
Dokter Sarah sudah menjelaskan padanya kalau hormon kehamilan akan mempengaruhi sikap Jeslyn. Dia akan jadi lebih sensitif saat hamil. “Aku capek Dave. Kau selalu mencurgaiku.” Jeslyn mulai terisak lagi.
Dave meraih tubuh Jeslyn dan memeluknya. “Aku minta maaf, aku tidak akan membahasnya lagi,” ucap Dave sambil membelai rambut panjang Jeslyn.
Dave melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Jeslyn. “Kau makan dulu ya?” bujuk Dave dengan suara rendah.
Jeslyn mengangguk. Dave kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang Jeslyn. “Kau mau makan apa?”
Dave mulai membuka satu persatu makanan yang dibeli oleh Zayn. Dave juga memesan beberapa menu makanan lain untuk dirinya.
“Risoto,” jawab Jelsyn pelan.
“Apa kau masih merasa mual?”
Dave ingin memastikan terlebih dahulu sebelum dia menyuapi Jeslyn. Dia tidak ingin kalau sampai makanan yang baru saja dia makan keluar lagi seperti tadi pagi.
Jelsyn menggeleng. “Baiklah, pelan-pelan.” Dave mulai menyuapi Jeslyn dengan hati-hati.
Ponsel Dave berbunyi ketika dia baru saja menyendokkan makanan ke dalam mulut Jeslyn. “Tunggu dulu, aku angkat telpon sebentar.”
Dave meletakkan makanan yang dia pegang tadi di atas nakas, kemudian mengangkat telponnya sambil berjalan menjauh dari Jeslyn.
Dave terlihat sedang berbalik memandang ke arah Jeslyn sambil mendengarkan suara dari telpon genggamnya. Dave mengangguk lalu memutusukan sambungan telponnya. Jeslyn hanya diam sambil menatap Dave yang terlihat sedang berjalan menghampirinya.
“Kau bisa pergi kalau ada urusan penting Dave. Aku bisa makan sendiri,” ucap Jeslyn ketika Dave sudah duduk di sampingnya.
Dave mengambil kembali wadah makan yang tadi dia letakkan. “Aku akan mengurusnya nanti. Aku akan menyuapi dulu.”
Dave kembali menyuapi Jeslyn. “Apa kau sering mual dan muntah seperti ini sebelumnya?” Dave merasa penasaran, bagaimana Jeslyn mengurus dirinya, ketika Dave belum tahu kalau Jeslyn sedang hamil.
Jeslyn mengangguk lalu mencoba mengingat sesuatu. “Kalau mual dan muntah baru semingguan ini, tetapi badanku mulai lemas dan mudah lelah sudah 2 mingguan.”
“Lalu, apa saja yang kau lakukan selama aku tidak ada di sampingmu?”
“Aku hanya beristirahat di kamar, sesudah muntah biasanya aku akan langsung tidur untuk menghilangkan rasa mualku.”
Dave langsung merasa sangat bersalah saat tahu Jeslyn harus melewati semuanya sendiri apalagi Jelsyn seperti itu karena sedang mengandung anaknya.
“Selama hamil aku merasa tidak memiliki napsu makan, terkadang aku hanya makan buah saja.”
“Seharusnya kau memberitahuku lebih awal Jeslyn.”
Kalau saja kemarin dia tidak datang untuk menemui Jeslyn. Mungkin saja Dave tidak akan pernah tahu kalau Jeslyn sedang hamil sampai mereka bercerai. Dave merasa beryukur karena dia menuruti nalurinya untuk menemui Jeslyn waktu itu sehingga dia tahu keadaan Jeslyn yang sebenarnya.
Jeslyn menunduk sambil mengunyah makanannya. “Aku hanya tidak ingin membebanimu dengan kehadiran anak ini. Aku juga tidak mau menahanmu hanya karena aku hamil anakmu apalagi kita dalam tahap perceraian."
__ADS_1
“Aku akan menyesal seumur hidupku kalau sampai aku tidak tahu tentang keberadaan anakku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau menjalani kehidupanmu tanpa aku di saat kau sedang mengandung anak kita.”
“Maafkan aku, Dave. Aku hanya tidak ingin memperumit perceraian kita,” sesal Jeslyn.
“Apa kau tahu, bagaimana sulitnya aku melewati hari-hariku tanpamu? Aku berusaha untuk merelakanmu agar kau bisa bahagia, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku tidak bisa melihatmu hidup bahagia dengan orang lain.”
Selama dia tidak bertemu dengan Jeslyn, Dave memang berusaha keras untuk tidak lagi terlibat dengan kehidupan Jeslyn.Dia ingin mencoba untuk melepaskan Jeslyn.
“Aku bahkan melanggar janjiku sendiri untuk tidak menemuimu hanya karena aku sangat merindukanmu, Jeslyn.”
“Maafkan aku, Dave,” ucap Jeslyn sambil menundukkan wajahnya.
“Jangan pernah mengucapkan soal perceraian lagi, Jeslyn.”
“Maafx Dave.” Jeslyn masih merasa bersalah kepada Dave karena sudah bersikap egois.
“Aku sudah kenyang, Dave,” tolak Jeslyn ketika Dave ingin menyuapinya lagi.
