
"Beratnya 4.0 kilogram dan panjangnya 50 centimeter." Setelah selesai membersihkan len*dir, memeriksa pernapasan, memo*tong tali pusat , membersihkan bayi dan melakukan tes Apgar, Dokter Sarah melanjutkan menimbang dan mengukur kepala dan panjang badan bayi Jeslyn dan Dave.
Dave dan Jeslyn yang mendengar itu dibuat terkejut. "Besar sekali. Pantas saja susah keluarnya." Dave langsung memberikan komentarnya setelah mendengar perkataan dokter Sarah.
Dokter Sarah langsung tersenyum. "Jeslyn termasuk hebat. Dia bisa melahirkan anak anda yang berukuran besar tanpa dijahit sama sekali."
Menurut pengalaman dokter Sarah tidak banyak yang bisa melahirkan dengan ukuran bayi sebesar anak Dave dan Jeslyn tanpa dijahit sama sekali. Dia merasa kagum pada perjuangan Jeslyn yang tetap memilih untuk melahirkan secara normal meskipun persalinannya memakan waktu yang panjang dan melelahkan.
Dave yang sedang duduk di samping tepi ranjang pasien seketika menunduk menatap istrinya yang sedang tersenyum. "Kau hebat sekali sayang." Dave menggenggam tangan Jeslyn lalu mengecup kening istrinya. "Terima kasih sayang karena kau sudah melahirkan anakku dengan selamat."
Dokter Sarah berjalan mendekati Jeslyn lalu meletakkan bayinya dengan posisi tengkurap di dada Jeslyn dengan keadaan polos agar terjadi interaksi kulit ke kulit antara ibu dan anak. Bayinya sengaja dibiarkan untuk mencari sendiri dan mendekati pu*ting ibunya untuk melakukan proses menyusui.
Dave dengan antusias menatap anaknya yang terlihat meng*hisap dengan lahap. "Anak papa haus ya?" Dave terlihat mengusap punggung anaknya. "Sepertinya aku harus berbagi dengannya mulai saat ini," gurau Dave sambil tersenyum lebar.
Jeslyn langsung memukul lengan Dave. "Dave. Jangan bercanda." Jeslyn merasa malu karena di ruangan itu masih ada Dokter Sarah, Dokter Kandungan lainnya, Dokter Anak dan 2 perawat.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, sayang. Baru saja lahir, dia sudah merebut milikku. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku sayang, tapi dengan mudahnya dia menguasainya sendirian. Padahal dari awal itu adalah milikku." Dave tampak acuh seolah diruangan tersebut tidak ada orang selain mereka.
Dokter Sarah beserta yang lainnya hanya berusaha untuk menulikan telinganya. "Dia anakmu Dave bukan sainganmu." Jeslyn tidak habis pikir dengan suaminya. Bisa-bisanya dia perhitungan dengan anaknya sendiri.
"Iyaa sayang, aku tahu." Sepertinya aku harus mengalah padanya." Dave sebenarnya hanya bergurau. Kejahilannya muncul saat melihat anaknya dengan lahap meng*hisap pu*ting ibunya meskipun ASI Jeslyn belum keluar.
Setelah bayi mereka melepaskan isa*pannya, Dokter Sarah mengambil kembali bayi mereka untuk mengoleskan salep mata dan memberikan vitaimin K1 dan vaksin hepaititis B. Setelah semua proses selesai, seorang perawat mengambil alih bayi mereka dan memandikannya.
"Bayinya sudah bersih, Jes." Dokter Sarah kembali membawa bayi mereka setelah selesai memandikannya.
Dave langsung maju mendekati dokter Sarah. "Berikan padaku. Aku ingin menggendong anakku." Dave mengulurkan kedua tangannya.
"Apa kau yakin bisa Dave?" Jeslyn tampak ragu pada suaminya. Ini adalah anak pertama mereka, Jeslyn tentunya takut kalau Dave akan membuat anak mereka cidera.
Dave menoleh pada istrinya sebelum mengambil alih bayi mereka. "Bisa sayang. Aku sudah pernah berlatih beberapa kali."
Kekhawatiran Jeslyn langsung lenyap ketika melihat Dave tampak dengan luwes menggendong anak mereka. Dave terlihat sudah piyawai menggendong anaknya seolah dia sudah terbisa menggengong bayi baru lahir.
"Lihat sayang. Aku bisa, kan?" Dave terlihat sangat bangga karena berhasil menggendong anaknya.
