
Jeslyn langsung memeluk tubuh Dave dengan erat. “Jangan mengkhawatirkan apapun lagi sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Fokuslah pada anak kita saat ini, lainnya biar aku yang urus. Aku berjanji padamu, kali ini aku akan memberikan semua yang seharusnya kau dapatkan dari dulu. Aku akan mengembalikan posisimu sebagai menantu resmi dari keluarga Tjendra," ucap Dave sungguh-sungguh.
Jeslyn merasa sangat terharu mendengar perkataan suaminya. Sebenarnya dia sudah tidak mempermasalahkan lagi mengenai statusnya yang masih disembunyikan olek keluarga Dave. Dicintai olej Dave adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Meskipun di luar sana tidak ada yang tahu mengenai statusnya sebagai menantu pertama di keluara Tjendra.
“Kau tidak perlu melakukan itu Dave. Aku sudah cukup bahagia dengan apa yang kudapat sekarang. Tidak masalah bagiku jika tidak ada yang tahu mengenai statusku.”
Dave membelai lembut rambut Jeslyn. “Tidak sayang.. Aku ingin semua orang tau kalau kau adalah istriku yang sah. Apalagi sudah ada calon anak kita di perutmu. Statusnya harus jelas sebelum dia lahir ke dunia ini, agar tidak ada yang meremehkannya nanti. Dia adalah penerus sah keluarga Tjendra, sudah seharusnya statusnya harus diakui oleh semua orang.”
Dave berencana mengumumkan pada publik bahwa Jeslyn adalah istri sahnya. Dia tidak mau nantinya Jeslyn mengalami kesulitan karena statusnya yang masih disembunyikan olehnya.
“Bagaiamana dengan ibumu dan Felicia? Mereka pasti tidak akan setuju dengan idemu ini. Belum lagi berita ini akan menjadi skandal besar yang akan berdampak pada perusahaanmu. Aku tidak mau perusahaanmu mengalami masalah hanya karena aku.”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun sayang. Cukup percaya padaku. Biar aku yang urus segalanya. Aku harus menanggung segala resiko yang ada karena aku sendiri yang menyembunyikanmu dari publik. Aku akan berusaha keras agar berita ini tidak berdampak besar pada perusahaanku.”
Dave berusaha meyakinkan Jeslyn agar percaya padanya. Memiliki istri dua memang pasti akan menjadi berita yang merusak citranya.
“Terima kasih Dave.” Jeslyn masih menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil memeluknya.
“Sudah sepantasnya kau mendapatkan pengakuan itu sayang. Kau adalah istriku yang sah. Anak kita harus menyandang nama belakangku, sebagai cucu sekaligus pewaris dari keluarga Tjendra.” Bulir ait mata lolos dari kelopak mata Jeslyn. Itu adalah air mata kebahagiaan.
“Dave...!!” Terdengar suara nyaring memanggil nama Dave.
Seketika mereka berdua langsung menoleh. “Maa.. Paa..” Jeslyn dan Dave berucap serempak.
Jeslyn langsung menjauhkan tubuhnya dari Dave. Dia membenahi duduknya menjadi tegak. “Duduklah Jeslyn. Kau tidak perlu berdiri. Nanti kau bisa lelah. Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu papa,” ucap ayah Dave ketika melihat menantunya berencana untuk berdiri.
“Baik Pa..” Jeslyn kembali duduk. Dia tampak melirik pada ibu mertuanya yang tampak mengacuhkannya.
Ibui Dave langsung berjalan cepat dan berdiri di samping kanan ranjang anaknya. “Akhinya kau sadar juga. Mama sangat mengkhawatrikanmu Dave. Apakah keadaanmu baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?” Ibu Dave memegang tangannya anaknya sambil duduk di sampingnya.
Setelah mengetahui Dave sudah sadar. Jeslyn langsung memberitahukan ayah mertuanya tentang berita bahagia itu. Ayah mertuanya langsung memberitahukan pada istrinya, setelah itu mereka langsung menuju rumah sakit ketika Dave sudah diperbolehkan untuk dijenguk.
Dave tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja Ma,” jawab Dave dengan suara rendah.
“Mama hampir pingsang saat mendengar berita kecekaaanmu. Untung saja kau sudah sadar. Mama tidak tahu lagi bagaimana menjalani hidup Mama, bila kau meninggalkan Mama. Jangan pernah membuat mama khawatir lagi Dave.” Air mata mulai keluar di pelupuk mata ibu mertua Jeslyn.
“Maafkan aku Ma,” ucap Dave dengan suara rendah.
__ADS_1
“Jangan lakukan ini lagi Dave. Kau adalah putra Mama satu-satunya. Mama tidak sanggup hidup tanpamu.”
“Bukankah sudah ada calon penerusku di dalam perut Jeslyn Ma. Dia bisa menggantikan aku. Dia akan menjadi cucu kebanggaan keluarga Tjendra nantinya.” Dave sengaja membahas mengenai bayi yang ada di kandungan Jeslyn karena dia ingin tahu bagaimana reaksi mamanya mengenai kehamilan istri tercintanya.
Jeslyn tampak melirik ke arah ibu mertuanya. Dia juga ingin tahu bagaimana reaksi ibu mertuanya itu.
Ibu Dave nampak terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Dia adalah anakku Ma. Darah dagingku. Mama tidak perlu meragukan lagi bayi yang ada di kandungan Jeslyn," ucap Dave ketika melihat ibunya tampak hanya diam.
