
Oke.. Sekarang saatnya kita kembali ke keadaan saat ini setelah Luna bertemu dengan Rianti tanpa sengaja.
Luna yang baru saja memasuki pekarangan rumah Vina pun mencoba untuk mengatur nafasnya. Namun ternyata, keringat dingin masih terus bercucuran di dahi putih Luna. Entah kenapa, rasanya Luna masih terbayang-bayangi dengan kehadiran Rianti.
Setelah berhasil memenangkan hatinya dan mengatur nafasnya, Luna pun membuka mobilnya dan memasuki rumah yang selama ini ditinggalinya. Namun baru beberapa langkah memasuki rumah tersebut, pandangan Luna pun menggelap dan gadis itu terjatuh ke lantai.
“MBAK LUNAAA..” teriak salah satu asisten rumah tangga yang terkejut ketika melihat Luna tergeletak di lantai. Asisten rumah tangga yang tadinya sedang berada di ruang tengah, tiba-tiba mendengar suara benda jatuh dari arah pintu depan. Dia pun segera berlari menuju tempat suara tersebut.
“TOLONGG!!! PAK MIN!! MBOK NI!!” teriak asisten rumah tangga tersebut memanggil pengurus taman dan kepala asisten rumah tangga di rumah tersebut.
Kedua orang yang mendengar teriakan itu pun segera berlalu masuk dan terkejut mendapati Luna yang tidak sadarkan diri di dalam rumah. Tanpa membuang waktu lagi, Pak Min pun mengangkat Luna dan membaringkannya di kamar yang selalu digunakan. Sedangkan Mbok Ni segera menghubungi dokter pribadi Vina, serta memberitahukan kepada Vina tentang keadaan Luna saat ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, Vina dan Dokter Ziva pun sampai. Memeriksa keadaan gadis yang masih pingsan tersebut. Beruntungnya Luna tidak mengalami komplikasi yang menakutkan. Gadis itu pingsan hanya dikarenakan terlalu stress dan asam lambung yang terlalu tinggi.
Vina yang cukup lega pun menunggu sahabatnya itu hingga tersadar. Seingat Vina, Luna tidak pernah melalaikan penyakitnya yang satu ini. Bahkan Luna sangat berhati-hati dan menjaga pola makannya agar penyakitnya ini tidak mengganggunya. Namun, kenapa hari ini seakan Luna terlihat ceroboh sehingga penyakitnya bisa membuatnya hingga pingsan.
Setelah kepulangan Dokter Ziva, tidak membutuhkan waktu lama, Luna pun mulai mengerjapkan matanya. Mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang mulai masuk ke dalam bola mata yang indah itu. Dan yang pertama
__ADS_1
dilihatnya adalah Vina, sahabatnya yang sekaligus menjadi tempat sampahnya.
“Kamu udah sadar, Lun.” ucap Vina sambil memberikan gelas yang ada di tangannya dan membantu Luna untuk duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.
“Aku kenapa, Vin?” tanya Luna yang masih merasakan sedikit pusing di kepalanya.
“Aku yang harusnya tanya sama kamu. Kenapa kamu bisa sampai pingsan dan asam lambung kamu naik? Kamu bukan orang yang terlalu ceroboh hingga membuat penyakitmu ini mengganggumu, Lun.” ucap Vina yang duduk
di sebelah Luna.
Mendengar penuturan Vina, Luna pun hanya bisa terdiam dan mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ingatannya pun kembali ke beberapa waktu lalu ketika dia berada di salah satu pusat perbelanjaan untuk menikmati makan siangnya. Namun, belum juga makanan itu memasuki mulutnya, ibu nya telah datang dan menghardik dirinya. Agar tidak menambah malu, Luna pun segera berlalu dari tempat itu.
“Vin.. Aku.. Aku ketemu ibu, Vin.” ucap Luna dengan sedikit gemetar.
“Ibu? Ibu siapa yang kamu maksud, Lun?” tanya Vina dengan bingung. Karena sepengetahuan Vina, Rianti tidak akan menyusul Luna hingga ke kota ini. Bahkan kemungkinan Rianti akan menemukan Luna di kota ini pun akan sangat kecil karena ini adalah kota besar, bukan seperti tempat asal mereka.
“Ibuku.” jawab Luna singkat.
__ADS_1
Vina yang mendengar pun sangat terkejut. Namun, Vina juga punya cukup keyakinan bahwa Rianti tidak akan melakukan hal yang ekstrem kepada sahabatnya ini. Jadi menurut Vina, Luna akan tetap aman meskipun Rianti
ada di sekeliling mereka.
“Tenang, Lun. Kamu aman disini, ibumu pasti tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh. Bukankah kamu juga sudah menandatangani surat perjanjian dengannya dahulu?” ucap Vina mencoba menenangkan sahabatnya yang
terlihat sangat shock dan cukup ketakutan.
Luna pun hanya bisa menganggukan kepalanya mendengar perkataan Vina. Ia hanya berharap apa yang dikatakan oleh Vina adalah benar dan dirinya benar-benar aman disini.
*************
Siapapun mungkin akan punya trauma tersendiri jika diperlakukan buruk oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Dan ketika dia bisa terbebas, rasanya trauma itu akan terpandam jauh dan bisa saja sewaktu-waktu muncul kembali. Dan inilah yang terjadi dengan Luna.
Kasiahan? Atau lebay nih menurut kalian?
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, kome, dan vote nya.
__ADS_1
************
-Bersambung-