Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Aku Akan Melindungimu


__ADS_3

Stella langsung menghentikan langkahnya. "Stella, apa yang kau lakukan di sini?" terdengar suara seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kemudi.


Stella yang mengenali suara itu langsung menoleh. "Dion."


Mereka berdua saling menghampiri. Stella langsung memegang lengan Dion dengan wajah panik. "Dion, tolong aku..Aku..sedang.. Ada orang..."


"Stella, tenanglah..! Katakan pelan-pelan, agar aku mengerti," ucap Dion sambil menunduk menatap Stella yang tampak ketakutan.


"Ada yang mengejarku Dion. Tolong aku.. Aku tidak mau ikut dengannya!" ucap Stella cepat.


"Siapa yang mengejarmu?" tanya Dion dengan wajah heran.


"Ryan. Dia adik iparku," jelas Stella. "Tolong aku Dion."


"Stellaaa..." Terdengar suara teriakan seorang laki-laki dari arah belakang Stella.


Mendengar suara Ryan, Stella langsung bersembunyi di belakang punggung Dion sambil memegang lengan kiri Dion dari belakang.


Ryan berdiri mendekati Dion dan Stella. "Ayoo Stella, ikut aku pulang," ucap Ryan sambil menengok ke arah Stella.


"Tidak..Aku tidak mau ikut denganmu," tolak Stella.


Ryan kemudian mendekati Stella. "Jangan keras kepala Stella! Semuanya sedang menunggu kita. Ayo pergi."


"Aku tidak mau," pekik Stella.


Stella langsung memegang erat tangan Dion dengan tangan gemetar. Dion menoleh ke belakang sejenak, lalu menatap ke arah Ryan.


"Stella jangan memancing emosiku." Ryan tampak mulai tidak sabar. Dia kemudian meraih tangan Stella. "Turuti aku selagi aku memintanya dengan baik-baik," ucap Ryan dengan penuh penekanan.


Dion mencengkram tangan Ryan yang akan menarik Stella. "Apa kau tidak dengar apa yag dia katakan?" ucap Dion sambil menatap tajam pada Ryan. "Dia bilang tidak mau ikut denganmu."


Ryan langsung beralih menatap Dion. "Kau jangan ikut campur urusan kami! Ini adalah masalah keluarga kami. Kau hanya orang luar."


Ryan menghempaskan tangan Dion lalu menarik tangan Stella lagi. "Lepas Ryan. Aku tidak mau ikut denganmu," teriak Stella sambil memukul tangan Ryan yang mulai menarik tangannya.


Stella menoleh pada Dion. "Dion tolong aku."


Dion kemudian mengejar Stella dan Ryan, lalu menghadangnya mereka tepat di depannya. "Lepaskan dia! Kau tidak bisa membawanya pergi. Stella harus ikut denganku," ucap Dion dengan tegas.


Ryan menyunggingkan senyum jahatnya. "Memangnya kau siapa?"


"Kau tidak perlu tahu aku siapa? Yang pasti kau tidak bisa membawanya."


Ryan maju mendekati Dion. "Stella adalah calon istriku. Aku berhak untuk membawanya pergi."


"Aku bukan calon istrinya Dion," ucap Stella sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Kau dengar itu? Jika kau tidak pergi. Aku akan melaporkanmu pada polisi."


Mendengar nama Polisi. Ryan seketika terdiam. Dia tidak mau mengambil resiko berurusan dengan polisi, apalagi dia warga negara asing. Akan panjang masalahnya jika dia berakhir di kantor polisi.


Dion kemudian maju dan melepaskan tangan Ryan dari Stella, setelah itu Dion menarik Stella dan menempatkan di belakangnya. "Dengarkan aku.. Jangan pernah berani mengganggu Stella lagi, atau kau akan berurusan denganku. Aku tidak akan melepaskanmu jika kau berani mengusik tunanganku."

__ADS_1


Stella langsung mendongakkan kepalanya menatap Dion dari belakang. Dia sedikit terkejut dengan pengakuan Dion.


Dahi Ryan berkerut. "Tunangan?"


