
“Dave..! Bangun Dave..!” Jeslyn memegang tangan Dave sambil menempelkan ke wajahnya.
Dave tampak tidak merespon perkataan Jeslyn. “Dave, hari ini aku akan USG lagi.. Apa kau tidak mau melihat perkembangan anakmu?” Jeslyn kembali menitikkan air matanya.
“Bangun Dave..! Bukankah kau bilang tidak akan meninggalkan aku lagi.”
Jeslyn masih terus mengajak Dave untuk berbicara. Dia merasa sangat menderita melihat Dave terbaring lemah. Tidak pernah terbayangkan olehnya, kalau Dave akan mengalami kecelakaan.
Terdengar suara langkah ketukan sepatu yang mulai mendekat. Jeslyn langsung menoleh saat pintu ruangan terbuka. Dia melihat ayah dan ibu mertuanya datang menjenguk Dave. Jeslyn langsung bangun dari duduknya.
“Ma, Pa,” sapa Jeslyn.
“Duduklah. Kami hanya ingin melihat Dave sebentar.”
Ayah mertuanya merasa khawatir ketika melihat wajah menantunya tampak masih pucat. Ibu Dave tampak melengos dia tidak memperdulikan suami dan menantunya. Dia merasa muak melihat menantu yang tidak diinginkannya itu. Dia terpaksa menahan amarahnya karena ada suaminya di dekatnya.
Ibu Dave mendekati ranjang anaknya. “Dave, bangun nak,” terdengar suara lirih dari ibu Dave yang tampak sedang menahan tangisnya.
Jeslyn dan ayah Davs hanya diam memandang ibu Dave yang mulai menitikkan air matanya. “Bangunlah nak, apa kau tidak kasihan dengan Felicia? Dia sedang mengandung anakmu. Dia selalu menangis kalau mengingat keadaanmu seperti ini.” Ibu Dave mengusap air matanya yang terus menetes.
Dalam hati Jeslyn bertanya, apakah ibu Dave akan memperlakukannya dengan baik jika, ibu mertuanya tahu, kalau dia juga sedang mengandung anak Dave.
Jeslyn tidak bisa memberitahukan dulu kepada siapapun mengenai kehamilannya. Apalagi Dave pernah mengatakan untuk menyembunyikan kehamilannya sementara sampai kondisi Jeslyn dan janinnya sudah kuat. Dave takut kalau Felicia dan Ibunya akan berbuat sesuatu pada Jeslyn kalau mereka tahu tentang kehamilan Jeslyn.
Ibu Dave mulai duduk di samping kiri anaknya. “Dave, bangun nak! Mama hanya memilikimu. Mama tidak sanggup melihatmu seperti ini. Jangan pernah tinggalkan Mama. Masih ada anakmu juga membutuhkan sosok ayah Dave. Mama akan mengabulkan apapun yang kau minta asalkan kau bangun.”
Ibu Dave tampak memandang wajah anaknya dengan tatapan sendu. “Ma.. Sudah.” Ayah Dave memegang bahu istrinya yang tampak masih terisak.
Baru kali ini Jeslyn melihat wajah tidak berdaya ibu mertuanya. Selama ini ibu mertuanya selalu menampakkan wajah garang dan tegasnya.
Ibu Dave mengusap air matanya sejenak, lalu mendongak menatap pada suaminya. “Paa.. Kenapa Dave belum bangun juga? Apa Dave tidak akan bangun lagi Pa?”
__ADS_1
“Maa.. Jangan berkata seperti itu. Jika dalam minggu ini, Dave belum juga sadar dari komanya, kita akan membawanya ke rumah sakit Singapura,” ucap ayah Dave dengan tenang. Walaupun di hatinya terbesit ketakutakn juga, tetapi dia berusaha untuk menyembunyikannya. Dia tidak ingin kalau istrinya semakin panik.
Memindahkan Dave ke Singapura, sebenarnya itu adalah idenya Jeslyn. Setelah waktu itu, dia selesai berbicara dengan Dion tentang memindahkan Dave ke Singapura. Jeslyn langsung memberitahukan niatnya pada ayah mertuanya. Jeslyn tidak ingin menunggu terlalu lama. Dia tidak bisa melihat keadaan Dave yang belum ada kemajuan apapun.
“Kenapa harus menunggu seminggu Pa? Kita haruse segera memindahkan Dave ke Singapura.”
“Nanti Papa akan berbicara lagi dengan dokter yang menangani Dave. Kita tidak bisa membawa Dave begitu saja tanpa persetujuan dari dokter yang menangani Dave saat ini. Banyak yang harus dipertimbangkan. Mama tenang saja. Papa akan mencari jalan terbaik demi kesembuhan anak kita,” ucap ayah Dave sembari mengusap punggung istrinya.
“Baiklah, yang terpenting Dave bisa bangun Pa, dan segera kembali berkumpul dengan kita.” Ayah Dave mengangguk. “Lebih baik kita pulang! Kita tidak boleh berlama-lama di sini.”
