Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Pewaris Tjendra Group


__ADS_3

“Selamat pagi, Tuan Dave,” sapa Sarah ketika dia baru saja masuk ruangan Jeslyn. Dia sempat terpaku sesaat ketika melihat Dave membelai wajah Jeslyn sambil mencium tangannya.


Tanda tanya besar ada di benaknya. Sarah berjalan mendekati ranjang pasien Jeslyn. “Bagaimana keadaanya? Kenapa dia belum sadar juga?” tanya Dave. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan istri dan anak yang ada di dalam kandungan Jeslyn.


“Tubuhnya terlalu lemah. Jeslyn harus di rawat untuk sementara waktu di sini. Sepertinya asupan yang masuk ke tubuhnya hanya sedikit,” jelas dokter Sarah.


Dia sengaja tidak memberitahukan perihal kandungan Jeslyn karena permintaan Jeslyn untuk merahasiakan tentang kehamilannya.


“Maaf Tuan Dave, apakah anda tahu di mana suami Jeslyn?” Sarah berpikir mungkin saja Dave tahu tentang keberadaan suami Jeslyn.


Dave mengangkat kepalanya. “Ada apa?”


“Ada yang ingin saya sampaikan pada suaminya.”


“Katakan saja padaku. Dia istriku.”


“Haaahhh?” Sarah sangat terkejut mendengar perkataan Dave. Pasalnya yang dia tahu, Felicia adalah istri Dave.


“Jeslyn adalah istri pertamaku. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan kami,” lanjut Dave lagi seolah tahu apa yang ada di pikiran Sarah.


Dave memutuskan untuk memberitahu Sarah mengenai status pernikahannya agar memudahkannya untuk mendapatkan infomasi tentang kehamilan Jeslyn kedepannya.


“Maaf Tuan Dave, saya tidak bermaksud lancang.” Sarah akhirnya tahu alasan kenapa Dave terlihat sangat mencemaskan Jeslyn.


“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” Dave mulai tidak sabar.


“Apakah Tuan Dave tahu kalau Jeslyn saat ini sedang hamil?” Sarah sengaja bertanya hal itu karena dia menebak kalau Jeslyn juga menyembunyikan kehamilannya pada Dave.


“Jadi Jelsyn benar-benar sedang hamil?” Dave hanya ingin memastikan dugaannya benar. Dia hanya butuh pengakuan langsung dari dokter yang menangani Jeslyn.


“Iyaa Tuan, ssia kehamilannya sudah 6 minggu,” jelas Sarah


“Lalu, bagaimana kondisi kandungannya?”


“Untung saja kondisi kandungannya baik-baik saja, tetapi Jeslyn harus di rawat di rumah sakit sampai kondisinya membaik.”


“Kenapa dia bisa sampai pingsan?” Dave sangat khawatir dengan keadaan Jeslyn karena dia sudah pingsan 2 kali dalam waktu yang berdekatan.


Secara tidak sadar Sarah sedang membandingkan perlakuan Dave ketika mengetahui Jeslyn dan Felicia sedang hamil. Dia merasa kalau Dave lebih mengkhawatirkan Jeslyn dari pada Felicia.


“Tekanan darahnya sangat rendah. Belum lagi tidak ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga membuat tubuhnya lemah. Saat ini, Jeslyn juga sedang mengalami gejala Hipermesis Gravidarium.”


“Apakah itu berbahaya untuk kandungannya?”


“Tentu saja kalau dibiarkan saja akan berakibat fatal terutama untuk bayinya. Oleh karena itu harus ditangani dengan tepat. Jeslyn harus selalu dipantau. Asupannya harus benar-benar dijaga mulai saat ini. Dia juga tidak boleh setres.”


“Sampai kapan dia akan mengalami gejala tersebut?” Dave merasa sangat bersalah melihat Jeslyn harus menderita lagi akibat mengandung anaknya.


“Biasanya setelah melewati trimester pertama mual dan muntahnya akan berkurang. Setiap ibu hamil berbeda-beda.”

__ADS_1


“Apakah berbahaya kalau melakukan hubungan suami istri di saat hamil muda?”


Dave baru teringat kerjadian saat dia menyentuh istrinya. Saat itu, Dave tidak tahu sama sekali kalau Jeslyn sedang hamil.


“Sebenarnya tidak kalau dilakukan dengan hati-hati dan durasi yang pendek. Selama ibu hamil merasa nyaman, itu tidak masalah, tetapi lebih baik dikurangi dari biasanya.”


