Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kembali Seperti Dulu


__ADS_3

Stella menutup matanya saat Dion mengecup lembut pundaknya. "Dion." Stella memegang erat tangan Dion yang ada di perutnya.


"Jangan tegang sayang." Tubuh Stella meremang ketika Dion mulai mengecup pundaknya dengan lembut.


Dion melepaskan pelukannya dan langsung membalik tubuh Stella menghadap dirinya. Dia menunduk menatap bola mata Stella sambil tersenyum. "Kau sudah menjadi istriku, Stella. Kau tidak perlu malu lagi padaku."


"Iyaaa, aku tahu," jawab Stella dengan suara pelan.


"Biasakan dirimu dari sekarang," ucap Dion seraya meraih dagu Stella agar Stella menatap matanya.


"Iyaa, maafkan aku." Bola mata Stella terlihat terus bergerak untuk menghindari tatapan dari Dion. Dia merasa sangat gugup saat ini.  


Dion tersenyum lalu menautkan bibir mereka berdua. Stella sempat terkejut sebentar. Bola matanya membesar ketika Dion mulai melu*mat bibirnya dan menyapu area rongga mulut istrinya ketika Stella membuka muutnya.


Perlakuan lembut Dion membuat Stella jadi terlena. Perlahan dia mulai melingkarkan tanganya dipinggang Dion dan mulai membalas tautan suaminya. Semakin lama ciuman mereka semakin memanas. Deru napas mereka juga semakin cepat dan tautan mereka semakin liar. Dion kemudian beralih ke leher istrinya dan meninggalkan jejak merah terang di leher istrinya.


"Dion," panggil Stella dengan suara parau.


Dion langsung mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur lalu membaringkannya. Dion lanjut menautkan bibir mereka berdua dengan napas memburu. Dia berhenti lalu mentap Stella.


"Sayang, bolehkah aku melakukannya?" tanya Dion yang sudah berada di atas Stella.


"Tapi ini masih sore, Dion," ucap Stella dengan wajah memerah. "Aku juga belum mandi."


"Bagiku tidak ada bedanya mau malam atau sore, Sayang," ucap Dion, "aku juga tidak masalah jika kau belum mandi."


Melihat keraguan dalam wajah Stella, Dion akhirnya bangun dan duduk di tepi tempat tidur. "Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap."


"Tunggu Dion." Stella menahan tangan Dion ketika melihat Dion sudah berdiri. "Aku bukannya belum siap. Aku hanya...."


Dion melepasan tangan Stella. "Kau tidak perlu merasa bersalah, Stella. Aku akan menunggu sampai kau mau melakukannya dengan suka rela," ucap Dion sembari melangkah.


Stella langsung turun dari tempat tidur dan menyusul Dion. Dia berdiri di depan Dion. "Aku mau, aku sudah siap Dion, tapi aku harap kau tidak kecewa denganku," tatap Stella dengan wajah bersalah.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Dion memastikan.


"Iyaa, aku sudah siap Dion. Lakukan apapun yang kau inginkan." Stella mulai merapatkan diri pada Dion.


"Apa kau tidak lelah?" Sekarang Dion yang tampaknya mulai ragu.


Stella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menahan diri lagi jika kau benar-benar masih mau melanjutkannya," ucap Dion dengan wajah serius.


Stella tersenyum. "Iyaa tidak apa-apa, lakukanlah. Itu adalah hakmu, Dion."


"Terima kasih, Sayang."


Dion tersenyum lalu melanjutkan aksinya. Sore itu, mereka habiskan dengan bermandikan peluh. Ketika Dion berhasil menyatukan tubuh mereka dia sedikit terkejut karena dia sedikit kesulitan untuk melesak masuk.


Dion yang penasaran langsung bertanya pada Stella. Dion kembali terkejut ketika mengetahui kalau suaminya dulu hanya menyentuhnya 5 kali saja karena hubungan tidak baik di antara mereka. Apalagi, semejak mengetahui Stella hamil. Suaminya sudah tidak pernah melakukannya lagi. 


Dion dan Stella akhirnya beristirahat setelah melakukannya selama satu jam. Mereka lalu berisitirahat karena merasa lelah. Malam harinya setelah makan makan mereka melanjutkan lagi hingga tengah malam.


******


Jeslyn dan Dave baru saja tiba di rumah mereka pukul 5 sore. Sesampainya di rumah Jeslyn terlebih dahulu membersihkan diri lalu bergantian dengan Dave.


"Jes, aku akan keluar kota selama seminggu. Untuk sementara kau tinggal di rumah mama dulu," ucap Dave ketika dia baru saja selesai memakai baju.

__ADS_1


Jeslyn yang sedang duduk di meja rias, seketika langsung menoleh pada Dave. "Tidak bisakah kau jangan pergi?" pinta Jeslyn dengan wajah sedih.


