Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Ricky


__ADS_3

Dave membuka pintu mobil belakang dengan pelan, setelah itu meraih tubuh Alea yang tampak sudah tertidur di pangkuan Jeslyn. "Hati-hati Dave," ucap Jeslyn sambil memegang kepala Alea agar tidak terbentur.


"Iyaa sayang." Jeslyn menutup pintu mobil yang tadi dibuka oleh Dave lalu ikut turun dari mobil.


"Ayo sayang," ajak Dave ketika dia berhasil membenarkan posisi Alea yang berada dalam gendongannya.


Jeslyn mengangguk dan mengukiti langkah Dave dari belakang memasuki rumah mereka. Mereka menaiki lift menuju lantai dua. Ketika keluar lift, Jeslyn berjalan mendahului Dave untuk membuka pintu kamar mereka.


"Terima kasih sayang," ucap Dave ketika istrinya sudah membuka pintu dengan lebar.


"Letakkan saja di di sini," tunjuk Jeslyn.


Dave meletakkan tubuh Alea dengan hati-hati supaya dia tidak terbangun. Jeslyn meraih guling dan meletakkanya di pinggir tempat tidur sebagai pembatas agar Alea tidak terjatuh dari tempat tidut. Kenapa Jeslyn meminta Dave meletakkan Alea di pinggir bukannya di tengah. Itu karena sudah menjadi kebiasaan Jeslyn selama hamil ketika tidur harus memeluk suaminya.


"Sayang, aku akan mandi dulu," ucap Dave sebelum dia berjalan ke kamar mandi.


"Iyaa." Jeslyn memasuki walk in closet untuk mempersiapkan pakaian untuk suaminya dan dirinya.


Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Jeslyn duduk di tepi tempat tidur untuk memeriksa isi ponselnya. Jeslyn menoleh pada ponsel Dave ketika mendengar ponsel suaminya berbunyi.


Jeslyn berjalan mendekati kamar mandi ketika ponsel Dave tidak henti berbunyi. Dia takut kalau Alea akan terbangun karena ponselya suaminya terus saja berbunyi. Jeslyn mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan.


"Dave ada yang menelponmu, mungkin saja penting." Tidak ada jawaban dari dalam. "Dave ada yang menelpon." Jeslyn sedikit meninggikan suaranya agar Dave bisa mendengarnya.


"Angkat saja, Sayang." Terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.


"Baiklah."


Jeslyn meraih ponsel Dave yang ada di atas nakas yang diletakkan Dave setelah membaringkan tubuh Alea di tempat tidur. Sebelum mengangkat telponnya, Jeslyn melihat dulu nama yang tertera di layar ponsel suaminya. Dia sedikit ragu ketika ingin mengangkat telponnya.


"Halo," jawab Jeslyn.


Obrolan pun terjadi antara Jeslyn dan sang penelpon. Jeslyn mengakhiri dengan cepat karena takut mengganggu tidur Alea.


"Sayang, tolong ambilkan handuk dan pakaian untukku," teriak Dave dari dalam kamar mandi.


Dia memang lupa membawa handuk karena langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Tunggu sebentar." Jeslyn meletakkan ponsel Dave lalu meraih handuk bersih dan pakaian untuk suaminya.


"Dave, ini handuk dan pakaiannya," ucap Jeslyn sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Jeslyn menjulurkan tangan kanannya yang sudah memegang handuk dan pakaian suaminya saat pintu kamar mandi dibuka. "Ini, Dave."


Jeslyn terkejut saat tangannya ikut ditarik oleh Dave sehingga tubuhnya juga ikut masuk ke dalam kamar mandi. Pintu pun kembali tertutup rapat. Jeslyn tertahan di dalam dan sepertinya dia akan keluar bersama dengan Dave nantinya.

__ADS_1


Sunyi, hanya suara gemericik air yang terdengar dari dalam. Lambat laut sayup-sayup terdengar suara dalam kamar mandi. Suara yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan tahu apa sedang mereka lakukan di dalam.


