
Dave menghembuskan napas ketika melihat Jeslyn mengacuhkannya. “Dave mari bercerai,” ucap Jeslyn dengan wajah datar. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Dave merasa bagai terhantam batu besar tepat di jantungnya. Dia sangat terkejut mendengar perkataan Jeslyn. Sejenak tubuhnya terasa kaku, tenggorokannya seolah tercekat sesuatu. Dave mencoba mengembalikan kesadarannya. “Sayang apa yang baru saja kau katakan?”
Jeslyn menatap Dave dengan wajah dingin. “Aku ingin bercerai denganmu. Aku tidak mau lagi hidup dengamu.”
Dave berusaha untuk mengatur napasnya. Dia masih berusaha untuk mengendalikan dirinya. Baru saja dia kehilangan calon anaknya, sekarang justru istrinya ingin berpisah dengannya. Tidak pernah terlintas di pikiran Dave kalau Jeslyn sangat marah padanya sampai ingin berpisah.
“Aku tahu kau sedang terpukul dan marah karena kehilangan anak kita. Aku bisa mengerti. Aku akan memberikanmu waktu untuk menenangkan pikiran. Aku tidak akan mengganggumu.”
“Aku sudah meminta Dion untuk mencari pengacara untukku. Selanjutnya jangan pernah temui aku lagi. Pengacaraku yang akan mengurus masalah perceraian kita.”
Jeslyn merasa sangat kecewa dengan Dave. Saat dia terbangun Dave sama sekali tidak ada di sisinya. Padahal Jeslyn sangat membutuhkannya. Justru Dion yang berada di sisinya. Saat dia tahu kalau Dave sedang menemani Felicia seketika hatinya hancur. Felicia sudah menyebabkan dia keguguran, tetapi Dave justru lebih memilih menemani Felicia dari pada dirinya.
Dia juga menyalahkan Dave karena sudah membawa Felicia kembali ke rumah mereka, sehingga membuatnya keguguran.
“Jeslyn, aku tahu kau sedang emosi, jika yang kau mau adalah anak, aku bisa memberikannya lagi untukmu. Kau mau berapa? Tiga, lima, tujuh, atau sepuluh? Aku akan memberikan sebanyak yang kau mau, tapi tolong jangan pergi dariku Jeslyn," mohon Dave dengan wajah frustasi.
Jeslyn tampak hanya diam. Dia tidak menangis sama sekali. Dia terlihat lebih tegar dari dugaan Dave. Sebelum Dave datang ke ruangan Jeslyn, dia sudah terlebih dulu menangis. Dia sudah mengeluarkan semua air mata yang dia punya.
“Anak..?? Aku tidak butuh anak darimu. Aku bisa mendapatkan dari pria lain. Aku tidak mau kehilangan anakku untuk kedua kalinya. Lebih baik kita bercerai.”
Dave langsung mengepalkan tangan. Emosi Dave mulai terpancing ketika Jeslyn menyinggung pria lain. “Jeslyn, aku juga terpukul sama sepetimu, tapi bukan begini caranya untuk menyelesaikan masalah. Jangan mengambil keputusan saat kau sedang marah dan emosi.”
__ADS_1
Jeslyn menatap Dave lalu tersenyum sinis. “Kali ini, aku kehilangan anakku, bisa jadi besok aku akan kehilangan nyawaku. Apa itu yang sebenarnya kau harapkan?” tanya Jeslyn dengan tatapan dingin.
Dave meraih tangan Jeslyn. “Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku jamin sayang, kali ini akan kupastikan Felicia tidak akan berani menyentuhmu lagi.”
“Tidak ada gunanya kita mempertahankan pernikahan ini, dari dulu ibumu tidak menyukaiku, istrimu bahkan mencelakaiku. Aku tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini,” ucap Jeslyn datar.
“Pergilah..! Aku ingin istrirahat.” Jeslyn merebahkan tubuhnya sambil membelakangi Dave.
Dave terdiam sejenak. Dia memandangi Jeslyn lalu mendekati tubuh istrinya. “Baiklah, istirahatlah.. Aku tidak mau bercerai denganmu. Marahlah jika ingin marah padaku. Kau bisa meluapkan emosimu padaku sesuka hatimu. Aku akan menerimanya, tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu.” Dave mengecup pipi dan kening Jeslyn. “Tidurlah sayang. Aku akan kembali setelah kau tenang.”
Dave berjalan keluar dari kamar Jeslyn. Setelah kepergian Dave, Jeslyn mulai menangis lagi. Tanpa dia tau kalau Dave sedang berdiri di depan pintu yang belum tertutup rapat. Dave bisa mendengar suara isak tangis Jeslyn yang menyayat hati.
