Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Ingin Bercerai


__ADS_3

Jeslyn berusaha menahan emosinya. “Ma, aku tidak akan bercerai dengan Dave. Walaupun kau memaksaku, aku tetap tidak akan berpisah dengan Dave.”


“Dasar wanita tidak tahu diri. Kau itu hanya menjadi beban untuk anakku.” Ibu Dave merasa sangat marah karena Jelsyn tidak ingin berpisah dengan anaknya.


“Ma, sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kau sangat membenciku?”


“Kau itu tidak berguna. Aku tahu kau menikahi anakku karena dia pewaris Tjendra Group. Kau sama saja seperti wanita diluar sana yang hanya mengincar hartanya saja.”


“Ma, aku mencintai Dave jauh sebelum aku mengetahui kalau dia pewaris Tjendra Group.”


“Ma, dia tidak mungkin mau mendengarkan perkataan Mama. Lebih baik kita cara lain untuk membuatnya berpisah dengan Dave,” bisik Felicia.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap keras kepala Jeslyn yang memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangganya.


“Nyonya, sedang apa anda  di sini?” Adnan menghampiri ibu Dave dengan wajah khawatir.


“Apa wanita ini yang menghubungimu?” Ibu Dave melirik tidak sudak pada Jeslyn.


“Tidak Nyonya, lebih baik Nyonya segera pergi. Tuan Dave sedang berada di perjalanan menuju ke sini. Dia pasti akan marah kalau sampai tahu Nyonya ada di sini.”


“Aku hanya ingin menjenguknya saja. Aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Aku juga sudah mau pergi dari sini.” Ibu Dave menatap Felicia. “Ayo Fel, kita pulang.” Ibu Dave berjalan bersama Felicia keluar dari ruangan Jeslyn.


“Dokter Jeslyn, apa kau tidak apa-apa?”


Adnan langsung berjalan cepat saat mengetahui kalau Westi dan Felicia menorobos masuk ke dalam ruangan Jeslyn. Dave sudah berpesan untuk menjauhkan Felicia dan ibunya dari Jeslyn.


“Aku tidak apa-apa.”


“Baiklah, kalau begitu saya permisi.” Adnan berjalan keluar dari ruangan Jeslyn.


Jeslyn merebahkan tubuhnya lagi setelah kepergian Adnan. Sementara Maya terlihat duduk di sofa. Dia tidak ingin mengganggu istirahat Jeslyn.


Pintu terbuka. “Sayang, apa kau tidak apa-apa?”


Dave langsung berlari masuk ke dalam ruangan Jeslyn ketika pintu terbuka. Dia langsung memerikasa tubuh Jeslyn. Dia takut kalau ibu dan Felicia menyakiti Jeslyn, apalagi saat ini dia  sedang mengandung anakknya.


Setelah mendapat laporan dari Adnan, dia langsung meninggalkan kantor dengan wajah panik.


“Aku tidak apa-apa. Kenapa kau sudah pulang?” Jeslyn kembali bangun dari tidurnya.


“Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut mereka akan menyakitimu.” Napas Dave tampak tersengal-sengal. Jeslyn bisa menebak kalau Dave pasti habis berlari.


“Dave, mama memintaku untuk berpisah denganmu ”


Dave memalingkan wajahnya ke samping. “Aku tidak mau.. Sudah aku bilang aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi,” tolak Dave dengan keras. “Walaupun kau membenciku. Aku tidak akan pernah menceraikanmu,” sambung Dave lagi.


Dave merasa khwatir kalau Jeslyn menyetujui permintaan ibunya untuk bercerai.


Jeslyn meraih wajah Dave. “Dave.”


“Aku tidak mau mendengar apapun yang akan kau katakan. Keputusanku tidak akan berubah,” ucap Dave dingin. Dia berpikir kalau Jeslyn sudah menyetujui permintaan ibunya.


“Dengar dulu.” Jeslyn menangkup wajah Dave. “Aku sudah menolak permintaan mama. Aku akan tetap berada di sisimu.”

__ADS_1


Dave langsung menatap lekat mata Jeslyn lalu memeluknya. “Terima kasih. Jangan pernah meninggalkan aku lagi.” Dave memeluk erat tubuh Jeslyn.


“Dave, aku tidak bisa bernapas.” Dave langsung melepaskan pelukannya.


“Maafkan aku sayang.”


“Dave, aku lapar,” ucap Jeslyn dengan suara pelan.


“Kau mau makan apa?”


“Mie goreng pedas.” Dave menyibakkan rambut Jeslyn ke belakang. “Kau tidak boleh makan pedas sayang. Mintalah yang lain.”


“Nasi goreng pedas.” Dave terkekeh. “Itu sama saja sayang. Kau tidak boleh memakan makanan pedas. Kau seharusnya tahu itu.”


“Tapi, aku ingin sekali makan yang pedas Dave,” rengek Jeslyn.


Dave menghela napas. “Baiklah, tapi sedikit saja. Setelah itu kau harus makan bubur.”


“Aku bukan bayi Dave yang harus makan bubur terus.”


“Tapi, ada bayi yang ada di perutmu. Ada buah cinta kita. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya.”


Jeslyn mengerucutkan bibirnya. “Jadi, kau sudah tidak sayang lagi padaku?” Jeslyn membuang mukanya dengan kasar.


Dave langsung meraih pipi Jeslyn lalu mengecup bibir Jeslyn. “Jangan menampilkan wajah seperti itu sayang. Kau terlihat sangat menggemaskan kalau begitu," canda Dave.


“Dave. Aku lapar,” ucap Jeslyn manja.


Dave meraih ponselnya. “Aku akan meminta Zayn untuk membelikannya.”


