
Pagi ini, Dave bangun lebih awal dari biasanya. Dia menoleh ke samping. Jeslyn tampak masih tertidur. Dave mengecup pipi istrinya, lalu turun dari tempat tidur.
Dave kemudian meraih ponselnya. Dahinya mengerut, ketika melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Stella. Dia kemudian memeriksa pesan yang masuk. Banyak sekali pesan yang masuk di ponselnya, salah satunya dari Stella.
Dahinya semakin mengerut ketika membaca pesan dari Stella. Dia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Stella, setelah itu dia melepaskan bajunya dan menuju ke kamar mandi.
Dia sengaja tidak membangunkan Jeslyn karena tidak tega melihat istrinya tidur sangat lelap. Setelah selesai mandi, Dave turun ke bawah.
"Jeslyn ke mana Dave?" tanya ayahnya ketika melihat Dave hanya turun sendirian.
"Masih tidur Pa." Dave mnghampiri ayahnya yang sedang fokus menonton berita di televisi. "Mama ada di mana?"
Ayah Dave menatap ke atas sebentar. "Sedang membangunkan Alea," jawab ayah Dave.
Saat ini masih pukul 5 pagi. Dave belum mengenakan pakaian kantornya karena dia belum mau berangkat ke kantor.
Dave kemudian memanggil bi Sani. Dia memintanya untuk membuatkan susu dan roti untukd dirinya dan istrinya. Dia ingin membawa sarapan itu ke dalam kemarnya.
Sambil menunggu makanan untuk siap, Dave memutuskan untuk memeriksa isi ponselnya. Belum ada balasan juga dari Stella. Dave berpikir mungkin Stella belum bangun sehingga dia memilih untuk menunggu Stella membalas pesannya terlebih dahulu, baru dia akan menelponnya nanti.
"Dave, kenapa kau sendiri?" Ibu Dave berjalan meghampiri anaknya bersama dengan Alea.
"Jeslyn masih tidur Ma," jawab Dave cepat.
"Jangan membuatnya terlalu lelah Dave. Kasihan Jeslyn." Ibu Dave berpikir kalau anaknya pasti yang membuat Jelsyn tidak tidur sehingga membuatnya kelelahan.
"Iyaaa Ma." Dave kemudian meraih tubuh Alea lalu mendudukkannya di sampingnya.
"Hay sayang. Cantik sekali kau hari ini," ucap Dave ketika melihar Alea yang sudah rapi dengan rambut yang dicepol ke atas.
"Daddy, mama ke mana?" tanya Alea sambil mendongakkan kepalanya menatap Dave.
"Masih tidur di kamar. Apa kau ingin ikut membangunkan mama?" tawar Dave sambil menunduk menatap Alea.
"Iyaa, mau," jawab Alea dengan wajah senang.
"Baiklah. Kita tunggu bi Sani dulu. Kita bawakan sarapan untuk mama," ucap Dave sambil memegang rambut Alea.
Setelah bi Sani menyerahkan sarapan pada Dave, mereka berdua langsung menuju kamar atas.
Dave melangkah masuk ke dalam kamarmya dengan langkah pelan. Terlihat Jeslyn masih tertidur. Dave berjalan mendekati tempat tidur dan meletakkan sarapan di atas nakas. Dave kemudian duduk di tepi ranjang, sementara Alea sudah naik ke sisi lain tempat tidur mendekati Jeslyn.
"Sayaang bangun," bisik Dave sambil mencium pipinya. Alea mengikuti Dave mencium pipi Jeslyn. "Mama, bangun," ucap Alea sambil memegang pipi Jeslyn.
Perlahan Jeslyn membuka matanya setelah mendengar suara mereka berdua. "Pagi sayang," ucap Jeslyn pada Alea sambil berusaha bangun dari tidur.
__ADS_1
Jeslyn kemudian menoleh pada Dave. "Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kau terlihat lelap sekali. Aku tidak tega membangunkanmu," jelas Dave.
Jeslyn meraih tubuh Alea ke pangkuannya. "Apa Alea sudah sarapan?" tanya Jeslyn sambil merapikan rambut Alea.
"Belum," ucap Alea sambil menggelengkan kepalanya.
"Dave, kenapa kau tiak mengajaknya sarapan dulu? Dia harus ke sekolah sebentar lagi."
"Aku sudah membawa sarapan untuk kita bertiga." Dave menujukkan nampan yang berada di atas nakas.
"Kalian sarapan dulu berdua. Aku mau mandi dulu." Jeslyn menurunkan Alea dari pangkuannya. "Sayang, sarapan dengan Daddy dulu ya?" ucap Jeslyn sambil menatap Alea.