******
Jeslyn mulai membuka matanya, tetapi dia tidak sedikitpun berniat untuk menoleh pada Dave. “Aku membawakan makanan untukmu. Aku dengar dari perawat kau belum makan apapun dari siang.” Dave mulai membuka penutup wadah makanan yang dia bawa.
Melihat Jeslyn tidak merespon perkataannya, Dave berkata lagi, “Kau boleh marah padaku, tapi kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu sayang.” Dave masih berusaha untuk membujuk istrinya yang tampak tidak mau bergerak sama sekali.
“Lebih baik kau urus saja istri keduamu. Jangan pernah ke sini lagi,” ucap Jeslyn ketus. Dia masih kecewa pada Dave karena saat dia membutuhkannya dia justru sedang menemani Felicia.
“Istriku hanya dirimu. Aku tidak memiliki istri lain. Untuk apa aku memperhatikan orang lain.” Dave berusaha sabar menghadapi sikap ketus Jeslyn. Dia sebisa mungkin menghindari perdebatan dengan istrinya.
“Aku hanyalah istri bayanganmu. Bukankah kau sangat mencemaskannya sehingga kau selalu berada di sisinya. Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu Dave. Lebih baik kau pergi! Hubungan kita sudah berakhir ketika aku kehilangan anakku.”
__ADS_1
Dave mulai bisa menebak alasan Jeslyn bersikap dingin dan mengacuhkannya. Dia berpikir kalau Jeslyn pasti salah paham dengannya. Awalnya Dave merasa heran kenapa Jeslyn begitu marah dengannya, padahal sebelumnya hubungan mereka masih baik-baik saja. Dia mengira kalau Jeslyn marah hanya karena anak mereka tidak bisa diselamatkan, tetapi kini dia mulai mengerti.
“Kau salah paham sayang. Aku menemui Felicia bukan karena aku mengkhawatirkannya. Aku bahkan lebih lama menunggumu di depan ruang ICU dari pada dia. Aku hanya pergi sebentar untuk menemuinya karena harus ada yang aku bicarakan dengannya.”
“Aku tidak peduli. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi.” Jeslyn sudah bertekad untuk berpisah dengan Dave. Dia tidak sanggup jika harus terus berhadapan dengan Felicia dan ibu mertuanya. Saat ini, kesabarannya sudah habis.
Dave meraih tubuh Jeslyn sehingga dia terduduk tegak. Jeslyn mengalihkan pandangannya ketika ditatap oleh Dave. “Jeslyn, aku sudah bercerai dengan Felicia. Aku ke sana untuk mengurus hal itu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, maka dari itu aku segera menemuinya ketika dia sudah sadar,” terang Dave dengan nada lembut. Dia harus menjelaskan secara detail agar Jeslyn tidak salah paham lagi padanya.
Jeslyn langsung menoleh pada Dave sesudah mendengar penjelasan dari suaminya. “Aku diam-diam mengurus perceraianku dengan Felicia. Awalnya aku ingin bercerai dengannya dengan cara baik, tapi ternyata dia malah melakukan hal gila. Maka dari itu aku menggunakan cara cepat untuk bercerai dengannya,” jelas Dave lagi ketika merasa kalau Jeslyn tampak penasaran dengan kelanjutan cerita mengenai perceraiannya dengan Felicia.
“Saat ini, hanya kau istriku satu-satunya, dan selamanya akan begitu. Berita mengenai perceraianku kemungkinan akan dirilis hari ini. Maka dari itu, aku tidak bisa berpisah denganmu. Aku sangat mencintaimu, Jeslyn.” Dave mengecup singkat kening Jeslyn.
Jeslyn tampak masih diam. Wajah sudah tidak sedingin sebelumnya. “Aku sudah meminta Zayn untuk mengurus Visa kita berdua. Setelah kau pulih aku akan mengajakmu berbulan madu ke Eropa, bagaimana?” tanya Dave lembut.
“Duuubraaakkk..” terdengar suara pintu dibuka dengan kasar.
Ibu Dave berjalan dengan wajah penuh amarah sambil berjalan mendekati Dave dan Jeslyn.
“Plaaaakk.” Ibu Dave menampar wajah Jeslyn dengan keras.
“MAMA..!!” bentak Dave dengan suara keras. “Apa Mama sudah gila??” teriak Dave dengan wajah marah. Dia tidak mengerti kenapa ibunya langsung menampar Jeslyn tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu.
“Kau pasti yang sudah memaksa Dave untuk menceraikan Felicia, kan?? Apa kau tidak punya hati, haaahh!” hardik ibu Dave. Dia menatap Jeslyn dengan tatapan membara.
__ADS_1
Bersambung....