
Hari-hari Luna kini diisi penuh dengan pekerjaan di kantor dan membantu Vina dalam membuka usahanya sendiri. Ya, sudah beberapa lama ini akhirnya Vina pun memutuskan untuk membuka usaha kuliner. Dan tentu saja Luna dengan semangat membantunya sebagai penasehat keuangan.
Meskipun tidak bekerja secara penuh kepada Vina, tetapi Luna tetap bekerja secara professional kepada sahabatnya itu. Luna mengerjakan dan mengajarkan banyak hal kepada pemegang keuangan di usaha kuliner Vina. Luna juga tidak segan untuk memberikan masukan apabila memang dibutuhkan.
Namun selalu ada saat-saat yang membuat Luna tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di PT LINO. Seperti halnya ketika pada akhir bulan dan dia harus mengecek pembukuan selama satu bulan lamanya. Pada masa-masa ini, tidak jarang Luna juga harus bekerja sampai larut malam ataupun menginap di ruang kantornya.
Dan hari ini adalah waktu-waktu dimana Luna harus menyelesaikan pekerjaannya hingga larut malam.
“Vin, sorry. Aku harus lembur hari ini. Kamu tau sendirilah ini tanggal berapa.” kata Luna memberikan kabar kepada sahabatnya.
Luna memang akan selalu memberikan kabar kepada Vina jika dia harus pulang terlambat atau ditugaskan untuk pergi mengecek cabang perusahaan. Ya, mereka memang sedekat itu. Bahkan mereka sudah layaknya saudara
kandung. Jadi jangan heran jika kedua gadis ini terlihat sangat dekat dan sering bertukar kabar satu sama lainnya. Terlebih ketika Luna sudah mulai tinggal di rumah Vina.
__ADS_1
“Oke. Aku juga ada syuting sampai malam.” kata Vina.
Hingga pukul 23.30, akhirnya pekerjaan Luna pun selesai. Dan itu berarti dirinya bisa segera pulang ke rumah untuk beristirahat.
“Ah, akhirnya selesai juga.” Luna pun meregangkan tangannya. Sungguh otot-ototnya terasa kaku karena terlalu lama duduk di posisi yang sama agar segera bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Luna pun segera membereskan mejanya bekerja. Menumpuk semua file yang telah dikerjakannya dan menyimpannya dengan baik. Besok pagi-pagi, Luna akan mengeceknya kembali dan menyerahkannya kepada
atasannya sendiri.
“Kamu lembur malam ini, Lun?” tiba-tiba ada suara dibelakang Luna yang mengagetkan dirinya.
Luna pun segera membalikkan badannya untuk melihat suara yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
“Ekh, Pak Felix. Iya, Pak. Saya baru saja menyelesaikan pekerjaan saya.” ucap Luna ketika telah mengetahui siapa pemilik suara yang bertanya kepadanya.
“Oke. Yuk saya antar pulang.” ajak Felix sambil menggandeng tangan Luna dan menariknya untuk segera keluar dari gedung.
“Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri kok.” ucap Luna mencoba menolak ajakan Felix untuk mengantarkannya pulang dengan suara terbata-bata karena harus menyesuaikan langkahnya dengan langkah Felix yang cukup besar-besar.
“Saya tidak menerima penolakan, Lun.” ucap Felix tanpa mempedulikan usaha Luna untuk menolak keinginannya.
Memang telah sejak pertama kali melihat Luna, Felix merasakan adanya perasaan lain di hatinya. Rasa ingin memiliki. Mungkin itu adalah penggambaran perasaan yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan yang dimiliki oleh Felix.
Rasanya Luna sangat sulit untuk diperoleh. Luna adalah wanita yang sangat mandiri. Jadi dia tidak mudah tergantung dengan siapa pun. Dan Felix sendiri hampir tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Luna.
Namun, hari ini dewi fortuna seakan sedang berpihak kepada Felix. Malam ini, dia melihat gadis pujaannya keluar dari ruangannya tepat ketika dirinya juga akan meninggalkan tempatnya. Dan karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Felix pun sedikit memaksakan kehendaknya untuk membawa Luna bersama dirinya.
__ADS_1
****************
-Bersambung-