
Stella menoleh pada laki-laki yang ada di depannya. "Terima kasih Dokter Dion sudah mengantar kami," ucap Stella sopan.
Mereka baru saja turun dari taksi dan sedang berdiri di depan pintu lobt apartemen Jeslyn.
"Aku akan mengantarmu sampai atas," ujar Dion.
"Tidak perlu, Dok. Aku sudah merepotkanmu dengan mengantarku sampai di sini," tolak Stella sopan.
Dion menatap Stella dengan datar. "Aku tidak berniat jahat. Aku hanya ingin membantumu membawakan barang-barangmu. Kau juga pasti belum tahu unit apartemen Jeslyn yang mana, akan lebih cepat jika aku mengantamu," jelas Dion.
Dia memaklumi kenapa Stella menolak bantuannya karena memang mereka tidak saling mengenal. Pasti ada rasa canggung dan tidak enak hati dalam diri Stella.
Stella tersenyum paksa. "Bukan itu maksudku. Mana mungkin aku berpikir buruk tentangmu. Aku hanya tidak ingin merepotkan Dokter saja," jelas Stella cepat.
Dion meraih 2 koper milik Stella. "Aku bukan laki-laki yang tidak memiliki hati nurani. Aku akan melakukan hal yang sama jika ada orang lain yang membutuhkan bantuanku." Dion langsung membawa koper Stella dengan kedua tangannya menuju pintu loby apartemen Jeslyn. Stella tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Dion.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di depan unit apartemen Jeslyn. Dion langsung melangkah masuk setelah Stella membuka pintu apartemen Jeslyn. Sebelum pulang dari bandara, Jeslyn terlebih dahulu menyerahkan kunci apartemennya.
Dia juga sudah menjelaskan pada Stella kamar mana yang bisa dia gunakan untuk sementara waktu. Beruntung Jeslyn sudah menyuruh orang untuk memberisihkan apartemennya sebelum dia kembali dari rumah sakit, sehingga apartemennya tampak bersih dan rapi.
"Aku akan langsung pulang," ucap Dion ketika dia sudah meletakkan koper Stella di ruang tamu.
"Terima kasih Dok sudah membantuku. Maaf sudah merepotkanmu," kata Stella tulus.
"Mommy Alea lapar." Alea mendongakkan kepalanya menatap ibunya sambil menarik ujung baju Stella.
Seketika pandangan Dion beralih pada Alea kemudian berpindah pada Stella. "Aku akan pergi membelikan makanan. Kalian tunggu di sini saja." Dion langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Stella.
Stella akhirnya memutuskan untuk membawa kopernya ke kamar tamu. Dia dan Alea berganti pakaian, setelah itu dia kembali ke ruang tamu untuk menunggu Dion kembali. Setelah menunggu beberapa waktu, Dion akhirnya kembali. Dia langsung menyerahkan makanan pada Stella.
"Maaf sudah merepotkanmu," ucap Stella dengan wajah canggung.
"Tidak masalah. Aku pamit."
"Tunggu. Lebih baik kau ikut makan bersama kami." Stella merasa tidak enak karena sudah merepotkan Dion, apalagi mereka tidak mengenal sebelumnya.
"Tida perlu. Aku akan langsung pulang," tolak Dion.
"Aku sudah merepotkanmu berkali-kali. Aku akan merasa bersalah jika membiarkanmu pergi tanpa makan terlebih dahulu, apalagi kau yang pergi membelikan makanan ini." Stella berusaha untuk membujuk Dion.
__ADS_1
"Hal kecil seperti itu tidak perlu kau bahas lagi. Aku tulus membantumu." Dion masih saja tidak menolak ajakan Stella.
Stella menunduk mentap anaknya yang sedang duduk di sofa. "Alea tidak keberatankan makan bersama dengan Om Dokter, kan?" tanya Stella pada anaknya.
"Tidaak, Mommy."
Stella kemudian beralih menatap Dion. "Kami tidak keberatan makan bersama denganmu, Dokter."
"Ayoo Sayang, kita makan," ajak Stella pada anaknya.
"Iyaa Mommy." Alea langsung berjalan menuju meja makan sementara Dion tampak masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Makanlah bersama kami Dokter," sahut Stella kemudian menarik tangan Dion menuju meja makan.
Dion tampak merasa canggung ketika tangannya ditarik oleh Stella. "Heeemm." Dion tampak berdeham. "Bisakah kau melepaskan tanganku. Aku bisa jalan sendiri," ucap Dion dengan wajah malu.
Stella yang baru menyadari kalau dari tadi dia terus menarik tangan Dion, seketika dia langsung melepaskannya. "Maaf Dokter."