Ketika perut Jeslyn sudah mulai membesar, Dave memang sudah mulai berlatih, meskipun yang digendong bukanlah bayi sungguhan tapi setidaknya itu bisa membantu Dave mempelajari cara menggendong bayi dengan benar. Dia juga sering melihat tutorial cara menggendong bayi baru lahir tanpa sepengetahuan istrinya.
Jeslyn tersenyum. "Kau memang sudah cocok menjadi ayah, Dave." Jeslyn tidak menyangka kalau suaminya bisa menggendong anak mereka dengan benar.
Dave duduk di samping Jeslyn sambil menggendong anak mereka. "Lihat sayang, dia tersenyum." Dave mengarahkan wajah bayi mereka pada Jeslyn. "Dia seperti dirimu sayang, suka membenamkan wajah di dadaku."
"Tentu saja, dia adalah anakku."
Kebiasaan Jeslyn ketika tidur menurun pada anak mereka. Mungkin karena saat hamil Jeslyn selalu tidur dengan posisi berada dipelukan suaminya dengan membenamkan wajahnya di dada Dave.
"Tuan Dave, Jeslyn dan bayinya sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan," info Dokter Sarah. "Silahkan diurus mengenai kepindahan mereka."
Dave mengangguk. "Aku akan menyuruh Adnan untuk mengurusnya." Dave meletakkan bayi mereka di samping Jeslyn lalu menghubungi Adnan.
Setelah Jeslyn dipindahkan, ulorang tua Dave sudah diperbolehkan untuk menjenguk Jeslyn.
"Waahh, cucu oma tampan sekali." Ibu Dave terlihat sangat gembira melihat cucunya yang sedang diletakkan di box bayi di samping Jeslyn. "Lihat Pa, dia mirip sekali dengan Dave waktu bayi."
Ayah Dave mendekat ke arah box dan menunduk. "Iyaa, Ma. Mereka terlihat sama. Orang lain yang pernah melihat Dave waktu bayi akan berpikir kalau ini adalah kembaran Dave."
"Benarkah, Ma?" tanya Jeslyn penasaran.
__ADS_1
"Iya benar sayang," jawab ibu Dave sambil tersenyum. "Nanti akan mama carikan album foto Dave ketika dia masih bayi."
"Iyaa, Ma."
Bayi Jeslyn dan Dave hampir mewarisi seluruh wajah Dave. Sebenarnya Dave ingin kalau anaknya mewarisi wajah istrinya tetapi kenyataannya, anaknya justru mirip sekali dengannya.
"Bolehkah mama menggendong cucu mama?" tanya ibu Dave dengan wajah penuh harap.
"Tentu saja, Ma. Mama tidak perlu ijin dariku. Itu adalah cucu mama."
"Terima kasih, Jes." Ibu Dave langsung meraih cucunya lalu menggendongnya.
Ayah dan ibu Dave memutuskan untuk duduk di sofa agar bisa bermain-main dengan cucu mereka.
Sementara Dave duduk di samping istrinya. "Apa kalian sudah memberikan nama untuk anak kalian?" tanya ayah Dave sambil menoleh pada Jeslyn dan Dave yang sedang mengobrol.
"Sudah, Pa. Kami sudah menemukan nama yang cocok untuk anak kami," jawab Dave cepat.
Ibu Dave langsung menoleh pada anaknya. "Siapa namanya?"
"Levin Hadinata Tjendra."
"Nama yang bagus," ucap ayah Dave.
"Terima kasih, Pa."
"Jadi, kapan Jeslyn dan cucu papa boleh keluar dari rumah sakit?"
"Besok sudah boleh Pa, tapi aku tidak memperbolehkan Jeslyn untuk pulang dulu sampai dia benar-benar pulih. Lebih baik dia di sini sementara waktu karena sini banyak dokter dan perawat yang bisa mengawasi dan membantunya," terang Dave.
Dave tampak berpikir sejenak. "Besok Pa, tapi aku tidak mau mereka meliput anakku. Aku yang akan mengadakan konferensi pers. Jeslyn dan anakku tidak perlu ikut."
"Baiklah."
Dave lalu menoleh pada istrinya. "Sayang, bagaimana kalau setelah pulang dari rumah sakit, kita tinggal di rumah mama dulu?" usul Dave. Dia merasa khawatir meninggalkan istri dan anaknya jika dirinya mulai aktif bekerja.
"Iyaaa Dave. Aku juga berpikir seperti itu. Mama juga pasti masih ingin selalu bersama dengan cucunya." Melihat wajah bahagia mertuanya, membuat Jeslyn tidak tega untuk memisahkan mereka.
"Terima kasih, sayang."
