
“Sayang, kata dokter Sarah kau sudah bisa pulang besok siang.”
Dave menghampiri jeslyn yang sedang duduk sambil memegang ponselnya. Sebelum dia ke ruang istrinya, Dave terlebih dulu menemui dokter yang menangani Jeslyn.
Jeslyn masih diam. Dia tetap fokus pada ponselnya seolah Dave tidak ada di dekatnya. Semenjak dia sadar, hanya sesekali saja berbicara dengan Dave.
“Sayang, kenapa diam saja? Apa kau belum bisa memaafkan aku?” Dave menatap sendu wajah istrinya. Hatinya begitu sakit ketika Jeslyn masih belum mau berbicara dengannya.
Jeslyn mengalihkan pandangannya kepada suaminya. “Dave, aku akan pulang ke apartemenku. Aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi.” Jeslyn menatap suaminya dengan datar.
Dave menghela napas halus. “Baiklah, kalau memang itu maumu. Aku tidak masalah tinggal di mana saja, asalkan bersamamu.”
Mau tidak mau Dave harus mengalah pada Jeslyn. Sebenarnya dia sudah menyiapkan rumah yang lebih besar dan mewah untuk mereka tinggali. Rumah itu adalah rumah yang sengaja dia siapkan untuk mereka tinggali ketika dia resmi bercerai dengan Felicia. Dave sengaja tidak mengatakannya karena ingin memberi kejutan pada Jeslyn.
“Kau tidak perlu tinggal bersamaku Dave. Aku bisa tinggal sendiri,” ucap Jeslyn dengan wajah tenang.
“Aku akan tinggal bersamamu. Kau adalah istriku. Mana mungkin kita tinggal terpisah.”
Dave menampilkan senyum palsunya. Dia berusaha untuk menyembuyikan rasa sakit di hatinya dengan senyuman ketika melihat sikap dingin istrinya.
“Pulanglah, aku lelah. Aku ingin istrirahat.”
Jeslyn tidak ingin berbicara lebih lama lagi dengan Dave. Setiap melihat wajah Dave, dia selalu teringat dengan bayi yang belum sempat dilahirkan olehnya.
“Aku akan menemanimu di sini. Aku janji tidak akan mengganggumu.” Dave menarik selimut ketika Jeslyn sudah berbaring di tempat tidur.
“Tidurlah sayang,” ucap Dave lembut sambil mengecup kening istrinya. “Aku akan duduk di sofa. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Dave berjalan menuju sofa.
Semenjak Jeslyn masuk rumah sakit. Dia tidak pernah tidur dengan tenang. Setiap malam dia akan menunggu di depan kamar Jeslyn untuk menjaganya. Dia sengaja tidak mau menunggu di dalam kamar istrinya karena takut Jeslyn bertambah marah dengannya.
Dave duduk bersandar di sofa, setelah itu dia mencoba memejamkan matanya. Tidak lama setelah dia memejamkan matanya, Dave langsung tertidur dengan lelap. Sudah beberapa hari ini dia hanya tidur beberapa jam saja.
Jeslyn bangun dari tidur setelah tidak mendengar pergerakan dari Dave. Dia turun dari tempat tidur sambil memegang tiang penyangga yang terhubung dengan selang infusnya. Denga langkah pelan, dia menghampiri Dave. Air matanya mengalir ketika sudah berada di samping suaminya.
__ADS_1
*****
Jeslyn melangkah turun dari tempat tidur ketika baru saja bangun dari membuka matanya. “Kenapa tidak membangunkan aku sayang?” Dave menghampiri Jeslyn yang tampak kesulitan saat akan berjalan sambil memegang tiang peyangga infusnya.
“Aku bisa sendiri Dave,” ucap Jeslyn ketika Dave sedang membantunya berjalan.
Dave sama sekali tidak menghiraukan ucapan Jeslyn. Dia terus saja menuntunnya sampai di depan kamar mandi. “Apa kau bisa sendiri?” tanya Dave ketika Jeslyn sudah membuka pintu kamar mandi.
Jeslyn hanya mengangguk. “Aku akan menunggu di sini,” ucap Dave lagi sebelum Jeslyn menutup pintunya. Dave baru saja bangun dari tidurnya ketika Jeslyn baru menginjakkan kakinya di lantai.
Semalam Dave tidur di sofa, padahal di kamar Jeslyn ada tempat tidur single yang tidak jauh dari ranjang pasien, yang diperuntukkan untuk keluarga pasien yang menginap.
Dave menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka. Dia kemudian membantu Jeslyn untuk membawakan tiang penyangganya. Jeslyn tampak hanya diam saja sambil terus berjala menujur ranjang pasien.
“Aku akan mengurus kepulanganmu. Kau tunggu di sini,” ucap Dave ketika Jeslyn duduk di tempat tidurnya.
