
Keesokan harinya, tepat pukul 07.00, Luna telah berada di tempat tinggal atasannya itu.
Flashback On
“Besok datanglah ke alamat ini. Ingat jangan terlambat! Saya paling tidak bisa mentolerir keterlambatan. Dan saya sangat tidak suka menunggu.” ucap Lino sambil memberikan alamat tempat tinggalnya kepada Luna yang telah ditulisnya pada secarik kertas kecil.
“Baik, Pak.” ucap Luna sambil menganggukan kepalanya.
“Setelah sampai, tanyakan kepada asisnten rumah tangga di sana letak kamarku. Siapkan semua keperluan kerja saya. Lalu pergilah ke ruang kerja saya dan siapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk hari itu.” jelas Lino kepada Luna.
“Baik, Pak.” ucap Luna kembali.
Yah, apalagi yang bisa dikatakan oleh Luna selain mengiyakan semua perintah dari atasannya itu? Bukankah dalam surat pemindahan tugasnya juga sudah tertulis dengan jelas bahwa Luna wajib menuruti semua perintah Lino?
“Jangan lupa bacakan semua jadwal saya hari itu. Dan ingatkan saya semua detail kecil dari setiap meeting yang akan kita lakukan.” lanjut Lino.
Sebenarnya, Lino bukanlah seorang yang pelupa. Bahkan saat ini, dia bisa mengingat semua jadwalnya dengan baik hingga beberapa bulan kedepan. Namun, Lino ingin ada interaksi yang terjadi terus menerus antara dirinya dan Luna, meskipun hanya interaksi kecil. Oleh karena itu, Lino meminta Luna untuk mengingatkan dirinya akan setiap detail pertemuan yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
“Baik, Pak.” ucap Luna lagi tanpa bisa membantah satu kata pun dari perintah Lino.
“Kamu boleh pulang. Dan persiapkan dirimu untuk besok.” ucap Lino kemudian.
Luna pun yang tidak ingin menyiakan kesempatan, segera berlalu dari hadapan CEO nya itu. Ia tidak ingin berlama-lama di hadapan atasannya. Dan pastinya, ia harus benar-benar mempersiapkan diri untuk esok yang melelahkan.
Flashback Off
Setelah mendapatkan informasi tentang kamar pribadi Lino dan ruang kerja laki-laki itu dari kepala asisten rumah tangga di rumah itu, Luna pun segera berlalu dan mengerjakan semua pekerjaannya.
Kemudian pekerjaan Luna pun berpindah ke ruang kerja. Membereskan berkas-berkas yang akan dibawa untuk menghadiri beberapa meeting di hari ini. Dan mempersiapkan laptop, tas, dan kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan meeting dan segala pekerjaan.
Luna memang telah mendapatkan semua jadwal Lino dari Roland. Karena memang sebelumnya, Roland yang akan memperispakan semua jadwal Lino dan kemudian membiarkan laki-laki itu bekerja sesuai jadwal yang telah
dibuat. Sedangkan Roland sendiri akan kembali ke kantor pusat dan mengerjakan semua pekerjaannya dari dalam kantor.
Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Lino pun telah turun ke bawah untuk memulai sarapannya. Luna pun menyusul dengan membawa berbagai berkas pekerjaan dan juga tas yang harus mereka bawa.
__ADS_1
“Silahkan sarapan dulu, Nona. Semua sudah disiapkan.” ucap kepala asisten rumah tangga di tempat itu.
“Tidak usah, Bu. Saya sudah sarapan sebelum kemari. Saya akan menunggu Bapak di halaman depan saja.” ucap Luna menolak dengan halus tawaran dari kepala asisnten rumah tangga itu dan mulai melangkahkan kakinya
meninggalkan ruangan itu.
Namun, sebelum langkah ketiganya, suara Lino pun terdengar.
“Duduklah dan sarapan. Saya tidak ingin kamu pingsan di tengah pekerjaan.” ucap Lino memberikan perintah kepada Luna.
Ia tidak benar-benar tahu apakah Luna sudah sarapan atau belum. Namun menurut analisisnya, Luna tidak mungkin sarapan sepagi itu. Karena jika hendak sarapan, maka Luna akan makan sebelum pukul enam pagi.
Dan Luna pun hanya bisa menganggukan kepalanya, serta duduk di kursi yang jauh dari keberadaan Lino. Mengambil sedikit sarapan yang ada di meja makan dan segera memakannya.
*************
-Bersambung-
__ADS_1