“Baiklah.” Dave mengambil minum untuk Jeslyn. “Minumlah.”
Jeslyn meraih gelas yang berisi air putih lalu meneguknya secara perlahan. “Tidurlah. Aku akan pergi setelah kau tertidur.” Dave meletakkan gelas yang tadi diminum Jeslyn.
Jeslyn merebahkan tubuhnya. “Apa kau akan ke sini lagi nanti?” Jeslyn tiba-tiba tidak rela kalau Dave pergi meninggalkannya.
Jeslyn menatap ke samping kiri bawah. “Pergilahx urusanmu lebih penting. Kau tidak perlu ke sini lagi.” Jeslyn merebahkan tubuhnya membelakangi Dave.
Dave terdiam sesaat. Dia kemudian meraih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Dave menggulung lengan kemejanya dan membuka 2 kancing kemeja bagian atasnya lalu naik ke atas tempat tidur.
“Aku akan kembali lagi setelah urusanku selesai.” Dave memeluk tubuh Jelsyn dari belakang. “Tidurlah sayang.”
Dave tidak pernah bersikap sesabar ini pada wanita manapun. Sifat dominan Dave membuatnya tidak pernah mau mengalah ataupun menuruti ucapan orang lain.
Jeslyn langsung merasa tenang saat Dave memeluknya. Mungkin karena dulu Jeslyn kekurangan kasih sayang, Dave sehingga membuatnya selalu ingin berada di dekat Dave.
Jeslyn belum pernah bersikap manja selama menikah dengan Dave. “Dave,” panggil Jeslyn.
“Apa sayang?” tanya Dave lembut.
“Pergilah, aku tidak apa-apa di sini sendiri.” Jelsyn mulai merasa bersalah karena bersikap kekanak-kanakannya.
Dave membalikkan tubuh Jelsyn. Dia memandang wajah Jeslyn. “Aku tidak akan pergi sebelum kau tertidur.”
Jeslyn membenamkan wajahnya di dada Dave. Wajah Jeslyn memerah. Dia merasa malu saat ditatap Dave dengan penuh cinta.
“Kenapa kau masih merasa malu?”
__ADS_1
“Jangan menggodaku, Dave.”
Dave tersenyum lebar dan memeluk Jelsyn sambil mencium pucuk kepalanya. “Baiklah, tidurlah sayang.” Dave membelai rambut Jelsyn supaya cepat tertidur.
Merasakan belaian lembut Dave pada kepalanya. Jelsyn mulai memejamkan matanya sambil memeluk erat suaminya.
“Aku akan meminta perawat untuk menjagamu selama aku pergi.” Dave tidak ingin meninggalkan Jeslyn tanpa pengawasan darinya. Dia tidak akan tenang jika meninggalkan Jeslyn sendiri.
“Perawat akan membantu semua keperluanmu nanti. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau hubungi Zayn saja. Dia akan langsung datang ke sini.”
Jeslyn tidak merespon ucapan Dave karena sudah mulai mengantuk. Semenjak hamil dia lelah dan mudah mengantuk.
Setelah Jeslyn tertidur. Dave melepaskan pelukannya perlahan. Dia menyingkirkan tangan Jeslyn dengan hati-hati. Dia kemudian menghubungi Adnan untuk menyiapkan satu perawat khusus untuk menjaga dan merawat Jeslyn.
“Jaga istriku dengan baik. Layani semua keperluannya selama aku tidak ada,” ucap Dave ketika perawat itu sudah berdiri di sampingnya.
“Baik, Tuan.”
“Tugasmu saat ini hanya menjaga istriku. Kau tidak perlu malayani pasien lain. Aku akan memberikan gaji 2 kali lipat dari gajimu yang sebelumnya. Apa kau mengerti?”
“Iyaa Tuan, saya mengerti,” ucap perawat itu sopan.
Dave berdiri lalu mengecup kening dan bibir istrinya. “Sayang aku pergi dulu. Aku akan kembali secepatnya.” Dave beralih menatap perawat itu. “Siapa namamu?”
“Maya, Tuan.”
“Maya, selama aku pergi, kecuali dokter Sarah, jangan biarkan siapapun masuk ke sini untuk menemui istriku.”
Maya mengangguk. “Baik, Tuan.”
“Hubungi Adnan kalau ada yang memaksa masuk ke sini tanpa ijinku.”
Dave memberikan nomor ponsel Adan pada Maya. Dave hanya takut kalau ibunya dan Felicia tahu mengenai keberadaan Jeslyn di rumah sakit. Dia takut kalau mereka berdua akan mencari masalah lagi dengan Jeslyn.
Mengingat Felicia dan ibunya marah besar karena semenjak Felicia hamil, dia tidak pernah sekalipun memberikan perhatian apalagi menemani Felicia. Menurut informasi dari Adnan, ibunya dan Felicia juga pernah mencari Jeslyn ke rumah sakit, tetapi saat itu Jeslyn sedang cuti.
“Iyaa, Tuan.”
“Kunci saja pintunya. Jangan membukanya, selain dokter Sarah dan Adnan yang datang.”
“Baik, Tuan.”
Dave mengusap kepala istrinya sebentar lalu berjalan keluar dari ruangan Jeslyn.
Bersambung...
__ADS_1