Jelsyn mencium kilat wajah Dave. “Bukan di situ sayang, tapi di sini.” Dave menujuk bibirnya dengan tangan kanannya.


Jeslyn mengecup pelan bibir Dave, sebelum Jeslyn berhasil menjauhkan wajahnya, Dave sudah menarik tengkuk Jeslyn. Dia melu*mat penuh kelembutan bibir pucat Jeslyn. Dave memejamkan matanya sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya.


Mereka saling mencecap dan melum*at dalam waktu lama. Jelsyn tampak mulai tidak bisa kualahan dan tidak bisa mengimbangi ciuman panas Dave.


“Dave.” Jeslyn menjauhkan tubuh Dave darinya.


“Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa mengontrol diriku kalau berdekatan denganmu.”


Jeslyn mengangguk. “Setelah makan bersiaplah. Kita akan pulang.” Dahi Jelsyn mengerut. “Bukankah katamu aku harus di rawat beberapa hari di sini? Kenapa kita pulang?”


“Lebih baik kau di rawat di rumah. Aku akan menyuruh Adnan menyiapakan perawat dan seorang dokter pribadi untukmu. Kau akan tetap di pantau seperti di rumah sakit. Aku tidak tenang meninggalkanmu di sini.”


Dave khawatir kalau ibunya dan Felicia akan datang lagi. Dave tidak mau kalau sampai mereka melukai Jeslyn.


Jeslyn menunduk. “Tapi aku tidak mau kembali ke rumah.”


Dia berpikir kalau Dave akan membawanya ke rumah yang mereka tinggali dulu. Dia tidak ingin tinggal bersama dengan Felicia lagi.


“Tidak sayang. Aku akan membawamu ke apartemenku.”


Apartemen Dave ada yang berada di dekat kantornya. Dulu Dave lebih sering tidur di sana saat dia memiliki pekerjaan banyak dan harus lembur sampai malam. Dia sengaja membawa Jelsyn ke sana agar dia bisa lebih mudah mengunjungi Jelsyn jika sedang tidak sibuk.

__ADS_1


“Dave apa kau tidak pergi ke kantor lagi?”


Dave menggeleng. “Tidak. Aku akan menemanimu hari ini. Aku sudah menyerahkan tugasku pada Mark dan Diana.”


“Tok... tok... tok.” Terdengar suara ketika pintu. Dave menoleh lalu berdiri membuka pintu.


“Maaf mengganggu Tuan. Ini pesananya Nyonya.”


Dave mengambil makanan yang ada di tangan Zayn. “Suruh Adnan segera mengurus kepindahan istriku ke apartemenku. Suruh juga dia menyiapakan satu orang perawat dan dokter kandungan untuk istriku.”


“Baik Tuan,” ucap Zayn sambil mengangguk.


Dave kembali masuk ke dalam, setelah dia menutup pintu. Dave meletakkan makanan di atas nakas. “Duduk yang benar sayang.” Dave membantu Jelsyn untuk duduk sambil bersandar di tempat tidur.


“Kau harus makan sop ayam ini dulu, baru kau boleh makan nasi goreng pedasnya.” Dave mulai menyuapi Jelsyn.


“Sudah Dave.” Jelsyn merasa sudah kenyang setelah Dave menyuapinya beberapa kali.


“Kau hanya boleh makan nasi goreng 3 sendok.” Dave tidak mau kalau Jeslyn memakan nasi goreng pedas terlalu banyak. Dia masih khawatir dengan keadaan Jeslyn.


“Iya.” Jelsyn tidak berani membantah Dave, ketika melihat wajah serius Dave.


******


“Buka pintunya.” Dave memerintahkan Zayn untuk membuka pintu apartemennya. Dia memapah Jelsyn untuk masuk ke dalam saat pintu terbuka lebar.


Dave langsung membawa Jelsyn menuju kamarnya. “Sayang istirahatlah dulu. Aku ingin keluar menemui mereka.”


Dave berjalan menuju ruang tamu. Di sana sudah ada dokter pribadi Jeslyn dan perawat yang akan merawat Jeslyn saat Dave tidak ada.


“Kalian bisa kembali ke sini besok pukul 8 pagi,” ucap Dave pada dokter dan perawat yang ada di depannya.


“Baik Tuan. Kami permisi dulu.” Dokter dan perawat tersebut berjalan keluar dari apartemen Dave.


Dave beralih menatap asistennya. “Zayn, kau boleh kembali ke kantor. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan sesuatu.”


“Baik Tuan.”


Setelah kepergian Zayn. Dave menghampiri Jeslyn di kamarnya. “Sayang kenapa kau tidak tidur?” tanya Dave ketika melihat Jelsyn tampak sedang bermain ponsel.


“Aku tidak mengantuk Dave.”


“Kalau begitu aku mandi dulu.” Dave berjalan menuju kamar mandi setelah melihat Jeslyn mengangguk.


Tidak lama kemudian, Dave melangkah keluar kamar mandi dengan rambut yang sudah setengah kering. Dia naik ke tempat tidur, lalu merebut ponsel yang ada di tangan Jeslyn.


“Sayang, jangan bermain ponsel kalau sedang bersama denganku.” Dave menarik tubuh Jeslyn ke dalam pelukannya.


“Dave jangan memelukku. Aku belum mandi.” Jeslyn berusaha melepaskan pelukan suaminya.


“Apa kau ingin aku mandi, kan?”


Pikiran liar Dave mulai terlintas dibenaknya. “Tidak Dave. Aku akan mandi sendiri,” tolak Jeslyn.

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau masih malu?” Dave melihat rona merah di pipi Jeslyn.


Bersambung...


__ADS_2