
Jeslyn dan Dave sedang duduk di loby hotel menunggu asisten Dave datang. Dave sengaja menghubungi Zayn untuk mengantarnya ke rumah sakit. Padahal Jeslyn sudah mengatakan untuk naik taksi saja, tetapi Dave langsung menolak dengan alasan kalau Jeslyn tidak akan nyaman jika menggunakan taksi.
Dave juga berpikir kalau menggunakan mobil sendiri, Jeslyn bisa leluasa untuk merebahkan dirinya di dalam mobil jika dia lelah. Dave terlihat memperlakukan Jeslyn dengan sangat hati-hati setelah mengetahui dirinya hamil.
Dave bahkan mempersiapakn semua keperluan Jeslyn ketika dia ingin mandi. Dia mengisi bathup dengan air hangat, menyiapkan baju istrinya, bahkan dia melarang Jeslyn untuk mengunci selama dirinya mandi karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Hal yang paling dia takuti adalah kemungkinan istrinya akan terpeleset di kamar mandi, maka dari itu dia setia menunggu di depan pintu kamar mandi selama istrinya mandi.
Jeslyn hanya mengglengkan kepalanya, melihat kelakuan suaminya. Dia tidak menyangka kalau Dave akan memperlakukannya seperti orang yang sedang sakit. Padahal dia tahu, kalau istrinya adalah dokter yang setidaknya tahu, hal berbahaya untuk janinnya dan mana yang tidak.
"Sayang, ayo berdiri. Zayn sudah datang," ucap Dave ketika melihat Zayn yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di depan loby.
"Iyaa." Dave dan Jeslyn berjalan menghampiri mobil mereka dan masuk ke dalam kursi belakang yang sudah dibukakan oleh assiten Dave.
"Ke rumah sakit," ucap Dave singkat ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Zayn mengangguk. "Baik, Tuan." Zayn mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Selama di perjalanan Dave terus saja mengusap kepala istrinya yang sedang bersandar di bahu kirinya. Dave juga meminta Zayn membawa mobil dengan hati-hati. Jeslyn sebenarnya malu dengan Zayn saat mendengar Dave mengatakan kalau istrinya sedang hamil dan tidak boleh terkena guncangan apapun. Jeslyn merasa kalau sikap Dave sangat berlebihan menurutnya.
Di satu sisi sebenarnya, Jeslyn mewajarkan sikap Dave seperti itu. Dia berpikir kalau Dave memang sangat menanti kehadiran anak dalam keluarga kecil mereka. Hanya saja selama ini keinginannya itu tidak terlalu ditunjukkan karena takut istrinya akan terbebani.
Sesampainya di rumah sakit. Mereka bertiga langsung berjalan menuju ruangan dokter Sarah. Sebelum menuju rumah sakit, Dave sudah menghubungi Adnan untuk menyuruhnya mengosongkan sementara jadwal dokter Sarah pada pukul 11 siang karena dirinya akan berkonsultasi dengan dokter Sarah.
Ketika mendegar perintah dari Dave. Adnan langsung menemui dokter Sarah untuk membicarakan mengenai pesan dari Dave dan memintanya untuk mengosongkan sementara jadwalnya. Tentu saja Jeslyn tidak tahu akan hal itu karena Dave menelpon Adnan saat dirinta sedang mandi.
Sesampianya di depan ruangan dokter Sarah. Dave langsung meraih handle pintu ruangan dokter Sarah. "Masuk sayang." Dave berjalan masuk bersama dengan istrinya.
"Selamat siang Tuan Dave," sapa Dokter Sarah sopan.
Dave mengangguk. "Silahkan duduk." Sarah mengarahkan tangannya ke tempat duduk yang ada di depannya. "Bagaimana kabarmu Jes?" tanya Dokter Sarah ketika mereka berdua sudah duduk di depannya.
