Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Rencana Dave


__ADS_3

“Permisi Tuan.” Sarah berdiri di depan pintu sambil sedikit membungkuk.


Dave melirik sejenak pada dokter Sarah. “Masuklah.” Dave memposisikan tubuhnya duduk dengan tegak.


Sudah seminggu semejak Dave sadar dari koma, kondisinya berangsur pulih. Lusa dia sudah diperbolehklan untuk pulang. Selama itu juga Jeslyn menemani Dave di rumah sakit. Ibu dan ayahnya sudah 2 kali mengunjungi Dave, tapi tidak sekalipun Felicia menampakkan diri di rumah sakit untuk melihat keadaan Dave.


“Aku dengar istriku habis memeriksakan kandungannya kemarin?” Dave menatap dokter Sarah yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.


“Benar Tuan.”


Jeslyn selalu melakukan pemeriksaan rutin untuk kandungannya. Mual dan muntahnya sudah jarang terjadi. Semenjak berada di kamar yang sama dengan suaminya, dia merasa nyaman dan tidak mengalami mual dan muntah.


“Bagaimana kondisi istriku dan anakku? Jeslyn sudah memberitahuku, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu.”


Dave hanya khawatir, jika Jeslyn mengalami kesulitan dalam masa kehamilannya dan tidak memberitahu Dave. Melihat Jeslyn yang tidak pernah mengeluh sedikitpun membuat Dave khawatir. Dave takut kalau Jeslyn menyembuyikan sesuatu yang sulit selama kehamilan karena tidak ingin dia merasa khawatir.


“Ibu dan bayinya dalam kondisi sehat. Tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan Tuan. Saya selalu memberikan vitamin untuk dokter Jeslyn dan selalu memantau perkembangan bayinya.”


Dave mengangguk. “Baguss.” Dave tampak senang mendengarnya, “apakah hasil tes DNA bayi yang dikandung oleh Felicia sudah keluar?” Dave tampak memasang wajah seriusnya ketika menyebut nama Felicia.


“Sudah Tuan. Saya sudah memberikan hasilnya pada asisten anda, sesuai dengan instruksi anda waktu itu.”


Sehari sebelum Dave mengalami kecelakan, Dave menghubungi dokter Sarah untuk melakukan tes DNA Prenatal pada kandungan Felicia. Felicia yang tidak mengerti mengenai prosedur tes DNA menganggap pemerikasaan saat itu adalah pemeriksaan biasa.


Felicia memang diminta seminggu sekali oleh ibu mertuanya untuk pemeriksaan rutin kandungannya, jadi dia tidak merasa aneh ketika dokter Sarah mengambil cairan Amnion untuk melakukan tes DNA.


“Baiklah. Rahasiakan dulu dari istriku. Jangan sampai Jeslyn tahu. Aku tidak ingin kalau sampai dia terganggu dengan masalah Felicia.”


Dokter Sarah sedikit membungkuk. “Baik Tuan.”


“Kau boleh pergi.”


*****


Jeslyn berjalan masuk ke dalam kamar perawatan Dave. “Sayang, kau dari mana saja?” Dave mulai gelisah karena Jeslyn tidak kunjung kembali setelah berpamitan untuk keluar sebentar.


“Aku habis dari kantin Dave. Tiba-tiba aku ingin makan bakso.” Jeslyn meletakkan makanan yang dia beli di atas nakas.


“Tapi kenapa lama sekali?”

__ADS_1


Jeslyn tersenyum sambil duduk di samping Dave yang tampak sedang menatap curiga padanya. “Aku bertemu dengan Dion lalu mengobrol sebentar dengannya.”


Dave langsung memasang wajah masam ketika mendengar nama Dion. “Apa dia tahu kalau kau sedang hamil?”


“Sudaah. justru dia sering memarahiku karena tidak memperhatikan tentang kehamilanku.”


Medengar itu, wajah Dave bertambah masam dan cenderung tidak suka. “Dia sudah tahu kau sedang hamil, tapi dia tetap tidak menjaga jarak denganmu. Sepertinya dia ingin aku pecat.”


Jeslyn memegang lengan Dave dengan cepat. “Dave, jangan seperti itu. Jangan melibatkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Dia tidak salah. Kami hanya mengobrol biasa. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu karena masalah Dion. Dia tidak seperti yang kau pikirkan Dave.”


Jeslyn harus menghentikan dengan cepat pembicaraan mengenai Dion atau mereka akan berakhir dengan pertengkaran.


“Baiklah. Naiklah ke sini. Aku ingin memelukmu.”


Dave meminta Jeslyn untuk berbaring di ranjang sebelahnya. Ranjangnya dan Jelsyn sengaja disatukan, sehingga mereka bisa tidur dengan leluasa. Dia memilih mengalah saat melihat wajah lelah istrinya. Sebenarnya Dave masih tidak terima karena Jeslyn masih saja dekat dengan Dion.


“Tapi aku lapar Dave. Aku harus makan terlebih dahulu.”


“Apa perlu aku suapi?” tawar Dave.