Dave langsung bernapas lega. Dia takut kalau itu akan membahayakan janin yang ada kandungan Jeslyn.


“Baiklah aku mengerti. Rahasiakan dulu dari siapapun tentang kehamilannya, termasuk dari Felicia dan ibuku.”


“Baik Tuan, kalau begitu saya pemisi.” Sarah berjalan keluar dari ruangan Jeslyn.


Dave mengusap lembut pipi istrinya setelah kepergian Sarah. “Bangun sayang. Aku sangat senang karena kau sedang hamil. Kau hamil anak kita Jeslyn. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi.”


Dave langung mengecup kening istrinya. “Terima kasih sayang karena kau sudah mengandung anakku.”


Dave kembali duduk. “Aku minta maaf karena terlambat mengetahui tentang kehamilanmu. Kau pasti sangat menderita karena harus mengalami semua ini.”


Dave merasa sangat bersalah sekaligus merasa senang dengan kehamilan Jeslyn.


Dave kemudian mencium perut rata Jelsyn. “Sayang, terima kasih karena kau sudah hadir dalam perut mama. Papa janji tidak akan pernah menyia-nyiakan kalian. Papa akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian.”


Dave sangat bersyukur dengan kehadiran janin di kandungan Jeslyn. Secara tidak langsung dia sudah menyelamatkan pernikahannya dengan Jeslyn.


Dave lalu mengelus perut Jeslyn. “Jangan nakal ya, sayang? Jangan menyusahkan mama,” ucap dalam lembut. Dia berusaha untuk berdialog dengan bayi yang ada dikandungan Jeslyn.


Perlahan Jeslyn mulai membuka matanya ketika merasa ada sentuhan di perutnya. “Kau sudah sadar?” Dave langsung menarik kursinya mendekat ke arah Jeslyn.


Jeslyn memegang tangan suaminya. "Dave, aku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain dia. Aku mohon Dave," ucap Jeslyn dengan air matanya yang sudah mengalir di pipinya. Jeslyn berpikir kalau dokter pasti sudah memberitahu Dave soal kehamilannya.


Jeslyn tahu kalau Dave memang berniat merebut anaknya, dia tidak akan bisa menghentikannya. Walaupun dia kabur ke tempat yang jauh. Dave pasti bisa menemukannya dan tidak akan pernah bisa lolos dari Dave.


"Kalau kau tidak ingin berpisah dengan anak kita. Mulai sekarang kau harus menuruti semua perkataanku. kalau tidak, jangan harap kau bisa bertemu dengannya setelah dia lahir."


Dave sebenarnya merasa tidak tega melihat Jeslyn menangis. Dave terpaksa bersikap keras pada Jeslyn agar dia menurut.


“Dave, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku tidak mau berpisah dengan anakku.”


Jeslyn merasa bersalah karena sudah menyembuyikan kehamilannya dari Dave. Dia takut kalau Dave benar-benar akan menjauhkannya dari anak mereka.


Dave menatap Jeslyn dengan wajah serius. "Semua tergantung bagaimana sikapmu. Kau harus menurut mulai sekarang. Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku apalagi sampai pergi dariku. Aku sudah meminta Jody untuk membatalkan gugatanku.”


Saat sedang menunggu Jeslyn sadar. Dave sempat menghubungi pengacaranya untuk membatalkan perceraiannya.


Jeslyn menitikkan air mata lagi. “Aku akan langsung menceraikan Felicia. Setelah aku memiliki bukti yang kuat. Kau akan menjadi istriku satu-satunya nanti."


Jeslyn sengaja tidak memberitahu Dave perihal dia melihat Felicia bersama dengan laki-laki lain. Dia tidak mau menuduh Felicia tanpa bukti.


Jeslyn hanya diam. "Lalu bagaimana dengan anak yang ada di kandungan Felicia?" Pikiran Jeslyn langsung tertuju pada anak yang ada di perut Felicia.

__ADS_1


“Aku tidak peduli dengannya. Dia bukan anakku. Aku akan memastikan hanya anak kita yang akan menyandang nama belakang keluargaku. Anak kita yang akan menjadi pewaris yang sah menggantikan aku nanti.”


Dave tidak bisa lagi menunggu anak Felicia sampai lahir. Dave tidak mau kalau sampai anak Felicia menyandang gelar yang sama dengan anak kandungnya.