"Aku harus pergi. Aku tidak bisa membatalkannya karena ini sudah diatur dari jauh-jauh hari." Dave terlihat berjalan ke ranjang dan langsung duduk sambil meraih ponselnya.


"Kenapa kau baru memberitahuku?" Jeslyn terlihat sedih sekaligus kecewa pada suaminya karena memberitahunya dengan mendadak.


"Aku lupa," jawab Dave tanpa menoleh pada Jeslyn. Dia terlihat sedang fokus pada layar ponselnya.


"Bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Jeslyn penuh harap.


Dave mengalihkan pandangannya sejenak pada Jeslyn. "Kau sedang hamil, Jes. Kau tidak bisa melakukan perjalanan melalui udara," terang Dave.


"Kalau begitu bagaimana kalau naik mobil?" usul Jeslyn.


Dave menghentikan kegiatannya lalu menatap istrinya. "Tidak bisa, Jes. Lebih berbahaya lagi kalau kau melakukan perjalanan darat dalam waktu yang lama."


Dave kembali fokus pada ponselnya. "Tapi, aku tidak mau ditinggal sendiri Dave. Aku ingin ikut denganmu," rengek Jeslyn.


Dave naik ke tempat tidur lalu duduk bersandar sambil menatap istrinya. "Mama akan menemanimu di sini selama aku berada di luar kota jika kau tidak ingin tinggal di rumah mama," jelas Dave dengan wajah serius.


Mata Jeslyn mulai berkaca-kaca. "Tapi, aku tidak mau ditemani mama. Aku ingin kau yang menemaniku," pinta Jeslyn lagi.


"Lakukan apapun yang kau inginkan agar tidak bosan."


Dave meletakkan ponselnya lalu berbaring di tempa tidur. "Aku harus berangkat pagi-pagi sekali. Aku tidur duluan." Dave mulai memejamkan matanya.


Sepertinya biasa, sebelum tidur Dave sudah membuatkan susu untuk Jeslyn dan meminta bi Sarti untuk mengantarkan makanan untuk istrinya ke kamar.


Air mata Jeslyn langsung luruh. "Dave, kenapa kau jadi berubah? Apa kau sudah tidak menginginkan kami lagi?" Jeslyn sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


Dave yang mendengar suara isakan dari Jeslyn seketika langsung membuka matanya. "Jangan berpikiran buruk. Tidak baik untuk kehamilanmu." Dave bangun dari tidurnya lalu menghampiri istrinya.


"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu."


Dave berjongkok di depan Jeslyn yang sedang duduk di kursi rias sambil menghapus air mata istrinya. Hatinya sakit saat melihat istrinya menangis di depannya.


"Atau sudah ada orang lain dihatimu sehingga kau tidak membutuhkan kami lagi?"


Dave menghela napas. "Tidak ada Jeslyn. Kalianlah yang paling aku cintai dalam hidupku saat ini," jawab Dave lembut, "jangan menangis lagi." Dia kembali menghapus air mata istrinya yang terus menetes di pipinya.


"Lalu kenapa kau bersikap seolah tidak peduli lagi denganku? Bahkan aku pulang malam kau tidak mencariku dan menanyakanku. Aku bertemu dengan Ricky dan keluarganya kau diam saja."


"Aku hanya tidak ingin kau merasa tidak nyaman dan capek denganku. Kau bilang sifatku membuatmu tertekan dan merasa sesak. Itulah sebabnya aku tidak ingin mengatur hidupmu lagi. Kau tahu sendiri bagaimana sifatku, Jes. Aku memang begini adanya, sangat posesif. Aku tidak bisa melihatmu berdekatan dengan pria lain," terang Dave.


"Aku sudah berusaha untuk menekan rasa cemburuku, tapi terkadang aku tidak bisa menahannya. Itu karena aku takut kehilanganmu. Kau tidak suka aku kekang dan tidak suka bertanya hal macam-macam padamu, jadi aku hanya bisa membebaskanmu dan membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan agar kau bahagia, meskipun aku harus menekan perasaanku. Aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu, Jes."


Air mata Jeslyn mengalir tambah deras. "Aku minta maaf, Dave. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan dan menyudutkanmu," ucap Jeslyn dengan wajah menyesal.


Jeslyn langsung memeluk tubuh Dave yang sedang berjongkok di depannya. "Maafkan aku, Dave. Aku ingin kau kembali seperti dulu," pinta Jeslyn dengan wajah memohon.


"Berhentilah menangis. Aku tidak menyalahkanmu, Jeslyn. Kau tidak perlu meminta maaf," jawab Dave seraya membelai rambut istrinya.


