
"Sayang, apa kau sudah siap?"
Dave menghampiri istrinya yang sedang di depan meja rias. Pagi ini, Jeslyn akan menemani Dave untuk pergi ke kantor sebentar untuk menghadiri meeting. Dave sudah membatalkan cutinya karena dia tidak jadi pergi berbulan madu. Dia kembali bekerja walaupun tidak fulltime.
Jeslyn menatap suaminya yang sedang berdiri di belakangnya dari pantulan cermin. "Sudah," jawab Jeslyn singkat.
Dave membungkuk lalu memeluk istrinya dari belakang. "Kenapa kau berdandan cantik sekali sayang? Apa karena kau ingin menarik perhatian Dion?" Hari ini mereka berniat untuk pergi ke rumah Stella siang hari setelah Dave selesai dengan urusan kantornya untuk membicarakan mengenai lamaran keluarga Dion.
"Aku tidak memakai makeup Dave. Aku hanya memakai tabir surya dan lipstik saja," terang Jeslyn, "kenapa kau masih saja cemburu dengan Dion? Dia sudah mau menikah dengan Stella, Dave."
Dave merasa kalau belakangan ini Jeslyn terlihat berbeda dari biasanya. Jeslyn terlihat lebih cantik. Dia juga tidak mengerti apa yang berbeda dari istrinya. Yang pasti makin hari, istrinya semakin menarik menurutnya.
Dave mulai mencium pipi istrinya dari belakang. "Tentu saja. Bagaimana pun dia pernah menyukaimu." Dave menatap istrinya lewat pantulan cermin. "Ingat sayang. Sudah ada anakku di dalam perutmu. Kau tidak boleh lagi memikirkan pria selain aku. Aku harap kau menjaga jarak dengannya."
Jeslyn menghembuskan napas halusnya. Dia melepaskan tangan Dave yang melingkar di perutnya lalu mengubah posisi duduknya menghadap suaminya.
"Dave, aku tidak pernah memikirkan pria lain selain dirimu. Dion itu sudah seperti keluargaku. Keluarganya juga sangat baik padaku,Dave. Tidak bisakah kau berdamai dengannya?" tanya Jeslyn seraya mendongak menatap suaminya.
Dave berjongkok di depan istrinya. "Aku hanya tidak mau memberikan celah padanya. Aku punya alasan kenapa aku sangat mewaspadai dia."
Sebenarnya Dave masih teringat dengan kata-kata Dion yang beberapa kali mengatakan kalau dirinya akan merebut Jeslyn darinya. Kata-kata itu terus tergiang teliganya ketika dia melihat Dion. Alasan kenapa dia sangat mewaspadai Dion adalah karena saat itu, Dion bahkan tidak keberatan sama sekali dengan status Jeslyn yang sudah menikah dengannya.
"Dion bukan tipe perusak rumah tangga orang, Dave. Dia pria yang bermoral. Aku juga tidak akan pernah tertarik dengan Dion, Dave," ucap Jeslyn lembut.
Dave mengulurkan tangannya menyentuh perut istrinya. "Berikan aku banyak anak agar aku bisa tenang."
Dave berpikir kalau mereka memiliki banyak anak, Jeslyn tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanya di kemudian hari. Dia akan menggunakan anaknya untuk mengikat Jeslyn selamanya.
Jeslyn terkekeh mendengar permintaan suaminya. Dia menangkup wajah Dave lalu mengecup singkat bibirnya. "Baiklah. Kau ingin berapa?"
Dave menatap ke atas seraya berpikir. "Bagaimana kalau enam?"
Mata Jeslyn membesar. "Banyak sekali. Tiga saja cukup, Dave."
Jeslyn juga sebenarnya ingin memiliki banyak anak. Hanya saja tidak sebanyak permintaan Dave. Dia tahu bagaimana tidak enaknya menjadi anak tunggal. Itu sebabnya dia ingin memiliki anak lebih dari satu.
"Jangan tiga sayang, nanti yang satunya tidak punya teman. Bagaimana kalau empat?" tawar Dave.
Jeslyn kembali terkekeh. "Membesarkan anak tidak semudah yang dibayangkan Dave. Kau tahu bukan kalau segalanya harus dipersiapkan dengan matang."
"Iya aku tahu sayang. Aku ingin rumah kita ramai dengan tawa anak-anak kita," ucap Dave.
Jeslyn mengalungkan tangannya ke leher suaminya. "Baiklah. Lebih baik kira program bayi kembar saja untuk kehamilan selanjutnya."
Meskipun mereka tidak memiliki gen kembar, tetapi Jeslyn ingin mencobanya. Mungkin saja akan berhasil. Dia tidak sanggup jika harus hamil sampai empat kali. Jika program bayi kembarnya berhasil, itu akan mempercepatnya memiliki empat anak.
Mata Dave langsung berbinar. "Jadi, kau setuju memiliki empat anak?" tanya Dave dengan wajah senang.
