Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Masakan Dave


__ADS_3

Mereka berdua tampak duduk bersebelahan, setelah Dave menyuruh bi Asri untuk membawakan makanan ke lantai atas. Beberapa menit kemudian bi Asri datang membawa nampan berisi beberapa makanan. “Sayang, kenapa kau tidak makan?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn tampak terdiam setelah semua makanan tersaji.


“Aku ingin makan mie rebus Dave,” ucap Jelsyn sambil menatap Dave dengan wajah penuh harap.


"Kau harus makan makanan yang bergizi sayang. Mie rebus tidak baik untukmu."


"Tapi aku ingin sekali makan mie Dave."


Dave tersenyum pada istrinya. “Baiklah, aku akan meminta bi Asri untuk membuatkan untukmu.”


Dave baru saja akan melangkah tetapi langsung terhenti ketika mendengar ucapan istrinya. “Tapi aku ingin kau yang membuatnya.” Dave langsung menoleh pada istrinya. Dia menampakkan wajah terkejutnya.


“Aku tidak bisa masak sayang. Aku bahkan tidak pernah menyentuh peralatan dapur,” ucap Dave dengan lembut.


“Yaa sudah, aku tidak mau makan.” Jeslyn memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dave menghembuskan napas pelan. “Baiklah, aku akan membuatkan untukmu. Kau tunggu di sini.” Dave melangkah menuju dapur bawah dengan wajah lesu.


Seumur hidupnya, Dave belum pernah sekalipun memasak. “Bi, tolong ajarkan aku memasak mie rebus,” pinta Dave ketika dia sudah sampai di dapur.


Bi Asri tampak terkejut mendengar Dave ingin memasak. “Biarkan saya yang memasak Tuan,” ucap bi Asri mendekati Dave.


Dave menggerakkan tanggannya tanda tidak setuju. “Istriku ingin makan masakanku. Dia akan marah jika tahu bukan aku yang memasak. Siapkan saja bahan-bahannya serta ajari aku cara memasaknya.”


“Baik Tuan.” Bi Asri langsung menuju kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan.


Dari kejauhan Jeslyn tampak sedang memperhatikan gerak-geraik suaminya yang sedang berada di dapur. Dia terkekeh ketika melihat suaminya menggunakan celemek sambil memotong sayuran hijau.


Dave tampak serius mengikuti arahan dari bi Asri, dia mulai mengaduk- aduk mie yang baru saja dia masukkan. Dengan langkah pelan Jeslyn mendekati suaminya yang sedang membelakanginya. Bi Asri yang kebetulan menoleh, langsung diberikan kode oleh Jeslyn agar tidak bersuara. Dengan gerakan tangan Jelsyn menyuruh bi Asri untuk pergi.


Jeslyn memeluk Dave dari belakang sambil berkata, “Kau terlihat tampan saat memasak Dave.”


Dave langsung menoleh ke belakang. “Kau mengangetkanku sayang.”

__ADS_1


“Masukkan cabe yang banyak Dave, aku ingin makan yang pedas,” pinta Jeslyn ketika melihat Dave memasukkan irisan cabe ke dalam panci.


“Kau tidak boleh makan terlalu pedas sayang, nanti perutmu sakit.”


“Baiklah.” Jeslyn menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


Setelah selesai memasak, Dave mengajak Jeslyn kembali ke lantai atas. “Makanlah, awas masih panas.” Dave meletakkan satu mangkuk mie rebus di depan Jeslyn.


Jeslyn mengangguk. “Kau tidak makan?” tanya Jeslyn ketika melihat Dave hanya diam sambil memandanginya.


“Nanti saja. Aku akan memakanmu nanti,” gurau Dave sambil menampilkan senyuman jahilnya.


Jelsyn langsung menghentikan tangannya, ketika dia ingin memasukkan suapan ke dalam mulutnya. “Davee..!” pekik Jeslyn sambil melayangkan tatapan tajam pada suaminya.


Dave terkekeh melihat reaksi istrinya. “Aku bercanda sayang,” ucap Dave, “bagaimana masakanku, apakah enak?” tanya Dave dengan wajah penasaran.