Jeslyn tersenyum simpul. “Tidak perlu Dave. Yang sakit itu kau, bukan aku.” Jeslyn mulai mengaduk bakso yang dia beli tadi.


“Sayaaang,” panggil Dave dengan suara pelan.


“Bagaimana kalau kita pulang ke rumah kita? Lebih enak kalau kita tinggal di rumah dari pada di apartemen. Lingkungannya juga nyaman.”


Jeslyn menghentikan gerakan tangannya yang sudah terangkat. “Apa Felicia akan ikut kita?”


Jeslyn tidak mau tinggal dengan madunya itu. Apalagi mereka sama-sama hamil, emosi mereka pastinya tidak stabil. Akan banyak perdebatan dan pertengkaran nantinya jika mereka disatukan.


Dave tampak terdiam sesaat. “Kalau kau keberatan, aku akan memintanya untuk tetap tinggal di rumah mama.”


“Itu terserah padamu Dave. Kau kepala rumah tangga. Aku hanya bisa mengikuti keputusanmu.” Jeslyn tampak melanjutkan mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


“Ini tidak akan lama sayang. Aku janji. Dia akan segera keluar dari rumah kita.”


Sebenarnya Dave juga tidak ingin membawa Felicia ke rumahnya lagi, tapi bagaimanapun dia masih bersatus suami sahnya, apalagi Felicia sedang hamil. Dia berencana menyuruh Felicia pergi setelah perceraian mereka.


Mendengar Dave mengatakan hal itu, ada sedikit rasa kecewa di hatinya.

__ADS_1


“Ya.” Jeslyn menjawab dengan singkat.


Dave tahu kalau Jeslyn sebenarnya keberatan jika harus tinggal satu atap dengan Felicia, tapi dia tidak punya pilihan lain. Ibunya pasti akan terus menggangunya, jika membiarkan Felicia tinggal sendiri.


*******


Zayn membuka pintu dengan pelan. Dilihatnya Dave sedang menatap wajah istrinya sambil memeluknya. “Permisi Tuan.” Zayn berjalan dengan sangat pelan. Dia takut membangunkan istri bosnya.


“Kita bicara di sana saja.” Dave menunjuk sofa yang berada tidak jauh dari pintu.


Zayn mengangguk sambil berjalan menuju sofa, sementara Dave dengan perlahan turun dari tempat tidur. Dia melihat Jeslyn tampak tidur sangat lelap. Dave menoleh sejenak pada istrinya sebelum berbicara dengan asistennya. Dia tidak ingin kalau sampai Jeslyn mendengar pembicaraan mereka.


“Bagaimana? Apa kau sudah menyuruh Seno untuk mengurus perceraianku?”


Dave duduk di depan Zayn sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Seno adalah pengacara yang ditunjuk Dave untuk mengurus perceraiannya dengan Felicia.


“Bicaralah yang pelan, jangan sampai istriku terbangun dan mendengar pembicaraan kita," lanjut Dave lagi ketika Zayn sempat melirik ke arah Jeslyn.


Zayn mengangguk tanda mengerti. Dia menyondongkan tubuhnya ke arah Dave, agar dia bisa mendengar suaranya yang pelan. “Sudah Tuan. Semuanya sudah diurus dan berkasnya sudah masuk ke pengadilan.”


“Aku mau perceraianku diselesaikan dengan cepat. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi.”


Zayn mengangguk dengan cepat. “Baik Tuan. Saya juga sudah menyertakan bukti-buktinya, Tuan.”


Zayn memang sudah menyerahkan bukti tentang perselingkuhan Felicia dengan laki-laki lain beserta bukti penunjang lain kepada pengacara Dave. Dave memang menyuruhnya mencari bukti yang tidak akan bisa dibantah oleh Felicia nantinya.


Dia tidak mau kalau sampai Felicia mengajukan banding seandainya kasus perceraian mereka disetujui oleh pengadilan nantinya. Dave benar-benar mempersiapkan dengan matang masalah perceraianya dengan Felicia.


“Baguus. Apa kau sudah menemukan tempat persembunyian laki-laki itu?”


Laki-laki yang dimaksud oleh Dave adalah laki-laki yang berselingkuh dengan Felicia. Sebenarnya Dave mengenal orang itu. Dia salah satu pria yang pernah mendekati Felicia ketika mereka berada di kampus yang sama.


“Sudah Tuan. Dia berada di Vila yang terletak di daerah Bandung.”


Dave menyunggingkan sudut bibirnya. “Dia pikir bisa kabur setelah apa yang sudah dia perbuat padaku.”


“Saya sudah mengumpulkan semua indormasi tentang keluarganya Tuan. Mereka semua tinggal di luar negri, jadi kemungkinan dia akan keluar negri juga setelah ini.”


“Kau terus awasi dia, jangan sampai dia kabur keluar negeri. Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan langsung penjarakan dia. Akan pastikan dia membusuk di penjara dan tidak akan pernah bisa keluar dari sana,” ucap Dave dengan wajah serius.

__ADS_1


“Baik Tuan.”


Bersambung...


__ADS_2