Jeslyn mengangguk. "Iyaa, itu berarti kau harus mencari lebih banyak uang jika ingin memiliki banyak anak," gurau Jeslyn.
"Tenang saja sayang. Meskipun aku tidak bekerja. Aku masih bisa menghidupi 30 orang anak sampai mereka semua dewasa. Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena memiliki banyak anak," balas Dave dengan senyum tipisnya.
Jeslyn memegang wajah suaminya. "Iyaa. Tentu saja aku tahu kalau suamiku yang tampan ini memiliki kekayaan yang sangat banyak. Itu sebabnya aku ingin menikah dengannya," gurau Jeslyn lagi.
Dave tersenyum sambil membelai wajah istrinya. "Kalau begitu akan bekerja lebih keras lagi agar memiliki lebih banyak uang supaya tidak ada yang bisa mengalahkanku sehingga kau tidak akan pernah berpikir untuk mencari pria lain yang lebih kaya dariku," balas Dave.
__ADS_1
Setiap tahunnya keluarga Dave selalu masuk peringkat pertama sebagai orang terkaya di negerinya. Kekayaannya dia dapat dari Perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi, jasa di bidang kesehatan, telekomunikasi, di bidang retail dan dia juga sebagai pemegang saham mayoritas di beberapa perusahaan besar dan perusahaan perbankan.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati kalau seperti itu. Semakin kau kaya akan semakin banyak wanita yang akan mengincarmu. Aku akan menempel padamu setiap saat agar mereka tidak berani mendekati suamiku yang tampan ini."
Dave meraih tangan istrinya lalu mengecup punggung tangan istrinya. "Aku jadi malas bekerja. Bagaimana kalau hari ini kita di rumah saja." Melihat istrinya yang sangat menggemaskan membuat Dave ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya di rumah.
Jeslyn langsung berdiri dan menarik tangan suaminya. "Kau harus bekerja. Bukankah kau bilang ada meeting penting hari ini?"
Dave tersenyum seraya berdiri. "Berikan aku semangat dulu," tunjuk Dave pada bibirnya.
Jeslyn tersenyum lalu berjinjit dan mencium bibir suaminya. Kali ini, Jeslyn melakukannya cukup lama. "Sudah sayang. Aku takut hilang kendali nanti." Dave melepaskan pagutan mereka karena takut tidak bisa menahan diri.
Jeslyn tersenyum. "Kalau begitu ayo kita pergi." Jeslyn mengapit lengan suaminya lalu berjalan keluar kamar.
Sesampainya di kantor suaminya, mereka langsung berjalan menuju ruangan Dave. Suasana kantor nampak sepi karena sudah masuk waktunya bekerja.
"Selamat pagi Pak Dave, Bu Jeslyn," sapa Diana ramah sambil sedikit membungkuk.
"Pagi," jawab Dave tanpa menoleh seraya terus berjalan, sementara Jeslyn hanya mengangguk sambil tersenyum pada Diana.
Dave menuntun istrinya menuju sofa yang ada di ruangannya. "Sayan, kau tunggu di sini dulu."
Jeslyn mengangguk. "Iyaa."
"Tok ... tok ... tok." Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk," ucap Dave seraya mengangkat kepalanya.
Diana masuk ketika pintu terbuka. Dia berjalan menuju meja Dave lalu berdiri tepat di depannya. "Ini surat perjanjian kontrak dengan perusahaan Jaya Group yang bapak minta." Diana menyerahkan map putih pada Dave.
"Sudah Pak," jawab Dia sambil mengangguk.
"Baiklah. Apakah semuanya sudah berkumpul di ruangan meeting?"
"Sudah Pak. Kita akan memulai meeting 15 menit lagi."
"Baik. Kau bisa pergi." Diana membungkuk lalu berjalan keluar.
Dave memeriksa berkas yang diberikan oleh Diana sebentar lalu menghampiri istrinya. "Sayang. Kau ingin minum apa?" tanya Dave ketika dia sudah duduk di samping istrinya.
Jeslyn yang sedang fokus pada ponselnya seketika menoleh pada Dave. "Aku ingin minuman dingin, Dave," pinta Jeslyn.
"Minuman dingin tidak baik untukmu sayang. Bagaimana kalau teh chamomile hangat?" usul Dave.
Jeslyn berpikir sejenak. "Baiklah, tapi berikan aku air mineral juga."
"Iyaa sayang." Dave bangun dari duduknya lalu berjalan menuju meja kerja. Dia menghubungi Diana untuk memintanya membawakan minuman dan camilan untuk istrinya.
"Di, minta salah satu Office Girl untuk menemani istriku selama kita meeting," perintah Dave setelah dia menyebutkan pesanan istrinya.
Dave khawatir istrinya akan bosan jika dia meninggalkan istrinya sendirian di dalam ruangannya. Dia takut kalau Jeslyn tidak ingin istrinya merasa kesepian. Dia bisa meeting dengan tenang jika ada yang menjaga istrinya. Kalau pun Jeslyn tetap merasa bosan. Ada seseorang yang bisa menemaninya jika Jeslyn ingin berjalan-jalan.
