
Pukul 7 pagi Dion terbangun dan tersenyum ketika melihat istrinya masih terlelap dalam pelukannya. "Stella, bangun." Dion mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Bangun sayang." Dion berusaha membangunkan istrinya lagi.
"Hhhmmm," gumam Stella tanpa membuka matanya. "Apa kau masih mengantuk?" tanya Dion sambil menunduk.
"Iyaaa," jawab Stella singkat.
Bel kamarnya berbunyi. Dion turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi untuk memakai bathrobe setelah itu dia membuka pintu. Ternyata pegawai hotel yang ingin mengantarkan sarapan untuk mereka berdua.
"Letakkan saja di meja," pinta Dion seraya berjalan masuk ke dalam.
Pegawai hotel tersebut mendorong troli makanan masuk ke dalam lalu meletakkan sesuai instruksi dari Dion.
"Terima kasih." Dion memberikan tip lalu menutup kembali pintu kamarnya setelah pegawai hotel tersebut selesai menata makanan di atas meja.
Dion kembali berjalan menuju tempat tidur, di mana istrinya masih tampak belum bergerak dari posisi sebelumnya. "Sayang bangun. Sarapannya sudah datang," ucap Dion sambil duduk di tepi tempat tidur.
Dion membelai wajah istrinya ketika melihatnya tidak bereaksi. "Sayang, jika kau tidak bangun aku akan memakanmu sekarang juga," gertak Dion.
Stella terlihat masih memejamkan matanya tanpa bergerak. Dion naik ke tempat tidur dan mengungkung istrinya. "Aku akan benar melakukannya, jika kau tidak bangun dalam hitungan ketiga, sayang," ancam Dion.
"Satu... Dua... Ti..." Dion sengaja menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi istrinya.
Stella tetap tidak bergerak. Dion berpikir kalau istrinya masih mengantuk. Dion akhirnya ikut berbaring di samping Stella lalu memeluknya.
"Baiklah. Kita tidur sebentar lagi."
Dion kemudian kembali memejamkan matanya karena sebenarnya dia juga merasa masih ngantuk dan lelah.
*******
Pukul 9 pagi Stella mulai membuka matanya. Pandangan matanya langsung tertuju pada suaminya yang sedang duduk bersandar di sampingnya sambil memegang ponsel dan menata serius pada layar ponselnya. "Dion," panggil Stella dengan suara serak.
Mendengar ada yang memanggil namanya, Dion langsung menoleh ke samping menatap istrinya. "Kau sudah bangun?" Dion meletakkan ponselnya ketika melihat anggukan dari istrinya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Stella terlihat merasa bersalah karena suaminya bangun terlebih dahulu.
Dion kembali berbaring di samping istrinya setelah meletakkan ponselnya. "Sudah, tapi kau tidak bangun juga," jelas Dion.
"Maafkan aku," ucap Stella dengan wajah bersalah.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang membuatmu kelelahan," ucap Dion sambil memeluk istrinya. "Apa kau masih merasa lelah?" tanya Dion sambil melepaskan pelukannya.
"Iyaa sedikit. Badanku pegal-pegal dan kakiku sakit karena terlalu lama berdiri saat di pelaminan," jelas Stella.
"Hari ini kita tidak usah keluar. Kita di sini saja," usul Dion sambil merapikan anak rambut Stella.
"Iyaaa," jawab Stella singkat. "Dion, kapan kita akan berangkat ke Paris?"
"Tiga hari lagi sayang, kenapa?" tanya Dion.
"Bolehkah kita mengajak Reina untuk ikut bersama kita?" tanya Stella dengan wajah memohon.
Dahi Dion langsung berkerut. "Ikut dengan kita ke Paris?" Dion terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Iyaaa, dia ingin ikut dengan kita. Kasihan Reina. Dia bilang belum pernah ke sana karena tidak pernah diijinkan oleh mama dan papa," jawab Stella.
"Tidak, dia tidak boleh ikut," tolak Dion dengan tegas. "Kita ke sana untuk berbulan madu sayang. Untuk apa kita mengajak dia?"
Dion sangat tidak setuju, jika adiknya ikut dengannya karena menurutnya, adiknya pasti akan menggnggunya nanti.
"Tapi, kasihan Reina Dion. Dia sudah berjanji tidak akan merepotkan kita selama berada di sana," bujuk Stella lagi.
Dion memicingkan matanya. "Apa dia memintamu untuk membujukku agar dia bisa bisa ikut dengan kita?"
Dion merasa kalau adiknya memanfaatkan istrinya untuk membujuknya. Reina seolah tau kalau Dion tidak akan menolak permintaan istrinya.