Dion hanya mengangguk. Setelah Stella membuka semua wadah makanan yang dibawa oleh Dion. Mereka mulai menyantap makanan yang ada di atas meja.
*****
"Kau mau buka sendiri atau aku yang akan membukanya?" Dave tampak mengindahkan penolakan dari Jeslyn.
"Aku akan menghitung sampai tiga. Kalau kau belum membukanya, aku akan langsung memasukkanmu ke dalam bathup itu," ancam Dave.
Dia sudah merasa tidak sabar karena Jeslyn tampak mengulur waktunya.
"Satu...."
Jeslyn masih tampak ragu. "Duaaa.."
Dave sudah mulau berdiri. "Tig.."
"Dave stop. Aku akan membukanya," potong Jeslyn. Dia langsung membuka pakaiannya secara perlahan.
"Biar aku bantu."
Dave langsung membantu istrinya untuk membuka seluruh pakaian istrinya. Dengan menahan malu, Jeslyn hanya menerima saat Dave mulai melucuti seluruh pakaiannya. Setelah tubuh istrinya polos, Dave kemudian mengangkat tubuh istrinya ke dalam bathup.
__ADS_1
Dave duduk di pinggiran bathup, tanpa basa-basi Dave mulai membantu istrinya untuk membersihkan tubuh Jeslyn. Dengan susah payah Dave menahan gejolak hasrat yang mulai menyala ketika melihat tubuh polos istrinya.
"Kau mandilah sendiri. Aku akan menunggu diluar. Setelah selesai panggil aku."
Dave seketika berdiri sambil mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup bila harus membantu istrinya mandi. Dia tidak bisa fokus ketika melihat tubuh indah istrinya.
"Iyaa." Dave langsung keluar dari kamar mandi. Dia kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Daveee," teriak Jeslyn dari dalam kamar mandi.
Dave langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi. Dave membantu Jeslyn untuk berdiri lalu memakaikan bathrobe pada istrinya. Setelah itu, dia mengangkat tubuh Jeslyn menuju tempat tidur.
"Kau tunggu di sini."
Dave berjalan menuju lemari untuk mengambilkan baju untuk istrinya. Beruntung Jeslyn pernah meninggalkan sebagian bajunya di apartemen Dave sehingga dia tidak perlu menyuruh asistennya untuk membawakan baju Jeslyn dari apartemen istrinya.
Setelah mendapatkan pakaian yang dia rasa pas untuk istrinya. Dia lalu memberikan pada Jeslyn. "Pakaialah."
Jeslyn meraihnya baju tidur tersebut dari tangan Dave. Baju tidur itu adalah baju tidur satu set, yang terdiri dari piyama kimono dan baju tidur berenda berbentuk dress diatas lutut dengan tali dua tali tipis yang berbahan satin.
Dave senagaja memilih pakaian itu agar Jeslyn tidak kesulitan untuk memakainya dikarenakan baju itu tidak memerlukan gerakan pada bagian kaki Jeslyn. Ketika melihat Jeslyn selesai memakai baju tersebut, Dave tampak tidak berkedip memandang istrinya.
Saat ini, Jeslyn tampak seksi dan sangat menggoda ketika memakai kimono set yang berwarna pink, apalagi jika Jeslyn duduk memperlihatkan bagian paha putih dan mulusnya. Jantung Dave langsung berdebar kencang dan tubuhnya memanas.
"Dave," panggil Jeslyn ketika melihat suaminya tampak hanya diam sambil memandangnya.
Dave langsung tersadar. "Lebih baik kita makan." Dave berusaha untuk tetap tenang sambil dia mengeyahkan pikiran liar yang ada di kepalanya.
"Dave, biar aku jalan sendiri," ucap Jeslyn ketika Dave akan mengangkat kembali tubuhnya. "Aku harus berlatih berjalan sendiri supaya kakiku cepat pulih," lanjut Jeslyn lagi.
Dave nampak tidak menghiraukan perkataan istrinya. "Dave," pekik jelsyn ketika Dave sudah membopong tubuh Jeslyn.
"Kau bisa melakukannya di saat aku bekerja nanti. Selama masih ada aku, biar aku yang menggendongmu," ucap Dave seraya meletakkan tubuh istrinya di tempat duduk yang berada di ruang makan.
Sebenarnya Jeslyn sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat karena luka pada kakinya tidak terlalu serius sehingga tidak memerlukan tindakan operasi, hanya perlu melakukan beberapa terapi saja dan bantuan obat.
"Makanlah."
"Iyaa."
__ADS_1
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara komen, tekan Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..