
"Aku tidak meneriman permintaan maafmu. Aku tahu kau terpaksa melakukannya karena paksaan dari papa. Kau bisa datang lagi menemuiku jika kau sungguh sudah menyadari kesalahanmu. Dan, untuk kesalahanmu pada Jeslyn, kau harus menyampaikan langsung padanya. Bukan padaku, karena orang yang paling sering kau sakiti adalah dia."
Dave sengaja tidak langsung memaafkan Felicia dengan mudah untuk memberikan efek jera padanya.
Felicia sekuat tenaga menahan emosinya saat ini. "Davee..Aku.."
Seketika ucapan Felicia terhenti ketika pintu ruangan Jeslyn terbuka lalu menampilkan sosok wanita yang sangat dia benci. Yaa..itu adalah Jeslyn yang sedang duduk di kursi roda yang sedang didorong oleh dokter muda dan tampan yang dikenali Felicia sebagai teman Jeslyn.
Tidak hanya Felicia, Dave dan ayah Felicia seketika menoleh ke arah dua orang yang sedang masuk ke ruangan. Sejenak tatapan Dave berhenti ketika melihat Dion yang mengantar Jeslyn dengan wajah datar.
Ketika Dion baru saja membuka pintu, matanya sudah menangkap sosok wanita yang tidak dia sukai juga. Wanita yang selama ini selalu mengganggu wanita yang dia cintai.
Detik kemudian dia langsung menghampiri Jeslyn. "Sayaang, kenapa kau tidak menghubungi jika kau sudah selesai? Aku bisa datang untuk menjemputmu. Jangan merepotkan orang lain terus-menerus." Dave mengambil alih tugas Dion untuk mendorong istrinya.
"Cukup sampai di sini saja kau mengantarnya, selanjutnya biarkan aku yang mengurus istriku." Dave sengaja memberikan penekanan pada akhir kalimatnya. Dia melakukannya agar Dion menyadari posisinya.
Dion tampak hanya diam, membiarkan Dave mendorong Jeslyn sampai ke tempat tidur. "Dave, aku yang meminta Dion untuk mengantarku." Jeslyn hanya ingin cepat mengakhiri pembicaraan sebelum Dave menjurus pada hal lain.
Felicia tampak mamandang ke arah Dave yang sedang mengangkat tubuh Jeslyn ke tempat tidur lalu merebahkannya dengan hati-hati. "Jes..Beritahu aku jika kau merasakan nyeri terus-menerus pada kakimu atau jika kau merasakan sesuatu yang aneh pada kakimu."
Jeslyn baru saja melakukan pemasangan gips pada kakinya. "Iyaaa," ucap Jeslyn sambil mengangguk. "Terima kasih Dokter Dion karena sudah mengantar istriku ke sini," ucap Dave dengan senyum palsunya.
Dion tampak hanya mengangguk pelan. Dia tahu kalau Dave saat ini sedang menahan cemburunya. Ada maksud tersembunyi dari kata-kata Dave. Dia seolah memperingatkan dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan istrinya. Dia sengaja memperlihatkan kalau Jeslyn adalah miliknya.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Ingat hubungi aku jika ada apa-apa," ucap Dion sebelum dia keluar dari ruangan Jeslyn.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan istriku. Ada aku yang selalu menjaganya. Aku akan menghubungi dokter Roby atau kau jika memang itu sangat diperlukan." Dave sengaja memberikan dinding pembatas antara istrinya dan Dion agar Dion tidak melewati batas yang sudah ditentukan olehnya.
__ADS_1
"Istirahatlah Jes. Aku pergi dulu." Dion berjalan keluar. Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Dave yang terdengar seperti peringatan baginya.
Dave menatap tajam pada punggung Dion sebelum dia menghilang dari balik pintu. Dia kemudian beralih menatap Jeslyn. "Sayang, setelah ini kau harus makan siang."
"Dave, aku ingin istirahat." Jeslyn sengaja mengatakan hal itu sesudah melirik tajam pada Felicia. Dia sengaja memperlihatkan ketidaknyamanannya, agar Felicia menyadari kalau dia tidak di sambut baik olehnya. Dia masih merasa marah dan kesal pada Felicia karena perbuatannya.
"Paa, istriku lelah. Aku rasa cukup untuk hari ini." Dave tidak ingin membuat istriku tidak nyaman dengan kedua tamu yang tidak undang tersebut.
Ayah Felicia langsung menghampiri ranjang Jeslyn. "Dave, kami tidak akan lama. Papa hanya ingin berbicara dengan Jeslyn sebentar," ucap ayah Felica dengan wajah cemas.
Dave beralih menatap istrinya. "Sayang, ini adalah ayah Felicia. Dia datang sengaja ingin bertemu denganmu. Apa kau ingin memberikan waktu sebentar padanya untuk menyampaikan maksud kedatangannya kemari?"
