
Jeslyn terlihat duduk dengan gelisah di ruang tamu menunggu Dave pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Dave belum juga pulang. Sementara acara pertunangan Dion dan Stella akan segera dimulai.
Jeslyn sudah terlihat sudah siap untuk berangkat. Dia sudah berhias dan mengganti bajunya dan dengan gaun yang mereka ambil tadi siang. Penampilan Jeslyn terlihat anggun dan sangat cantik malam ini.
Jeslyn sudah mencoba untuk menghubungi Dave tapi tidak diangkat. Akhirnya Jeslyn mengirimkan pesan singkat pada suaminya. Dave hanya menyuruh Jeslyn untuk bersiap dan akan menjemputnya setengah jam lagi.
Setengah jam sudah berlalu tapi Dave belum juga datang menjemputnya. Setelah pertengkaran mereka tadi siang. Dave pergi entah ke mana. Jeslyn juga tidak tahu karena Dave tidak memberitahukan padanya pada saat Jeslyn bertanya dalam pesan singkat.
Dave hanya mengatakan kalau dirinya ada urusan dan akan menjemputnya nanti. Jeslyn merasa kalau Dave mungkin masih marah padanya. Jeslyn akui kalau emosinya sempat terpancing tadi siang. Dia menyesali atas apa yang sudah dia katakan pada Dave.
Jeslyn langsung mengangkat kepalanya saat pintu terbuka. "Dave, kau dari mana saja?" Jeslyn langsung berjalan ke arah pintu ketika melihat suaminya baru saja pulang.
"Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Jeslyn ketika melihat penampilan Dave yang berantakan. Kemejanya kusut, dua kancing bajunya sudah terbuka, rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat lusuh.
"Aku akan mandi dulu." Dave langsung berjalan masuk dengan langkah gontai menuju tangga tanpa menjawab pertanyaan Jeslyn.
"Dave, kau masih marah padaku?" Jeslyn mengikuti langkah Dave dari belakang.
Dave langsung menoleh pada Jeslyn ketika dia mendengar Jeslyn mengikuti langkahnya menaiki tangga. "Jangan menaiki tangga, gunakan lift." Dave langsung menaiki tangga setelah memperingatkan Jeslyn.
Jeslyn yang baru saja menaiki 2 anak tangga, seketika turun kembali. Dave memang melarangnya untuk menaiki tangga selama masa kehamilannya, ini pertama kalinya Jeslyn menginjak tangga rumahnya karena terlalu fokus pada suaminya sehingga melupakan pesannya.
Jeslyn berbalik menuju lift. Ketika sampai diatas, Dave masih menaiki anak tangga. Jeslyn memutuskan untuk membuka pintu kamarnya dan menunggu Dave di dalam kamar.
Dave berjalan menunduk sambil memegang tengkuknya yang terasa pegal ketika memasuki kamarnya. Dia terus berjalan memasuki kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Jeslyn hanya diam menatap punggung Dave yang baru saja masuk kamar mandi. Dia merasa sedih karena Dave terlihat mengabaikannya.
Jeslyn akhirnya bangun dari duduknya dan menyiapkan pakaian untuk suaminya sambil menunggu Dave selesai mandi. Lima belas menit kemudian Dave keluar dari kamar mandi. Dia kemudian berjalan menuju walk in closet.
"Ayo berangkat," ucap Dave seraya berjalan menuju pintu.
Jeslyn meraih tasnya lalu menyusul Dave. Kali ini, Dave berjalan menuju lift. Melihat Dave diam saja, Jeslyn juga tidak berani membuka mulutnya. Setelah masuk ke dalam mobil, Dave melajukan mobilnya ke tempat acara berlangsung. Dia mengendarai langsung mobilnya tanpa diantar oleh asistennya.
"Dave, apa kau masih marah denganku?" Jeslyn akhirnya tidak tahan untuk bertanya pada suaminya.
"Tidak." Dave terlihat fokus menatap jalan yang ada di depannya.
"Maafkan aku, Dave."
"Kau tidak perlu minta maaf. Semuanya yang kau katakan memang benar." Dave tidak menoleh sedikitpun pada Jeslyn ketika menjawab pertanyaannya. Dia bahkan menunjukkan wajah tanpa ekpresi.
