Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menguji


__ADS_3

Padahal, aku masih berharap bisa bersama denganmu Dave. Aku masih mencintaimu. Apa benar kau sudah tidak mencintaiku lagi?


"Maafkan aku karena hanya bisa menjadi beban untukmu, Dave," ucap Stella lirih.


"Aku tidak merasa kau menjadi bebanku Stella."


Stella tampak sangat terharu dengan ucapan Dave. Bagaimana bisa ada laki-laki yang begitu baik terhadapnya. Padahal, dia sudah meninggalkan goresan luka pada laki-laki yang dia cintai itu.


"Terima kasih, Dave."


“Hhmmm," gumam Dave sembari mengangguk. "Sudah berapa lama kau berada di Indonesia?”


“Sudah enam bulan,” jawab Stella.


Dave kembali terkejut. “Jadi, selama ini kau tinggal apartemen ini?” Tanya Dave dengan alis yang terangkat sebelah.


Stella mengangguk pelan. “Iyaa.”


“Lalu kenapa kau baru menghubungiku setelah sekian lama berada di Indonesia?”


“Karena kau sudah menikah. Aku tidak berani menemuimu. Aku takut nantinya merusak rumah tanggamu, apalagi kau tahu, kalau dari dulu Felicia sangat membenciku. Tetapi ketika aku dengar berita tentang perceraianmu dengan Felicia. Aku memutuskan untuk menghubungimu untuk menanyakannya langsung padamu,” jawab Stella.


“Jadi apa pekerjaanmu selama tinggal di Indonesia?”


Dave akui kalau dia merasa senang bertemu kembali dengan Stella, walaupun dia sudah tidak mencintainya, tetapi setidaknya dia tahu alasan Stella meninggalkannya.


“Aku memiliki beberapa butik Dave dengan Brandku sendiri.”


Setelah memutuskan pindah ke Indonesia. Stella mulai membuka beberapa butik yang tersebar di beberapa tempat. Dia adalah seorang designer terkenal di Swiss.


“Dave, bolehkah aku bertanya sesuatu yang bersifat pribadi?” tanya Stella hati-hati.


“Apa?”


“Apa kau sungguh mencintai Jeslyn?” tanya Stella dengan wajah penasaran.


Stella tahu kalau Dave menikah dengan Jeslyn dan Felicia karena tepaksa. Yang Stella pertanyakan kalau dia menikah Jelsyn dan Felicia karena terpaksa, kenapa hanya Felicia yang dia ceraikan sementara Jeslyn tetap menjadi istrinya, apalagi identitas Jeslyn sebagai istri Dave masih dirahasiakan.


“Awalnya aku memang terpaksa menikah dengannya karena dulu aku masih menunggumu. Aku berharap bisa menikah denganmu, tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata aku mulai mencintainya. Bahkan saat ini aku sangat mecintainya Stella," ungkap Dave dengan jujur.


Tidak bisa dipungkiri hati Stella sakit ketika mendengar pengakuan dari Dave. Dalam hatinya dia masih berharap bisa bersatu kembali dengan Dave setelah Dave bercerai dengan Felicia.


Stella tertawa getir. “Jadi, tidak ada lagi tempat untukku di hatimu?” tanya Stella dengan wajah sedih.


“Maafkan aku Stella, hanya dia yang aku cintai saat ini.”


Stella memaksakan dirinya tersenyum. “Aku mengerti, Dave. Aku tidak akan menganggu rumah tanggamu. Pulanglah. Aku takut istrimu akan salah paham padaku nanti.”


Walaupun Stella masih berharap bisa bersama dengan Dave, tetapi dia tidak mau mendapatkan Dave dengan cara yang licik. Dia memutuskan untuk merelakan Dave walaupun itu sulit baginya. Dia juga sadar diri kalau dirinya bukanlah Stella yang dulu dicintai oleh Dave.


“Sebenarnya, hubunganku dengan Jeslyn sedang tidak baik. Kami sedang memiliki masalah. Sebentar lagi kami akan bercerai,”  ungkap Dave dengan wajah sedih.

__ADS_1


Stella langsung terkejut mendengar penuturan Dave. Seketika dia merasa seperti memiliki kesempatan untuk mendekati Dave lagi.


“Bukankah kau bilang sangat mencintainya? Lalu kenapa kalian ingin bercerai?” Stella memang tidak tahu mengenai berita perceraian Jeslyn dan Dave.


“Dia sudah tidak peduli lagi padaku. Mungkin dia sudah tidak mencintaiku. Sudah ada laki-laki lain yang lebih bisa membahagiankannya. Padahal aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup rasanya berpisah dengannya. Rasanya dada ini sesak kalau ingat sebentar kami akan bercarai.” Dave terlihat menitikkan air matanya sambil menunduk.