Satu jam berlalu, pintu kamar mandi baru terbuka. Dave terliht sudah mengenakan pakaian lengkap sambil menggendong Jeslyn yang sudah terbungkus handuk ke arah tempat tidur. Dave menurunkan Jeslyn dengan hati-hati.


"Tunggu di sini. Aku akan mengambilkan baju untukmu." Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung mengambil pakaian yang sudah Jeslyn siapkan tadi, "ini sayang." Dave menyodorkan baju di depan istrinya.


"Balik tubuh Dave, aku ingin ganti baju," pinta Jeslyn.


Dave tersenyum penuh arti. "Kenapa kau masih saja malu sayang? Saat di dalam tadi kau sepertinya tidak merasa malu sama sekali," ucap Dave dengan senyum nakalnya. "Lagi pula, apa yang ingin kau sembunyikan dariku? Aku sudah hapal setiap jengkal tubuhmu, Sayang."


Jeslyn melayangkan tatapan tajam ada suaminya "Dave, cepat," pekik Jeslyn dengan wajah memerah.


Dave terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. "Iya, Sayang." Dave akhirnya membalik tubuhnya.


"Apa sudah selesai?" Baru saja Jeslyn memakai dala-mannya, Dave sudah bertanya pada Jeslyn sehingga membuat Jeslyn kesal.


"Davee, jangan balik tubuhmu sebelum aku menyuruhmu," ujar Jeslyn.


Dave hanya menanggapi perkataan istrinya dengan anggukan. "Sudah selesai." Jeslyn berjalan melewati Dave untuk meletakkan handuk basahnya di dalam kamar mandi.


"Siapa yang menelpon tadi, Sayang?" tanya Dave ketika dia sudah berbaring di tempat tidur. Dia sedang malas untuk memeriksa ponselnya sehingga memilih untuk bertanya pada istrinya.


Jeslyn naik ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya ditengah antara Dave dan Alea. "Glen yang menelpon."


Mendengar nama Glen disebut. Dave langsung memiringkan tubuhnya menghadap Jeslyn. "Dia bicara apa? Apa saja yang kalian obrolkan? Apa dia menggodamu? Berapa lama kalian berbicara?" cecar Dave dengan wajah penasran.


"Kapan?"


"Dua hari lagi," jawab Jeslyn cepat


"Bukankah dia bilang ingin pulang lusa?" tanya Dave dengan wajah heran. Sebenarnya Glen mengajak mereka bertemu besok, tapi tidak jadi.


"Dia tidak jadi pulang, dia bilang akan menunggu acara pernikahan Stella selesai," jelas Jeslyn.


Karena Dave, Stella dan Glen saling mengenal tentu saja Stella juga mengundang Glen ke acara pernikahannya.


"Itu hanya alasannya saja untuk bertemu denganmu," ucap Dave dengan wajah curiga.


Jeslyn terkekeh. "Kau masih cemburu dengan Glen? Bukan dengan Dion lagi?" goda Jeslyn dengan senyum tertahan.


Dave memencet hidung istrinya. "Bukan hanya dengan mereka saja, sekarang bertambah satu orang lagi yaitu Ricky," ucap Dave dengan wajah tidak suka. "Kenapa kau tidak pernah menceritakan padaku mengenai Ricky?"


Jeslyn menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan suaminya. Jeslyn langsung merutuki Dion di dalam hatinya, karena ulah Diob yang membongkar masalah lamaran Ricky, Dave jadi lebih waspada terhadapnya.


"Itu sudah lama berlalu Dave. Aku tidak mau membahas masalah yang sudah lama terjadi."

__ADS_1


"Tapi setidaknya kau memberitahuku sayang agar aku tahu."


Supaya kau mewaspadainya, kan? Dion yang hanya temanku saja selalu bisa menjadi bahan pertengkaran kita, apalagi yang sudah jelas-jelas melamarku. Aku rasa mungkin kita akan sungguh bercerai saat itu kalau kau tahu mengenai Ricky.