Dave sebenarnya sudah melarang istrinya untuk ikut ke kantor. Dia sudah meminta ibunya untuk menemani Jeslyn selama dia meeting di kantor, tetapi Jeslyn menolak. Dia tetap ingin ikut dengan suaminya. Selama hamil dia selalu ingin berada di dekat suaminya.
__ADS_1
Dave meletakkan gagang telpon lalu mengambil berkas yang ada di atas mejanya. "Sayang, aku sudah meminta seseorang untuk menemanimu. Jika kau bosan kau bisa memintanya menemanimu jalan-kalan ke bawah."
"Apa aku boleh pergi ke cafe seberang?" tanya Jeslyn sambil menggeser duduknya menghadap Dave.
Saat pertama kali datang ke kantor Dave, dia melihat ada cafe yang berada tepat di depan gedung kantor suaminya. Cafe tersebut cukup terkenal di kalangan anak muda.
"Di bawah juga ada cafe sayang. Lebih baik kau berkeliling di sekitar gedung ini saja jika kau bosan." Dave tidak bisa tenang jika istrinya tidak dalam pengawasannya langsung.
Jeslyn tidak merespon ucapan Dave. Sebenarnya Jeslyn hanya ingin berjalan-jalan saja karena tidak mau menunggu di ruangan Dave sendirian.
Melihat istrinya diam saja, Dave lalu berkata, "Baiklah. Kau boleh ke sana, tapi kau harus diantar oleh Zayn dan ditemani oleh orang lain."
Dave terpaksa menyetujui kemauan istrinya. Dia tidak ingin membuat Jeslyn merasa kecewa. Dia akan mengecualikan asistennya dalam meeting kali ini dan lebih memilih untuk membiarkan asistennya untuk menjaga istrinya.
"Tidak perlu Dave," tolak Jeslyn dengan lembut. "Aku hanya perlu menyebrang jalan saja. Lokasinya sangat dekat," jelas Jeslyn.
"Aku tidak akan memperbolehkanmu ke sana jika tidak diantar oleh Zayn," ucap Dave dengan tegas.
Alasan Dave melarang istrinya pergi sendiri dan tetap diantar oleh asistennya adalah karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Jalanan di depan kantornya selalu ramai, apalagi istrinya sedang hamil. Dia hanya tidak ingin kalau sampai Jeslyn terjadi apa-apa pada istrinya karena kelalaiannya tidak bisa menjaga Jeslyn dengan baik.
Jeslyn langsung terdiam. "Sayang, tolong mengerti. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Jalanan di depan sangat ramai dan banyak pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi."
Sebenarnya tidak jauh dari kantornya ada jembatan penyebrangan. Hanya saja biasanya jarang sekali orang menggunakannya karena dinilai memakan banyak waktu.
Dave juga sudah mewanti-wanti Jeslyn untuk tidak menggunakan tangga selama kehamilannya. Insiden jatuh dari tangga sedikit membuat Dave trauma. itulah sebabnya dirumahnya selain ada tangga. Dia juga membangun lift untuk memudahkan Jeslyn ke lantai atas dan bawah.
"Iyaa, aku mengerti," ucap jeslyn dengan suara pelan.
Dave mengecup kening istrinya. "Maaf sayang. Aku bukannya marah padamu. Aku hanya khawatir denganmu."
"Iya Dave, aku tahu."
Tidak lama kemudian Diana masuk bersama dengan seorang perempuan berseragam putih biru sepertinya berumur 20 tahun. Perempuan tersebut adalah salah satu Office Girl di kantor Dave. Dia membawa nampan lalu meletakkan dua cangkir teh, satu botol air mineral dan dua piring yang berisi camilan di atas meja.
"Maaf Pak, meeting akan segera di mulai," ucap Diana mengingatkan.
"Ya," jawab Dave sambil mengangguk.
"Siapa namamu?" tanya Dave pada perempuan yang berseragam putih biru tersebut.
"Nila, Pak," jawab perempuan itu.
"Nila, ini adalah istriku." Dave mengarahkan pandangannya pada Jeslyn. "Tugasmu adalah menemani dan menjaga istriku sampai aku kembali," perintah Dave.
Jeslyn tidak berani lagi membantah suaminya. Dia hanya mengikuti apa yang sudah diatur oleh Dave untuknya. "Baik Pak. Saya mengerti," jawab Nila sambil mengangguk.
Dave lalu berdiri. "Sayang, aku meeting dulu."
Jeslyn ikut berdiri. "Iya."
"Zayn akan menunggu di luar. Dia akan mengantarmu jika kau ingin ke cafe depan," ucap Dave sebelum meninggalkan ruangannya.
"Iyaa. Aku akan mengirimkan pesan jika aku jadi ke cafe depan."
Bersambung...
__ADS_1