
Wajah ibu Dave terlihat sangat gembira melihat kedatangan menantunya. "Bagaimana hasil pemeriksaan cucu mama?" tanya ibu Dave penasaran. Dia mengelus perut Jeslyn terlihat sudah mulai membuncit.
Jeslyn tersenyum. "Kondisinya sehat, Ma. Tidak ada masalah," jawab Jeslyn dengan lembut.
Dave hanya dia dan memperhatikan interaksi antara ibu dan istrinya.
"Ma, kami ingin menginap di sini, bolehkan?" ijin Jeslyn pada ibu mertuanya.
Wajah ibu Dave terlihat bahagia setelah mendengar ucapan menantunya. "Tentu saja boleh. Mama sangat senang jika kalian mau menginap di sini."
Sudah 4 hari ibu Dave tidak berkunjung ke rumah anaknya dan menantunya, itu karena dia merasa sedang tidak enak badan dan baru sembuh hari ini.
"Ma, Jeslyn ingin masakan Mama," ucap Jeslyn dengan wajah malu.
Tiba-tiba saja Jeslyn ingin merasakan masakan ibu mertuanya. Itulah sebanya Jeslyn pergi ke rumah orang tua Dave untuk meminta dibuatkan makanan oleh ibu mertuanya.
"Tentu saja boleh. Kau mau makan apa sayang? Biar mama buatkan sekarang untukmu."
Ibu Dave terlihat antusias saat mendengar menantunya menginginkan masakannya. Wajah ibu Dave tampak sumringah dan dia terlihat tidak keberatan sama sekali ketika medengar Jeslyn ingin soto buatannya. Dia justru terlihat sangat senang karena dia berpikir kalau itu adalah salah satu ngidam menantunya yang harus dia penuhi.
"Aku ingin makan soto ayam, Ma." Jeslyn terlihat malu saat mengatakan pada ibu mertuanya.
Dia sebenarnya merasa tidak enak pada ibu mertuanya, tapi Dave memaksanya untuk pergi ke rumah orang tuanya saat Jeslyn mengatakan kalau dirinya sedang ingin makan masakan ibunya.
"Sepertinya cucu mama suka dengan masakan mama," ucap Ibu Dave sambil mengelus perut menantunya.
"Maaf kalau Jeslyn akan merepotkan Mama," ucap Jeslyn dengan wajah tidak enak.
"Tidak repot, Sayang. Mama justru senang." Ibu Dave langsung berdiri, "kau tunggu di kamar saja sayang. Mama akan membuatkan sekarang," titah Ibu Dave.
"Jeslyn tunggu di sini saja, Ma."
"Tidak boleh. Kau harus banyak istirahat." Ibu Dave kemudian beralih pada anaknya. "Dave, antarkan istrimu ke kamar."
__ADS_1
Dave mengangguk lalu berdiri. "Ayo, Sayang."
Jeslyn mau tidak mau menuruti pemintaan ibu mertuanya. "Ma, Jesly ke kamar dulu," pamit Jeslyn pada ibu mertuanya.
"Iyaa, Sayang. Nanti mama akan panggil kalau masakannya sudah selesai," ujar ibu Dave dengan lembut
Selesai berpamitan, Dave membimbing istrinya menuju kamarnya. "Sayang, aku sudah tidak sabar menunggu bayi kita lahir," ucap Dave ketika mereka sudah berbaring di tempat tidur.
"Aku juga Dave. Aku harap semuanya berjalan lancar sampai hari melahirkanku tiba."
"Iyaa, Syang. Nanti memasuki usia kehamilan 8 bulan, lebih baik kita tinggal sementara di sini. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah," usul Dave.
Sebenarnya tidak sendirian. Ada bi Sarti yang bisa menjaga istrinya, tapi Dave tetap merasa khawatir, maka dari itu, dia berencana untuk pindah sementara di rumah orang tuanya agar dia bisa lebih tenang saat bekerja.
"Aku takut merepotkan mama, Dave." Jeslyn selalu merasa tidak enak dengan ibu mertuanya karena dia sering meminta bantuan ibu mertuanya.
Dave mengelus pipi istrinya penuh kasih sayang. "Tidak merepotkan, Sayang. Mama justru yang mengusulkan hal itu. Aku setuju karena aku pikir akan lebih aman jika kita tinggal sementara di sini. Setidaknya ada mama dan papa di sini, jadi kau tidak akan kesepian," papar Dave.
"Baiklah."
"Iyaa, Papa," jawab Jeslyn sambil menirukan suara anak kecil.
Dave bangun dari tidurnya lalu menaikkan pakaian istrinya hingga terpampanglah perut istrinya yang sudah mulai membesar. "Dia bergerak, Sayang," ucap Dave senang. Dave terlihat menghujami perut istrinya dengan kecupan kecil.
