
Setelah beberapa saat Maya datang, dan langsung membantu Jeslyn untuk membersihkan tubuhnya. Dave juga menyuruh Maya menyuapai istrinya, jika dia sudah selesai membersihkan tubuh Jeslyn. Sementara Dave merebahkan tubuhnya yang lelah akibat belum istirahat dari kemarin.
Maya keluar dari ruangan Jeslyn setelah menyelesaikan semua tugasnya. Jeslyn kemudian menoleh pada Dave yang tampak tertidur pulas. Dia merasa heran, tidak biasanya Dave tidur dipagi hari.
Jeslyn memutuskan untuk membiarkan Dave tidur. Sebenarnya dia ingin bertanya kenapa Dave tidak pergi bekerja, tetapi dia urungkan ketika melihat wajah Dave yang tampak lelah.
Beberapa jam kemudian, Dave mulai membuka matanya secara perlahan. Setelah itu dia bangun dari tidur dan melihat Jeslyn tampak fokus pada ponselnya. Melihat ada pergerakan dari tempat tidur di sebelanya, Jeslyn seketika menoleh. Dia terkejut ketika melihat Dave sudah berada di sampingnya.
"Sayang, aku mau mandi dulu." Dave mencium pucuk kepala Jeslyn sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Jeslyn hanya memperhatikan Dave yang baru saja memasuki kamar mandi. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu.
Jeslyn langsung menoleh ketika pintu dibuka. Asisten setia Dave tampak berdiri di dekat sofa. "Dave sedang mandi," ucap Jeslyn sebelum asistennya bertanya.
"Iyaa Nyonya," ucap Zayn sambil membungkuk.
"Duduk saja dulu Zayn, sebentar lagi Dave akan selesai." Benar saja, setelahJelsyn selesai berucap, Dave pun membuka pintu kamar mandi.
"Kau membawa pakaianku?" tanya Dave seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah meggunakan handuk yang ada di tangannya.
Wajah Jeslyn memerah saat melihat Dave hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya, menampilkan tubuh putih dan otot perutnya. Jeslyn tampak menelan ludahnya dengan susah payah karena pikiran nakal tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain agar dia tidak berpikiran liar lagi.
Zayn langsung menghampiri bosnya seraya membawa paperbag besar yang berisi pakaian Dave. Sebelum Jeslyn bangun tadi pagi, Dave sudah menghubungi asistennya untuk mebawakan baju, dan membelikan makanan untuknya.
"Ini Tuan." Zayn menyerahkan pakaian Dave.
"Kau tunggu di luar dulu."
"Baik Taun."
Dave langsung membuka paperbag di dekat Jeslyn. "Kau kenapa sayang? Apa kau sakit? Kenapa wajahmu memerah," tanya Dave seraya memegang dahi istrinya.
Jeslyn langsung menepis tangan Dave. "Cepat pakai bajumu Dave!" seru Jeslyn tanpa menoleh pada suaminya.
Dave mendekatkan wajahnya lalu menatap Jeslyn. "Apa kau sedang merasa malu?" Dave bisa bisa menebaknya ketika melihat rona merah di pipi istrinya terlihat jelas.
__ADS_1
Karena Dave menatapnya dari dekat, Jeslyn bisa mencium aroma mint dari mulut Dave ketika dia berbicara di dekat wajahnya hal itu juga langsung membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Tidak," jawab Jeslyn cepat. Dia masih belum berani menatap ke arah suaminya.
"Kau menggemaskan sekali jika sedang malu-malu seperti itu," ucap Dave tersenyum sambil menjauhkan tubuhnya dari Jeslyn.
Aroma dati tubuh Dave membuat Jeslyn semakin berpikiran liar. Dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena merasa malu dengan apa yang terlintas di pikirannya.
Dave terus tersenyum melihat Jeslyn yang tampak salah tingkah. Dia kemudian memakai pakaiannya setelah itu menghubungi Zayn untuk masuk lagi.
"Maaf Tuan, saya membawa berkas yang harus anda tanda tangani." Zayn menyerahkan setumpuk berkas pada Dave.
Dave lalu meraihnya dan meletakkan di atas meja. "Kau boleh pergi. Kabari aku juga ada masalah di kantor."
Zayn langsung mengangguk. "Baik Tuan. Saya permisi. Dave mengangguk setelah itu Zayn keluar dari ruangan.
"Dave kau bisa pergi bekerja. Ada Maya yang bisa menjagaku di sini." Jeslyn hanya merasa tidak enak jika Dave terus bolos kerja. Walaupun dia kalau suaminya adalah pemilik dari perusahaan tersebut.
Dave menoleh sejenak. "Besok aku akan bekerja sayang. Untuk hari ini aku akan menjagamu. Ada yang ingin aku sampaikan juga padamu."