Jeslyn mengangguk cepat. “Iyaa, enak sekali, lain kali aku mau lagi.” Jeslyn terus memasukkan mie ke dalam mulutnya.


“Kau ini dokter, seharusnya tahu kalau mie rebus itu tidak baik untuk tubuhmu.”


“Aku akan meminta bi Asri untuk membuatkan mie tanpa bahan pengwet.” Dave tidak mau kalau Jeslyn terus mengkonsumi mie instan yang tentu saja mengandung banyak pengawet dan bahan-bahan yang tidak baik untuk tubuhnya.


“Terima kasih Dave.”


Dave menaikkan satu alisnya. “Hanya terima kasih? Kau harus memberikan hadiah padaku. Aku bahkan dengan susah payah membuat mie rebus untukmu.”


“Katakan, kau mau apa?”


Dave menyeringai. “Aku mau dirimu sayang,” bisik Dave dengan suara pelan.


Jeslyn langsung menjauhkan tubuhnya dari Dave. “Jangan macam- macam Dave. Kita baru saja melakukannya tadi,” ucap Jeslyn sambil menatap tajam suaminya.


“Kita bisa melakukannya besok sayang. Aku anggap kau berhutang padaku. Aku akan menagihnya besok."

__ADS_1


Dave mengedipkan matanya sebelah dengan senyum jahilnya. Dia tidak kehabisan akal untuk menggoda istrinya. “Aku bencada sayang,” lanjut Dave lagi saat melihat Jeslyn akan membuka suara. Dia tahu kalau Jeslyn akan protes lagi.


“Jangan menggodaku terus," ucap Jeslyn. Save hanya terkekeh. "Aku akan memberikan hadiahnya sekarang, mendekatlah Dave,” pinta Jeslyn dengan suara pelan.


Dave dengan semangat langsung menuruti permintaan istrinya. Jeslyn tampak mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Setelah merasa aman, Jelsyn lalu meraih wajah Dave dan mencium bibir suaminya dengan cepat. “Itu adalah hadiah untuk untukmu. Terima kasih suamiku,” ucap Jeslyn dengan senyum lebarnya.


Dave menarik wajah istrinya lalu melu*mat sebentar bibir istrinya. “Bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar,” ucap Dave sambil menampikan senyuman menggoda.


“Dave..!” pekik Jeslyn.


Dave menampilkan senyum jahilnya. "Apa sayang?"


"Kalian terlihat senang sekali." Terdengar suara wanita dari belakang mereka. “Berbahagialah Jeslyn, sebelum kau menagis darah nanti,” ucap Felicia dengan senyum meremehkan.


Dave dan Jelsyn langsung menoleh. “Apa maksudmu berkata seperti itu Fel?" Dave menatap tajam Felicia.


“Tidak ada, aku hanya berkata asal.” Felicia kembali lagi ke kamarnya. Dia tidak memperdulikan tatapan mara Dave padanya.


Dave merasa berang dengan sikap Felicia. Dia langsung berdiri untuk menyusul Felicia.


“Dave, kau mau ke mana?” Jeslyn menahan tangan Dave ketika melihat Dave ingin melangkah pergi.


“Aku akan berbicara dengan Felicia. Kau tunggu di sini.” Dave melepaskan tangan Jeslyn lalu berjalan menuju kamar Felicia.


Jeslyn langsung menyusul Dave. “Dave, sudahlah. Jangan memperpanjang masalah,” ucap Jeslyn sambil menahan tangan suaminya.


Dave menatap wajah Jeslyn yang tampak sedang memohon padanya. “Baiklah. Lebih baik kita masuk ke kamar.” Dave menuntun Jeslyn kembali ke kamar mereka.


“Jeslyn.. Jangan pernah dekati Felicia jika tidak ada aku.” Melihat tingkah Felicia tadi, dia merasa kalau Felicia berniat buruk pada Jeslyn.


“Iyaa.” Dave dan Jeslyn duduk berdampingan di sofa.


“Sayang, kau tunggu di sini. Aku akan menelpon Zayn dulu.” Dave kemudian berjalan keluar sambil menghubungi asistennya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2