Seketika hati Stella terenyuh melihat wajah mendung Dave. “Apa dia tahu kalau kau masih sangat mencintainya dan tidak ingin berpisah dengannya?”


“Iyaa, aku sudah berusaha untuk menahannya tapi sepertinya dia tidak mau kembali padaku. Dia bahkan enggan tinggal bersamaku lagi. Mungkin sudah saatnya aku melepasnya.”


“Jadi dia yang akan mengajukan gugatan cerai padamu?”


“Iyaa, aku sudah mengatakan padanya kalau aku tidak akan pernah menceraikannya, tetapi aku juga tidak bisa menahannya jika dia yang mengajukan gugatan cerai padaku.”


Melihat Dave yang tampak tidak ingin berpisah dengan Jeslyn membuat Stella merasa sedih. Dia tidak pernah melihat Dave sesedih itu sebelumnya.


“Apa perlu aku membantumu agar kalian bisa bersatu kembali?”


Walapun dia menginginkan Dave, tetapi jika hati Dave sudah menjadi milik orang lain. Stella juga tidak mau mendapatkan Dave dengan cara yang salah.


“Percuma saja Stella. Apapun yang aku lakukan untuk mempertahankan rumah tanggaku kalau memang dia tidak mencintaiku, dia tidak akan mau kembali padaku lagi.”


Stella majukan tubuhnya. Dia ingin menatap Dave dari dekat. “Apa kau yakin dia sudah tidak mencintaimu?” tanya Stella dengan wajah penasaran.


“Kalau dia masih mencintaiku, tidak mungkin dia mau bercerai denganku Stella. Melihat wajahku saja dia tidak mau,” ucap Dave dengan wajah pasrah.


Stella tersenyum. “Kita akan tahu bagaimana perasaannyabjika kita mengujinya.”


“Aku akan membatumu sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah mau melindungi kami. Apalagi kau juga mengijinkan aku menggunakan namamu pada Alea dan menggapmu sebagai ayahnya.“


"Sepertinya sudah tidak ada gunanya Stell. Dia sudah membenciku. Dia tidak mungiin mau kembali padaku," ucap Dave dengan wajah pesisimis.


"Tapi yang aku lihat dia sangat mencintaimu. Aku bisa merasakan perasaan cintanya padamu ketika aku bertemu dengannya."


Pupil mata Dave tampak membesar. "Kau sudah pernah bertemu dengannya?"


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya waktu di rumah sakit saat aku menjengukmu ketika kau mengalami kecelakaan. Apakah istrimu tidak memberitahukan padamu?" Stella kira dia sudah menceritakan pada Dave mengenai kedatangannya.


"Tidak. Dia tidak mengatakan apa-apa padaku."


Dave memang tidak tahu mengenai kedatangan Stella karena saat itu dia sedang koma. Jeslyn juga tidak menceritakan padanya.


Stella menyunggingkan senyumnya. "Pengendalian dirinya cukup bagus. Aku pikir dia akan marah-marah padaku karena aku mendatangimu waktu itu. Aku sempat memancing emosinya waktu itu, tapi ternyata dia cukup baik dalam bersikap, tidak seperti Felicia.'"


"Terkadang aku merasa ragu, apakah dia mencintaiku atau tidak. Aku tidak pernah melihat dia cemburu padaku. Dia selalu terlihat tenang walaupun ada yang mendekatiku," ucap Dave dengan wajah pasrah.


"Kalau begitu, kita buat dia cemburu padamu dan kita buat dia tidak mau bercerai denganmu. Aku yakin rencanaku akan berhasil."


"Rencana apa?"


"Kita akan berpura-pura memiliki hubungan di depannya. Biarkan dia menganggap Alea sebagai anakmu. Tapi apa kau tega melihatnya sakit hati ketika kita berpura-pura di depannya?" tatap Stella dengan wajah sangsi.

__ADS_1


Dave tersenyum. "Aku akan mencobanya, tapi aku tidak mau berharap lebih padanya. Aku takut akan kembali sakit hati saat menerima kenyataan nanti kalau dia sudah tidak mencintaiku," ucap Dave dengan wajah pesimis.


"Kita harus mencobanya dulu untuk tahu bagaimana perasaannya padamu. Tapi aku sangat yakin kalau dia masih mencintaimu Dave," ucap Stella mantap.


Dave tampak lebih bersemangat mendengar ucapan Stella. "Aku juga berharap begitu."


"Jika kita sudah berusaha keras, tapi dia tetap mau bercerai denganmu, kau harus menerimanya dengan lapang dada Dave."


"Iyaa, aku mengerti Stella."


"Kalau dia sudah tidak mau lagi denganmu, bagaimana kalau kalau kembali padaku? Kali ini aku akan pernah meninggalkanmu," ucap Stella spontan.