Stella langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Dion. Dia hanya bilang kalau dia ingin ikut tapi kau melarangnya. Aku yang menawarkan diri untuk membantunya membujukmu," ungkap Stella.
Dion memencet hidung Stella. "Kita tidak mungkin mengajaknya sayang. Aku hanya memesan 2 tiket untuk kita berdua. Lagi pula, kita ke sana untuk berbulan madu, bukan untuk liburan," sambung Dion lagi.
"Iyaa, aku tahu. Dia sudah berjanji untuk tidak merepotkan kita. Boleh ya kita mengajaknya?" bujuk Stella dengan wajah memohon.
"Tidak, dia bisa pergi sendiri bersama mama dan papa, jika dia ingin liburan ke sana."
"Kasihan Reina, Dion. Aku tidak tega melihat wajah kecewanya karena tidak bisa ikut bersama kita."
Stella mulai memeluk suaminya untuk membujuknya. "Dia tidak akan mengganggu kita, Dion."
Dion menunduk menatap istrinya. "Jangan terlalu memanjakan dia sayang. Nanti dia terbiasa merepotkanmu." Dion ikut melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Apa salahnya memanjakan adikmu sendiri. Lagi pula, Reina sering menjaga Alea ketika kita sedang ada urusan," jelas Stella.
"Biarkan dia berbicara denganku."
"Apakah kau akan mengijinkan dia ikut dengan kita, jika dia langsung bicara padamu?" tanya Stella dengan wajah penasaran
Stella memukul pelan dada suaminya dengan wajah cemberut. "Aku kira kau akan setuju."
Dion membelai wajah istrinya sambil tersenyum. "Kalau begitu, lakukan dengan benar, jika kau ingin membujukku. Mungkin saja aku akan berubah pikiran nanti."
"Bagaimana kalau aku memasak makanan kesukaanmu? Atau kau ingin aku memijatmu? Kau pasti lelah, bukan?"
"Aku tidak mau keduanya," jawab Dion sambil menggeleng.
Stella tampak berpikir sejenak. Dia lalu mendetkatkan wajahnya pada suaminya lalu mengecup singkar bibir suaminya.
"Boleh ya Reina ikut dengan kita? Dia sudah banyak membatuku untuk menjaga Alea dan menjemputnya ke sekolah, jika aku tidak bisa," bujuk Stella lagi.
"Kau hanya menciumku sebentar tapi memintaku mengajaknya untuk pergi bersama kita. Itu tidak sebanding sayang."
"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan lama."
Setelah mengatakan hal itu, Stella langsung menautkan bibir mereka berdua. Dion hanya diam sambil membalas ciuman Stella.
Stella terus melu*mat bibir Dion dalam waktu lama setelah itu melepaskannya. "Aku sudah melakukannya dengan benar, bukan?" tanya Stella dengan wajah malu.
Dion menyunggingkan sudut bibir kirinya. "Iyaa, tapi kau harus menyelesaikannya sampai tuntas sayang."
Dion lalu merubah posisinya menjadi di atas istrinya. "Kau tidak bisa berhenti begitu saja setelah kau menggodaku sayang."
__ADS_1
Stella terlihat terkejut. "Ak-aku tidak menggodamu. Bukankah kau yang memintanya tadi?" balas Stella dengan terbata-bata.
"Kau sudah memancing hasratku, jadi kau harus bertanggung jawab sekarang."
Dion langsung membuang selimut yang menutup tubuh polos istrinya lalu menyerang bibirnya, leher serta seluruh tubuh istrinya. Dion tidak berniat untuk melepaskan istrinya begitu saja.
Stella hanya pasrah membiarkan Dion menguasai tubuhnya hingga akhirnya Dion berhenti ketika dia merasa lelah.
*****
Pagi hari Jeslyn tampak sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Suasana hatinya sedang baik karena hari ini mereka akan memeriksakan kandungan Jeslyn yang sudah memasuki trimester kedua. Semenjak mereka berbaikan karena pertengkaran kecil itu. Hubungan mereka semakin membaik dan romantis. Mereka sudah tidak pernah bertengkar lagi.
Dave juga selama beberapa bulan ini berusaha untuk mengubah sikap posesif dan cemburu terhadap istrinya, tapi tetap saja tidak bisa. Belakangan ini, justru Jeslyn lah yang sering sekali cemburu terhadap suaminya.
Dia bahkan selalu ikut ke kantor suaminya hanya sekedar untuk memastikan suaminya tidak bertemu dengan wanita lain selama bekerja. Bahkan, jika suaminya akan meeting dengan client wanita, Jeslyn selalu ikut dan mengawasi suaminya dari jauh.