"Dave, kejadian saat Ricky melamarku adalah saat hubungan kita berdua tidak baik. Saat itu juga kau terlihat tidak peduli padaku. Aku tidak mau menambah masalah jika kau mengetahuinya. Saat dia melamarku juga aku langsung menolaknya dan mengatakan kalau aku sudah menikah. Aku pikir masalah akan selesai jika aku sudah menolak lamarannya," jelas Jeslyn panjang lebar.


"Apa dia masih menghubungi atau menemuimu setelah kau menolak lamarannya?" Dave terlihat sangat serius saat bertanya pada Jeslyn.


"Iyaa dulu. Dia tidak percaya kalau aku sudah menikah. Dia sering datang ke rumah sakit untuk menumuiku. Bahkan Dion dan Ricky sempat bersitegang. Dion selalu mengawasiku saat Ricky datang menemuiku."


"Setelah hubungan kita membaik apa kau pernah bertemu dengannya?"


Jeslyn terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan suaminya. "Katakan sejujurnya, Sayang. Aku tidak suka kau berbohong."


"Iya pernah. Dia menemuiku dan menanyakan apakah benar aku menikah denganmu."


Saat itu, Jeslyn merasa heran dari mana Ricky tahu kalau dia menikah dengan Dave, padahal, dirinya tidak pernah mengatakan pada Ricky siapa nama suaminya.


"Jadi dia menyelidikimu?" tebak Dave.


Jeslyn mengangguk. "Iyaa, dia ingin memastikan ucapanku benar atau tidak."


 


Dave menyunggingkan sudut bibirnya ke atas. "Pantas saja setiap aku bertemu dengannya, dia terlihat tidak suka padaku."


Dave baru menyadari hal itu sekarang. Dulu Dave sempat merasa ada yang aneh dari tatapan Ricky padanya. Meskipun mereka tidak saling mengenal tetapi mereka sering bertemu di setiap acara-acara besar dan perkumpulan para pengusaha.


"Kapan dia melamarmu?" tanya Dave penasaran.


"Lima bulan sebelum kau menikah dengan Felicia," jawab Jeslyn.


"Jadi setelah dia melamarmu, dia masih terus mendekatimu?"


"Iyaa," jawab Jeslyn singkat.


Dave terlihat sedang berpikir. "Apa itu alasanmu tiba-tiba ingin bercerai denganku dulu? Apakah Ricky orang yang kau maksud yang bisa mencintaimu dengan tulus?" tebak Dave dengan wajah serius.


Dave seketika teringat saat Jeslyn meminta cerai padanya. Jeslyn yang dari dulu selalu menolak untuk bercerai dengannya tiba-tiba ingin bercerai dengannya, tentu saja membuat Dave heran, apalagi ketika mendengar Jeslyn mengatakan kalau dirinya ingin hidup dengan pria yang mencintainya juga. Tentu saja hal itu membuat Dave meradang dan marah.


Jeslyn menggigit bibir bawahnya. "Bukan, waktu itu aku pikir hubungan kita memang tidak bisa dipertahankan lagi. Kau tidak pernah mencintaiku sedikit pun. Aku tidak bisa lagi mengharapkan cinta darimu. Aku memang berpikir untuk merelakanmu dan memilih untuk memulai hidup yang baru, tapi bukan Ricky alasan aku meminta cerai darimu. Hanya waktunya saja yang bertepatan saat dia melamarku," terang Jeslyn.


"Jadi dengan kata lain, jika saat itu aku tidak menahanmu dan menolak untuk bercerai denganmu, mungkin saat ini kau sudah menikah dengan Ricky dan hidup bahagia dengannya? Seperti kata Dion, mungkin saja kau sudah menjadi nyonya Ricky sekarang," ucap Dave penuh penekanan.


Jeslyn langsung memeluk tubuh suaminya karena tahu kalau saat ini suasana hati Dave sedang buruk. "Dave, kalau aku mencintainya, aku pasti akan langsung menerima lamarannya saat itu juga, tapi tidak kelakukan karena aku hanya mencintaimu," terang Jeslyn.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau meminta Dion untuk merahasiakannya dariku?"


Bersambung...


__ADS_2