“Apa anak kita baik-baik saja?” Jeslyn merasa khawatir dengan janin yang ada di dalam kandungannya karena dia terus saja muntah sehabis makan.


"Dia baik-baik saja. Kau harus dirawat beberapa hari di sini. Kau tidak boleh bekerja dulu sampai kau benar-benar sehat. Aku akan menyuruh Adnan untuk mengurus cutimu selama satu bulan dulu. Jika keadaanmu masih belum membaik, aku akan menyuruh Adnan memperpanjangnya."


"Tapi Dave...." Ucapan Jeslyn terhenti ketika melihat tatapan dari Dave.


"Kau jangan keras kepala Jeslyn. Kau bisa membahayakan anak kita kalau kau tetap memaksa bekerja dengan kondisi seperti ini." Jeslyn memang selalu mengutamakan pekerjaannya dari pada dirinya sendiri.


"Turuti perkataanku selagi aku memintanya dengan baik-baik." Di dalam hati Dave terus meminta maaf pada Jeslyn karena sudah bersikap keras padanya.


"Iyaaa Dave," ucap Jeslyn pelan sambil menunduk.


“Kau mau makan apa? Kau belum makan apapun dari pagi setelah kau memuntahkan semua isi perutmu.” Dave akhirnya melunak. Dia benar-benar tidak tega bersikap keras pada Jeslyn.


“Aku tidak lapar, Dave.”


Jeslyn hanya ingin ditemani Dave, tetapi dia malu untuk mengatakannya. Semenjak hamil dia merasa tidak bisa jauh dari suaminya. Dia merasa selalu merindukan suaminya dan ingin selalu berada di dekatnya


Dave menyelipkan rambut Jeslyn ke belakang telingannya lalu menatap Jeslyn dari dekat. “Kau harus makan dulu sayang. Perutmu belum terisi apa-apa," ucap Dave lembut.


Runtuh juga pertahanan Dave. Dia sudah tidak bisa bersikap keras lagi pada Jeslyn. Dia sudah menahan diri dari tadi untuk tidak bersikap lembut, tapi tidak bisa. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Jeslyn saat ini, tetapi dia urungkan.


Mendengar suara Dave yang melembut, Jeslyn mulai mengeluarkan suaranya. “Aku ingin makan blueberry, buah naga putih dan strawbery.”


Dave tersenyum dalam hati. Dia merasa gemas dengan sikap Jeslyn saat ini. “Kau harus makan nasi dulu.”


Dave berusaha untuk membujuk istrinya. Dave melihat Jeslyn masih lemah dan tidak memiliki tenaga karena belum makan apapun.


“Aku ingin makan risotto dan spaghetti carbonara,” ucap Jeslyn pelan.


“Bukankah kau tidak suka kedua makanan itu?” Kedua makanan itu sebenarnya adalah makanan kesukaan Dave yang tidak disukai oleh Jeslyn.


“Tapi, aku ingin makan itu, Dave,” ucap Jeslyn dengan wajah cemberut.


Dave tertawa kecil melihat tingkah manja Jeslyn. “Baiklah sayang, aku akan meminta Zayn untuk membelikannya untukmu.”


Dave meraih ponselnya yang ada di atas nakas kemudian langsung menghubungi Zayn untuk membelikan pesanan yang diminta oleh istrinya. Dave meletakkan ponselnya kembali setelah memutuskan sambungan telponnya.


“Sepertinya anak papa menyukai hal yang sama dengan papa,” Jeslyn tampak canggung ketika Dave mengelus perutnya sambil berbicara dengan anak di dalam perutnya.


“Kau makan dulu bubur ini ya? Aku takut Zayn akan lama. Dia harus mencari restoran Itali yang sudah buka dan harus membelikanmu buah juga.”


Bubur tersebut adalah makanan yang berasal dari rumah sakit. Dave khawatir Jeslyn akan kelaparan jika menunggu Zayn datang. Apalagi makanan yang dipesan oleh Jeslyn hanya ada di restoran khusus Italia.


“Sedikit saja. Aku bosan makan bubur terus Dave.” Jeslyn terpaksa makan bubur lagi. Dia harus mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum makanan yang dia pesan datang.

__ADS_1


“Iyaa, yang penting perutmu terisi.” Dave menyuapi Jeslyn dengan hati-hati.


Bersambung...


__ADS_2