"Yaa..Stella adalah tunanganku..Jangan pernah berani mengganggunya lagi."


"Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu?" tanya Ryan dengan senyuman mengejek.


"Terserah padamu mau percaya atau tidak. Itu bukan urusanku. Yang harus kau ingat adalah jangan pernah mengusik tunanganku lagi." Dion langsung menarik tangan Stella pergi menuju mobilnya.


"Stella, aku akan membawa pergi Alea, kalau kau berani menentangku," teriak Ryan dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah.


Stella hanya menoleh sesaat setelah itu masuk ke dalam mobil Dion meninggalkan Ryan yang masih berdiri sambil mengepalkan tangannya.


Dion langsung melajukan mobilnya ketika Stella sudah berada di dalam mobilnya.


Dion menoleh pada Stella yang tampak masih panik dan cemas. Dia bisa merasakan kalau tubuh Stella bergetar saat dia berdiri di belakangnya tadi karena tubuh mereka sempat menempel sebentar.


"Stella, tenanglah. Kau sudah aman," ucap Dion dengan suara pelan.


Stella langsung memalingkan wajahnya pada Dion. "Terima kasih Dion."


"Sebenarnya ada masalah apa kau dengannya?" tanya Dion dengan wajah penasaran. "Sebenarnya.. Aku.."


"Kau tidak perlu menceritakan padaku, jika kau keberatan," sela Dion.


Stella tampak termenung sesaat. Dia kemudian menceritakan permasalahannya pada Dion. "Dia pasti akan mencarimu lagi. Aku bisa melihat dari sikapnya tadi. Dia tidak mungkin berhenti begitu saja," ucap Dion ketika Stella selesai menceritakan semuanya pada Dion.


Dion tampak masih fokus menatap ke arah depan sambil sesekali menoleh pada Stella. "Sepertinya Aku harus pergi lagi. Aku tidak bisa selamanya bergantung pada Dave. Aku tidak bisa menyeretnya ke dalam permasalahanku, apalagi dia sudah menikah. Aku tidak ingin Jeslyn salah paham padaku nanti," ucap Stella sambil terus meremas tangannya.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Stella heran.


Dion menoleh ke samping menatap Stella sekilas. "Untuk malam ini, lebih baik kau tinggal bersamaku. Dia pasti akan mencarimu ke hotel tempatmu menginap."


Stella tampak ragu. "Tapi aku..."


"Kau tenang saja. Aku tidak akan macam-macam denganmu," tukas Dion sambil membuka pintu.


Stella kemudian membuka pintu juga, lalu turun dari mobil. "Bukan itu maksudku Dokter Dion. Aku hanya merasa tidak enak padamu," ucap Stella sambil mengukiti langkah Dion yang terlihat memasuki loby hotel.


"Tunggu Dion! Aku akan memesan kamar lain," ucap Stella sambil berhenti.


Dion menoleh sejenak. "Baiklah. Kalau memang itu maumu."


Stella kemudian menuju meja Receptionist di temani oleh Dion.


"Maaf Nyonya. Kamar kami sudah penuh," ucap receptionist tersebut.


Stella langsung menoleh pada Dion. "Baiklah. Terima kasih."


"Lebih baik ikuti saranku tadi." Dion kemudian berjalan mendahului Stella. Dengan langkah gontai Stella mengikuti Dion menuju lift.


"Masuklah," ucap Dion ketika dia sudah membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Dengan langkah pelan, Stella memasuki kamar Dion. "Duduklah dulu!" ucap Dion sambil menunjuk sofa single yang ada di kamarnya.


"Iyaa, terima kasih," ucap Stella dengan wajah canggung.


"Kau bisa berbaring di tempat tidur kalau kau lelah. Aku akan mandi dulu."


Melihat Stella mengangguk, Dion kemudian mengambil baju yang dia letakkan di lemari hotel. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar mandi. 


Dion merasa tubuhnya sangat lengket karena melakukan aktiftas yang padat. Setelah mengisi seminar di Fakusltas Kedokteran di salah satu universitas ternama di kota Bandung, Dion melanjutkan kunjungan ke rumah sakit cabang. 