Jeslyn mengangguk. "Dion dan Stella ke mana? Kenapa mereka tidak ke sini?"
Jeslyn baru baru teringat dengan keberadaan Dion dan Stella. "Mereka sedang berada di ruangan sebelah. Stella kelelahan karena menunggumu tadi, jadi Dion memintanya untuk istrirahat dulu. Nanti mereka akan ke sini jika Stella sudah baikan," terang Dave. "
Jeslyn merasa sedikit bersalah karena sudah merepotkan Stella apalagi dia sedang hamil juga dan perutnya sudah mulai membesar.
******
Dion dan Stella berjalan memasuki ruangan Jeslyn malam harinya. Dion tidak mengijinkan istrinya untuk keluar dari ruangannya sebelum tubuh istrinya kembali fit.
"Jes, maaf karena kami baru bisa menjengukmu." Stella dan Dion duduk di samping Jeslyn sementara Dave sedang berbaring di tempat tidur satunya yang disediakan khusus untuk penunggu pasien.
"Tidak apa-apa, Stella. Aku justru minta maaf karena sudah merepotkan kalian berdua," ucap Jeslyn dengan wajah tidak enak.
"Tidak apa-apa," jawab Stella sambil tersenyum. "Jes, selamat atas kelahiran anakmu," ucap Dion tulus.
"Terima Kasih, Dion."
__ADS_1
"Jam berapa anakmu lahir?" tanya Dion penasaran.
"Jam 15.31 sore tadi," jawab Jeslyn.
Dave berjalan mendekati istrinya sambil menggendong anaknya lalu meletakkan di box bayi. "Anak kalian menggemaskan sekali," puji Stella ketika melihat anak Jeslyn dan Dave. "Tampan sekali seperti Dave."
Dion juga ikut melongokkan kepalanya melihat bayi Jeslyn dan Dave dengan wajah penasaran. "Dia sungguh mewarisi semua wajah ayahnya. Semoga saja dia tidak menuruni sifat ayahnya juga," ucap Dion santai.
Dave yang langsung menoleh pada Dion dan menatap tidak suka padanya. "Memangnya ada apa dengan sifatku?"
Dion menatap santai pada Dave. "Menurutmu, apa yang salah dengan sifatmu?"
"Tidak ada yang salah dengan sifatku," ujar Dave tidak mau kalah.
"Itu hanya menurutmu, Dave," ucap Dion santai.
Stella menyikut perut suaminya. "Sayang, jangan mulai lagi," bisik Stella.
Walaupun Dion Dan Dave sudah berbaikan tapi terkadang mereka masing berdebat dan saling sindir tapi meskipun begitu mereka tidak berdebat sungguhan dan tidak saling dendam.
"Aku hanya menyampaikan pendapatku sayang," bisik Dion pada istrinya.
"Bilang saja kau syirik padaku karena aku memiliki anak yang tampan," balas Dave acuh.
Dion berdecih. "Akan lebih baik kalau anakmu mirip dengan Jeslyn," tutur Dion.
"Kalian berdua ini, seperti anak kecil saja," sela Jeslyn ketika melihat suami dan teman dekatnya berdebat.
"Jes, aku sudah memberitahu Alea kalau anakmu sudah lahir. Dia langsung senang dan ingin segera ke sini, tapi aku melarangnya untuk datang malam ini," ungkap Stella.
Jeslyn menatap Stella dengan wajah heran. "Kenapa kau melarangnya?"
"Sudah malam. Kau juga pasti lelah. Besok saja aku ke sini bersama Alea ketika Dion akan berangkat kerja," jawab Stella.
Stella berpikir kalau Jeslyn pasti butuh istirahat. Dia tidak mau mengganggu Jeslyn dengan kedatangan anaknya. Alea memang sudah tidak sabar menunggu kelahiran anak Jeslyn dan Dave. Setiap hari dia selalu menanyakannya ketika perut Jeslyn sudah membesar.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Jes. Kau pasti butuh istrirahat." Dion berdiri diikuti dengan Stella.
"Baiklah."
Stella menghampiri box bayi Levin. "Siapa nama anakmu, Jes?"
"Levin Hadinata Tjendra."
"Namanya bagus," puji Stella.
"Tentu saja. Aku yang memberikannya nama," sela Dave dengan wajah bangga.
"Ciih, bangga sekali kau," ucap Dion.
"Tentu saja. Dia adalah anakku."
"Levin, aunty pulang dulu," pamit Stella, "besok Aunty ke sini lagi."
"Iyaa Aunty," jawab Jeslyn. "Hati-hati di jalan Aunty dan Uncle."
Bersambung...
__ADS_1