Dave mengerutkan keningnya. "Aku hanya bercanda, Dave," lanjut Stella sambil tersenyum ketika melihat wajah Dave yang terlihat bingung.


Dave tampak menatap serius pada Stella. "Stella, jangan pernah berharap lebih padaku karena hatiku sudah dipenuhi oleh Jeslyn. Aku sudah memberikan semua hatiku untuknya. Aku tidak ingin kau terluka nantinya karena kau adalah wanita yang baik," ucap Dave sungguh-sungguh.


Stella menampilkan wajah seriusnya. "Iyaa Dave. Sejujurnya aku masih berharap bisa bersama denganmu lagi karena aku masih mencintaimu, tapi aku sadar kau sudah tidak mencintaiku lagi. Aku tidak akan memaksakan perasaanku padamu Dave. Aku bukan Felicia yang sanggup melakukan apapun demi mencapai tujuannya."


Stella berusaha tersenyum walaupun hatinya sebenarnya sakit saat tahu kalau dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersama dengan Dave lagi.


"Maafkan aku Stella. Aku sungguh minta maaf," ucap Dave dengan wajah bersalah.


"Dave ini bukan salahmu Dave. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, tetapi jika suatu saat kau butuh seseorang untuk bersandar, cari saja aku. Aku akan selalu ada untukmu. Datanglah padaku kapanpun kau membutuhkanku."


"Terima kasih Stella. Aku harap kau bisa menemukan laki-laki baik yang bisa membahagianmu kelak. Aku akan melindungimu dan Alea sampai kau menemukan orang yang bisa menjagamu," ucap Dave dengan tulus.


Mata Stella berkaca-kaca. "Dave, bisakah aku memelukmu sekali saja. Aku sangat merindukanmu. Anggap saja ini pelukan terakhir dari orang yang sangat mencintaimu. Aku akan berusaha merelakanmu mulai saat ini," ucap Stella sambil menitikkan air mata.


Dave lalu berdiri dan duduk di samping Stella. "Maafkan aku Stella. Pada akhirnya aku yang melukaimu. Aku pikir dulu kau yang menyakitiku, tapi kini ternyata aku salah. Aku harap setelah ini hidupmu hanya dipenuhi oleh kebahagian," ucap Dave sambil memeluk Stella. Air mata Stella turun lebih deras ketika berada dipelukan Dave.


Stella mengangguk. "Terima kasih untuk semuanya Dave."


******


Stella menoleh pada Dave ketika mereka sudah berada di dalam ruangan kantor Dave. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Stella sambil melirik pada Dave saat mereka sudah duduk di sofa. Mereka baru saja mengantar Alea sekolah.


Saat Dave ingin menjemput Stella dan Alea tadi pagi, dia melihat Jeslyn dan Dion ketika Dave akan keluar dari apartemen. "Aku sangat merindukannya Stell. Sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku mati-matian menahan diri untuk tidak menghampiri dan memeluknya tadi," ucap Dave dengan wajah sedih.


"Kau harus menahannya. Aku lihat tadi wajahnya pucat. Sepertinya dia sangat terkejut. Apalagi, ketika dia menanyakan perlihal Alea. Terlihat sekali kalau dia kecewa sekaligus marah. Jelas-jelas dia masih mencintaimu Dave. Walaupun dia terlihat tenang, tapi aku bisa menangkap sorot kecemasan dan terluka di matanya. Kalau dia tidak mencintaiku, reaksinya pasti biasa saja. Dia bahkan menatap tajam padaku saat aku menarikmu pergi."


Dave menyandarkan tubuhnya. "Apa kau yakin?" tanya Dave penasaran.


"Tentu saja, tapi ngomong-ngomong siapa laki-laki yang bersamanya? Mereka terlihat sangat akrab," tanya Stella.


Dave menghembuskan napas pelan. "Dia teman satu profesi sekaligus teman dekat istriku. Laki-laki itu juga mencintai Jeslyn," ucap Dave malas. Dia seolah enggan membahas Dion.


Stella menangkap kecemburuan dari nada bicara Dave. "Jadi dia saingan cintamu? Cukup tampan untuk menjadi sainganmu."


Mendengar Stella memujinya, Dave langsung berubah menjadi cemas. Dia jadi berpikir kalau Stella berpikir Dion tampan, apakah Jeslyn juga berpikiran seperti itu? Seketika Dave merasa takut kalau nanti Jeslyn sungguh jatuh cinta pada Dion, mengingat mereka sangat dekat selama ini.


"Kalau kau menyukainya, dekati saja. Kalau bisa jauhkan dari istriku. Aku sangat tidak menyukainya. Dia bahkan terang-terangan mengatakan akan merebut Jeslyn dariku. Rasanya aku ingin melenyapkannya dari dunia ini, ketika dia mengatakan hal itu," ucap Dave dengan wajah kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2