Jeslyn yang sedang duduk sambil bersandar dengan bantal, seketika menoleh pada ayah Felicia. Tentu saja Jeslyn tahu itu adalah ayah Felicia, karena dia pernah melihatnya saat pesta pernikahan Dave dan Felicia waktu itu.
"Jeslyn.. Om ingin berbicara sebentar padamu. Tidak akan lama." Tanpa menunggu jawaban dari Jeslyn. Ayah Felcia langsung bicara sebelum Dave dan Jeslyn membuka suara.
Jeslyn mengangguk tanda setuju memberikan waktu sebentar pada ayah Felicia. Ayah Felicia kemudian duduk kursi samping Jeslyn, sementara Dave duduk di tepi tempat tidur Jeslyn sambil merangkul bahu istrinya. Tentu saja dibarengi dengan tatapan benci dari Felicia.
"Maaf Om, untuk saat ini aku belum bisa memaafkan Felicia. Melihatnya saja sudah membuatku marah."
"Iyaa, om paham maksudmu. Tidak masalah. Om hanya ingin meminta maaf yang tulus atas perbuatan anak om yang sudah menyakiti dan membahayakanmu.
Jeslyn mengangguk. Ayah Felicia langsung menoleh pada anaknya yang tampak sedari tadi hanya menatap ke arah mereka bertiga tanpa ada niat untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Apa kau lupa tujuanmu datang kemari?" seru ayah Felicia dengan sorot mata tajam.
Felicia langsung bangun dari duduknya lalu berdiri di samping ayahnya. Jeslyn mengalihkan pandangannya ke depan. Dia sungguh tidak ingin melihat Felicia kali ini.
__ADS_1
"Jangan membuang waktu istriku Fel," hardik Dave dengan wajah kesal ketika melihat Felicia hanya diam saja. "Maaf." Kata itu terlontar dari mulut Felicia begitu saja, ketika mendapat tatapan tajam dari Dave dan ayahnya. Sementara Jeslyn hanya diam dan terkesan acuh.
Felicia akhirnya memberanikan diri mendekati Jeslyn. "Jeslyn," panggil Felicia seraya menelan ludahnya. Dia merasa tidwk sanggup untuk meminta maaf pada Jeslyn.
Jeslyn masih diam, sementara Dave tampak mulai tidak sabar. "Lebih baik kau pulang dan jangan menemui istriku lagi, jika kau hanya diam saja."
"Jeslyn. Aku minta maaf atas apa yang sudah pernah aku lakukan padamu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Felicia berusaha keras menekan rasa malu. Dia terpaksa melakukan hal itu, agar dia bisa cepat keluar dari ruangan Jeslyn. Dia sebenarnya sudah tidak suka, ketika melihat perhatian Dave pada Jeslyn ketika Jeslyn baru saja memasuki ruangannya tadi.
Tanpa menoleh Jeslyn berkata, "Jika kau sudah selesai, segeralah pergi. Aku ingin istirahat." Tampak sekali kalau Jeslyn tidak menyukai keberadaannya. Dalam hati Felicia mengutuk sikap Jeslyn yang terkesan angkuh.
Melihat Jeslyn merasa tidak suka dengan keberadaan Felicia membuat Dave menoleh pada mantan istrinya. "Kau boleh pergi."
Ayah Felicia langsung menyela. "Baiklah. Kami akan pergi. Terima kasih karena sudah menerima kedatangan kami," ucap ayah Felicia pelan. "Sekali lagi kami minta maaf Jeslyn. Kami permisi dulu." Ayah Dave langsung menarik tangan anaknya untuk keluar dari ruangan Jeslyn.
Ayah Felicia tau, kalau kedatangan mereka sudah mengganggu ketenagan Jeslyn. Setelah kepergian Felicia dan ayahnya, Dave lalu menyuruh istrinya untuk berbaring.
****
Dave menghampiri istrinya yang baru saja membuka mata. Jeslyn baru saja menggeliat. "Selamat pagi sayang?" Dave mengecup kening Jeslyn seraya duduk di tepi tempat tidur Jeslyn.
Jeslyn masih merasa canggung dengan Dave. "Bangunlah. Setelah ini akan ada perawat yang akan membantu membersihkan tubuhmu."
"Aku akan meminta Maya saja untuk membantuku Dave." Jeslyn merasa malu jika orang lain yang membantunya membersihkan tubuhnya.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Maya dulu." Dave bangun dari duduknya lalu meraih ponselnya yang ada di meja.
__ADS_1
Setelah menghubungi Maya, Dave meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian rumah sakit yang baru. Semalaman Dave tampak terjaga karena beberapa kali Jeslyn terdengar mengingau. Karena merasa khawatir Dave akhirnya memutuskan untuk tidak tidur.
Bersambung...