Sambil menunggu Dion mandi. Stella tampak menghubuni seseorang. Beberapa kali dia mencoba, namun tidak diangkat. Stella akhirnya meletakkan ponselnya di pangkuannya, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang dipesan oleh Dion.


Stella cukup terkejut karena kamar yang Dion pesan termasuk kamar yang mahal. Kamar dengan tipe tertinggi di hotel tersebut. Presidential Suite, itulah kamar yang dipesan oleh Dion.


"Kenapa?" tanya Dion ketika melihat Stella tampak sedang bengong dengan bola mata yang bergerak tak tentu arah.


Stella langsung menoleh pada Dion yang terlihat sudah selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian santai. Dion terlihat berbeda ketika  mengenakan pakaian santai.


"Tidak apa-apa." ucap Stella sambil menggeleng.


Dion kemudian duduk di depan Stella. "Apa kau ingin mandi?" tanya Dion santai.


"Tidak perlu. Aku tidak membawa pakaian ganti. Aku akan mencuci wajahku saja nanti," ucap Stella dengan wajah canggung.


"Tunggu sebentar." Dion kemudian bangun dari duduknya, lalu mengambil paperbag berwarna hitam dan meletakkan di atas meja. "Pakai saja baju ini," ucap Dion sambil menunjuk papaerbag berwarna hitam.


Stella tampak tertegun sesaat. "Apakah ini milik kekasihmu?" tanya Stella spontan.


Tentu saja Stella penasaran, bagaimana bisa dia memiliki pakaian wanita di dalam kamar hotelnya.


Dion tersenyum tipis. "Itu untuk adikku. Aku tidak memiliki pacar," jelas Dion sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Tapi aku memiliki tunangan," lanjut Dion lagi dengan wajah santai.


"Kalau begitu jangan berikan padaku. Nanti tunanganmu bisa marah," tolak Stella dengan lembut. Dia tidak mungkin mengambil barang mirik orang lain. Dia tidak mau kalau sampai Dion akan bertengkar dengan tunagannya nanti karena dirinya.


Dion menyunggingkan sudut bibirnya. "Bukankah kau adalah tunanganku. Kau tidak mungkin marah pada dirimu sendiri, bukan?" tanya Dion sambil menatap Stella.


Stellla sedikit terkejut dengan ucapan tiba-tiba Dion. Stella kemudian tertawa hambar. "Ternyata Dokter Dion bisa bercanda juga. Jangan sampai orang lain mendengar, atau mereka akan salah paham nanti."


"Aku tidak bercanda. Bukankah kau mendengar sendiri, ketika aku mengatakan pada pria tadi," ucap Dion dengan wajah santainya.


"Aku tahu, kau melakukankan itu agar Ryan tidak menggangguku. Aku berterima kasih karena sudah menolongku tadi, tapi mulai sekarang aku akan mengurusnya sendiri."


"Aku akan melindungimu dari pria itu. Jangan merepotkan Dave lagi. Dia sudah berkeluarga. Lebih baik kau bergantung padaku."       


"Tidak perlu Dokter Dion. Aku tidak mau menyeretmu dengan masalahku. Aku juga tidak akan bergantung pada Dave lagi. Aku akan menghadapinya sendiri. Ini masalahku, aku yang harus menyelesaikannya."


Dion memajukan tubuhnya. "Dengan cara apa kau akan menghdapinya," tanya Dion dengan wajah serius.


"Aku akan pergi ke mana dia tidak bisa menemukan aku," jawab Stella cepat.


"Kau tidak akan bisa menghindarinya selamanya Stella. Lebih baik ikuti saranku. Tetaplah di sampingku dengan menjadi tunanganku. Dia tidak akan berani mendekatimu lagi. Sudah kubilang aku akan melindungimu dan Alea."


"Tidak perlu Dion. Aku tidak bisa selamanya bergantung padamu," tolak Stella sopan. "Aku akan mencari cara untuk mengatasinya nanti."

__ADS_1


"Kalau begitu menikahlah denganku. Agar aku bisa selalu melindungimu."


Bersambung...


__ADS_2