"Baik Sar," jawab Jeslyn sambil tersenyum. Sarah sebenarnya sangat bahagia saat medengar tentang berita kehamilannya Jeslyn ketika Adnan menemuinya tadi. Jika saja saat ini, tidak ada Dave di depannya. Dia pasti sudah menyambut Jeslyn dengan heboh. Berhubungan ada Dave di depannya, jadi dia berusaha bersikap hati-hati.
"Aku rasa Adnan pasti sudah memberitahumu tentang tujuanku ke sini." Begitulah Dave, dia tidak terlalu suka berbasa-basi kepada orang lain. Dia langsung berbicara ke intinya. Berbeda sekali jika berhadapan dengan istrinya.
Dokter Sarah mengangguk. "Iyaa, Tuan." Dokter Sarah langsung berdiri. "Kalau begitu kita langsung periksa saja," ucap Dokter Sarah sambil mengarahkan Jeslyn dan Dave ke sebuah ruangan yang disekat tempat pemerikasaan akan dilakukan.
"Berbaringlah Jes," pinta Dokter Sarah.
"Iyaa." Dokter Sarah yang awalnya ingin membantu Jeslyn untuk berbaring seketika mengurungkan niatnya saat melihat Dave sudah lebih dulu membantu Jeslyn. Di dalam ruangan tersebut hanya ada Dokter Sarah, perawat, Jeslyn dan Dave. Asisten Dave menunggu di depan ruangan dokter Sarah.
Dokter Sarah mulai menyingkap pakaian Jeslyn dan menurunkan sedikit celananya. Dia mulai mengoleskan cairan bening diatas perut Jeslyn.
"Kapan hari pertama haid terakhirmu, Jes?"
Jeslyn tampak berpikir sejenak. Dia sedang mengingat dengan keras. "Sepertinya awal bulan sekitar tgal 4, Sar," Jawab Jeslyn dengan ragu. Dia memang tidak terlalu memperhatikan tamu bulanannya semenjak dia mengalami keguguran.
Dokter Sarah mengangguk. "Apa kau memiliki keluhan selama kehamilan ini?" tanya dokter sarah seraya menempelkan alat USG ke perut Jeslyn.
__ADS_1
"Sebenarnya aku baru mengetahui tentang kehamilanku 2 hari yang lalu, Sar," ungkap Jeslyn. "Sebelum mengetahuinya aku sempat merasakan, lemas, nyeri pada payudara, keram pada perutku, pusing, tidak napsu makan, dan moodswing," terang Jeslyn.
"Kenapa kau bisa tidak sadar kalau kau hamil? Bukankan sudah jelas itu tanda-tanda awal kehamilan?" Sarah tentu saja heran karena Jeslyn adalah seorang dokter. Setidaknya dia sedikit mengetahui mengenai gejala awal kehamilan.
"Aku tidak pernah memeriksa tamu bulananku. Aku sempat stress karena keguguran, jadi aku tidak terlalu fokus pada hal itu. Aku juga sempat mengalami flek beberapa hari yang lalu. Aku pikir aku akan datang bulan."
Sebenarnya, Jeslyn juga tahu kalau gejala yang dia alami sedikit mirip dengan gejala hamil muda, hanya saja dia tidak berpikir kalau dirinya bisa hamil dengan cepat setelah mengalami keguguran.
"Iyaa, aku mengerti. Banyak juga pasienku seperti dirimu yang salah mengira gejala akan datang bulan."
Banyak orang awam yang salah mengartikan flek, nyeri pada payudara dan keram perut sebagai tanda akan datang bulan karena ciri-ciri tersebut memang mirip dengan gejala awal hamil muda. Hanya saja dia tidak menyangka kalau Jeslyn yang seorang dokter tidak menyadari hal tersebut.
"Lihatlah. ini adalah kantung rahimmu," tunjuk Sarah pada layar yang ada di depannya. Dave dan Jeslyn terlihat fokus pada gambar yang ditunjuk oleh dokter Sarah.
