagi dengan wajah serius.


"Au tidak ingin bertengkar denganmu hanya karena Dion," ucap Jeslyn cepat, "kau tidak perlu cemburu dengannya Dave. Kau adalah satu-satunya laki-laki yang ada di hatiku. Jadi, buang pikiran-pikiran negatifmu. Aku hanya mencintaimu. Jangan marah lagi." Jeslyn mencium pipi Dave untuk membujuk suaminya.


Dave bangun dari duduknya lalu menarik tangan Jeslyn. "Kita harus meneruskan kegiatan kita yang tertunda tadi, Sayang." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Dave langsung membopong tubuh istrinya dengan cepat.


Jeslyn pun mengalungkan tangannya ke leher Dave karena takut terjatuh. "Tapi Dave, aku...."


"Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, Sayang." Dave memasuki lift menuju kamarnya.


Terlihat sekali kalau Jeslyn sedang malu dan gugup dari sorot matanya. Dave menurunkan tubuh Jeslyn di atas tempat tidur setelah dia memasuki kamar mereka kemudian menatap Jeslyn yang sudah berada di bawahnya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut dan penuh cinta, sayang. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua."


Tanpa menunggu lama Dave langsung menyerang bibir istrinya sambil menanggalkan pakaian mereka berdua dengan cepat. Jeslyn yang awalnya diam saja mulai membalas setiap perlakuan Dave padanya dan berusaha mengimbangi suaminya.


Seperti yang Dave katakan sebelumnya, kalau dia akan melakukannya sampai pagi. Dan terbukti kalau Dave baru berhenti ketika waktu menujukkan pukul 4 pagi. Dave tampak tidak merasa lelah sedkitpun.


Dia hanya beristrirahat beberapa kali, itu pun hanya sebentar setelah itu melanjutkan lagi. Kegiatan itu terus berlanjut sampai akhirnya dia berhenti ketika melihat Jeslyn tampak sudah merasa lelah dan mulai mengantuk. Jeslyn bahkan tidak sadar ketika Dave mengangkat tubuhnya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka berdua.


Setelah selesai mengeringkan tubuh mereka berdua. Dave melilitkan handuk di pinggangnya, setelah itu membungkus tubuh istrinya dengan handuk juga kemudian mengangkat tubuh istrinya ke tempat tidur lalu menarik selimut untuk mereka berdua setelah melepaskan handuk yang membungkus tubuhnya dan istrinya.


"Kenapa kau belum hamil juga, Sayang?" Dave tampak bermonolog sambil memeluk tubuh istrinya dari depan. "Sepertinya, aku harus bekerja lebih keras lagi supaya kau cepat hamil," ucap Dave sambil mengelus lembut rambut istrinya.


"Hanya dengan cara itu aku bisa menahanmu di sisiku dan terikat denganku selamanya," monolog Dave sambil mencium kening dan pipi istrinya. Jeslyn yang sudah tertidur, tentu saja tidak mendengar semua ucapan Dave.


"Cepat tumbuh, Sayang. Papa sangat menantikan kehadiranmu," ucap Dave sambil mengelus perut istrinya kemudian memejamkan matanya yang mulai terasa berat.


Bersambung...

__ADS_1


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2