Jeslyn meremas tangannya. "Dave, tolong jangan mendiamkan aku," pinta Jeslyn dengan wajah sedih.
"Aku tidak mendiamkanmu, Jes" jawab Dave dengan wajah datar.
"Lalu, kenapa kau sedari tadi hanya diam?" Jeslyn sedari tadi terus menatap ke arah Dave.
"Aku hanya tidak ingin kau merasa aku cerewet karena terlalu banyak bicara."
"Dave, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu," ucap Jeslyn dengan wajah bersalah.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, turunlah." Dave langsung membuka pintu kemudi dan menunggu Jeslyn di depan mobil
Suasana ballroom terlihat sudah ramai dengan tamu undangan. Jeslyn mengapit lengan Dave dan masuk ke dalam ballrom.
Ketika mereka sampai di dalam ballroom, acara pertunangan baru saja dimulai. Dave dan Jeslyn langsung berjalan tempat keluarga Stella dan Dion berkumpul. Sudah ada kursi khusus yang di sediakan untuk Jeslyn dan Dave.
Ketika Dave dan Jeslyn baru saja duduk, seorang wanita paruh baya terlihat menghampiri mereka berdua. "Dave, kau baru datang?" tanya wanita itu.
"Mama." Dave terlihat terkejut melihat wanita yang tadi memanggilnya.
"Bagaimana kabarmu, Dave?"
"Baik, Ma," jawab Dave sambil tersenyum. "Kapan mama sampai?" tanya Dave ketika melihat wanita itu sudah duduk di dekatnya.
"Baru tadi pagi." Wanita itu kemudian menoleh pada Jeslyn.
"Ini Jeslyn. Dia istriku, Ma," jelas Dave ketika melihat tatapan penasaran dari wanita itu.
"Ini adalah Ibu Stella," terang Dave pada Jeslyn.
Dave dan keluarga Stella memang sangat dekat, terutama dengan ibu dan adik Stella. Begitu pun sebaliknya. Tidak ada yang menyangka kalau Dave dan Stella tidak berjodoh. Padahal, dulu banyak yang memprediksikan kalau mereka akan menikah.
Jeslyn langsung mengangguk sambil tersenyum. "Jadi, ini istrimu, cantik sekali," puji Ibu Stella.
"Terima kasih, Tante," ucap Jeslyn dengan wajah malu.
"Mama datang ke Indonesia dengan siapa?" tanya Dave lagi.
"Mama datang sendiri. Papa Stella tidak bisa datang. Selvi sedang ujian, jadi tidak bisa ikut." jelas ibu Stella dengan wajah tidak enak.
Mereka pun menghentikan obrolan mereka ketika acara puncak dimulai. Ketika acara puncak selesai. Dave dan Jeslyn menghampiri Stella dan Dion. Mereka terlihat berbicara sebentar.
Saat sedang Jeslyn dan Dave sedang duduk sambil menikmati minuman yang mereka ambil tadi. Terlihat beberapa rekan kerja Jeslyn menghampiri mereka berdua.
Ada 2 perempuan termasuk dokter Sarah dan 5 pria. "Jes, kau mengobrol saja dulu. Aku akan menemui temanku."
Setelah berpamitan dengan istrinya Dave langsung pergi menghampiri temannya yang juga teman Stella. Stella memang mengundang teman-temannya semasa sekolah. Jeslyn terus menatap suaminya yang terlihat sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.
Jeslyn merasa kalau Dave masih marah padanya karena selama acara berlangsung Dave belum juga mau bicara dengannya jika Jeslyn tidak mengajaknya bicara atau bertanya padanya. Malam semakin larut, Dave terlihat masih mengobrol dengan temannya. Jeslyn sedang duduk sendiri setelah teman-teman pergi.
"Hai Jes, kenapa kau duduk sendiri?" Glen menghampiri Jeslyn ketika melihatnya duduk sendiri di pojok sambil memegang minuman di tangannya.
Jeslyn tersenyum canggung ketika melihat Glen sudah berdiri di depannya. "Iyaa, Dave sedang berbicara dengan temannya."
Glen melirik sekilas ke arah Dave yang masih berbicara dengan beberapa teman mereka semasa sekolah. "Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Glen seraya menunjuk salah satu kursi kosong yang ada di samping Jeslyn.
