
Luna yang sejak tadi mematung dan melihat kemesraan Bunda Nadia dan atasannya itu pun hanya bisa tersenyum. Dan Luna pun menghampiri Bunda Nadia setelah beberapa saat menyaksikan keakraban tersebut. Memeluk Bunda Nadia dengan penuh sayang, serta menanyakan kabar dari sang Bunda.
Sejujurnya, setelah kepulangan Lino dan Luna dari luar negeri beberapa waktu lalu, mereka memang belum sempat berkunjung ke rumah Bunda Nadia. Kesibukan dan pekerjaan yang menumpuk, membuat waktu mereka seakan
selalu kurang. Bahkan hari Minggu pun mereka gunakan untuk menebus meeting-meeting yang sempat tertunda. Oleh karena itu, mereka belum lagi sempat berkunjung ke rumah Bunda Nadia.
“Jadi kenapa Bunda bisa menyempatkan diri datang kesini? Pasti karena kangen sama Lino kan?” ucap Lino kembali sambil menggiring Bunda Nadia ke sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Bunda Nadia pun hanya tersenyum sambil sedikit memukul lengan Lino yang sejak daritadi memegang tangannya. Dan Bunda Nadia pun duduk di sofa sambil diikuti oleh Lino dan Luna.
__ADS_1
“Bunda punya satu permintaan untuk kalian.” ucap Bunda Nadia yang telah duduk dengan nyaman diantara Luna dan Lino. Dan Bunda pun memegang tangan keduanya dengan dua tangan yang berbeda. Menggenggam erat
dan tidak melepaskan senyum yang ada di wajahnya.
“Apa tuh, Bun?” tanya Lino dengan penasaran. Karena sejujurnya, Bunda Nadia adalah seorang ibu yang memang tidak banyak menuntut. Meskipun memang belakangan ini, Bunda Nadia hampir selalu ingin menjodohkan
Lino dengan gadis-gadis pilihannya, sebelum Lino membawa Luna kehadapannya.
“Bunda rasa, kalian bukan lagi anak dibawah umur yang masih dilarang menikah. Kalian telah memiliki umur yang cukup, pekerjaan yang baik, dan tentunya kehidupan finansial yang tidak bisa disepelekan. Jadi tentunya itu semua bisa menjadi dasar fondasi yang kuat untuk rumah tangga kalian, selain perasaan cinta tentunya.” ucap Bunda Nadia kembali ketika melihat tidak ada respon dari kedua orang yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Sebenarnya, bukan Bunda Nadia tidak mengetahui permainan Lino dan Luna. Karena senyatanya, wanita paruh baya ini bahkan mengetahui setiap detail perjanjian dan kejadian yang menimpa Lino dan Luna.
Kecewa? Tentu saja awalnya. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa Bunda Nadia sudah tertarik dengan Luna sejak pertama kali melihatnya. Entah ada apanya dengan gadis itu, tetapi ia menyimpan banyak sekali kepahitan dan kerinduan akan sebuah kasih sayang. Oleh karena itu, Bunda Nadia ingin manjadi salah satu sumber kasih sayang tersebut.
Bunda Nadia pun mengetahui sedikit banyak tentang perasaan anaknya terhadap gadis yang menjadi asisten pribadinya itu. Pancaran kasih sayang dan cinta bisa dilihat dengan jelas dari mata Lino setiap kali mata itu memandang ke arah Luna. Bahkan seringkali senyum manis hadir di wajah anak semata wayangnya jika Bunda Nadia sengaja membicarakan gadis itu.
Dan setelah kejadian beberapa waktu lalu, dimana Luna diculik oleh salah satu sahabat anaknya, Bunda Nadia merasa bahwa kini waktunya untuk bergerak. Ia sudah tidak bisa lagi tinggal diam dan melihat saja permainan anaknya. Ia takut nantinya Luna akan jatuh kepelukan laki-laki lain yang mungkin saja tidak memiliki niat tulus.
Oleh karena itu, Bunda Nadia memutuskan untuk mengatur hari kedatangannya ini. Dan jika dipikir, Lino telah membawa Luna kehadapannya sejak enam bulan yang lalu. Jadi tentunya tidak ada salahnya jika dia meminta status yang lebih untuk gadis tersebut dan menanyakan kelanjutan hubungan tersebut.
__ADS_1
************
-Bersambung-