Melihat Jeslyn diam saja, Dave berlaih menatap dokumen yang dibawa oleh asistennya tersebut. Dia memeriksa dokumen sambil mengisi perutnya.
Setelah menghabiskan waktu 3 jam. Dave akhirnya mengakhiri pekerjaannya. Dia memijat tengkuknya sejenak yang terasa pegal setelah memeriksa dokumen yang begitu banyak. "Jes," panggil Dave sambil menoleh pada istrinya.
Jeslyn mendongakkan kepalanya. "Ada apa?"
"Apa kau sedang sibuk?" Dave menghampiri Jeslyn yang sedari tadi memegang ponselnya dengan wajah serius. "Tidak," jawab Jeslyn singkat.
Dave menarik kursi agar lebih dekat dengan istrinya. "Aku ingin berbicara serius denganmu?"
Jeslyn meletakkan ponsel dipangkuannya. "Bicaralah."
"Aku dengar dari Stella kau tidak ingin bercerai denganku? Dia bilang kau merobek surat perceraiaan kita. Apa itu benar?" tanya Dave dengan wajah serius.
Jeslyn mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. "Iyaa, aku merobeknya. Aku tidak suka dia ikut campur masalah rumah tangga kita. Seharusnya kau yang mendatangiku bukan malah menyuruh wanita lain untuk menyerahkannya padaku."
__ADS_1
"Jadi, kau merobeknya bukan karena kau tidak ingin bercerai denganku?" Wajah Dave memancarkan kekecewaan yang mendalam.
Awalnya dia pikir masih ada harapan untuknya bisa kembali bersama dengan Jeslyn, tapi setelah mendengar penjelasan dari Jeslyn seketika harapannya pupus.
"Jes, aku butuh jawabanmu," ucap Dave lagi ketika melihat Jeslyn hanya diam.
"Aku tanya sekali lagi? Apa kau sungguh ingin bercerai denganku Jes?" Dave tampak mulai tidak sabar menunggu jawaban istrinya.
"Kenapa kau baru bertanya padaku, setelah kau mengurus perceraian kita?"
"Dari awal aku memang tidak ingin bercerai denganmu. Kau yang sudah mendorongku untuk mengambil keputusan tersebut Jes," ucap Dave dengan wajah pasrah.
Jeslyn menatap Dave. "Bukankah itu memang maumu untuk bercerai denganku. Dulu kau pernah bilang kalau kau akan menceraikan aku setelah kau menemukan Stella. Terbukti saat ini dengan mudahnya kau langsung ingin menceraikan aku," ucap Jeslyn dengan suara bergetar dan mata yang mulai berembun.
"Dulu aku memang pernah mengatakan itu padamu, saat aku masih mencintainya dan belum mencintaimu. Berbeda dengan sekarang, Jes. Orang yang aku cintai adalah kau," ungkap Dave sambil menatap sendu pada istrinya.
Dia tidak menyangka kalau Jeslyn masih ingat dengan kata-katanya yang dulu pernah dia ucapkan ketika mereka baru saja menikah.
"Kalau kau memang mencintaiku lalu kenapa kau ingin menceraikan aku dan memilih untuk menikah dengan Stella?" Air mata Jeslyn sudah tidak bisa dia tahan lagi. Sedari tadi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya dihadapan Dave.
"Apa kau tidak rela jika aku menikah dengan Stella?" tanya Dave ketika melihat Jeslyn kembali menitikkan air matanya.
Jelsyn menghapus air matanya. "Jika kau sungguh ingin menikah dengannya, menikahlah. Aku tidak akan mencegahmu. Aku akan menerima perceraian kita. Asalkan tidak ada campur tangan Stella. Aku mau kau sendiri yang menyerahkan surat itu padaku." Jeslyn berusaha tetap terlihat tetap tegar agar tidak dianggap lemah oleh Dave.
Dave tampak menatap Jeslyn yang sudah mengalihkan padangannya lagi ke arah lain. Cukup lama Dave memandang wajah istrinya. Tatapan sedih dan terluka tergambar jelas di wajah Dave.
"Jeslyn, tidak bisakah kita kembali bersama?"
"Bukankah kalian ingin menjadi keluarga yang utuh? Anakmu membutuhkanmu. Aku tidak akan mencegahmu lagi."
"Dia memang anakku, tetapi bukan darah dagingku, Jes."
Jeslyn langsung menoleh pada suaminya, dengan dahi mengerut. "Apa maksumu Dave? Aku tidak mengerti," tanya Jeslyn dengan wajah penasaran.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Kau harus dengar baik-baik," ucap Dave dengan wajah serius.
__ADS_1
Bersambung...