Ibu Dave tampak masih enggan untuk meninggalkan anaknya. Dia masih merasa khawatir dengan keadaan anaknya. “Ma.. di sini ada Jeslyn yang bisa menjaga Dave. Dia akan selalu memberikan kabar tentang Dave,” lanjut ayah Dave lagi ketika melihat istrinya tampak tidak bergerak dari tempatnya.
Ibu Dave tidak senang mendengar perkataan suaminya, yang menyebutkan nama menantunya. Dia melirik sinis pada Jeslyn. “Mama tidak percaya dengannya Pa. Dia yang sudah membuat anak kita celaka!”
“Maa ... Ini bukan salah Jeslyn. Dia sangat mencintai Dave. Tidak mungkin ingin suaminya celaka.”
Ayah Dave membantu istrinya untuk bangun. Dia harus segera membawa istrinya untuk keluar dari ruang ICU itu sebelum istrinya membuat keributan.
“Papa tidak tahu saja. Perempuan ini hanya ingin harta Dave saja Pa!”
“Sudaahlah Ma. Lebih baik kita pulang.”
Ayah Dave menuntun istrinya untuk keluar. Sebelum meraih pintu ayah Dave tampak menoleh. Dia melihat Jeslyn tampak duduk terdiam sambil menunduk. Ayah Dave memperkirakan kalau saat ini menantunya sedang menahan tangisnya. “Jeslyn, papa dan mama pulang dulu! Tolong kau jaga Dave.”
Jeslyn menoleh pada ayah mertuanya. “Baik Pa.. Hati-hati di jalan-jalan,” ucap Jelsyn sopan.
Ayah Dave menganngguk. “Kau juga harus jaga kesehatanmu, jika lelah istrirahalah! Jangan terlalu memkasakan diri,” nasehat ayah Dave.
“Iyaa Pa.” Setelah kepergian Ibu dan ayah Dave, Jeslyn menoleh kembali pada suaminya.
“Dave.. Aku harus pergi dulu. Aku ingin memeriksa keadaan anak kita.” Jeslyn meraih tangan Dave lalu mengarahkannya pada perut ratanya. “Aku merasa nyaman ketika tanganmu menyentuh perutku. Mungkin anakmu merindukanmu Dave.” Jeslyn menguap-usap perutnya yang masih dilapisi oleh pakaian.
__ADS_1
Beberapa kemudian Jeslyn meletakkan kembali tangan Dave ke tempatnya semula. “Dave, aku akan kembali ke sini nanti. Aku harus pergi dulu.” Jeslyn mengecup pipi suaminya. “Cepat bangun Dave. Aku dan anakmu sangat merindukanmu. Jika kau tidak cepat bangun. Aku tidak akan mau bertemu dengamu lagi. Aku akan membawa anak kita pergi. Kau tidak akan pernah biaa melihatnya lagi.”
Jeslyn sengaja mengatakan hal itu. Dia tahu kalau Dave sangat menginginkan anaknya. Mungkin dengan mengatakan hal itu Dave akan segera membuka matanya.
Setelah mengatakn hal itu Jelsyn langsung keluar dari ruangan ICU. Dia tidak sempat melihat ada pergerakan kecil pada tangan Dave.
****
Esok harinya Jeslyn kembali ke ruangan Dave. Dia merasa agak pusing hari ini. Dia berjalan pelan menuju ruangan Dave. “Maaf..Kau siapa..?” Dia sedikit terkejut ketika melihat seorang wanita menangis di samping tempat tidur Dave sambil memegang tangannya.
Dia berusaha menguasai dirinya. Seketika muncul raaa cemburu,q ketika melihat wanita itu memegang tangan suaminya sambil terisak.
Wanita itu mengusap air matanya lalu, menoleh saat mendengar suara seorang wanita dari belakangnya. Dia langsung melepaskan genggaman tangannya. “Aku.. aku adalah teman Dave.” Wanita itu tampak gugup ketika melihat Jeslyn yang datang.
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.” Jeslyn berusaha mengingat di mana dia pernah melihat wanita di depannya ini.
“Benarkah? Tapi aku baru saja tiba dari luar negri sekitar 1 bulan yang lalu. Mungkin kau salah orang.”
Saat mendengar wanita itu berbicara. Dia semakin yakin kalau dia pernah bertemu dengan wanita di depannya. Wajahnya juga tampak familiar.
“Lalu, kau tahu dari mana kalau suamiku berada di sini?”
Tidak banyak yang tahu mengenai kecelakaan Dave. Orang tuanya sengaja menyembunyikan keadaan Dave dari semua orang. Jadi, Jeslyn agak curiga, apalagi wanita itu hanya berteman dengan Dave.
“Aku.. Aku mendapatkan informasi dari..”
Jeslyn memicingkan matanya. “Dari siapa?” Jeslyn merasa sikap wanita di depannya ini agak aneh.
“Dari temannku. Dia bekerja di rumah sakit ini.”
“Lalu, siapa namamu? Bagaimana kau bisa mengenal Dave?”
__ADS_1
Wanita itu tampak menghindari tatapan menyelidik Jeslyn. “Namaku Stella. Aku adalah teman lama Dave ketika aku masih tinggal di indonesia,” ucap Stella tenang.
Bersambung...