"Berjanjilah padaku untuk tidak mengacuhkan aku dan kembalilah seperti dulu lagi, Dave. Aku merindukan dirimu yang dulu." Jeslyn memeluk erat suaminya sambil terisak.


Dave mengangguk. "Jangan menangis lagi. Maafkan aku. Anak kita akan menyalahkan aku nanti karena sudah membuatmu menangis," bujuk Dave.


Jeslyn mengangguk lalu melepaskan pelukan suaminya. "Sudah malam. Lebih baik kau istirahat." Dave menghapus air mata istrinya lalu mengangkat tubuh istrinya ke tempat tidur, "tidurlah, jangan memikirkan apapun lagi," ucap Dave setelah meletakkan tubuh Jeslyn di tempat tidur.

__ADS_1


Jeslyn menahan tangan suaminya. "Jangan pergi Dave, aku tidak mau tidur sendiri," pinta Jeslyn dengan manja.


"Aku hanya ingin ke kamar mandi," ucap Dave sambil menoleh pada istrinya, "aku tidak akan ke mana-mana."


Jeslyn perlahan melepaskan tangan suaminya. "Baiklah," ucap Jeslyn dengan suara pelan.


Setelah ke kamar mandi, Dave berjalan ke tempat tidur lagi. Jeslyn langsung memeluk tubuh Dave begitu melihat Dave sudah berbaring di sampingnya.


"Jes, kau akan kesulitan bernapas kalau kau membenamkan wajahmu seperti itu," ucap Dave ketika melihat Jeslyn menyembuyikan wajah di dadanya sambil memeluknya dengan erat.


Jeslyn menggelengkan kepalanya. "Kau akan pergi selama seminggu. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti."


Dave mencium pucuk kepala istrinya. "Aku hanya pergi sebentar."


"Tapi, aku ingin ikut denganmu. Aku tidak mau ditinggalkan di sini."


"Jangan menangis lagi. Aku akan sering-sering menelponmu nanti." Dave berusaha untuk menenangkan istrinya yang mau terisak lagi.


"Tidak mau, aku ingin ikut," rengek Jeslyn.


Sudah beberapa hari ini dia merasa sedih karena sikap Dave padanya. Membayangkan suaminya kan pergi dalam waktu lama membuat Jeslyn bertambah sedih.


"Kau tidak bisa ikut denganku, Jes. Akan berbahaya untukmu," ucap Dave lembut.


"Kalau begitu jangan pergi. Mintalah Mark atau Zayn untuk mewakilimu," pinta Jeslyn dengan wajah memohon.


Dave menghela napas. "Aku hanya perg...."


Jeslyn langsung memotong ucapan suaminya. "Aku tidak mau. Aku tidak mau kau pergi. Aku masih merindukanmu," Jeslyn mempererat pelukannya.


"Baiklah. Aku akan meminta Mark untuk mewakili aku."


Dave terpaksa menyetujui keinginan istrinya. Sebenarnya dia juga tidak ingin pergi dari awal, hanya saja ada sedikit masalah di anak perusahaannya yang di luar kota sehingga dia harus meninjau langsung ke sana.


Jeslyn lalu mengurai pelukannya. "Benarkah kau tidak akan pergi?" tanya Jeslyn sambil menatap suaminya.


"Iyaa, aku tidak akan pergi," jawab Dave sambil mengangguk.


Jeslyn langsung mencium pipi suaminya. "Terima kasiih, Dave," ucap Jeslyn dengan wajah bahagia.


Dave tersenyum. "Kalau begitu berikan aku hadiah karena sudah membatalkan kepergianku."


Jeslyn langsung memajukan wajahnya dan mencium bibir suaminya. "Hanya itu saja?" tanya Dave ketika istrinya sudah menyudahi ciumannya.


"Memangnya kau ingin apalagi?" tanya Jeslyn dengan wajah bingung.


"Aku ingin yang lebih dari ini." Dave langsung meraih dagu istrinya dan menautkan bibir mereka berdua.


Beberapa hari tidak menyentuh istrinya membuat Dave tidak bisa menahan diri. Dia mencecap dan melu*mat dengan penuh gairah, menyapu dan membelit lidah istrinya setelah itu beralih turun ke leher istrinya.


Dave menghentikan aksinya sejenak. "Aku ingin menengok anakku, Sayang," ujar Dave dengan suara parau.


Jeslyn langsung menganggguk. "Pelan-pelan, Dave."


"Iyaa, Sayang."


Dave langsung menyerang kembali bibir istrinya setelah itu melesak masuk ke inti istrinya. Malam itu, mereka habiskan untuk melampiaskan kerinduan mereka yang sempat tertahan karena pertengkaran mereka. Dave melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati hingga akhirnya berhenti setelah merasa lelah dan akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2