"Dan ini adalah janinnya." Dokter Sarah beralih menujuk pada benda yang terlihat seperti biji kacang.
"Jadi, istriku sungguh hamil, Dok?" tanya Dave dengan wajah antusias.
"Benar Tuan," jawab Dokter Sarah singkat. "Usia kandungannya sudah memasuki usia 5 minggu," jelas Dokter Sarah.
"Bagaiamana kondiri janinnya Dok? Apakah dia baik-baik saja?"
Hal yang sedari tadi ada di benak Dave adalah mengenai kondisi janinnya. Setelah mengingat kebelakang, wajar saja jika Dave mengkhwatirkan kondisi janinnya karena sebelumnya, mereka sering melakukan hubungan suami istrinya dalam durasi yang panjang dan intensitas yang sering. Itulah yang membuat Dave cemas.
Dokter Sarah bisa melihat raut kecemasan dalam wajah Dave. "Kondisi janinnya dalam kondisi baik," jelas Dokter Sarah.
Jeslyn hanya diam. Dia tidak ingin membiarkan dokter Sarah untuk menjelaskan pada suaminya. "Apakah kau melakukan hal yang bisa membahayakan janin dalam kandunganmu?" tanya Dokter Sarah sambil menatap Jeslyn.
Dia merasa ada yang tidak beres saat Dave terlihat meragukan ucapannya. Jeslyn bingung harus menjawab apa. Dia sebenarnya malu untuk mengatakan pada dokter Sarah tentang kejadian yang sebenarnya.
Melihat Jeslyn terlihat bimbang, Dave langsung langsung menyela dan berkata, "Bagini Dok. Sebelum kami mengetahui kalau istriku sedang hamil. Kami sering melakukannya dalam waktu yang lama." Tnap dijelaskan secara detail. Dokter Sarah sudah bisa menangkap maksud dari perkataan Dave.
Jeslyn langsung menutup wajah dengan tanganya. Dia merasa sangat malu ketika Dave dengan tidak entengnya membeberkan urusan ranjangnya pada sahabatnya.
Dokter Sarah mengulum senyumnya. Dia sempat melirik pada Jeslyn sesaat yang sedang menyembunyikan wajahnya merahnya di balik tangannya sebelum membalas ucapan suami Jeslyn.
"Jadi seperti itu," ucap Dokter Sarah seraya mangut-mangut. "Saya tidak menemukan hal yang aneh. Semuanya terlihat baik. Apa perlu kita lakukan USG Transvaginal untuk mengetahui lebih detail lagi?" usul Dokter Sarah.
"Iyaa," jawab Dave singkat.
Dokter Sarah lalu meminta perawat untuk mempersiapkan peralatan. Setelah semuanya siap. Dokter Sarah mulai mengarahkan alat USG ke daerah kewanitaan Jeslyn.
Dave terlihat serius menatap ke arah layar monitor. Tidak sedetik pun dia mengalihkan pandangannya saat dokter Sarah menjelaskan kembali padanya mengenai kondisi janinnya.
Sementara Jeslyn hanya diam menahan malunya. "Apakah istriku akan mengalami mual dan muntah yang parah seperti kehamilan pertamanya?" tanya Dave ketika dokter Sarah sudah selesai menjelaskan tentang kondisi janin istrinya.
"Tergantung Tuan. Setiap wanita hamil berbeda-beda, tergantung hormonnya. Mungkin bisa seperti kehamilan pertama, atau tidak menutup kemungkinan Jeslyn tidak merasakannya," terang Dokter Sarah.
__ADS_1
Dave mengangguk. "Apakah berbahaya jika kami melakukan hubungan suami istri disaat usia kehamilan istriku masih muda?"