"Dave," pangil Jeslyn.
"Iyaa sayang." Dave menghentikan kegiatannya lalu menatap pada istrinya.
"Apakah kau sudah menemukan nama yang cocok untuk anak kita?"
Saat memasuki usia kehamilan 6 bulan, Dave berkata kalau dirinya sudah mendapatkan beberapa nama untuk anak mereka. Dia sengaja menyiapkan nama laki-laki dan perempuan karena mereka memang belum tahu jenis kela-min anak mereka.
"Sudah sayang, tapi aku masih harus menyeleksi beberapa nama lagi," ungkap Dave. Tangannya masih setia mengelus perut istrinya.
__ADS_1
"Baiklah."
"Sayang, bolehkah aku menengok anak kita?" tanya Dave penuh harap.
Jeslyn mengangguk malu. "Tapi hati-hati."
Dave tersenyum lebar lalu berkata, "Iyaa Sayang, aku akan berhati-hati."
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Hari demi hari Jeslyn lewati dengan perasaan berdebar. Bagaimana tidak minggu ini usia kandungannya sudah memasuki usia 38 minggu yang berarti sudah memasuki bulan untuk melahirkan.
Jeslyn sedang berdiri di depan cermin memandangi perubahan tubuhnya terutama pada perutnya yang sudah sangat besar. Semua media tampak penasaran dengan jenis kelamin calon penerus Tjendra Group.
Beberapa dari mereka berusaha untuk mencari tahu ke rumah sakit tempat Jeslyn melakukan pemeriksaan setiap bulannya karena merasa penasaran dengan kelamin dan informasi mengenai perkiraan kelahiran penerus Tjendra Group.
Tidak banyak yang tahu kalau rumah sakit tempat Jeslyn akan melahirkan nanti adalah rumah sakit milik suaminya sendiri. Ketika Jeslyn memasuki usia kehamilan 36 minggu, Dave hanya bekerja beberapa jam saja di kantor. Sisanya dia kerjakan di rumah. Dia ingin fokus untuk menjaga dan mengawasi istrinya.
Dave sangat berhati-hati dalam menjaga Jeslyn menjelang hari kelahiran anaknya. Dave bahkan tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan kapan anaknya akan lahir, apalagi belakang ini Jeslyn juga tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasa tidak nyaman dengan perutnya yang sudah membesar dan berat.
Jeslyn juga sering terbangun tengah malam karena dia sering kali buang air kecil. Dia juga sering mengalami kontraksi palsu yang membuat Dave panik setiap istrinya mengalami kontraksi. Dua hari yang lalu Jeslyn mulai merasakan mulas dan nyeri pada bagian punggung dan pinggangnya. Dia juga mulai kesulitan untuk duduk karena perutnya semakin besar dan berat.
Pemeriksaan 3 hari yang lalu menyatakan kalau berat bayi sudah 3,1 kilogram. Jeslyn sering kali menghubungi dokter Sarah untuk sekedar berkonsultasi mengenai kehamilannya. Dave berencana untuk membawa istrinya ke rumah sakit 2 hari lagi dan menginap di sana sampai tiba waktunya istrinya melahirkan.
Dia takut kalau istrinya akan melahirkan dalam waktu dekat. Seperti rencana awal mereka, saat memasuki usia kandunganya 8 bulan, mereka pindah sementara ke rumah orang tua Dave, sementara rumah mereka di tempati oleh bi Sarti dan beberapa pekerja lainnya. Terkadang Dave pulang ke rumah mereka sebentar untuk mengambil sesuatu.
"Kau sedang apa sayang?" Dave baru saja masuk ke dalam kamar mereka setelah pergi ke kantor karena ada meeting penting yang harus dia hadiri.
Jeslyn menoleh ke belakang setelah mendengar suara suaminya. "Dave, apakah kau merasa kalau tubuhku saat ini sangat gemuk?" tanya Jeslyn sambil memegangi perutnya.
Dave tersenyum sambil memeluk istrinya dari belakang. "Tidak, Sayang. Itu normal karena kau sedang hamil."
Dave mulai mengelus perut istrinya dengan penuh cinta. "Aku terlihat jelek sekali. Aku takut kau akan bosan padaku karena tubuhku sudah tidak seperti dulu lagi."
Semenjak awal kehamilannya sampai sekarang, berat badan Jeslyn sudah naik 15 kilogram. Hal itu membuat Jeslyn takut kalau Dave tidak akan mencintainya lagi dan akan mencari wanita lain nantinya.
__ADS_1
"Tidak akan, Sayang. Aku justru menyukai bentuk tubuhmu saat ini. Kau terlihat seksi dengan perut yang membesar," bisik Dave di telinga istrinya dengan suara seraknya.
Bersambung.