Sebelum Dave pergi, dia bertanya pada Jeslyn. “Kau mau sarapan apa sayang? Aku akan membelikannya untukmu.”
“Tidak perlu. Aku akan meminta Dion untuk membelikanku.”
“Tidak perlu merepotkan orang lain. Aku adalah suamimu. Sudah sepantasnya aku yang mengurus segala kebutuhanmu.” Sekuat tenaga Dave menekan rasa marah dan cemburunya.
“Tapi setiap aku membutuhkan seseorang, hanya dia yang ada di sisiku.” Jeslyn sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir Dave.
Dave memejamkan mata sembari menarik napas dalam lalu menghembuskannya. “Maafkan aku. Kedepannya aku akan berusaha semampuku untuk lebih memperhatikanmu. Aku pergi dulu. Aku akan membelikanmu sarapan sekalian.” Dave pergi tanpa menunggu jawaban dari Jeslyn.
Setelah kepergian Dave tidak lama kemudian dokter Sarah dan Dion masuk ke ruangan Jeslyn.
“Bagaimana keadaanmu, Jes?” Dokter Sarah berdiri di samping Jeslyn bersama dengan Dion.
Jeslyn tersenyum tipis. “Sudah lebih baik. Aku akan istrirahat beberapa hari setelah itu akan kembali bekerja.”
“Jangan paksakan dirimu. Kau harus benar-benar pulih sebelum memutuskan untuk bekerja.”
__ADS_1
Dion merasa kalau Jeslyn terlalu cepat untuk mulai bekerja. Dia hanya khawatir karena Jeslyn masih sering terlihat melamun jika dia sedang sendiri.
“Tubuhku sudah sehat Dion. Aku harus menyibukkan diriku untuk mengalihkan pikiranku.” Terkadang Jeslyn masih teringat dengan janin yang belum sempat dia lahirkan. Dia selalu menangis jika teringat hal itu.
“Mungkin ada baiknya kalau dia bekerja Dion, agar dia tidak terlalu larut dalam kesedihan.”
Dion memandang Jeslyn tanpa berkata apapun. “Kemarikan tanganmu.” Sarah ingin melepaskan selang infus dari tangan Jeslyn.
“Aku rasa, aku tidak perlu meresepkan obat apapun padaku. Kau pasti juga tahu obat apa yang kau butuhkan,” ucap Sarah ketika dia sudah selesai melepaskan selang infus sahabatnya.
Tubuh Jeslyn sudah hampir pulih. Hanya ada beberapa luka memar dan luka gores di tubuh dan di wajahnya akibat dia terjatuh dari tangga. Semua hasil tesnya tidak menunjukkan hal serius. Untung saja ketika terjatuh dari tangga kepala tidak terbentur keras.
Siang ini, Jeslyn sudah diperbolehkan pulang, sementara Felicia harus menunggu beberapa hari lagi. Setelah Dave membuat laporan ke polisi, beberapa hari kemudian pihak ke polisian datang untuk menjemput Felicia, karena kondisi Felicia yang tidak memungkinkan. Sehingga terpaksa mereka menunggu Felicia sampai pulih.
Ibu Dave juga tidak pernah lagi datang menemui Felicia. ibu Dave sudah diijinkan pualng oleh dokter Seno ketika kondisi jantungnya sudah baik-baik saja. Ibu Dave juga tidak pernah sekalipun datang menjenguk Jeslyn. Hanya sekali saja, dia pernah menanyakan keadaan menantunya pada suaminya.
“Iyaa, aku bisa mengobati lukaku sendiri. Apakah benar kalau rahim Felicia sudah diangkat?”
Jeslyn seketika teringat dengan mantan istri suaminya. Berita tentang perceraiannya dengan Dave menjadi topik utama. Tidak ada yang tahu alasan dibalik perceraian mereka. Banyak media yang berusaha untuk mencari tahu tetapi tidak mendapatkan informasi apapun. Dave sengaja tidak membeberkan pada media alasan perceraian mereka.
"Iyaa benar. Mungkin hukuman baginya karena sudah mencalakaimu," ucap dokter Sarah dengan wajah puas.
"Tidak perlu memikirkan orang lain. Urus saja dirimu," ucap Dion. Dari awal Dion memang sudah tidak menyukai Felicia dan ibu Dave.
"Aku hanya penasaran Dion."
“Benar kata Dion, lebih baik kau fokus pada kesehatanmu sendiri." Sama halnya dengan Dion. Dokter Sarah pun tidak menyukai Felicia. "Aku pergi dulu. Aku harus bekerja lagi.”
“Iyaa, terima kasih, Sarah.”
Dokter Sarah mengangguk kemudian berjalan meninggalkan ruangan Jeslyn.
“Jadi, apa kau sungguh ingin bercerai dengan Dave?” Dion duduk di kursi samping Jeslyn.
__ADS_1
Bersambung...