Kali ini, Jeslyn langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merutuki Dave karena menanyakan hal seperti itu pada Sarah. Padahal dirinya juga tahu jawaban atas pertanyaan yang suaminya lontarkan pada dokter Sarah. Dave bahkan juga sudah pernah menanyakan hal itu saat kehamilan pertamanya.
Dokter Sarah tampak tenang. Dia tidak terlihat terkejut. Dia sudah biasa mendapatkan pertanyaan tersebut dari para suami yang mengantarkan istrinya untuk memeriksakan kehamilan. "Tidak masalah selama dilakukan dengan hati-hati dan dalam durasi yag tidak terlalu lama. Hanya saja lebih baik dikurangi, mengingat trimeter pertama masih rentan terjadinya keguguran.
"Baiklah. Aku mengerti."
"Aku lihat kandungannya cukup kuat mengingat apa yang Tuan Dave sampaikan tadi."
"Tentu saja dia kuat. Dia adalah penerusku," ucap Dave dengan bangga.
Ingin sekali Jeslyn membungkam mulut suaminya agar tidak mengatakan hal-hal yang membuat dirinya malu.
"Pemerikasaanya sudah selesaikan, Sar?" Jeslyn seolah memberikan kode pada dokter Sarah agar segera mengakhiri sesi pemeriksaannya.
"Iya sudah selesai. Kau bisa datang lagi saat pemeriksaan selanjtunya."
Jeslyn beralih menatap suaminya. "Sayang. Lebih baik kita pulang," ucap Jeslyn dengan suara lembut.
Dia tidak mau membiarkan Dave lebih lama lagi di dalam ruangan dokter Sarah hanya untuk mempermalukan dirinya. Dia tidak bisa membayangkan, kata memalukan apalagi yang akan keluar dari mulut suaminya jika dia tidak segera pergi dari sana.
Dave langsung menoleh pada istrinya. Jeslyn sangat jarang memanggilnya dengan kata sayang sehingga membuat Dave merasa senang. "Iyaa sayang. Apa kau merasa lelah?" tanya Dave dengan lembut.
Jeslyn langsung menggeleng. "Iyaa, sedikit." Jeslyn terpaksa berbohong agar Dave mau mengakhiri sesi tanya jawabnya dengan dokter Sarah.
"Apa kau ingin di rawat di sini? Bagaimana kalau kau menginap di sini semalam sampai tubuhmu kembali fit lagi?" tawar Dave dengan wajah cemas.
"Hhaaaah?" Jeslyn tercengang mendengar perkataan suaminya. Niatnya ingin pulang. Dave justru memintanya untuk di rawat. Jeslyn tidak habis pikir lagi dengan Dave.
"Tidak perlu Dave. Aku hanya ingin beristirahat di rumah," tolak Jeslyn cepat.
Dokter Sarah terlihat menahan senyumnya saat melihat wajah panik Jeslyn ketika suaminya memintanya di rawat. Sebenarnya dokter Sarah merasa iri dengan Jeslyn. Dia memiliki suami yang sangat perhatian, tampan, dan berasal dari keluarga kaya.
"Baiklah." Dave membatu Jeslyn untuk bangun dari tidurnya.
"Aku akan memberikan obat dan vitamin untukmu," ucap Dokter Sarah seraya berjalan menuju meja kerjanya.
Dave dan Jeslyn mengikuti langkah dokter Sarah dari belakang. Dokter Sarah terlihat sedang menulis resep lalu memberikan pada perawatnya agar pergi mengambilkan obat di apotik rumah sakit. Dia tidak mungkin menyuruh pemiliki rumah sakit tersebut untuk pergi sendiri menebus obatnya.
"Ini adalah foto USG tadi." Dokter Sarah menyerahkan 2 lembar foto USG pada Jeslyn.
"Terima kasih, Sar."
Dokter Sarah mengangguk. "Kenapa bentuk anakku seperti itu?" tanya Dave ketika melihat ukuran bayinya yang masih berbetuk seukuran kacang polong.
Bersambung...
__ADS_1