Semenjak menginjak trimester kedua, banyak sekali permintaan aneh dari Jeslyn yang terkadang membuat Dave kewalahan. Jeslyn juga memiliki kebiasaan aneh. Dia harus memandang wajah suaminya hingga dia tertidur. Dia juga selalu meminta Dave untuk mandi bersamanya.
Jeslyn juga lebih agresif dari suaminya karena semenjak memasuki trimester kedua, Jeslyn lebih bergairah. Hal itu tentu saja membuat Dave tidak keberatan bahkan dia jadi lebih senang, tapi selain itu ada permintaan istrinya yang membuat Dave pusing.
Jeslyn pernah meminta Dave untuk membeli es kelapa pukul tiga pagi. Bubur ayam pukul dua pagi. Dave bahkan pernah terbang ke Singapore hanya untuk membelikan rojak Singapore dan nasi ayam Hainan untuk istrinya yang sedang ngidam makanan tersebut. Dave juga pernah menyuruh asistennya untuk membelikan jagung bakar di puncak dini hari ketika istrinya ingin makan jagung bakar yang dibuat langsung dari sana.
Semua permintaan aneh Jeslyn dituruti Dave dengan sabar kecuali satu hal yaitu ngidam naik roler coster dan histeria. Dave tidak ingin mengambil resiko kalau sampai terjadi apa-apa pada kandungan istrinya. sehingga Dave terpaksa tidak menuruti keinginannistrinya tersebut.
"Sayang, kau sedang masak apa?" Dave memeluk istrinya yang dari belakang.
"Aku sedang membuatkanmu nasi goreng," jawab Jeslyn sambil menoleh sedikit ke belakang.
"Sudah aku bilang biarkan bi Sarti yang membuatnya sayang. Aku tidak ingin kau lelah," ucap Dave sambil memberikan kecupan kecil di pipi istrinya.
"Ini adalah kewajibanku sebagai istrimu, Dave." Jeslyn masih setia mengaduk nasi goreng yang sebentar lagi akan matang.
Selama beberapa bulan terakhir Jeslyn memang selalu memasak untuk Dave. Dia tidak memperbolehkan suaminya makan masakan orang lain selain masakannya dan masakan ibunya.
Seperti diawal kehamilannya, Ibu Dave masih setia mengirimkan makanan setiap hari ke rumah anaknya. Setiap minggu bahkan ibu Dave selalu menginap di rumah anaknya untuk memantau kondisi menantunya.
"Iyaa, tapi kau juga harus memikirkan dirimu dan anak kita. Aku hanya takut kau kelelahan," ucap Dave.
"Sudah selesai," ucap Jeslyn ketika nasi goreng yang dia buat untuk semuanya baru saja matang. Jeslyn melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu memindahkan nasi goreng ke piring.
"Kita sarapan dulu, setelah itu baru ke rumah sakit."
Jeslyn berjalan menuju meja makan sambil membawa dia piring dan meletakkan di meja makan. Selesai sarapan mereka langsung menuju rumah sakit. Dave masih melarang istrinya untuk bekerja selama masa kehamilannya.
Jeslyn terpaksa menuruti pemintaan suaminya dan memilih untuk menemani suaminya ke kantor setiap hari. Beberapa bulan ini Jeslyn masih merasakan mual dan beberpa kali dia memuntahkan makanannya, tapi tidak separah dengan kehamilan pertamanya.
"Kondisi bayinya sehat, detak jantungnya juga normal, tidak ada masalah sama sekali pada kondisi janinnya," jelas Dokter Sarah ketika mereka sudah selesai melakukan USG 4 dimensi.
Meskipun kelamin bayi mereka sudah di ketahui, tapi Jeslyn dan Dave meminta dokter Sarah untuk tetap merahasiakan dari mereka agar menjadi kejutan nantinya. Walaupun awalnya Dave sangat ingin tahu jenis kelamin bayi yang ada di perut istrinya, tapi akhirnya dia urungkan.
"Apa kalian yakin tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak kalian?" Dokter Sarah tampak menatap serius pada Jeslyn dan Dave.
"Iyaa, kami akan sabar menunggu sampai waktunya tiba," jawab Jeslyn cepat. Dia sebenarnya juga penasaran tapi dia tetap ingin jenis kelamin bayinya tetap dirahasiakan.
"Baiklah kalau memang kemauanmu."
__ADS_1
Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter Sarah. Dave dan Jeslyn pergi ke kantornya sebentar untuk mengerjakan urusan kantornya, baru setelah itu mereka pulang ke rumah.
Bersambung...