"Iyaaa," jawab Jeslyn sambil mengangguk.
Glen tersenyum ketika melihat persetujuan dari Jeslyn. "Apa kalian sedang bertengkar?" tebak Glen sesaat setelah dia duduk.
Jeslyn yang tadi sedang menatap ke arah suaminya langsung beralih pada menatap ke arah Glen. "Tidak," bohong Jeslyn. Dia sebenarnya terkejut ketika mendengar pertanyaan Glen.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Glen dengan wajah tidak percaya.
Yang Glen tahu, Dave tidak akan pernah membiarkan pacar atau istrinya sendirian di pesta, meskipun dia sedang mengobrol dengan temannya.
"Iyaa, tadi aku sedang mengobrol dengan rekan kerjaku sehingga Dave memilih untuk mengobrol dengan temannya juga," jelas Jeslyn.
Glen mangut-mangut. "Aku dengar dari Dave, kau sedang hamil?"
"Iyaa benar," jawab Jeslyn sambil tersenyum.
"Jes, apa kau bahagia hidup dengan Dave?" tanya Glen dengan wajah seriusnya.
"Tentu saja, aku sangat bahagia," jawab Jeslyn dengan yakin. "Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Jeslyn merasa heran dengan pertanyaan Glen.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja."
Jeslyn dan Glen terus mengobrol sampai akhirnya Dave datang menghampiri mereka berdua.
"Kalian masih ingin mengobrol?" tanya Dave ketika dia sudah sampai di dekat mereka.
"Aku sedang menunggumu, Dave. Glen hanya menemaniku saja sampai kau selesai berbicara dengan temanmu," jawab Jeslyn cepat. Sebelum Dave salah paham lagi, Jeslyn langsung mengatakan yang sebenarnya.
"Iya benar, Dave. Aku lihat Jeslyn sendirian tadi jadi aku menemaninya," timpal Glen. Dia juga taku kalau Dave akan salah paham padanya.
"Kalian tidak perlu menjelaskan padaku. Aku hanya bertanya apakah kalian masih ingin mengobrol," ucap Dave ketika melihat wajah panik Jeslyn dan Glen.
"Kami sudah selesai bicara, Dave," sahut Jeslyn cepat.
Dave beralih pada sahabatnya. "Glen, kami pulang dulu, ini sudah malam," pamit Dave setelah dia melihat alroji di pergelangan tangannya.
Glen langsung berdiri. "Baiklah, hati-hati." Dave mengangguk setelah itu mereka berjalan keluar.
Sesampainya di rumah Dave dan Jeslyn langsung memasuki kamar. Tidak ada pembicaraan sampai mereka tiba di rumah. Jeslyn terlihat memasuki kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya. Sementara Dave langsung mengganti baju dan naik ke tempat tidur. Dia merasa sangat lelah hari ini.
Jeslyn mengerutkan keningnya ketika melihat Dave sudah berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Tidak biasanya Dave tidur lebih dulu. Biasanya dia akan menunggu Jeslyn tertidur dulu baru dia memejamkan matanya. Jeslyn akhirnya naik ke tempat tidur dan ikut memejamkan matanya dan berniat untuk mengajak Dave untuk berbicara keesokan harinya.
*****
Setelah acara pertunangan mereka selesai. Keluarga Dion tidak langsung kembali ke rumah. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel mereka dan akan pulang keesokan harinya.
"Tidurlah, ini sudah malam," ucap Dion ketika mereka dia sudah berada di kamar Stella.
Kamar Stella dan kamar Dion bersebelahan. Malam ini, Alea aka tidur bersama dengan Reina jadi Stella tidur sendiri di kamarnya.
"Dion, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membahas masalah yang tadi siang lagi," ucap Stella dengan wajah bersalah, "aku bukannya ragu denganmu Dion. Aku hanya...." Stella tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak marah denganmu, Stella. Tidurlah ini sudah malam," ucap Dion seraya memeluk Stella yang terlihat sedang menunduk.
Stella mendongakkan kepalanya menatap wajah Dion. "Benarkah kau tidak marah denganku?" tanya Stella.
"Iyaaa," jawab Dion sambil mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke kamarku, tidurlah. Jangan memikirkan apapun." Dion mengecup kening Stella sebelum keluar dari kamarnya.
Bersambung...