"Apa mama tidak mau mengakui anak yang ada di dalam kandungan Jeslyn sebagai cucu Mama?" Dave merasa kalau ibunya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Jeslyn sedang hamil anaknya.
"Di perut Felicia juga ada anakmu Dave.. Kau harus berbuat adil pada mereka, jika kau ingin mama mengakui anak yang ada perut Jeslyn sebagai cucu Mama."
Jeslyn menunduk. Dia memang tidak berharap banyak kalau ibu mertuanya akan mengakui anak yang ada di kandungannya.
Dave tampak menghela napas. Dia melirik sekilas pada istrinya. Dia tahu kalau Jeslyn pasti kecewa dengan ibunya. Dave lalu menggenggam tangan Jeslyn. Berusaha untuk menguatkan istrinya. "Bagaimana kalau kenyataannya Mama hanya memiliki satu cucu saja?"
Pertanyaan Dave langsung membuat ayah dan ibunya membelalakkan mata. "Apa maksudmu Dave? Omong kosong apalagi ini?" Ibu Dave merasa marah karena ucapan anaknya.
"Aku hanya bertanya Ma. Jangan sampai Mama akan menyesal pada akhirnya nanti. Aku tidak masalah kalau mama tidak mau mengakui anak yang ada di dalam kandungan Jeslyn, tapi aku minta Mama jangan pernah mengintimidasi Jeslyn lagi ataupun menganggunya."
"Aku tidak bisa Ma. Aku akan pulang ke rumahku sendiri. Aku tidak bisa meninggalkan Jeslyn sendirian."
Ibu Dave melirik sekilas pada Jeslyn. "Kau bisa membawanya juga untuk tinggal di rumah Mama. Kasihan Felicia tidak ada yang mengurusnya selama hamil." Ibu Dave sengaja menyuruh Felicia untuk tinggal di rumahnya karena dia tahu, kalau Dave akan mengacuhkan Felicia nantinya.
"Ma, Jeslyn tidak nyaman tinggal di sana. Aku akan menjaga Felicia juga. Aku akan menyewa orang untuk merawat dan membantunya, maka dari itu biarlah kami bertiga tinggal di rumahku."
Ibu Dave tampak tidak setuju dengan keputusan anaknya. "Maa.. Biarkan mereka mengurus rumah tangga mereka. Jangan terlalu ikut campur," ucap ayah Dave mencoba menengahi.
"Baiklah.. tapi kalau Mama dengar kau berat sebelah. Kalian harus tinggal di mansion Mama."
Jeslyn tampak meremas tangan suaminya. Dave tahu kalau Jeslyn tidak setuju untuk tinggal bersama dengan Felicia, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
"Iyaa Ma."
"Untuk sementara Felicia tinggal bersama Mama di rumah Mama, sampai kau keluar dari rumah sakit."
"Iyaaa Ma."
__ADS_1
Ayah Dave mendekati Jeslyn. "Bagaimana kabar cucu papa Jes?"
Jeslyn mendongak menoleh kepada ayah mertuanya yang sedang berdiri di sampingnya. "Baik Pa.. Kemarin aku baru melakukan pemeriksaan," ucap Jeslyn sambil tersenyum.
Ayah Dave mengangguk-angguk. "Kau harus menjaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah. Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu Papa."
"Baik Paa."
"Kalau begitu Papa dan Mama akan pulang dulu. Kami akan kembali lagi besok."
"Baik Pa.. Hati-hati di jalan."
Setelah ayah dan ibu Dave berpamitan, mereka langsung pulang.
"Sayang.." Dave memanggil Jeslyn yang tampak melamun.
"Iyaaa, ada apa?"
"Kemarilah, mendekat padaku, ada yang ingin aku katakan."
Jeslyn mendekatkan wajahnya pada Dave lalu mengarahkan telinganya ke mulut Dave. "Aku sangat mencintaimu sayang," bisik Dave sambil meraih wajah Jeslyn lalu melu*mat bibir istrinya dengan lembut.
Jeslyn tampak terkejut, tapi detik kemudian dia membalas luma*tan suaminya. Tidak bisa ditampik olehnya, kalau dia juga merindukan sentuhan suaminya. Dave menghisap kecil bibir bawah Jeslyn sebelum mengakhiri pagutan mereka. Dave berusaha menahan hasrat dalam dirinya yang mulai bangkit.
"Sayang, selama aku koma kau tinggal di mana?"
Dave sengaja bertanya hal itu karena sebelum terjadi kecelakaan, Jeslyn tinggal di apartemennya. Sementara Felicia tinggal di rumah Dave.
"Aku tinggal di rumah sakit Dave. Tubuhku terlalu lemah. Aku beberapa kali pingsan, jadi Dion dan Sarah memaksaku untuk di rawat di rumah sakit sampai kondisi tubuhku membaik."
"Kalau begitu kau pindah ke sini saja. Aku akan meminta Adnan untuk mengurus kepindahanmu ke sini. Aku akan memintanya menambahkan ranjang pasien satu lagi. Agar kita bisa selalu bersama."
Sebenarnya kamar Dave memiliki tempat tidur single yang diperuntukan untuk orang yang menjaga pasien. Tapi Dave ingin Jeslyn juga di rawat seperti dirinya. Dia ingin istrinya beristirahat total sampai tubuhnya membaik.
"Baiklah."
Bersambung...
__ADS_1