Alea mengangguk. Dia kemudian turun dari tempat tidur, mengambil baju setelah itu di masuk ke dalam kamar mandi.
Dave mengajak Alea untuk duduk di sofa sambil membawa nampan yang berisi makan. Dave lalu memberikan roti bakar pada Alea, setelah itu dia meletakkan susu tepat di depannya.
"Dave, kenapa kau tidak sarapan juga?" tanya Jeslyn ketika melihat Dave hanya memandangi Alea yang sedang memakan rotinya.
Dave mengangkat kepalanya, lalu menatapa Jeslyn. "Aku menunggumu."
Jeslyn menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Alea. "Pelan-pelan sayang." Jeslyn menyeka mulut Alea denga tisu.
Dave hanya memandang interaksi antara mereka berdua sambil tersenyum. Dave meraih ponselnya di saku ketika mendengar nada panggilan masuk pada ponselnya. "Sayang aku angkat telpon dulu," ucap Dave sambil berdiri. Jelsyn hanya mengangguk.
"Ada apa? Kenapa kau menelpon beberapa kali semalam?" tanya Dave ketika telpon sudah tersambung.
Dari sebrang telpon, Stella menjawab, "Tidak apa-apa. Jam berapa kau pulang bekerja?" tanya Stella.
"Jam 3 sore, ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan. Aku akan tiba di Jakarta pukul 5 sore. Kita bertermu di rumah Mama nanti."
"Tidak perlu. Kita bertemu di rumah baruku saja. Aku hari ini akan pindah ke rumah baruku."
"Baiklah. Sampai nanti." Stella mengakhiri panggilan telponnya.
Rumah baru Dave adalah rumah yang berada di dekat rumah sakit miliknya. Dave dan Jeslyn sudah pernah menunjukkan rumah baru mereka pada Stella, ketika Dave dan Jeslyn membantu Stella pindah ke rumah barunya yang dicarikan oleh Dave waktu itu. Dave sengaja mencarikan rumah yang tidak jauh dari rumah barunya, agar bisa lebih mudah untuk mengawasi Stella dan lebih mudah, jika ingin bertemu dengan Alea.
"Siapa?" tanya Jeslyn sambil menoleh ke arah Dave yang sudah berjalan mendekatinya.
"Stella."
"Ada apa?" tanya Jeslyn penasaran.
__ADS_1
"Dia pulang hari ini. Ada yang ingin dia bicarakan," jawab Dave. Dia kemudian duduk di samping Jeslyn.
Alea langsung menoleh pada Dave, ketika mendengar Dave menyebut nama ibunya. "Mommy? Mommy mau pulang?" tanya Alea dengan wajah senang.
"Iyaa sayang," jawab Dave sambil tersenyum.
"Yeeey, Alea sudah kangen sama Mommy," ucap Alea dengan wajah girang.
"Cepat habiskan rotinya. Setelah itu Mama antarkan ke sekolah." Alea langsung mengangguk, lalu mengambil lagi roti yang ada di piring.
"Sayang, hari ini kita langsung pindah ke rumah baru kita," beritahu Dave.
Dahi Jeslyn mengerut. "Kenapa mendadak sekali?"
"Aku memang sudah merencakannya dari beberapa hari yang lalu, hanya saja aku lupa memberitahukan padamu," jelas Dave.
"Baiklaaah."
Sebelum menempati rumah barunya. Dave sudah meminta asistennya untuk mengecek kembali rumahnya. Apakah masih ada yang kurang atau tidak. Dia juga sudah menyuruh orang untuk membersihkan seluruh ruangan di rumahnya.
*****
Zayn masuk ke dalam ruangan Dave, setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. "Ada apa Tuan?" tanya Zayn ketika dia sudah berdiri di depan dave.
"Apa kau sudah selesai mengecek rumah baruku?" tanya Dave sambil menatap asistennya.
"Sudah Tuan. Semuanya sudah lengkap. Rumah anda juga sudah selesai dibersihkan."
Dave kemudian mengangguk. "Baguuus..Kalau begitu antarkan aku pulang sekarang."
"Baik Tuan." Dave dan Zayn kemudian berjalan keluar.
"Tok..Tok" Dave dan Zayn seketika menoleh pada pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka. "Daveee..." Pria itu tampak tersenyum lebar ke arah Dave.
"Bukankah seharusnya kau sampai besok?" tanya Dave ketika melihat sahabatnya baru saja masuk.
Pria itu mendekati Dave dan memeluknya sebentar. "Lama tidak bertemu Dave," ucap pria itu sambil menepuk pundak Dave.
Bersambung
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..
__ADS_1